Pertolongan Pertama Pada Kehidupan. Itulah kepanjangan dari judul di atas. Judul itu langsung menyergap kepala untuk sebuah tulisan yang idenya datang dari sebuah pertanyaan di pagi hari. Siapakah yang akan menolongmu ketika kesusahan datang dan mengetok di pintu hidupmu?
Pengekangan
Saya jawab secepat kilat. Saya sendiri. Siapa lagi?
Orangtua sudah game over. Kakak adik? Terlalu jauh diharapkan untuk menolong.
Teman? Ahh…, teman. Saudara dari pihak orang tua? Keponakan? Sepupu? Itu
apalagi.
Bukanlah salah mereka, itu salah saya juga. Selama
ini saya tak terlalu dekat dengan mereka. La wong sejujurnya saya sendiri tak
tahu dengan benar silsilah keluarga. Sudah diberi tahu berkali-kali, yaa…,
berkali-kali tak mengendap di dalam ingatan.
Pacar? Saya belum dikaruniai berkah memiliki pacar.
Setelah setengah abad sendirian, saya berpendapat, memiliki pacar itu tampaknya
bukan semata-mata hanya usaha duniawi, melainkan juga urusan surgawi.
Suatu hari saya bersama seorang teman datang ke
seorang cenayang. Singkat cerita, ibu cenayang mengatakan kepada teman saya
bahwa tahun ini ia akan mendapat pasangan hidup seorang duda. Dan ketika
giliran kartu saya dibacakan, ia hanya bicara singkat. ”Kamu tanya Tuhan saja.”
Mau kesal, mau merasa begitu kesepian, saya toh tak bisa menelepon Tuhan dan menanyakan mengapa sampai setengah abad ini, satu kali pun pengalaman asmara tak pernah datang dalam hidup saya.
Apalagi saya diingatkan seorang teman yang dengan
rajin setiap pagi mengirimkan pesan surgawi bahwa Tuhan itu tak pernah berutang
penjelasan kepada saya. Ahh…, saya kecewanya setengah mati membaca pesan itu.
Tapi apa boleh buat. Tuhan memang bisa dan berhak melakukan apa pun. Saya hanya
dituntut untuk manut. Meski sejujurnya, saya ini susah sekali manut, apalagi
untuk hal-hal yang saya merasa bahwa itu tidak adil.
Tidak adil itu maksud saya begini. Kalau orang lain
boleh punya pacar, kok saya enggak. La wong orang lain sakit saja, saya jauh
lebih sakit. Orang lain dihina, saya jauh lebih dihina, berpuluh tahun bahkan.
Orang lain bodoh, saya jauh lebih bodoh.
Pembebasan
Orang lain kesepian, saya sudah lama sekali
kesepian. Orang lain pernah meregang nyawa, saya juga sudah pernah. Regang
banget bahkan. Orang lain jadi yatim piatu, saya juga. Nah orang lain bisa
tampan, pandai, kaya, kenapa saya tidak? Hati nurani saya tumben-tumbennya
membela saya. Pembelaannya berbunyi seperti ini. ”Mbok gantian.”
Anda mungkin merasa saya tidak bersyukur, itu hak
Anda sepenuhnya. Kan, manusia memang bisa jadi malaikat sekaligus hakim agung,
bukan? Itu sangat normal, makanya disebut manusia. Saya juga gitu, kok.
Sampai di awal tahun ini saya menerapi kelelahan
dengan bergantung dengan teman-teman saya. Saya berharap mereka menolong saya.
Ada yang bisa, ada yang tak bisa. Ada yang mau, ada yang tidak mau.
Maka dengan baru beberapa bulan ini, saya mulai
melakukan praktik langsung menolong diri sendiri. Beratnya setengah mati. Saya
belum dapat menjelaskan bahwa saya sudah mampu menolong diri sendiri, tetapi
meski baru beberapa bulan terjadi, saya cukup menikmati perubahan itu.
Bisa makan sendiri ketika sejujurnya keinginan saya
untuk ditemani seseorang. Pertama kali berkomentar enak atau tidak hanya dengan
diri sendiri, alias bicara dalam hati. Saya menikmati menyaksikan pertunjukan
apa pun tanpa harus berkompromi dengan orang lain, baik soal waktu, baik soal
apa yang mau disaksikan.
Saya bisa memutuskan pergi berlibur dengan teman
yang ini dan bukan teman yang itu, tanpa lagi memedulikan apakah ada yang
tersinggung. Dengan menolong diri sendiri, saya mengerti apa arti teman,
sahabat, dan musuh dalam selimut.
Saya cukup bisa menguasai diri sendiri ketika
berhadapan dengan klien yang datang ke sebuah rapat dengan muka tak bersahabat,
penuh penilaian, dan kecurangan. Menolong diri sendiri itu adalah kemampuan
saya tidak dipengaruhi dengan perilaku yang demikian itu dan fokus pada tujuan
rapat.
Menolong diri sendiri itu hanya punya satu obyektif.
Membahagiakan bukan untuk malah menyengsarakan. Dan dalam beberapa bulan
setelah saya mencoba, menolong diri sendiri hanya membutuhkan satu modal,
keberanian. Terutama melawan ketakutan diri sendiri.
Dan kesenangan tertinggi dari menolong diri sendiri
adalah merasakan untuk pertama kalinya, saya mampu memberi kebebasan dan
penghormatan kepada orang lain untuk memilih tersinggung atau tidak, tanpa saya
harus memberi penjelasan apa pun.
Menolong diri sendiri itu ternyata memberi
kesempatan orang lain untuk membebaskan saya dari keterkungkungan sebuah
persaudaraan, pertemanan, atau apa pun itu. Seharusnya saya juga menghormati,
bukan malah berisik di belakangnya, ketika orang berani dan sedang menikmati
kenaikan kelas dari yang bergantung menjadi tidak bergantung.
Dari yang terkekang menjadi tidak terkekang. Dari yang gamang berdiri di kaki sendiri, sekarang berdiri di kakinya meski masih gemeteran dan akan menjadi kuat setelahnya. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar