Di dalam kereta api yang membawa saya dari Bandung ke Jakarta, saya membaca sebuah kalimat di akun media sosial seseorang. Singkatnya, kalimat itu mengandung pesan agar sebagai manusia kita harus bersyukur dalam keadaan baik, dan harus memiliki iman kuat dalam keadaan buruk.
Di tengah kereta yang bergoyang dan suaranya yang
ribut, saya memperhatikan bahwa unggahan itu hanya menyarankan pembacanya untuk
bersyukur dalam keadaan baik. Maka, otak saya berpikir keras setelah membaca
unggahan itu.
”Mengapa saya tidak dianjurkan bersyukur ketika
keadaan buruk terjadi?”
Buruk
Kemudian saya melayangkan ingatan saya kepada begitu
banyak peristiwa buruk yang telah terjadi sejak masa kecil sampai tulisan ini
dibuat. Dari soal pelecehan intelektual yang saya terima, sampai penyakit yang
tak henti-hentinya datang tanpa melupakan kondisi keuangan dan usaha yang
seperti ayunan.
Seingat saya, saat semua kejadian buruk itu terjadi,
saya tak bersyukur. Tepatnya, saya tak bisa bersyukur. Anda pasti bisa
memaklumi kalau saya tak dapat bersyukur. Karena bagaimana bersyukur untuk
hal-hal buruk itu, bukan?
Saya tak bisa membayangkan harus bersyukur untuk
penyakit yang mematikan, misalnya. Atau untuk sebuah usaha yang bangkrut, atau
kehilangan orang yang dicintai, atau dalam kasus yang lebih buruk dari apa yang
saya tuliskan itu.
Saya mencoba berpikir, mengapa otak saya sempat mengajukan pertanyaan di atas, bahwa unggahan yang saya baca itu tidak menyarankan saya berterima kasih dalam keadaan buruk. Dengan kecerdasan otak saya yang gitu deh itu, saya mulai berpikir.
Apa sesungguhnya kondisi buruk itu? Apakah
kebangkrutannya, apakah kehilangan orang yang dicintai, apakah penyakit yang
mematikan, apakah pelecehan yang telah diterima? Mengapa saya mengatakan itu
buruk? Tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya, kalau kondisi itu disebut buruk
jika saya hanya melihat sebuah kejadian hanya dari sisi buruknya saja.
Pertanyaannya kemudian, apakah ada sisi baiknya dari sebuah kejadian buruk?
Apakah kalau sudah buruk, ya, buruk saja. Mau
dilihat dari sudut mana saja, ya, tetap buruk. Saya menjalani kehidupan setelah
keburukan itu terjadi dengan rasa lara yang sangat, karena merasa kehidupan
benar-benar tak adil.
Selama perjalanan kereta yang membosankan itu, saya
mencoba melihat kembali kepada kejadian buruk yang telah terjadi. Kalau dilihat
dari sisi buruk saja, penyakit yang saya derita ini membuat saya harus operasi,
mengeluarkan dana, tak bisa punya aktivitas seperti dulu lagi.
Menciptakan keadilan
Operasi berarti harus menjalani beberapa minggu hidup
di atas ranjang tak bisa ke mana-mana. Belum lagi kalau operasinya berhasil.
Bagaimana kalau tidak? Kalau saya bangkrut, keburukan itu adalah saya tak punya
usaha lagi, saya malu kepada teman-teman saya yang berhasil, saya merasa gagal,
saya merasa tak mampu memberi kehidupan kepada orang lain.
Kalau saya dilecehkan secara intelektual, sampai
saya memercayai kebenaran dari pelecehan itu, saya tumbuh sebagai manusia yang
percaya diri. Percaya kalau dirinya bodoh, maksudnya.
Nah, saya mencoba untuk melihat tiga kejadian itu
dari sisi yang tidak buruk. Saya memang harus operasi, saya memang harus
berbaring berhari-hari, bisa saja operasi itu berhasil atau tidak berhasil.
Tetapi, kalau saya operasi, artinya saya memberi kesempatan pada dua
kemungkinan: berhasil atau tidak.
Kalau saya berkeluh kesah terus dan tak mau operasi,
saya hanya punya satu kemungkinan. Tidak ke mana-mana. Kalau saya mati,
misalnya. Bukankah kematian saya melegakan karena saya sudah memberi kesempatan
kepada diri saya daripada hanya berkeluh kesah dengan mulut yang menyuarakan
hidup ini tak adil.
Bukankah kesempatan yang saya berikan kepada diri
saya itu adalah sebuah keadilan yang saya ciptakan untuk saya? Bukankah saya
akan sejahtera mati dalam hidup yang adil itu? Kalau saya bangkrut. Saya yakin
saya malu sekali, apalagi kalau melihat pengusaha yang berhasil bahkan sampai
usahanya dikategorikan unicorn, dan saya hanya berakhir sebagai pengusaha
Capricorn karena memang lahir di bawah rasi bintang itu.
Tetapi jika, setelah merasa malu, saya mau memberi
kesempatan kepada diri saya, maka saya akan mengevaluasi mengapa kebangkrutan
itu terjadi. Kebangkrutan membuat saya punya waktu untuk berpikir usaha apa
lagi yang dapat saya lakukan dengan lebih berhati-hati. Kebangkrutan membuat
saya beristirahat sejenak dari ambisi saya yang mungkin berlebihan dibandingkan
kemampuan.
Kalau saya merasa bodoh dibandingkan orang yang
superpandai, maka saya harus menciptakan kesempatan untuk berpikir bahwa saya
bodoh matematika, tetapi saya mampu menjadi penulis yang baik. Saya menciptakan
keadilan untuk diri saya, bukan untuk menyaingi kepandaian orang dengan tingkat
intelektual yang telah dilecehkan itu. Saya menciptakan keadilan untuk diri
saya agar saya bisa berpikir bahwa pandai itu tidak selalu harus diartikan
dengan pandai berhitung.
Saya memutuskan untuk menciptakan keadilan untuk
diri saya. Keadilan yang membuat saya mampu menghadapi hal terburuk dengan
sudut pandang yang tidak buruk. Mungkin dengan demikian, saya mampu bersyukur
dalam segala hal dan tidak berkeluh kesah tentang segala hal. Termasuk
perjalanan panjang yang membosankan di dalam kereta yang berisik itu. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar