Saya sedang menikmati acara makan siang di sebuah rumah makan dekat kantor. Tepat di meja yang bersebelahan, duduk seorang wanita tua, wanita muda, dan seorang anak laki-laki kira-kira berusia delapan tahun. Saya berasumsi bahwa itu adalah seorang nenek, putri atau menantu serta anak sekaligus cucunya.
Terbiasa
Tak lama kemudian, si kecil meminta pertolongan
kepada wanita tua itu, dan wanita tua itu menolak untuk memberikan pertolongan
karena tampak ia sedang bermaksud mengajarkan sesuatu kepadanya.
Tapi, yang membuat tercengang dan makan siang saya
terganggu, melihat reaksi si kecil yang naik pitam dan langsung menoyor dan
menampar ringan pipi wanita tua itu. Dan lebih membingungkan lagi, wanita muda
yang ternyata ibu si kecil hanya bereaksi dengan berkata, ”Ayo... (menyebut
nama anak), jangan gitu.”
Beberapa minggu setelah kejadian itu, saya berada di
dalam lift. Di lantai ke sekian, lift terbuka dan sepasang suami istri bersama
bayinya yang duduk di dalam kereta dorong bermaksud untuk masuk ke dalam lift.
Tiba-tiba, ketika mulut kereta dorong itu mencapai
mulut lift, seorang pria dewasa, tinggi, secara tiba-tiba menyelak masuk ke
dalam lift tanpa berniat untuk mempersilakan pasangan dan bayinya untuk masuk
terlebih dahulu.
Pria ini seperti ketakutan untuk tidak mendapat
tempat di dalam lift sehingga ia tampak tak peduli. Mungkin ia berpikir, yang
penting saya masuk dulu. Saya kemudian melihat reaksi wajah si ibu yang kesal,
tapi tak berani menegur menyaksikan kejadian yang baru saja dialaminya.
Kedua kejadian itu membuat saya berpikir bagaimana anak kecil dan pria dewasa itu mampu melakukan hal yang demikian. Bagaimana pria dewasa itu bisa berpikir bahwa keputusannya untuk menyelak adalah suatu hal yang benar dan santun untuk dilakukan?
Di manakah ia letakkan perasaan dan pemikirannya
ketika ia sedang diam berdiri menatap ketiga makhluk itu masuk ke dalam lift
dengan sedikit bersusah payah? Di manakah letak perasaan si ibu muda melihat
anaknya menampar pipi neneknya hanya dengan berkata ”jangan gitu”, sambil tetap
menyantap makan siangnya itu tanpa merasa bersalah?
Kemudian seperti biasa, otak saya mulai berpikir.
Kalau seseorang mampu melakukan hal seperti kedua kejadian di atas, mungkin
mereka telah melakukan itu berulang kali banyaknya. Pengulangan perilaku itu
melahirkan kebiasaan.
Kebiasaan mengeluarkan kalimat ”jangan gitu”,
kebiasaan terlalu mencintai cucu, anak, menantu, secara tidak bijak. Kebiasaan
menyelak, kebiasaan melatih untuk menjadi egois, kebiasaan mendapat perilaku
yang tidak adil di masa lalu. Kebiasaan menabur benih di masa kecil di tanah
yang tidak tepat sehingga semua itu mampu membutakan nurani di masa dewasa.
Latihan suara hati
Ketika perasaan kesal telah reda dari hati setelah
melihat kedua kejadian itu, maka sejuta pertanyaan datang menghampiri saya.
Bagaimana mungkin seseorang yang telah mampu berpikir sebagai makhluk dewasa,
artinya ketika seseorang mampu mengetahui salah dari benar, mengetahui sopan
dari tidak sopan, mampu melihat dan membaca sejuta peraturan dalam menjalani
kehidupan sosial, mereka masih bisa melakukan hal yang demikian?
Apakah ketika manusia menjadi dewasa, ketika otaknya
seharusnya bisa menolongnya berpikir dengan benar, dan ternyata ia masih tetap
mampu melakukan ketidakbenaran, maka itu terjadi karena benih yang ditanam di
masa lalu itu, memegang peranan yang jauh, jauh lebih penting, ketimbang otak
dewasanya?
Benar bahwa seseorang bukan anak kecil lagi, tetapi
apakah eksekusi yang dilakukan di masa dewasa ternyata adalah manifestasi dari
benih yang ditabur di tanah yang tidak subur di masa kecilnya dahulu?
Ketika otaknya mampu berpikir, bahkan berpikir
dengan tingkat IQ di atas rata-rata, ketika ia mendapat pengalaman dan
pendidikan yang cukup dalam hidup ini, itu sama sekali tak menjamin bahwa ia
akan melakukan pertanggungjawaban sebagai makhluk dewasa.
”Masa kecil gue juga gak dapat asupan yang baik.
Mana gue kagak pernah tahu babe gue siapa. Tapi gue tahu kok sopan santun.”
Demikian cerita teman saya dengan suaranya yang tinggi ketika ia selesai
mendengar cerita saya itu.
Sungguh saya tak tahu, yang mana benar dan yang mana
salah. Saya hanya berpikir, asupan jasmani dan rohani boleh saja tidak cukup
atau cukup, otak boleh saja tidak encer atau encer sekali, tetapi mungkin
latihan mendengar suara hati adalah kunci segalanya.
Latihan itu perlu karena suara hati memang
memberitahu kebenaran, tetapi otak dengan sejuta alasan sering kali
memanipulasi. Mungkin kedua peristiwa di atas sebuah bukti bahwa latihan
mendengar suara hati masih perlu dilakukan lebih sering lagi meski benih yang
ditabur di masa lalu kadang mematahkan semangat melakukan latihan itu. Mungkin.
●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar