Apakah Anda orang yang berbeda sebelum dan selama pandemi ini berlangsung?
Tahun ini saya telah berusia 58 tahun. Sepanjang
tahun-tahun itu saya berpikir kalau saya ini tahu benar siapa saya yang
sesungguh-sungguhnya. Bukan sekadar saya
tahu saya bukan anak haram bapak saya, bukan juga hanya sekadar mengetahui
kalau saya lahir di bawah rasi bintang Capricorn yang superpesimistis, atau
bukan juga sekadar tahu kalau saya ini jauh dari jago dalam urusan angka.
Manusia lama
Sebelum pandemi terjadi, saya adalah orang yang
melihat hidup dengan kepesimisan yang sangat. Saya mencoba untuk positif dengan
mendengar orang bercerita tentang pengalaman hidupnya dan membaca sejuta pesan
yang menyemangati yang datangnya seperti air bah.
Setiap hari, setiap saat. Dalam bentuk kata-kata,
kiriman video, unggahan foto di media sosial, dan apa saja yang bisa membuat
jadi berpikir bahwa hidup ini meski tak adil sangat pendek untuk dipesimiskan.
Pesan itu tidak saja berupa pesan yang universal,
tetapi juga yang spiritual. Air bah itu bahkan sampai masa pandemi ini tetap
berlangsung, bahkan melebihi sebelumnya. Sampai saya yang awalnya sangat
tertarik membaca dan mendapatkan efek semangatnya, sekarang malah jadi enek.
Benarlah kalau segala sesuatu yang berlebihan itu tidak ada baiknya.
Sebelum pandemi terjadi, saya rajin sekali bekerja, mencari uang agar perusahaan saya dapat berjalan dan berkembang. Meski pada akhirnya saya harus menghadapi bahwa perusahaan saya harus megap-megap.
Tidak bangkrut karena sekarang masih berjalan, tetapi
sekarang harus dimulai lagi dari nol besar. Saya berterima kasih kepada Gusti
Allah ada penanam modal baru yang membuat usaha tetap bisa berlangsung.
Jauh sebelum saya menduga bahwa hidup akan berubah
dengan datangnya virus korona baru ini, saya adalah orang yang sombongnya
setengah mati, saya angkuh, saya tak peduli dengan hidup orang lain dan acap
kali berani melawan hidup, tetapi takut mati.
Manusia baru
Saya adalah manusia sarkastis terhadap sesama
manusia dan cara pandang mereka, bahkan lebih sarkastis lagi kalau sudah
berkumpul dalam membahas yang berkaitan dengan segala yang berbau spiritual.
Demikianlah waktu terus bergulir. Tak ada yang
berubah dalam diri saya meski saya bertambah tua yang selayaknya orang berharap
saya harus lebih bijak, pada kenyataannya itu sangat jauh dari saya.
Maka, tahun lalu pandemi ini datang mengunjungi
negeri ini. Dan, sampai tulisan ini Anda baca, ia tak juga enyah dari bumi
Nusantara. Dan, virus satu ini telah sukses memorakporandakan usaha saya,
menghancurkan pemasukan saya setiap bulan, dan mengubah gaya hidup saya yang
dahulu tak pernah saya khawatirkan.
Kemudian, tidak berhenti di situ, penyakit datang
menyerang pada saat rumah sakit begitu penuhnya dengan mereka yang terkena
serangan virus ini. Perut saya berair dan tak tahu dari mana datangnya. Saya
seperti perempuan hamil.
Dan, pemasukan yang semakin sedikit menjadi semakin
menipis untuk urusan masuk keluar beberapa rumah sakit untuk berobat ke
beberapa dokter ahli yang berbeda karena air dalam tubuh saya tak hanya
bercokol di perut, tetapi juga di ginjal dan paru-paru saya. Dan, perjalanan
panjang masuk keluar ruang praktik dokter itu berakhir di meja operasi.
Maka, tak hanya hal-hal di atas yang berubah
drastis. Perubahan pertama yang saya rasakan adalah saya tak pesimistis lagi.
Saya tak tahu mengapa itu dapat terjadi. Mungkin karena saya berpikir pandemi
ini seperti tidak akan berakhir dalam waktu singkat. Mengomel atau kesal
menjadi tidak berguna sama sekali.
Sifat berpuluh tahun itu seperti lenyap. Saya tak
lagi meratapi keadaan ini, saya tak lagi ngomel soal perusahaan saya porak
poranda, saya bahkan dengan ringan masuk keluar rumah sakit, dan kematian yang
rasanya semakin mendekat buat saya dan semua orang belakangan ini, sama sekali
tak menakutkan seperti dulu lagi.
Saya juga tidak panik melihat tabungan saya semakin
menipis seperti kertas HVS. Saya telah mengizinkan otak dan hati saya menerima
keadaaan buruk ini. Ya pandeminya, ya penyakitnya. Optimisme saya lahir bukan
karena saya membaca pesan positif, tetapi saya mengizinkan diri saya untuk
tidak lari dan rela menerima ini terjadi.
Sekarang saya mengerti bahwa hidup itu bukan sungguh
adil, tetapi sungguh adil sekali. Bagaimana bisa dikatakan tidak adil kalau
dalam kesengsaraan hidup saya sekarang ini, saya masih bisa naik kelas dan
sejahtera? ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar