Saya sungguh tertarik dengan status BBM seorang teman. Keajaiban hadir bukan karena beruntung, melainkan datang bagi mereka yang mau bertarung.
Bertarung
Di suatu malam, saya datang ke sebuah rumah sakit
untuk memeriksa kesehatan. Dari sejak satu hari sebelumnya sampai waktu saya
mendaftar ulang, petugas rumah sakit telah mengingatkan bahwa saya mendapat
giliran nomor sepuluh.
Sampai kira-kira setengah tujuh malam, klinik dokter
belum juga dibuka, dalam hati saya berkata, ”Duh, kalau jam segini aja belum
dibuka, sementara aku dapat nomor sepuluh, jam berapa, ya, pulang?”
Tidak berapa lama setelah itu, dokter datang dan
klinik dibuka. Maka giliran pasien dipanggil. Dan nama saya dipanggil nomor
satu. Awalnya saya tidak bergerak dari tempat duduk karena dalam pemikiran, giliran
saya baru nomor sepuluh.
Ah... mungkin ada pasien lain yang kebetulan namanya
sama seperti saya. Setelah nama saya dipanggil tiga kali dan tak ada pasien
yang berdiri, saya langsung berdiri dan masuk ke dalam klinik dokter.
Kalau Anda seperti teman saya mengatakan itu pasti ada kesalahan, saya sendiri berpikir demikian. Tetapi kenyataannya, apa pun kesalahan yang telah dibuat, saya mendapat giliran nomor satu. Buat saya, kejadian itu sebuah bentuk keajaiban dan saya beruntung.
Kejadian di klinik dokter itu juga mengingatkan pada
peristiwa saat saya hendak melakukan transplantasi ginjal. Saya hanya
membutuhkan waktu tiga jam saja dari saat mendarat di rumah sakit, untuk bisa
mendapatkan ginjal baru tanpa harus menunggu berbulan lamanya. Semua orang yang
mendengar cerita ini mengatakan itu sebuah keajaiban.
Selama perjalanan hidup yang setengah abad lebih
ini, saya terbiasa untuk bertarung. Saya berpikir selama saya bertarung, maka
selama itu saya akan beruntung. Karena buat saya bertarung itu sama dengan
orang rajin, kerja keras, tidak malas, berusaha.
Dan karena saya rajin dan bla-bla-bla itu, maka saya
berhak menerima keberuntungan. Jadi, seperti status BBM di atas, keajaiban
hanya untuk saya yang bertarung, yang tidak tinggal diam.
Pertarungan sering kali dianggap yang mendatangkan
kesuksesan, meski tak memungkiri bahwa akal yang digunakan untuk bertarung
dimanfaatkan untuk sebuah pertarungan yang bertujuan mulia atau tidak mulia
sama sekali.
Tidak bertarung
Bertarung itu mengandung banyak hal. Perjuangan,
menyusun strategi, melakukan penilaian, dan sejuta hal lainnya. Bertarung itu
melelahkan. Sementara beruntung itu tidak melakukan usaha apa pun, tak
mengharap apa pun, tak memasang strategi apa pun.
Beruntung tidak menuntut dan dituntut. Beruntung itu
tidak dipikirkan akan terjadi. Berharap itu mengandung sebuah keinginan,
beruntung tidak mengandung apa pun. Beruntung itu bukan sebuah pertarungan, itu
sebuah pemberian.
Keajaiban menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ada
beberapa arti, dan di antaranya berarti yang tidak dapat diterangkan dengan
akal. Nah, karena tidak dapat diterangkan dengan akal, maka keajaiban itu
tampaknya terjadi bukan sebagai sebuah reward bagi saya yang sudah bertarung
tanpa henti, atau tidak bertarung sama sekali. Namun terjadi karena tanpa
adanya persyaratan. Keajaiban itu sebuah kasih karunia.
Baru saja saya mau mengakhiri tulisan ini, nurani
saya nyeletuk seperti biasa tanpa ba-bi-bu. ”Emang siapa yang nyuruh elo
bertarung dalam hidup ini? Bertarung itu, kan, maunya elo. Emang elo pikir
kalau elo bertarung itu sama dengan kerja keras? Sama dengan manusia yang
rajin? Sama dengan berhasil?”
Nurani itu terus bernyanyi. ”Emang kalau elo udah
bertarung, elo pikir elo pasti menang? Pasti akan mendapati apa yang elo mau?
Enggak selalu kan? Nah, kalau elo tahu enggak selalu, kenapa elo selalu
bertarung?”
Saya benar kesal dengan nyanyian nurani itu.
Kemudian setelah itu, saya jadi berpikir. Bertarung itu mungkin nyaris tak
memberikan saya kesempatan untuk berdiam diri.
Tidak bertarung itu tidak berarti malas, ia bisa
memberi kesempatan seseorang untuk merendahkan hati dan mencelikkan mata agar
mampu melihat bagaimana yang tak bisa dicerna akal itu terjadi.
Mungkin hidup ini seyogianya dilakoni seperti bunga.
Ia hanya memiliki kewajiban untuk tumbuh dan kemudian mekar. Ia tak pernah
berniat untuk bertarung melawan bunga lainnya. It just blooms!
Saya memiliki kewajiban untuk bertanggung jawab atas
apa yang saya terima, melakukan yang terbaik berdasarkan kemampuan. Karena
kalau semua dilakukan berdasarkan kemampuan, saya tak perlu sampai harus
bertarung. Karena bertanggung jawab itu tidak sama dengan bertarung.
Dan kalaupun keajaiban tidak terjadi karena saya
sudah bertanggung jawab, tak berarti saya harus melakukan pertarungan yang
lebih sengit. Yang perlu saya ingat, keajaiban itu adalah bukan reward, itu
adalah kasih karunia. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar