Pada suatu hari saya masuk ke sebuah chat room. Saya bolos ke kantor karena hari itu rasa malas dan bosan menyerang dengan gencar. Hari masih sekitar pukul sembilan pagi. Beberapa menit berada di ruang untuk bertemu sejuta umat itu, saya tertarik dan kemudian tersinggung membaca status seseorang. Begini bunyinya. "Yang jelek enggak usah coba-coba chat. Ke laut aja."
Saya menyesal masuk ke ruang mengobrol itu.
Tersinggung pada pagi hari itu seharusnya tak sepantasnya terjadi. Sakitnya tu
di sini. Di hati dan ubun-ubun, maksudnya. Baru saja saya mau meninggalkan chat
room itu tak sengaja saya membaca satu status lagi. "Mencari yang ganteng,
yang lain ke laut aja."
Saya sampai merasa bahwa kedua status yang
menyinggung perasaan itu sebagai upah dari membolos. Tetapi, toh itu tetap tak
menggoyahkan hati untuk berpikir membatalkan acara membolos.
Kemudian saya teringat dengan beberapa teman yang
memiliki kelompok yang terdiri dari pria-pria tampan dan perempuan cantik.
Beberapa orang mengatakan kepada saya, kelompok itu sombongnya setengah mati.
Saya mengenal beberapa dari mereka. Mereka tidak sombong dalam percakapan,
tetapi bahasa tubuh mereka berbicara dengan sendirinya tanpa mulut mereka harus
bersuara. "You can not seat with me."
Setelah tersinggung beberapa saat karena saya sangat
menyadari keadaan saya ini sangat bisa dimasukkan ke dalam kategori buruk rupa,
saya mulai berpikir. Begini. Pertama, kalau seseorang tak mau bertemu atau
berkenalan dengan yang jelek, artinya ia tak mau bertemu alias menolak seorang
makhluk ciptaan Tuhan.
Artinya, mereka tak sedang menghina saya, tetapi
sedang menghina Yang Mahakuasa. Karena, saya ini percaya manusia yang berada di
dunia ini adalah ciptaan Tuhan, apa pun bentuknya. Tetapi, pengelompokan
manusia itu dibuat oleh manusia sendiri. Kaya, miskin, buruk rupa, cantik
jelita, tampan memesona. Pandai, bodoh, dan seterusnya.
Saya sendiri juga tidak tahu apakah pengelompokan
yang dibuat tersebut juga salah satu bentuk penghinaan terhadap Sang Pencipta.
Saya malah berpikir setelah melihat status dua manusia di ruang mengobrol itu,
bagaimana manusia bisa begitu beraninya menghina Yang Mahakuasa memilah-milah
dengan siapa ia mau bergaul, dan dengan siapa ia mau diasosiasikan hanya
berdasarkan fisik semata.
Sementara Yang Mahakuasa itu malah bertujuan agar
manusia mengasihi sesama manusia, apa pun keadaan mereka. Saya merasa, orang
yang memiliki status semacam itu memosisikan dirinya di atas Sang Pencipta.
Lapang dada
Kedua, apakah jelek itu? Apa kategorinya seseorang dapat dianggap buruk rupa? Apakah jelek itu kerempeng? Tidak berotot? Tidak bahenol? Tidak seksi? Apakah jelek itu bukan putih? Bukan berambut panjang nan hitam berikal? Apakah jelek itu tidak tinggi? Tidak semampai?
Di beberapa perusahaan yang bergerak di dalam riset
kehidupan sosial, ada batasan yang disebut kelas sosial atas, menengah, dan
bawah. Mereka memiliki angka tertentu yang mampu mengelompokkan kelas sosial
tersebut.
Di sekolah ada predikat juara. Juara satu dan juara
lima puluh. Juara satu dianggap pandai, juara lima puluh dianggap ya gitu deh.
Tetapi, bagaimana kriteria dan nilai yang disebut cantik dan buruk rupa itu?
Seperti saya katakan di atas, saya ini sama sekali
jauh dari kategori tampan. Sampai pada suatu hari saya ingin sekali melakukan
operasi plastik. Saya bahkan sudah mendatangi sebuah seminar dan melihat
bagaimana prosedurnya dan seberapa banyak dana yang harus saya sediakan.
Ide saya untuk melakukan operasi plastik ini
dasarnya ada dua. Pertama, saya ingin dikelompokkan tampan supaya lebih cepat
laku. Karena, saya tersakiti bertahun lamanya karena ketidaktampanan itu.
Kedua, saya ini merasa hidung saya terlalu besar, alis mata saya tidak tumbuh
dengan posisi yang benar, kulit saya seperti jalan rusak yang berlubang, saya
kurang tinggi.
Tetapi, seorang teman yang tampangnya gitu deh
membuat saya mengurungkan niat saya itu. "Jadi, elo tu nggak suka sama apa
yang dikasih Tuhan? Elo merasa bahwa Tuhan salah merancang fisik elo? Elo gak
puas? Emang setelah operasi dan katakan elo jadi tampan, emang elo bakal
dikejer-kejer orang?"
Saya terdiam tak bisa berkata apa-apa, dan sampai
tulisan ini dibuat saya masih dengan kondisi yang sama. Saya tak bisa
menghindari adanya pengelompokan, saya tak bisa tersinggung karena ada orang
yang hanya mau bergaul dengan yang tampan.
Sekarang ini yang jadi pekerjaan rumah adalah
menerima keadaan saya. Suka atau tidak suka. Semoga suatu hari dengan mampu
menerima, saya jadi lapang dada. Kalau saya lapang dada, saya berharap itu akan
melapangkan jalan saya untuk mendapatkan seseorang yang bisa melihat kondisi
fisik saya, sebagai sebuah hal yang memesona. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar