Kalau saya mengajukan pertanyaan pada Anda sekalian sebuah pertanyaan soal mencintai negeri ini, apa yang kira-kira akan menjadi jawaban Anda? Contohnya seperti ini. Apakah Anda benar mencintai Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya? Apakah Anda merasa bangga menjadi bangsa Indonesia dengan mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar?
"Aku ini kalau berbahasa Indonesia jelek
banget."
Sejujurnya saya ini mau mengaku pada Anda semua,
mengapa saya mengajukan pertanyaan di atas sebagai pembuka tulisan ini. Begini
ceritanya. Satu minggu yang lalu, saya dibuat kesal gara-gara mendengar
pembicaraan seorang bapak pada temannya di dalam pesawat terbang. Saya tidak
menguping karena ia bersuara sangat keras sehingga saya bisa mendengar semua
percakapannya dengan jelas.
"Aku ini kalau berbahasa Indonesia jelek
banget, sampai stafku sering kali mengoreksi. Aku ini lebih bagus kalau pakai
bahasa Inggris." Sambil mengobrol, ia menggenggam sebuah buku tebal
berbahasa Inggris yang sama sekali tak dibacanya selama penerbangan itu.
Mendengar dan melihat caranya membawa diri, awalnya
saya ingin memberi judul tulisan ini "mulut besar". Tetapi ketika
gendang telinga saya mendengar kalimat, aku ini kalau berbahasa Indonesia jelek
banget, saya kemudian menggantinya dengan judul di atas yang Anda semua tahu,
itu sebuah singkatan dari Aku Cinta Indonesia.
Selama kurun satu jam lebih sekian menit itu saya
dibuat kesal bukan karena mulut besarnya, tetapi kalimat di atas itu terus
mengiang di telinga, bahkan ketika saya sedang berusaha menghapusnya dengan
melihat tayangan film.
Sejujurnya, kalimat yang dikeluarkan dari mulut besar si bapak itu sudah acap kali saya dengar dari beberapa teman atau klien, yang beruntung pernah tinggal dan bersekolah di luar negeri dalam kurun waktu yang cukup lama, dan kemudian pulang kampung dan mencari nafkah di negerinya sendiri.
Melihat kejadian itu, dan dengan mengingat
kepandaian saya yang di bawah standar, saya hanya berpikir begini. Kalau
seseorang bisa berbahasa asing dengan hebat, lancar, benar, dan tepat, serta
dapat membaca novel atau apa pun dengan bahasa asing, mengapa ia tak bisa
berbahasa Indonesia dengan baik dan benar?
Apakah karena...?
Maka seperti biasa, saya mulai memeras otak yang
tajamnya tak seberapa ini. Apakah karena ia merasa kalau menggunakan bahasanya
sendiri itu tidak memberi gengsi, tidak memberi keuntungan, terutama untuk berkomunikasi
sebagai warga dunia?
Apakah karena ia merasa bahwa bahasa Indonesia yang
bukan digunakan sebagai bahasa internasional tidak perlu mendapat porsi yang
penting untuk dipelajari dan dikuasai? Kalaupun bahasa Indonesia tidak
merupakan bahasa internasional, tidak pula digunakan dalam menjalani profesinya
sehari-hari, apakah itu tidak cukup untuk membuatnya bangga, bahwa ia bisa
fasih menggunakan sekian bahasa, termasuk bahasa Indonesia?
Apakah sejujurnya kalimat yang dikeluarkannya dari
lidah tak bertulang dengan ringannya itu sebuah bukti kalau ia tidak mencintai
negeri ini, atau hanya mencintai setengahnya saja? Karena buat saya, cinta itu
bisa bermacam bentuknya, tetapi apa pun bentuknya, itu harus dibuktikan dengan
nyata dan bukan hanya omongan saja.
Cinta Anda kepada Tuhan, pasangan, keluarga, diri
sendiri, dan negara juga harus ada bukti nyatanya. Kalaupun bentuk cintanya
terhadap negeri ini bukan dengan mampu berbahasa dengan benar, apakah
mengeluarkan kalimat macam itu dianggap pantas?
Karena saya mempunyai kesan, bahwa ada kebanggaan
seseorang dapat berbahasa asing dengan benar ketimbang mampu berbahasa
Indonesia dengan benar. Itu mungkin yang menyebabkan bapak yang saya jumpai itu
dapat mengutarakan ketidakmampuannya berbahasa Indonesia dengan ringannya dan
dengan lantangnya tanpa merasa terbeban.
Mencintai itu butuh pengorbanan, mencintai itu tidak
bisa setengah-setengah. Mencintai itu menuntut Anda untuk bersikap. Mencintai
atau tidak mencintai. Karena yang setengah itu membuat seseorang tak pernah
serius menjalani apa pun.
Selama penerbangan itu, saya berpikir keras,
bagaimana seorang warga negara Indonesia bisa meleceh dengan lantang sebuah
kalimat macam saya jelek kalau berbahasa Indonesia, tetapi masih berwarga
negara Indonesia dan mencari nafkah di negeri ini?
Sekarang, saya mau mengajukan pertanyaan pada
saudara-saudari sekalian. Saya berjanji, ini pertanyaan yang terakhir untuk
hari ini. Tentu Anda tak perlu melayangkan jawaban ke kantor redaksi, cukup di
hati Anda saja. Begini pertanyaannya.
Kapan kira-kira Anda akan berhenti mengatakan bahwa
bahasa Indonesia saya itu jelek banget, dan kapan Anda mulai belajar untuk
mencintai negeri ini dengan belajar berbahasa Indonesia agar tidak jelek?
Kalau sudah bertahun lamanya Anda selalu berkata
dengan ringannya kalau bahasa Indonesia saya jelek, dan Anda pun tak tergerak
untuk menjadi lebih baik sampai sekarang ini, mengapa Anda bersikap untuk
memilih tetap jelek dan menjadi orang asing di negeri sendiri? ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar