Kzl itu singkatan dari kata kesal. Di kalangan pergaulan saya sekarang, mereka menuliskan dengan singkatan kzl atau dengan tagar kzl atau menulisnya kezel. Nah, hari Minggu yang lalu saya menerima curahan kekesalan teman lama di masa sekolah dasar dulu, kalau gol pekerjaan dan hidupnya susah sekali tercapai.
Gol
Saya pernah membaca, kalau tidak salah, entah itu di
mana, bahwa ada pernyataan yang mengatakan begini. Kalau mengatur gol itu
jangan kerendahan karena nanti kita akan merasa puas, padahal kemampuan kita
lebih dari itu. Bahkan kita jadi tidak tahu kalau memiliki kemampuan yang
lebih.
Tetapi di sisi lain, katanya, kita juga sangat tidak
benar memasang gol terlalu tinggi. Nanti kalau ketinggian, kita menjadi
frustrasi dan kalau sudah begitu susah untuk meraih apa yang sudah
dicita-citakan. Dan akan melahirkan perasaan bahwa saya ini kok tidak pandai
dan tidak berhasil seperti teman-teman saya.
Maka, datangnya pesan berupa kekezelan teman lama
itu seperti flashback mengingat berjuta kekezelan saya atas gol yang tidak
tercapai di masa lalu. Tetapi hari ini saya mau membagi cerita mengapa beberapa
keinginan yang saya ingin capai sekarang benar-benar dapat tercapai.
Pertama, saya terlalu percaya dengan ucapan yang
pernah saya baca itu. Mengatur gol yang rendah itu ternyata buat saya malah
mendatangkan rasa percaya diri. Artinya, saya bisa mencapai gol yang rendah
itu, kemudian keberhasilan pencapaian itu membakar semangat untuk menaikkan
target keinginan.
Keberhasilan itu melahirkan juga percaya diri, dan menjadi ketagihan untuk menaikkan tingkat pencapaian. Yaa... kalau dimisalkan, ketagihan itu mirip-mirip sifat kemaruk dalam diri saya. Bisa lari di Gelora Bung Karno empat kali, terus nambah jadi lima kali. Terus merasa hebat bisa lima kali.
Baru bisa membeli sepasang sepatu bermerek, kemudian
ketagihan untuk menambah dua pasang lagi. Sudah punya satu apartemen, terus
nambah satu lagi dengan sejuta alasan. Untuk investasilah, untuk itulah, untuk
inilah. Jadi kadang kemaruk itu menyemangati saya untuk menabung dan mewujudkan
impian dan menyadarkan saya bahwa kemampuan saya ternyata bisa lebih dari
sekadar lari empat kali.
Cinta
Kedua. Saya ini orangnya iri hatinya tinggi. Saya
sudah menceritakan itu kepada Anda berkali-kali selama belasan tahun melalui
kolom ini. Apalagi sekarang ini begitu banyak media memasang profil-profil muda
bahkan di bawah usia 25 tahun sudah memiliki omzet ratusan juta per bulan.
Artikel-artikel itu memicu rasa iri hati saya
seperti roket. Yang tidak saya sadari selama ini adalah perasaan iri hati itu
jahatnya setengah mati karena ia mampu membutakan pengertian. Selama ini
perkataan basi macam "kalau mereka bisa, saya juga bisa" saya
eksekusi mentah-mentah. Ternyata eksekusi itu seperti tali yang dipakai untuk
gantung diri.
Ucapan "mereka bisa, maka saya juga bisa"
itu seyogianya saya maknai sebagai sama-sama sukses, dan bukan memaknai kalau
mereka bisa naik gunung, saya juga bisa naik gunung yang sama. Bertahun lamanya
saya seperti itu.
Saya menantangi diri saya dengan kemampuan yang
tidak ada pada diri saya. Seyogianya saya bisa mengerti kalimat "sana
bisa, sini juga bisa" itu adalah sama-sama bisa menuju puncaknya, bukan
sama-sama naik gunungnya. Biarkan mereka berhasil naik ke puncak gunung, saya
berhasil menaiki puncak sebagai penyanyi atau ahli matematika.
Ketiga. Saya berhenti memasang target pencapaian dan
gol atau apa pun istilahnya itu, dan mulai belajar mencintai diri sendiri.
Orang yang tidak mencintai diri sendiri itu seperti saya. Bertahun gagal itu
karena menyiksa diri ingin naik gunung, padahal kaki gemeteran karena tidak
kuat. Tidak mencintai itu adalah melakukan hal tidak sehat, padahal sejak awal
tahu kalau itu tidak sehat.
Jadi saya belajar untuk mencintai diri setelah
sekian belas tahun jatuh pada kebodohan. Saya mengurangi dengan sangat rasa iri
hati. Karena dulu saya berpikir, iri itu ada baiknya bisa memberi semangat
untuk maju. Ternyata sama sekali tidak benar. Iri itu negatif. Negatif itu
yaaa. menurut saya tak dapat berdampak positif.
Berikutnya, saya melihat apa kemampuan yang
dianugerahi Yang Kuasa untuk saya. Melihat apa yang saya sukai untuk
dikerjakan. Kemudian menerima dengan lapang dada kalau IQ saya jongkok. Maka,
bermodalkan semua itu, saya menjalani hidup dengan cinta.
Ada teman saya berkomentar begini. "Orang kok
nggak punya gol. Hidup elo jadi nggak jelas gitu dong. Ke sana kemari."
Nah, hebatnya yang namanya cinta, ia memiliki radar untuk mendorong seseorang
melakukan eksekusi yang tepat sehingga mencegah memiliki hidup yang ngalor ngidul.
Dan, radar yang satu ini hanya bisa dirasakan melalui nurani.
Setelah saya menjalani tiga langkah itu, saya
melihat kalau gol itu mengganggu kerjanya radar dan mengurangi kepekaan nurani.
Gol itu mendatangkan tekanan, mendatangkan kepanikan. Menjalani hidup dan pekerjaan
dengan cinta menuntun kepada keinginan tanpa kzl.
Maka, tak jarang saya mendengar bahwa seseorang
memiliki usaha di lima kota, padahal itu tak pernah ada dalam agenda kerjanya
sejak awal. Itu bukti cinta itu menuntun dan bukan memorakporandakan masa
depan. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar