Dua minggu lalu saya membersihkan apartemen sekecil sangkar burung. Tetapi memerlukan 6 jam untuk membereskan yang kecil itu. Tak hanya menyapu dan mengepel, tetapi termasuk membersihkan rak buku, langit-langit, teras, kulkas, menyortir pakaian bekas, sampai membersihkan surat-surat yang sudah selayaknya dibuang.
Nafsu besar, kontrol kecil
Hal yang membuat saya geleng kepala saat
membersihkan tempat tinggal itu adalah menyaksikan sendiri betapa banyak barang
yang dibeli secara impulsif. Sebuah aksi pembelian yang hanya didasari kata
hati.
Saya berpikir ada baiknya membersihkan rumah itu
sendiri tanpa meminta bantuan orang lain. Dengan demikian, saya bisa melihat
dan terkaget-kaget sendiri akan apa yang saya miliki hanya berdasarkan kata
hati semata. Membereskan rumah itu menjadi peringatan yang membukakan mata dan
hati.
Tetapi, sebelum saya melanjutkan cerita soal
beres-beres rumah itu, saya mau mengajukan pertanyaan. Berapa banyak lagi rumah
yang Anda ingin miliki, berapa mobil lagi yang ingin diparkir di garasi, berapa
banyak lagi uang yang masih ingin dikejar dan didapati, berapa banyak lagi
proyek yang ingin dikuasai, berapa banyak jabatan lagi yang ingin diduduki,
berapa banyak lagi perselingkuhan yang masih akan dilakukan?
Saya melihat di media sosial ada sekelompok anak-anak orang kaya yang memamerkan kekayaannya tiada henti, saya pernah mendengar ada yang memiliki ratusan mobil, dan belum termasuk berita yang saya baca seorang koruptor yang memiliki daftar barang-barang duniawi yang bikin geleng kepala.
Sejujurnya waktu saya sedang membereskan tempat
tinggal itu dan melihat jumlah sepatu yang saya miliki, nurani saya nyeletuk.
“Kamu itu mau membuktikan apa dari membeli barang-barang sebanyak ini?” Setelah
mendengar suara nurani bawel itu, saya mengajukan pertanyaan yang sama ini
kepada Anda. Apa yang hendak Anda buktikan dengan memiliki materi duniawi sebanyak
yang saya tuliskan di atas?
Tentu saya tak tahu jawaban Anda, dan saya yakin ada
sejuta jawaban untuk pertanyaan itu. Baru saja saya mau menjelaskan alasan
saya, nurani yang bawel menyelak dan menusuk bak belati. “Barang-barangmu yang
banyak itu hanya menunjukkan nafsumu yang besar dan kontrol emosimu yang
rendah.”
Sederhana bukan kikir
Saya kesal sekali mendengar suara bawel itu. La wong
saya ini awalnya hanya mau membereskan rumah, kok yaa. berakhir dikuliahi
seperti ini. Kemudian kebawelan nurani itu berlanjut tak bisa dihentikan.
“Emang gak bisa ya punya sepatu cuma 5 pasang aja. Gak bisa emang hidup
sederhana?”
Meski kesal, saya tetap melanjutkan membersihkan
rumah. Setelah 6 jam berlalu, dan tempat tinggal itu bersih kembali, saya
melihat satu dos besar yang berisi barang-barang yang saya buang, satu koper
tempat pakaian bekas yang sudah tak terpakai lagi bukan karena sudah kekecilan,
tetapi memang jarang dipakai.
Teguran nurani pada siang itu mengingatkan saya
kepada pertemuan dengan seorang konglomerat. Ia tampil dengan alas kaki
sederhana yang saya yakini itu bukan sepatu bermerek, mengenakan kemeja dengan
lengan digulung dan celana kain yang sederhana. Penampilannya sungguh dapat
membuat orang lain tak mengenalnya sebagai seorang konglomerat.
Sejujurnya sepulang saya dari pertemuan supersingkat
dengan sang konglomerat, terpikir untuk bisa sepertinya. Tidak untuk menjadi
kikir dan tidak untuk menghentikan kegiatan dari membeli, tetapi untuk membeli
tanpa dikuasai nafsu dan alasan yang manipulatif.
Kemudian saya mengajukan sejuta pertanyaan kepada
diri sendiri. Apakah saya perlu memiliki mobil mewah ketimbang mobil biasa? Dan
apa perlunya saya sampai punya 100 mobil? Bukankah yang utama adalah sampai ke
tempat tujuan, dan kendaraan mewah atau tidak adalah hanya alat transportasi
semata.
Apakah saya sampai perlu punya sepatu 50 pasang
kalau pada akhirnya semua itu berakhir dengan hanya menggunakan 5 pasang sepatu
yang menjadi favorit? Dan yang utama, apakah saya begitu perlunya terlihat kaya
dan perlente hanya untuk meyakinkan orang lain saya ini bisa dipercaya? La wong
maling saja banyak yang perlente.
Bukankah penghormatan orang lain kepada saya
selayaknya diberikan karena bagaimana saya memperlakukan mereka, kepekaan saya
akan kebutuhan orang lain, layanan yang saya berikan baik sebagai profesional
atau makhluk sosial, dan bukan karena saya masuk ke dalam daftar 100 orang kaya
di negeri ini?
Dunia memang membutuhkan gemerlap ragawi dan memberi
penghormatan yang lebih pada kehidupan duniawi yang berlimpah, dan saya suka
terkecoh karenanya. Padahal, di akhir hidup, 100 mobil, 100 pasang sepatu, 100
properti itu tak bisa dipergunakan sebagai alat untuk meyakinkan Sang Kuasa
bahwa saya telah hidup benar, meski peti mati saya terbuat dari kayu terbaik di
dunia dan dekorasi pemakaman saya seperti kebun yang indah. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar