”Cuaca selama penerbangan sangat baik. Jarak pandang 8 kilometer.” Demikian pengumuman yang diberikan pilot yang menerbangkan saya dari kota Singa ke ibu kota tercinta ini. Sebagai orang yang keder terbang, kalimat cuaca sangat baik itu bak sebuah harapan yang menenangkan batin.
Otak
Sejujurnya lebih menenangkan daripada doa yang
selalu saya panjatkan sebelum terbang. Karena kalau berdoa itu tak ada reaksi
duniawinya, tetapi harus ditanggapi dengan reaksi iman. Nah, kalau seandainya
iman itu ada indikator nilai normalnya seperti pada hasil pemeriksaan
laboratorium, maka nilai iman saya itu di bawah normal.
Makanya, saya ini lebih percaya kalau ada suara
duniawinya sehingga saya jadi yakin karena bisa dimengerti oleh otak.
Pendengaran duniawi itu seperti jaminan kehidupan. Rasanya seperti ada sesuatu
yang bisa dipegang.
Apa yang seketika terlintas di kepala seandainya
Anda mendengar kalimat cuaca sangat baik? Kalau saya, sangat baik itu berarti
tak ada yang akan mengganggu selama perjalanan, bahkan hal sekecil apa pun
juga.
Kalau dimisalkan ujian, hasil yang sangat baik itu
mencerminkan nilai yang sudah pasti tidak ada merahnya. Kalaupun angkanya
berwarna biru, saya pastikan yang biru itu tidak ada angka enam atau tujuhnya.
Jadi luar biasa.
Kalau sehabis melakukan pemeriksaan kesehatan, baik itu fisik maupun laboratorium, dan dari mulut seorang dokter didendangkan kalimat sangat baik hasilnya, maka di pikiran saya, ya... tidak ada yang tidak baik. Semuanya beres dan tokcer. Jantungnya sehat, tekanan darah normal, paru-paru dan semua organ yang diperiksa apik dan menawan.
Maka biasanya, mereka yang mendengar keputusan
hasilnya sangat baik, hatinya akan senang sekali. Hasil dan rasa senang itu
melahirkan keyakinan yang memberi jaminan rasa tenang dan tenteram untuk
melangkah ke depan.
Tak berapa lama kemudian pesawat lepas landas. Saya
berangkat pukul 10.30 malam. Karena sudah diyakinkan dengan pengumuman cuaca
sangat baik, saya sedikit lebih rileks dan menikmati pemandangan keluar yang
meski gelap, taburan lampu-lampu yang terlihat kecil juga menarik untuk
dilihat.
Iman
Kemudian tak lebih dari lima menit setelah saya bisa
merasa rileks, pesawat mulai berguncang. Ah... saya pikir ini baru akan menuju
ketinggian jelajah yang sesuai. Mungkin pesawat sedang menembus awan.
Pemikiran positif itu sama sekali tidak membantu
karena ternyata pesawat berguncang dari derajat rendah sampai yang membuat saya
deg-degan tanpa henti, sampai saya tiba di bandara udara Jakarta ini. Selama
perjalanan yang menggelisahkan itu, saya merasa sungguh kesal karena merasa
sudah dikacangi oleh pengumuman dari mas pilot.
Saya tak pernah tahu bagaimana menjalankan sebuah
pesawat, saya juga tidak tahu seluk-beluk soal cuaca, soal mesin dengan
teknologi canggih yang bisa mendeteksi ini dan itu, guncangan ini dan guncangan
itu.
Saya hanya penumpang yang sederhana, duduk dan
memercayai bahwa dalam satu jam dan sekian menit akan tiba dengan selamat dan
tidak merasa dikacangi sampai tujuan. Saya juga tak pernah tahu, dari mana
seorang pilot bisa memberi pengumuman cuaca sangat baik, tetapi pada
kenyataannya jauh dari baik.
Bagaimana seorang dokter, guru, atau dosen dapat
mengatakan hasil tes dan ujian seseorang sangat baik, tetapi nilai yang satu di
bawah normal, satu lagi di atas normal. La wong namanya juga sangat baik, ya…
tidak ada buruknya, bukan?
Bahkan, ketika guncangan mulai terasa lebih berat,
tak ada tanda kencangkan ikat pinggang dinyalakan. Kemudian saya mencolek teman
saya. ”Tenang aja, bro. Itu berarti menurut pilotnya, guncangannya masih biasa.
Kagak perlu ngiketin pinggang.” Terus ia melanjutkan menonton tayangan film dan
tak memedulikan kekhawatiran yang saya rasakan.
Mungkin teman saya ini tenang karena ia memilih
memercayai imannya ketimbang saya yang lebih memercayai pengumuman dari manusia
dengan lidahnya yang tak bertulang. Sementara di maskapai penerbangan lainnya
yang pernah saya tumpangi, guncangan yang minimal saja sudah membuat tanda
kencangkan ikat pinggang itu dinyalakan.
Saya jadi bertanya dalam hati, apakah keselamatan
saya selama terbang bergantung pada iman pilotnya? Apa peraturannya berbeda?
Atau bergantung pada tingkat kekederan yang diatasnamakan menjaga keselamatan
penumpang?
Peristiwa selama satu jam lebih itu tidak
menyurutkan saya untuk terbang, tetapi menyurutkan saya untuk memercayai mulut
dengan lidah yang tak bertulang itu. Kok ya... beberapa jam sebelum terbang,
saya makan malam bersama beberapa teman. Kami berdiskusi tentang seorang teman
yang seperti pengumuman si mas pilot. Meyakinkan di depan, tetapi mengguncang
kehidupan orang di belakang.
Tentu saya tak akan bersusah payah mencari sesuatu
yang tak masuk akal seperti lidah yang bertulang. Yang harus saya latih adalah
menjalani kehidupan dengan iman di tengah lidah tak bertulang itu. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar