Beberapa hari setelah tahun baru, saya berjumpa dengan seorang teman lama. Dalam percakapan di sore hari itu, saya bertanya apa yang ia akan lakukan di tahun baru ini. Ia menjawab, ”Mau hidup yang santai.”
Pakai kepala
Selama perjalanan pertemanan yang lebih dari 10
tahun, ia adalah satu dari beberapa manusia yang aktifnya di batas luar biasa.
Dengan wajah yang masih bingung mendengar komentarnya itu, ia memberikan
penjelasannya. ”Satu-satunya yang belum pernah aku jalani adalah menjalani
hidup dengan kepekaan nurani.”
Mendengar penjelasan itu, saya berkicau tanpa henti.
”Hidup itu ndak bisa gitu kali, bro. Elo, kan, mesti mikir pakai otak juga. Elo
bakal kayak orang males dan seperti orang enggak bertanggung jawab.” Kemudian
ia membalas kicauan itu.
”Nah, aku tu pengen nyoba ’males’, pengen nyoba
enggak ngoyo, tiap hari pengen ngejalanin hidup dengan hati. Udah nyaris empat
puluh tahun hidup pake kepala terus. Gak ada puasnya, target dikejer terus,
ngarep mulu, mau ini, mau itu. Sekarang ini gue mau mempertanggungjawabkan
hidup dengan cara yang jauh lebih santai.”
Saya masih tak bisa menerima penjelasannya itu. Bagaimana ada manusia mau hidup dengan lebih santai, la wong hidup itu sendiri sama sekali tak memberi waktu untuk bersantai. Sebentar-sebentar akan ada kejutan. Kejutan satu membuat bahagia, kejutan berikutnya membuat naik pitam. Kemudian ia menjelaskan lagi.
”Nah, yang aku lakukan selama ini adalah merasa
terkejut itu penting karena membangunkan dan menjadikan aku lebih mawas diri.
Ternyata dikejutkan itu sungguh melelahkan. Biarkan saja hidup membawa kejutan,
sekarang aku mau belajar agar aku gak perlu menyambut keterkejutan hidup itu
dengan terkejut, tetapi dengan membiasakan menerima saja. Kalau sama-sama
terkejut, ancur bro.”
Percakapan sore itu hanya sebuah percakapan satu
arah. Dan saya menyimak setiap nyanyian yang keluar dari mulutnya. ”Aku juga
enggak tahu hidup yang bakal aku jalani dengan hidup yang jauuuuuhhh lebih
santai ini. Aku udah nyoba pakai kepala, sekarang mau nyoba pakai nurani.”
Ia melanjutkan penjelasannya lagi. ”Nyaris empat
puluh tahun hidup gue tu nggak bisa santai. Kerja, teriak, lari, terbang,
marah, kesal, panik. Orang mengatakan itu adalah hidup. Semarak, berwarna,
bergairah. Itu ada benarnya. Tapi satu hal yang membuat aku lupa gara-gara
hidup terlalu semarak, adalah akibat yang ditimbulkannya.”
Pakai nurani
”Ini contohnya. Aku tu selama ini mikir kalau waktu
itu gak bakal datang lagi, sayang kalau tidak dimanfaatin semaksimal mungkin
buat menambah keuntungan, memperluas jejaring, membuka kesempatan baru. Aku
kalau lihat orang menjalani hidup dengan enggak ngoyo itu bingung. Di waktu
liburan saja, otak ini terus mikir, terus berhitung.”
Kemudian ia bercerita bahwa suatu hari di masa
liburan, ia diajak seorang rekan bisnisnya makan siang. ”Itu rumah makan
enaknya luar biasa, terus aku bilang dalam hati, ini bisa aku buka di Jakarta.
Selesai membayar, aku datengin yang punya rumah makan, aku ajak diskusi tentang
kemungkinan untuk mewujudkannya,” jelasnya.
”Dulu aku tu mikirnya gini. Kesuksesan itu kalau
kita kerja keras, tak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Kerja itu selalu
pakai kepala. Kepala itu bisanya cuma mikir, kepala itu gak bisa mengajarkan
kesuksesan melalui kepekaan nurani. Kenapa aku tu suka panik, marah, kecewa
atas apa yang aku kerjain, itu gara-gara hanya mikir pakai kepala,” jelasnya
bersemangat.
”Sekarang aku mau melatih pakai nurani. Kita itu
lebih dengerin suara kepala. Bukan karena suara kepala lebih nyaring, tetapi
karena kepala mengajarkan elo yang eksak, yang elo bisa hitung, sementara yang
nurani awalnya tak bisa dihitung. Itu yang membuat elo makin mengasah kepala
elo, dan makin kurang bersahabat dengan nurani elo,” jelasnya.
”Kalau elo peka nurani, kepala elo akan mengikutinya.
Bukan kepala yang mengarahkan nurani. Kelelahan itu karena elo tidak membiarkan
nurani yang memimpin. Kepekaan itu akan membuat tenang. Ia akan mengarahkan
rumah makan mana yang tepat untuk dibeli, siapa orang yang harus elo hubungi
dengan tepat. Dan terutama kalau elo peka, nurani elo akan memberi tanda, kapan
harus melakukan eksekusi atau tidak sama sekali.”
Kemudian saya bertanya kenapa ia tiba-tiba jadi
sebijak itu, padahal ia baru saja mau mencoba menjalani hidup dengan cara baru
ini. ”Aku udah mulai mencoba menjalani hidup baru ini, sejak beberapa bulan
lalu, waktu abis periksa kesehatan. Setelah pemeriksaan dokternya bilang
semuanya baik-baik saja, dan mengatakan jangan terlalu stres.”
”Terus aku jadi mikir, stres itu adalah sebuah
pembunuhan yang aku lakukan terhadap diri sendiri dengan senjata yang bernama I
love my job dan saya harus bertanggung jawab terhadap yang saya cintai itu.
Stres itu lahir dari kepala, bukan dari nurani,” katanya berapi-api.
Ketika kami berjalan ke arah rumah makan, karena
perut mulai bernyanyi, ia berkata begini. ”Kita itu mau untuk tidak stres dan
tidak keliru, tetapi bersikeras menggunakan kepala yang paling mudah membuat
keliru dan kepanikan. Elo tu harus menyayangi diri elo sendiri. Disayangnya
pakai nurani, jangan pakai kepala.” ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar