Kalau hari ini saya mengajukan sebuah pertanyaan, apakah menurut Anda, Anda adalah orang yang bisa dipercaya? Bahwa apa yang Anda keluarkan dari mulut, baik itu sebuah janji maupun nasihat, tak akan berakhir sebagai bualan semata?
Diperdaya
Saya teringat dengan janji ayah kepada kakak
perempuan saya. Ayah menjanjikan menyekolahkannya ke Inggris. Dengan semangat
gadis remaja, ia mengumpulkan semua data dan keperluan pembiayaan selama
mengenyam pendidikan di negeri orang itu. Singkat cerita, semua usahanya itu
dibatalkan ayah secara sepihak, dan ayah menyarankan ia melanjutkan ke
"Negeri Paman Sam".
Apa yang ada di benak Anda kalau mendengar cerita di
atas? Apakah ayah saya menepati janjinya? Apakah omongannya dapat dipercaya?
Mungkin ia menepati janjinya untuk menyekolahkan anaknya ke luar negeri, tetapi
ia juga melanggar janjinya sendiri karena sejak awal "Negeri Paman
Sam" tak pernah disuarakan oleh mulutnya.
Peristiwa itu hanya peristiwa ringan. Namun, sebagai
anak, saya belajar sesuatu. Sering kali saya cepat sekali mengumbar janji. Akan
ada banyak alasannya mengapa umbaran manis itu dilakukan. Dari yang sekadar mau
cepatnya tanpa berpikir panjang, seperti ayah saya, ada yang beralasan untuk
pencitraan, seperti ayah saya juga.
Itu mengapa saat ia meninggal, orang mengatakan ayah saya orang baik. Karena saya tahu siapa ayah saya sesungguhnya, saya berpikir pasti salah satu citra baiknya itu gara-gara janji manisnya yang belum tentu dilakukan. Selain itu, orang mengumbar janji untuk mencapai sebuah tujuan.
Kalau melihat cerita seperti di atas, ketika janji
itu tak bisa ditepati, acapkali saya pindah ke persoalan lain yang sama sekali
tidak ada hubungannya, tetapi terasa seperti ada kaitannya. Kalau mengambil
contoh cerita di atas jadi begini. Saya tidak jadi sekolah ke Inggris, tetapi
saya tetap disekolahkan ke luar negeri.
Pernyataan itu terasa ada janji yang tak ditepati,
yang tumpang tindih dengan janji yang ditepati. Dari situlah lahir kekecewaan
bagi mereka yang dijanjikan, dan dari tempat yang samalah predikat bahwa
seseorang itu tak bisa dipercaya, diberikan.
Janji dan bukti
Kekecewaan bukan terjadi karena memindahkan lokasi
dari Inggris ke Amerika. Karena itu bukti bahwa ayah saya tetap
menyekolahkannya ke luar negeri. Namun, kekecewaan itu terjadi karena janji
yang cepat diumbar tanpa berpikir panjang. Sebuah janji palsu yang terlihat
tidak palsu. Kekecewaan yang lahir karena sebuah janji yang manipulatif.
Ketika saya menjalani sebuah cerita asmara beberapa
tahun lalu. Saya dijanjikan dengan berjuta cerita, saya terpesona dengan
caranya memberi perhatian meski kadang bisa bikin sakit kepala. Namun, dua
tahun berjalan tanpa menghasilkan janji yang manis, dan hanya berbuah
kekecewaan yang besar. Janji sehidup-semati itu hanya bualan. Karena pada
kenyataannya, yang satu hidup dan yang satu mati.
Mengapa kecewa? Karena perjalanan asmara itu tak
seperti ungkapan memberi bukti bukan janji. Namun, sebaliknya, hanya memberi
janji tanpa bukti. Dalam perjalanan hidup yang setengah abad lebih ini, sudah
banyak yang saya alami soal janji surga yang tak bisa ditepati di dunia ini.
Harus saya akui, menjadi manusia yang tak bisa
dipercaya itu bukan sekadar saya melihat kepada orang lain, melainkan acapkali
saya juga menjadi manusia yang tak bisa dipercayai diri sendiri.
Acap kali orang lain terkecoh melihat saya. Wajah
dan penampilan bisa begitu santun dan tidak bersalah, ternyata di dalamnya
dipenuhi dengan kebencian. Pakaian saya begitu terlihat bersusila, tetapi siapa
yang tahu kalau dengan pakaian bersusila itu, saya malah berbuat asusila.
Sejujurnya yang terkecoh bukan orang lain, melainkan
saya. Perilaku di atas itu, contoh nyata bahwa saya sendiri saja tak bisa
dipercayai diri saya sendiri. Itu mengapa saya sampai pernah berpikir untuk
tidak memercayai siapa pun, terutama diri sendiri.
Melalui peristiwa semacam itulah saya jadi tahu,
kalau yang tak bisa dipercaya itu acapkali hadir dengan penampilan seperti
malaikat. Mulut manis yang berbisa itu adalah salah satu bukti bahwa seseorang
itu tak bisa dipercaya.
Pertanyaannya kemudian, mengapa saya dapat menjadi
manusia yang tak bisa dipercaya? Bahkan, lebih dari itu, mengapa saya yang
tidak bisa dipercaya dapat tetap hidup tenang? Mungkin, alasan utamanya hanya
sederhana. Mungkin.
Kalau saya ini saja tidak bisa dipercayai oleh diri
saya sendiri, yaaa... mana mungkin saya membangun sebuah sosok yang bisa
dipercaya. Bukankah apa yang telihat dari luar, semuanya berasal dari dalam?
Bukankah katanya, buah itu tak jauh jatuhnya dari
pohonnya. Jadi, kalau buahnya terlihat tak bisa dipercaya, ya. mungkin bisa
dilihat saja pohonnya seperti apa. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar