Ketika ia membaca bahwa di negeri macam Vietnam bisa dihujani salju, teman saya bertanya, ”Ini tandanya apa, ya?” Saya diam, sediam-diamnya. Saya tak bisa menjelaskan dari sudut apa pun mengapa itu bisa terjadi.
Kalau buat saya, kejadian itu memancing untuk
berpikir bahwa sesuatu itu bisa saja berubah. Itu menarik. Menariknya karena
perubahan itu mampu mengguncangkan, tetapi juga menggembirakan jiwa.
Terguncang-guncang
Waktu saya masih bisa lengkap mengatakan kalau saya
punya ayah dan ibu, semuanya seperti biasa-biasa saja. Karena semua manusia
memiliki orangtua, jadi keadaan saya itu tidak ada anehnya. Disebut biasa itu,
kalau tidak ada anehnya. Aneh itu, kalau tidak sama dengan punya orang lain,
atau tidak sama dengan kebiasaan yang umum.
Pada saat saya berusia tujuh belas tahun, ibu saya
meninggal. Maka, saya sebagai anak ikut terguncang. Bukan hanya soal
kematiannya, tetapi juga mengalami perubahan dari yang seperti orang
kebanyakan, menjadi seperti orang kebanyakan dengan versi yang baru.
Saya sekarang disebut anak yatim, seperti anak yatim
lainnya. Dengan kondisi baru itu, ayah saya mendapat julukan duda, yang selama
ini mungkin tak pernah ia impikan terjadi, sama seperti para duda lainnya di
jagat raya ini. Predikat baru itu mengguncangkan. Predikat baru itu sebuah
bentuk perubahan.
Sekian tahun berjalan, ayah memutuskan menikah untuk
kedua kalinya. Saya terguncang lagi karena perubahan. Guncangan itu dalam
bentuk menjadi lengkap kembali, tetapi pada saat yang bersamaan orang
mengatakan saya memiliki ibu yang tiri sebagai pengganti ibu kandung.
Proses diisi kembali itu ternyata mampu mengguncangkan jiwa serta raga. Tetapi, menggembirakan ayah saya karena predikat dudanya hilang dan sebutan istri tiri itu tak pernah ada. Jadi benar kata saya bahwa perubahan itu mengguncang dan sekaligus merianggembirakan jiwa.
Singkat cerita, beberapa tahun kemudian setelah ibu
kedua meninggal, keadaan mengguncangkan kembali lagi, keluarga menjadi tidak
utuh lagi. Tetapi, beberapa tahun kemudian ayah menikah untuk ketiga kalinya.
Anda berpikir saya tak terguncang karena sudah
terbiasa dengan ayah menikah lagi? Saya tetap terguncang. Masalahnya bukan soal
kekosongan diisi kembali, tetapi melihat ayah saya punya tiga istri itu sungguh
membingungkan, sampai saya bilang dalam hati, sebegitu tidak kuatnyakah ayah
saya itu hidup sendiri?
Beria-ria
Keadaan di atas yang berubah itu telah membuat saya
untuk pertama kalinya berpikir bahwa manusia paling lemah di dunia ini adalah
laki-laki. Jadi perubahan pun sebuah pencerahan jiwa. Singkat cerita, setelah
perkawinan ketiga, ayah saya meninggal dunia. Maka, perubahan kembali lagi
mendatangi hidup saya, dan kali ini saya mendapat julukan lengkap, anak yatim
piatu.
Saya terguncang karena harus berdikari, saya
terguncang karena kehilangan orangtua dan doa mereka, saya terguncang tak bisa
memoroti uang mereka lagi. Saya terguncang karena menghadapi hidup sendiri itu
tak pernah ada di dalam benak.
Tetapi di sisi lain, saya merasa senang. Senangnya,
karena selama berada di tengah orangtua, saya akan tetap dianggap anak kecil
dan saya sendiri kemudian merasa seperti anak kecil. Sekarang, mau tak mau,
saya mulai belajar mengambil keputusan dan berpikir soal risiko, itu membanggakan
dan menyenangkan ego.
Untuk pertama kalinya saya mengerti sesungguhnya apa
arti menjadi dewasa itu. Semuanya karena sebuah perubahan yang awalnya
menyakitkan. Padahal, sejujurnya saya ini bukan manusia yang terlalu pro dengan
perubahan, apalagi yang ekstrem.
Saya selalu mengharap bahwa anak buah saya bisa
bekerja selamanya dengan saya sampai waktunya mereka harus pensiun. Saya
berharap bahwa hubungan asmara saya akan selalu ada dalam keadaan sehat sampai
waktunya saya melepaskan KTP sebagai warga dunia.
Saya berharap bahwa etika itu bisa dipegang teguh
dalam segala keadaan dan cuaca. Saya berharap Jakarta itu tak semacet sekarang
ini. Saya berharap ”pulau dewata”, tempat saya lahir dan dibesarkan, tak
menjadi seperti sekarang ini.
Kalaupun harus ada perubahan, tetapi tidak yang
membuat saya terkaget-kaget.
Tetapi, perubahan mau tak mau harus diterima. Saya
harus mau menerima bahwa kualitas generasi sekarang berbeda. Karena itu, mulut
saya tak perlu lagi mengeluarkan kalimat menyakitkan dan membeda-bedakan dengan
generasi saya yang sudah lewat.
Perubahan itu ternyata sebuah kunci untuk
merendahkan hati. Saya tak bisa kekeuh merasa saya lebih unggul. Unggul atau
tidak, bukan semata-mata soal jam terbang, bukan soal hidup lebih lama, tetapi
soal tidak menutup mata dengan perubahan dan menerimanya. Menyakitkan? Bisa
jadi. Tetapi jangan lupa, di akhir setiap kesakitan selalu ada kegembiraan.
Katanya. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar