Belakangan ini saya rindu sekali dengan mendiang ibu. Tak tahu mengapa. Kerinduan yang sudah lama tak pernah muncul. Dan, di sela-sela kerinduan itu terselip rasa menyesal mengapa mereka pergi di masa “muda” mereka.
Waswas
Ibu meninggal pada usia 45 tahun. Buat saya itu
terlalu pagi untuk dipanggil pulang. Maka perasaan rindu kemudian melahirkan
perasaan waswas. Kok, rasanya hidup itu singkat sekali. Kemudian timbul
pertanyaan, apa yang sudah saya kerjakan selama tahun-tahun ini?
Di sebuah situasi yang jauh dari melankolis, saya
tak pernah waswas, bahkan cenderung tak peduli akan kematian yang bisa datang
kapan pun itu. Oleh karenanya, perbuatan yang menyakitkan banyak orang tetap
dilakukan.
Bahkan dalam situasi macam itu, saya bisa berpikir
dengan keyakinan yang penuh bahwa saya tak akan mati muda atau tak akan
dipanggil pulang dalam waktu dekat-dekat ini. Bahkan tak jarang saya berpikir,
kalau akan selalu tersedia waktu untuk meminta maaf kalau sudah waktunya akan
meninggal.
Saya sudah mendengar berjuta kali bahwa kematian menjemput dalam waktu yang tak terduga, tetapi saya jarang mempersiapkannya selagi hidup seperti sekarang ini. Saya suka lupa bahwa kematian itu dapat terjadi secara tiba-tiba. Dalam tidur, misalnya, di mana ada kemungkinan saya tidak memiliki kesempatan untuk memohon maaf.
Apalagi saya ini kalau sudah ngantuk-nya setengah
mati, berdoa sebelum tidur itu sebagai sebuah beban yang sungguh berat dan
kemudian memilih tidak melakukannya. Mengapa begitu? Karena saya selalu
berpikir seperti apa yang saya tuliskan di atas. Saya tak akan mati dalam waktu
dekat ini. Kalau tak bisa berdoa hari ini, selalu akan ada hari esok, bukan?
Kalaupun tak sempat memohon maaf, nantikan yang
masih hidup yang bernama saudara, sanak keluarga yang akan melakukan permohonan
maaf itu. Baik di iklan koran maupun saat orang datang melayat dengan kalimat
klise mohon dimaafkan atas segala kesalahan.
Jadi saya yang korupsi, mencuri, berselingkuh,
membunuh, tetapi orang lain yang memohon maaf. Kerinduan yang mendatangkan rasa
waswas mati muda, juga menghadirkan pertanyaan apakah sebetulnya tujuan hidup
saya di dunia ini?
Bagaimana kalau
Kalau misalkan saja saya hidup seperti ibu yang
hanya 45 tahun saja, apakah tujuan saya selama tahun-tahun itu hanya menjadi
ibu rumah tangga yang menjaga agar keluarga utuh, berbahagia, dan suami serta
anak-anak tetap berada di jalan yang benar?
Atau katakan saya mendapat izin dari suami dan
anak-anak untuk melakukan pekerjaan tambahan sebagai pengusaha, misalnya,
sehingga di masa 45 tahun itu saya lumayan berguna. Berguna untuk orang rumah
dan orang di luar rumah.
Tetapi bagaimana kalau saya memilih menjadi tukang
pukul, mencuri, menjadi agen penyebar ujaran kebencian melalui media sosial,
menjadi pengedar narkoba, memiliki bisnis pelacuran dan atau sekaligus menjadi
kupu-kupu malam?
Bagaimana kalau saya menjalani hidup ini mau pendek
atau panjang dengan aktivitas yang biasa-biasa saja, hanya menjalani hidup apa
adanya? Bagaimana kalau saya memilih melakoni hidup dengan menggerutu dan
menjalaninya dengan pesimistis dan dengan kenegatifan yang sangat terhadap
nyaris setiap keadaan sehingga saya menjadi manusia yang terkenal pahit dalam
ucapan dan lakunya?
Bagaimana kalau kehidupan ini saya jalani dengan
menjadi influencer kesehatan atau apa pun itu, padahal saya tak menggunakan
produk yang saya promosikan dan berusaha memengaruhi orang untuk membeli? Jadi
saya menyambut kematian dengan cara menjadi penipu dalam bungkus yang cantik
dan mungkin mulia.
Ataukah selama masih bernapas dengan baik, saya akan
memilih mengisi kehidupan ini menjadi manusia yang keberadaannya selalu
dirindukan dan setelah meninggal pun kerinduan orang lain terhadap saya itu tak
pernah pupus.
Atau sebaliknya, selama saya masih bernapas, saya
memilih dengan sadar mengisi kehidupan ini agar dicaci maki banyak orang.
Bahkan ketika saya terbaring sakit sekalipun, orang mengharapkan bahkan mungkin
berdoa secara terang-terangan agar saya mati secepatnya.
Setelah rasa rindu yang mendatangkan waswas itu,
saya jadi berpikir, mungkin hidup panjang umur atau pendek umur bukanlah
masalah utamanya, tetapi bagaimana saya mengisi kehidupan yang panjang atau
pendek itu dengan kesadaran penuh bahwa kematian bukanlah akhir sebuah
perjalanan kehidupan, tetapi sebuah awal pertanggungjawaban kehidupan. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar