Rasa takut meliputi saya saat membuat tulisan ini. Entah mengapa sesubuh itu perasaan saya sudah seperti itu. Saya takut menghadapi masa depan. Perasaan itu tiba-tiba saja datangnya. Saya berasumsi mungkin perasaan takut itu timbul karena perjalanan selama hampir satu tahun ini memang sulitnya bukan kepalang.
Sebetulnya perasaan ini sudah ada sejak satu hari
sebelumnya. Saya sedang duduk di dalam taksi yang mengantar saya pulang dari
sebuah mal. Di dalam kendaraan itu tiba-tiba terlintas bagaimana kalau malam
itu saya mengalami kecelakaan lalu lintas dan mati seketika. Saya tak tahu dari
mana datangnya pemikiran itu, tetapi itulah yang terjadi.
Saya berusaha menepis pemikiran itu dengan tenggelam
membaca akun media sosial beberapa teman saya. Perasaan itu sempat hilang dan
kembali muncul saat tiba di rumah. Saya menjadi takut apakah saya akan mati
malam ini. Bagaimana kalau ada yang orang yang sengaja menjerumuskan saya.
Bagaimana masa tua akan saya jalani, apakah saya masih bisa sehat tanpa menjadi
pikun.
Seperti ponsel
Perasaan dan ketakutan ini tak pernah terjadi
sebelumnya. Kalaupun saya pernah khawatir akan masa depan, itu tak membuat saya
ketakutan seperti saat saya sedang menyelesaikan tulisan ini. Saya berpikir
apakah perasaan ini timbul karena tahun 2019 satu bulan lagi akan berakhir, dan
kalau melihat kembali perjalanan selama hampir satu tahun ini, bisa dikatakan
hasilnya benar-benar membuat putus asa.
Apalagi ketika klien saya mengatakan bahwa tahun depan, situasi ekonomi juga tak akan lebih baik dari sekarang ini. Tentu satu-satunya cara untuk meringankan perasaan takut ini, saya langsung berdoa. Hidup kalau lajang dan yatim piatu seperti saya, tak ada yang dapat diajak bicara, apalagi ketika terbangun di subuh hari. Jadi, satu-satunya cara adalah curhat pada Yang Maha Kuasa.
Di tengah ketakutan itu, ritual saya untuk kepo
dengan akun teman-teman saya dan selebritas dunia tetap saya jalankan. Seperti
saya katakan di atas, itu cukup membantu mengurangi perasaan gelisah. Nah, saat
menjalankan ritual pagi, saya membaca unggahan dari akun media sosial Iman
Abdulmajid, model kondang dan istrinya David Bowie.
Begini unggahannya. ”What if we recharged ourselves
as often as we did our phones?”
Setelah selesai membaca itu, saya menganggukkan
kepala. Mungkin ada benarnya bahwa hidup saya harus diisi kembali dengan yang
positif. Perasaan takut itu harus diakui seperti baterai yang sudah minim
kekuatannya dan membuat saya tak berdaya dan sangat memerlukan pengisian
kembali agar bisa tokcer lagi.
Mungkin
Bagaimana cara saya melalukan pengisian ulang itu?
Yang jelas pengisian ulang bukan seperti pengisian ulang telepon genggam atau
mobil listrik. Saya curhat pada Yang Maha Kuasa. Semuanya saya tumpahkan dalam
obrolan melalui doa itu. Saya curhat tanpa ada yang perlu disembunyikan. Saya
tak hanya curhat, beberapa kekesalan pun saya beberkan.
Anda tak bisa membayangkan betapa banyaknya curhatan
itu. Begitu selesai curhat, meski perasaan takutnya masih ada, saya mencoba
menghadapi yang saya takutkan itu. Pertama, saya melihat ke dalam diri saya.
Saya ini orangnya mudah positif dan mudah menjadi negatif. Kalau lagi positif,
saya begitu inspiratif dan mampu membuat orang terkagum-kagum.
Kalau datang negatifnya seperti saat saya membuat
tulisan ini, saya bisa seperti orang yang berbeda. Saya tak mampu menginspirasi
diri saya sendiri. Ketakutan saya itu dapat menekan saya sehingga saya tak
dapat berpikir jernih.
Beberapa kali saya mencoba untuk positif di sebuah
situasi negatif, tetapi hasilnya malah lebih buruk dari negatif. Maka, saya
lebih senang berdiri dalam sisi negatif sehingga kalau itu terjadi saya sudah
siap.
Mengisi diri kembali dengan berpikir positif
ternyata tak membantu. Saya bingung, jalan apa lagi yang akan saya pakai agar
baterai kehidupan saya menyala lagi. Maka saya memberanikan diri dengan
menerima saja bahwa saya ketakutan sebagai aksi mengisi kembali baterai
kehidupan itu.
Mungkin pengisian ulang baterai hidup saya adalah
dengan tak perlu memositifkan yang negatif. Mungkin saya juga tak perlu melawan
ketakutan akan ketuaan. Mungkin ketakutan saya tak akan menjadi-jadi kalau saya
tak melawan, tetapi menerima bahwa saya akan tua.
Mungkin saya harus menerima saja saya takut mati,
takut akan masa depan yang tak menentu, daripada saya melawan untuk tidak
takut, seolah-olah saya ini tak mau bertemu dengan kematian dan masa depan yang
suram.
Mungkin kalau saya tidak bisa menerima ketakutan
itu, lama-lama saya menjadi semakin takut. Karena melawan itu seperti orang
yang tak mau menerima kenyataan. Mungkin kalau saya mau menerima dan tak
melawan, lama-lama saya akan mengenal diri saya sesungguhnya.
Mungkin dengan menerima, saya bisa memeluk ketakutan
seperti saat saya memeluk kebahagiaan yang datang. Jadi, menjadi positif itu
adalah berani memeluk yang negatif. Dengan memeluknya, saya dapat melihat
ketakutan secara proporsional. Karena semakin saya menghindarkan diri dari
memeluk ketakutan, semakin saya tak mengenal ketakutan itu.
Mengenal ketakutan itu penting, karena kalau saya
mengenal, mungkin saya dapat mengetahui bagaimana saya harus bersikap dan
melihat bahwa ketakutan itu ternyata tak sebesar yang saya pikirkan. Mungkin.
Sungguh saya benar-benar tak tahu. Mungkin juga, kalimat penutup ini saya buat
hanya untuk membuat saya tak terlalu resah. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar