Di suatu hari Minggu siang, saya duduk dengan raga
penuh hikmat di dalam gereja, menyaksikan teman saya menikah, tetapi otak saya
terus berputar seperti biasa, berpikir tentang kalimat perjanjian yang
diucapkan kedua mempelai.
Mencoba tidak gagal
Keduanya berjanji seperti sejuta pasangan yang telah
menikah bahwa mereka akan setia sampai maut memisahkan. Baik dalam keadaan duka
maupun suka, pada saat matahari begitu menyengatnya dan hujan serta kegelapan
menghadang. Sebuah ikrar yang diucapkan di hadapan Tuhan dan manusia.
Mata saya menyimak jalannya upacara, tetapi sejuta
pertanyaan menyerang di dalam kepala. Begini bunyinya. Mengapa engkau berani
berjanji sedang engkau hanya manusia yang mudah sekali mengingkari? Berapa
banyak janji yang selama ini telah kamu ucapkan di hadapan Tuhanmu dan manusia?
Apa yang tak kamu penuhi dari sejuta janji yang diucapkan itu?
Maka dalam perjalanan pulang saya mengingat kembali
sejuta janji yang pernah saya ucapkan di hadapan Tuhan dan manusia dan saya lupa
seberapa banyaknya janji itu.
Tetapi seingat saya, kegagalan terbesar dari pemenuhan sejuta janji itu adalah soal kesetiaan. Setelah saya berhasil dengan baik melakukan transplantasi ginjal sepuluh tahun yang lalu, saya berjanji bahwa saya akan menjaga kesehatan. Janji menjaga kesehatan itu merupakan ucapan terima kasih saya kepada Tuhan yang telah memberikan kesempatan untuk hidup lebih lama lagi.
Di samping itu, saya berjanji bahwa saya akan
memberikan nasihat kepada sejuta manusia yang akan saya temui, bahwa menjaga
kesehatan itu penting, bahwa tubuh itu merupakan rumah Tuhan yang harus
dipelihara dan tak bisa disia-siakan.
Selain dua janji itu, saya masih menambah satu janji
lagi, untuk selalu mengingatkan manusia yang saya jumpai agar melatih untuk
berhubungan erat dengan Sang Khalik. Karena peristiwa yang saya alami,
sesungguhnya adalah sebuah peristiwa yang tak bisa dijelaskan kepala.
Sepuluh tahun berlalu. Empat tahun pertama saya
setia dengan tiga janji itu, tetapi memasuki tahun ke lima, saya mulai
melanggar kesetiaan itu, saya lupa dengan apa yang pernah saya ucapkan.
Kemudian saya mulai mencari tahu alasan mengapa saya
tak bisa setia dengan janji yang saya ucapkan baik itu di hadapan Tuhan maupun
manusia? Setelah mencoba mencarinya, saya menemukan begitu banyak kemungkinan
di balik kegagalan itu.
Gagal total
Mungkin karena saya terlalu tinggi memasang standar
dan lupa akan keadaan diri sendiri. Saya ini orangnya tidak setia, suka dan
mudah sekali nyeleweng. Dengan keadaan macam itu, saya berani berjanji untuk
setia. Bayangkan, infrastruktur untuk
setia saja tidak ada, masih berani setia.
Mungkin, karena waktu saya berjanji, saya terlalu
emosional menghadapi sebuah keadaan sehingga kepala yang selalu berhitung lupa
dilibatkan. Waktu saya bisa mendapat ginjal baru, saya pernah berjanji dalam
keadaan yang emosional, bahwa saya tak perlu memiliki pasangan hidup sejauh
Tuhan selalu bersama saya. Tuhan tetap bersama saya sampai sekarang, tetapi
saya kesepian, saya sangat membutuhkan pasangan hidup.
Mungkin bahwa janji di hadapan Tuhan itu seperti
peraturan yang dibuat manusia. Dibuat untuk dilanggar. Mungkin janji itu tak
terpenuhi, karena pada saat mulut berjanji, kepala lupa mengingatkan bahwa saya
ini manusia yang bisa berubah kapan saja.
Mungkin kegagalan dari pemenuhan sejuta janji itu,
karena saya melakukan hanya untuk mengikuti sebuah ritual yang telah dijalani
sejuta manusia, dan yang sejujurnya tak saya setujui untuk dijalankan, tetapi
saya tak bisa tidak harus menjalaninya, sehingga saya menjalaninya dengan
setengah hati.
Atau mungkin berjanji itu sendiri menjadi bumerang
dan membuat keder. Berjanji itu membuat saya tak bisa santai menjalani hidup.
Berjanji itu mirip satpam atau polisi yang akan menghajar saya kalau saya
salah. Sehingga seperti peraturan, maka makin dilarang makin berniat untuk
dilanggar.
Mungkin saya ini sejujurnya memang manusia yang
sukanya melanggar, ada saja alasan yang masuk akal untuk melakukan pelanggaran
karena perjalanan hidup di masa lalu kurang mendapat perhatian yang cukup. Jadi
saya mencari perhatian melalui pelanggaran.
Oh. Apakah mungkin dari semua perkiraan saya itu,
sesungguhnya saya tak mengerti makna dari kesetiaan itu sendiri. Maka saya
mencari tahu apa makna kesetiaan itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia supaya
saya itu benar-benar tahu.
Begini. Kesetiaan itu mengandung makna keteguhan
hati, ketaatan, dan kepatuhan. Teguh itu mengandung kekuatan untuk tetap tidak
berubah. Taat itu bermakna senantiasa tunduk. Patuh itu mengandung makna suka
menurut.
Tidak berubah, senantiasa tunduk, suka menurut. Ahh... kini saya tahu mengapa saya gagal total. Bagaimana dengan Anda? ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar