Di suatu malam saya berbicara dengan seorang pemimpin tertinggi sebuah hotel berbintang. Setelah pembicaraan penuh basa-basi, kemudian pembicaraan masuk ke sesuatu yang lebih santai. Sekali lagi saya membuktikan, berbasa-basi itu sungguh melelahkan. Sesuatu yang dibuat-buat memang sungguh menyiksa dan hanya mampu bertahan sesaat saja.
Fatamorgana
Setelah menyerah dengan basa-basi, pembicaraan
berikutnya dipenuhi dengan gelak tawa lepas, bahkan terselip beberapa pengakuan
soal suka dan tidak suka mengenai berbagai hal. Sampailah pria supel dan ramah
ini mengungkapkan pendapatnya, bahwa Indonesia memiliki masyarakat yang sangat
menikmati hidup.
Setelah ia mengungkapkan pandangannya itu, ia
bertanya apakah saya menikmati hidup. Sebuah pertanyaan yang gampang-gampang
sulit untuk dijawab. Dari mata saya, selama hidup setengah abad di negeri ini,
saya merasa sangat menikmati.
Saya bahkan tak pernah berniat pindah ke negara
lain. Buat saya, Indonesia, khususnya Jakarta, bak sebuah perjalanan asmara.
Kehidupan yang ada keselnya, tapi ada rindu yang menyelip di antaranya. Ada cinta,
tapi ngomel-ngomel juga.
Bahkan sejak saya berwisata di luar Pulau Bali dan Jawa, cinta saya makin menjadi-jadi. Tetapi kemudian saya jadi bertanya, apakah saya menikmati semua itu? Atau saya menikmati bukan karena saya sepenuhnya sadar untuk menikmati, tetapi sudah sejak lahir saya terbiasa melihat langit yang biru, pantai yang indah, hamparan sawah hijau yang subur.
Ada segala jenis makanan yang bisa saya santap, ada
sejuta budaya yang menggetarkan hati, sejuta kain yang bisa dibeli dan
dinikmati mata. Belum lagi melihat matahari terbit atau terbenam.
Tanpa melupakan bahwa di tengah kehidupan yang makin
susah, di tengah mal yang saya amati sendiri semakin sepi, di tengah curhatan
klien saya yang bisnisnya menurun, negeri ini masih tak bisa membuat saya
pindah ke lain hati.
Pertanyaannya kemudian, apakah keberuntungan saya
sebagai manusia lahir di negeri ini adalah karena saya tak perlu harus
kedinginan setiap enam bulan atau tak melihat matahari sekian lama? Ataukah
saya ini sesungguhnya tidak menikmati hidup saya, tetapi karena pemandangan
alam dan budayanya yang dahsyat cantiknya, saya merasa bahwa saya telah menikmati
hidup? Macam fatamorgana.
Puas
Ataukah karena sejuta "kemudahan" hidup?
Antara lain yang saya alami sendiri dalam menyetop taksi yang bisa seenaknya
saja. Di mana pun dan kapan pun saja. Atau saya bisa naik taksi dengan uang
pas-pasan, dan meminta sopir taksi mengantar ke ATM terlebih dahulu?
Sementara di luar negeri, kebiasaan itu malah
membuat si sopir mendamprat saya, dan mengatakan kalau saya mau naik taksi,
mending megang uang dulu. Apakah saya menikmati hidup karena sopir taksi di
sini tidak punya buruk sangka, sementara di negeri lain itu harus selalu
waspada?
Apakah saya menikmati kehidupan pribadi itu karena
faktor luar, dan bukan dari dalam diri saya sendiri, sehingga nikmat yang
katanya lahir dari dalam akan mampu menciptakan kenikmatan yang sesungguhnya.
Artinya, kalaupun pemandangan indah dan kemudahan hidup itu tak ada di negeri
ini, saya toh bisa mengatakan bahwa saya telah menikmati hidup.
Namun, apakah sesungguhnya menikmati itu? Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, menikmati itu mengecap, mengalami sesuatu yang
menyenangkan atau memuaskan. Nah, sekarang giliran saya bertanya kepada Anda
semua, apakah Anda sudah menikmati hidup Anda?
Kalau kata menikmati mengandung perasaan puas,
mengalami sesuatu yang menyenangkan, apakah Anda dan saya sudah puas dengan
sistem transportasi, lalu lintas, telekomunikasi, dan sejuta sistem yang
memengaruhi kehidupan Anda setiap hari?
Apakah tidur hanya lima jam sudah cukup karena subuh
hari harus bangun agar di kantor mesin absensi tidak mencetak warna merah,
padahal semalam baru tiba di rumah nyaris tengah malam, khususnya mereka yang
tinggal di kota besar macam Jakarta ini?
Teman-teman saya setiap pagi mengawali hari dengan
keluhan kemacetan. Awalnya saya pikir keluhan macam itu biasa-biasa saja.
Bukankah hidup ini sudah dari sananya naik dan turun? Jadi, kalaupun berkeluh,
itu ya. kadarnya harus dianggap sama seperti kalau tidak mengeluh.
Namun, hari ini saya baru tahu bahwa menikmati itu
ada faktor kepuasannya. Jadi, mengeluh adalah bentuk tidak puas. Misalnya
layanan pesawat yang membuat Anda tidak mengalami yang namanya customer
satisfaction, atau bermain cinta dan salah satu pasangan mengecewakan dan
menimbulkan ketidakpuasan. Mungkin itu yang menyebabkan seorang teman di dalam
grup mengatakan bahwa kualitas hidupnya semakin menurun.
Karena saya ini geblek, saya pikir dia tambah
miskin. Ternyata saya baru tahu dia telah mengerti kepuasan dalam kata
menikmati. Dia mengerti bahwa langit yang biru, pantai yang indah, hanya
pelipur lara sesaat karena sesungguhnya ia tidak menikmati hidup, bukan ia
tidak bersyukur, bukan karena ia tidak bahagia.
Mungkin saya harus menaikkan kualitas hidup tidak
dengan merasa puas dengan faktor luar semata. Bahkan porsi terbesar seharusnya
saya menikmati hidup yang didasari rasa puas yang datangnya dari dalam diri
sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar