Seorang teman lama terbaring di rumah sakit, dengan wajah yang semringah. Ia kelihatan supersehat, tak ada gambaran kalau ia menderita. Padahal, kondisi jantungnya mengalami penyempitan di tiga tempat. Maaf. Dua tempat mengalami penyempitan sebesar 30 persen dan 60 persen, satu tempat lagi sudah tersumbat 100 persen.
Anda jangan tanya berapa kadar kolesterol dan asam
urat di dalam darahnya. Dan jangan bertanya apakah selama ini ia berolahraga.
La wong saya mendengar ceritanya yang disampaikan dengan wajah sehat walafiat
itu tidak merasa iba, tetapi malah menimbulkan reaksi marah.
Jangan sampai kecewa
Saya itu marah bukan karena ingin marah. Alasan
pertama saya marah karena saya tak ingin ia mengalami yang saya alami,
menyia-nyiakan hidup dengan cara yang tidak disiplin. Alasan berikutnya, saya
marah karena saya tahu dia itu orang pandai, otaknya encer, pengalaman
profesionalnya tokcer, menguasai beberapa bahasa asing, manusia yang suka gawai
dengan segala teknologinya.
Ia bahkan mampu membenarkan komputer rusak dengan
kerumitan permasalahannya, kok yaaa… mengurus komputer bisa, mengurus badannya
enggak bisa. Kok yaaa… gawai disayang-sayang, perusahaan dicintai setengah
mati, kerja pontang-panting, karier dikejar, kok bisa dengan otak encer itu
tidak malah memilih untuk pontang-panting menyayangi dan mencintai diri sendiri
setengah mati. Bukan katanya, siapa lagi yang bisa mencintai diri sendiri kalau
bukan kita sendiri. Ya, kan?
Malam waktu saya menjenguknya, di tengah mulut saya yang tak berhenti bicara, saya langsung mengatakan kepadanya: ”Kamu itu orang yang pin-pin bo. Pintar-pintar bodoh.” Pintar-pintar bodoh itu adalah sebuah perilaku yang dilakukan orang yang pandai, tetapi dengan rela hati memilih untuk menjadi bodoh dengan menelantarkan tubuhnya sendiri dan menggunakan sejuta alasan agar kebodohannya bisa dianggap sebagai sebuah kepandaian dan kebenaran.
Di dalam ruang tempatnya berbaring, saya seperti
sedang mengajar murid yang bandelnya setengah mati. Mengapa saya melakukan
”kuliah malam” itu? Karena saya itu pernah tidak mengurus kesehatan dengan
baik. Karena saya itu selalu berpikir bahwa saya tak akan pernah sakit. Karena
pada akhirnya saya pernah merasakan yang namanya nyaris meninggal.
Kalau meninggal dalam keadaan sudah melakukan
pekerjaan rumah, itu tak jadi masalah dan tak menimbulkan kekecewaan. Yang
menimbulkan kekecewaan itu adalah kalau harus meninggal dalam keadaan belum
sempat mengerjakan pekerjaan rumah. Dan kemudian menyesal di menit terakhir
sambil berucap lirih. ”Seandainya dari dulu saya itu gini, saya itu gitu, saya
itu ginigitu.”
Jangan sampai tidak mencintai
Maka saya tak ingin teman saya menyia-nyiakan
hidupnya yang masih produktif itu. Apalagi dengan teknologi sekarang, dengan
gawai yang ada 24 jam di genggaman, dan teman saya memiliki dua gawai sekaligus
di tangannya, ia bisa mengetahui sejuta informasi yang berhubungan dengan dunia
kesehatan.
Saya yakin ia lebih banyak menggenggam gawainya
daripada menggenggam tangan orang yang mencintainya Saya itu pernah tersenyum
membaca sebuah pesan. Begini. I wish you look at me like the way you look at
Instagram. Maka pentingnya menjadi sehat itu karena, selain bisa lebih banyak
menggenggam gawai, bisa lebih banyak menggenggam manusia yang mencintai kita.
Karena menjadi sehat itu, kita bisa melihat berjuta kali orang yang kita cintai
seperti kita bisa melihat sejuta posting-an di media sosial.
Karena menjadi sehat itu adalah seperti mengatur
kondisi keuangan. Tak ada di dunia ini ada manusia yang mau miskin dan
sengsara. Hanya saja, waktu menjalani keinginan itu yang dipikirkan lebih
banyak memberi porsi pada ketidakmauan menjadi sengsara secara keuangan, bukan
pada ketidakmauan sengsara secara kesehatan.
Menjadi sehat itu membuat seseorang bisa menjadi
manusia yang produktif. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk
orang lain. Jadi, secara tak langsung, menjadi tidak sehat itu sungguh
perbuatan yang egois. Karena sebagai makhluk sosial, saya juga harus bisa
mempunyai kegiatan sosial yang artinya melakukan sesuatu untuk orang lain.
Nah, untuk melakukan kegiatan untuk membantu orang
lain dan menjadi tidak egois, tidak bisa bermodalkan kadar asam urat dalam
darah sampai mencapai nilai 13 sehingga jalan saja kesakitan atau malah tidak
bisa jalan sama sekali.
Apalagi buat mereka yang sudah menikah dan memiliki
tanggungan, menjadi tidak sehat itu adalah beban yang Anda berikan di bahu
anak-anak dan pasangan Anda. Itu egois banget namanya meski Anda bisa
membelikan mereka mobil mewah dan tanah sekian hektar.
Menjadi sehat itu mudah sekali, masalahnya bukan
soal mau atau tidak mau, persoalan terbesarnya adalah saya dan Anda harus
mengerti bahwa mencintai diri sendiri terlebih dahulu itu adalah penting
sekali. Sehat itu diawali dari mencintai, bukan dari membaca buku atau
mendengar nasihat orang. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar