Seorang penerima tamu di sebuah gedung perkantoran terlihat ogah-ogahan menyambut saya di depan meja penerima tamu. Tetapi, bahasa tubuhnya itu mendadak berubah menjadi begitu santun dengan senyum tersungging di bibirnya ketika saya menyebut sebuah lantai.
Lantai yang saya sebutkan itu adalah lantai di mana
salah seorang konglomerat di negeri ini dan pemilik gedung itu berkantor.
Kulkas
Tanpa basa-basi, penerima tamu menyilakan saya
melalui jalur pribadi, saya tak perlu menyerahkan KTP seperti biasanya. Para
petugas satpam yang mengantar saya ke pintu lift yang khusus diperuntukkan
untuk pemiliknya itu juga berlaku sungguh santun.
Tetapi, saya merasakan sebuah itikad baik yang
dibuat-dibuat. Keramahan yang diajari, bukan yang dari dalam hati. Keramahan yang
diciptakan dari rasa takut. Dalam waktu sekian detik, saya tiba di lantai yang
tampaknya menakutkan untuk semua pegawai itu.
Bahkan saat saya menanyakan di mana lokasi kamar
kecil, sikap pegawai di lantai itu juga tak bedanya dengan penerima tamu dan pak
satpam. Saya sampai merasa bahwa saya juga harus buang air kecil dengan hati-hati
dan dengan rasa takut.
Ruang tunggu itu luas, dengan kemampuan menghitung saya yang gitu deh, ruang tunggu itu kira-kira lebih luas dari tempat tinggal saya. Suasananya "dingin" seperti di dalam kulkas, senyap dan terasa sangat menghakimi. Ruangan itu seperti punya mulut dan bersuara, aku kaya dan kamu miskin.
Itu kali pertama saya merasa bahwa tidak hanya lidah
manusia saja yang tak bertulang, tetapi interior sebuah ruangan dan perniknya
saja bisa sama kejamnya dengan lidah tak bertulang itu. Saya tak berdaya
melawan megah dan dinginnya suasana.
Membayangkan seperti apa manusia yang memiliki dan
memilih interior yang menghakimi itu, yang membuat semua karyawan tampak ketakutan
dan melahirkan kesopanan yang dibuat-buat. Maka, sambil menunggu giliran menghadap,
saya mulai bertanya.
Tentu kepada diri saya sendiri. Takut kalau bertanya
sama tembok atau lukisan yang ada di dinding, nanti keduanya menghinakan saya.
Saya ini sudah dihina sama manusia, ya... masa masih mau dihina sama tembok dan
lukisan juga.
Raja KW1
Saya bertanya karena saya penasaran. Bukan masalah
selera yang saya tanyakan, melainkan lebih pada memilih sebuah rancangan yang
hasilnya bukan malah membuat orang yang datang betah, tetapi berdecak sambil
keder setengah mati.
Apakah interior sebuah rumah atau kantor atau gedung
secara langsung mencerminkan pemiliknya yang sesungguhnya memang pongah? Atau
malah mencerminkan kurangnya wibawa dan kepercayaan diri, dan menggunakan
interior semacam itu untuk mendongkrak?
Apakah pagar yang megah seperti sebuah pagar istana,
rumah yang berhektar luasnya, ruang rapat dengan meja panjang seperti meja
makan para raja-raja, lampu kristal menggantung, tangga raksasa seperti dalam
dongeng, merupakan sebuah cermin bahwa kondisi jiwa pemiliknya haus akan semua
itu?
Haus menunjukkan kekayaan, haus diekspos di berbagai
media, haus menjadi raja, tetapi tak bisa jadi raja. Haus menjadi bangsawan,
tetapi darahnya bukan biru, dan mendadak biru karena usahanya yang melejit
sehingga terlihat macam orang kaya baru.
Atau sebaliknya, yang dipertontonkan itu sebuah
hasil dari kehidupan spiritual yang mengagumkan? Sehingga kemewahan yang dingin
dan menakutkan itu secara ironis adalah sebuah cermin kehidupan spiritual yang
patut dijadikan contoh?
Apakah ruang mewah itu juga sebagai sebuah alat
menunjukkan kepada rekan bisnis, calon rekan bisnis, bahwa kalau mereka bekerja
sama, mereka ada di tangan yang mapan? Jadi, bangunan dan interior di dalamnya
dimanfaatkan sebagai alat bantu meyakinkan manusia lain. Kalaupun demikian,
apakah perlu sampai menakutkan dan begitu dinginnya?
Apakah mampu membuat orang keder itu adalah cara
meyakinkan yang baru? Sepulang dari kunjungan penuh kekederan itu, untuk
pertama kalinya saya tidak iri. Saya tidak iri untuk memiliki kantor dengan
interior macam istana raja.
Saya tak iri untuk menunjukkan wibawa atau
meningkatkan kepercayaan diri melalui jalan menjadi raja KW1 atau bangsawan
berdarah merah. Saya berniat kalau suatu hari saya bisa koaya roaya, interior
ruang kerja saya bisa jadi terbuat dari material yang berkualitas, tetapi itu
bukan yang terpenting. Yang nomor satu adalah hasil dari rancangan ruang itu
harus mampu membuat siapa pun yang datang merasa betah.
Sebuah gedung dengan interiornya yang mampu
melahirkan keterikatan emosi yang baik dan tidak melahirkan kekederan. Seperti
saya keder untuk buang air kecil di lantai yang saya sebutkan di atas.
Saya harus melalui satu pintu, dan setelah melalui
pintu itu, saya masih dihadapkan dengan tiga pintu yang harus saya tebak, yang
manakah yang benar untuk tempat pembuangan air yang katanya seni itu.
Saya ingin memiliki karyawan yang tidak pura-pura
ramah dan yang tidak menghiasi hari-hari mereka di kantor saya dengan senyum
mereka yang lahir karena diperintahkan dan lahir dari sebuah rasa takut. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar