Pintu lift terbuka, seorang anak laki-laki berusia
10 tahun masuk ke dalamnya. Ia keluar di lantai enam. Di saat ia baru saja
meninggalkan lift, seorang wanita muda yang juga berada di dalam lift
berkomentar dengan teman laki-lakinya, "Parah tu anak. Badannya bau
rokok." Hari masih pukul delapan kurang, di Minggu pagi saat kejadian itu
berlangsung di apartemen tempat tinggal saya.
Pelajaran?
Setelah membereskan belanjaan rumah di sebuah pasar
swalayan mini di lantai dasar, saya kembali masuk ke dalam lift menuju tempat
tinggal di lantai lima belas. Selama di dalam lift itu, otak saya mulai
dihujani dengan sejuta pertanyaan soal komentar wanita muda terhadap bau rokok
di badan anak laki-laki itu.
Apakah di usia sedini itu si bocah sudah merokok?
Apakah salah satu atau kedua orangtuanya, atau kakaknya, atau orang lain sedang
merokok ketika si bocah lucu berkulit sawo matang itu berada dekat dengan
mereka?
Kalau seandainya ia merokok di usia sedini itu,
siapa yang mengajari atau yang menginspirasinya untuk melakukan itu? Kalau
seandainya ia tidak merokok, tetapi orang lain yang lebih dewasa melakukannya
di hadapan bocah cilik itu, apa yang dipikirkan manusia dewasa itu saat melakukan
aktivitas merokoknya?
Saya tak sedang mempermasalahkan soal aktivitas merokoknya, tetapi yang lalu lalang di kepala saya adalah satu pertanyaan. Pelajaran apakah yang kira-kira ingin disampaikan kepada si bocah oleh siapa pun yang membuat badannya beraroma asap rokok?
Apakah pelajaran soal kebebasan melakukan apa pun
tanpa memedulikan orang lain sehingga bocah itu akan memupuk bakat menjadi
makhluk yang hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memedulikan orang lain sejauh
itu menyenangkan dirinya?
Apakah pelajaran soal persepsi bahwa merokok itu
sama dengan menjadi seorang laki-laki sejati? Apakah memberikan sebuah
pelajaran bahwa merokok itu adalah sebuah aktivitas biasa seperti minum air
sehingga bisa dilakukan siapa pun dan di mana pun?
Seandainya, di dalam lift itu hanya ada saya dan si
bocah, sudah dapat dipastikan saya akan bertanya kepadanya bagaimana sepagi
itu, aroma rokok sudah menempel di tubuhnya yang terlihat begitu sehatnya.
Pusat kebugaran
Baru saja kepala ini berhenti berpikir, eh. nurani
yang selalu tak diundang datangnya ikut bertanya. Pertanyaan yang disuarakan cukup
panjang dan nyelekit seperti biasa. Begini pertanyaannya.
"Apakah koruptor, tukang gosip, manusia yang
suka pamer, pongah, pemecah belah, cari muka, pandai menjilat, gampang iri
hati, dan pendendam itu karena sedari kecil aroma korup dan lain-lainnya itu
udah ditempelin di badan tanpa sengaja atau dengan sengaja oleh orangtua atau
siapa pun itu?
Beberapa hari lalu, teman saya bercerita kepada saya
bahwa teman dekatnya memberi uang bulanan kepada anaknya yang baru duduk di
bangku sekolah menengah pertama sebesar sekian ratus juta rupiah. Kalau saya
memberi tahu angka pastinya, saya kok yakin Anda akan kaget, persis seperti
pertama kali saya mendengar cerita ini.
Dengan uang bekal begitu berlimpah, anak itu menjadi
seorang penguasa di sekolah. Namanya juga penguasa, Anda tahu apa saja yang
dapat dilakukan seorang penguasa, bukan? Ketika teman saya menanyakan mengapa
ia memberi uang sebanyak itu, sang ibu menjelaskan bahwa uang sebanyak itu
adalah untuk kebutuhan anaknya, apalagi kalau mendadak sakit.
Dalam pikiran standar saya, orangtua itu memiliki
tanggung jawab menciptakan kebahagiaan di dalam rumah, tempat anak itu tumbuh,
tempat orang-orang yang kita cintai berada. Kebahagiaan itu menjadi seperti
pusat kebugaran yang disediakan secara cuma-cuma ketika peristiwa di luar rumah
meluluhlantakkan seorang anak.
Dan pusat kebugaran yang membahagiakan itu bukan
ditemukan dalam bentuk sebuah batang rokok, pada tumpukan uang beratus-ratus
juta rupiah, bukan dalam sebuah perilaku orangtua yang pongah, pada orangtua
yang tak kuat menahan rasa iba terhadap anak.
Tetapi saya baru ingat soal dua hal. Pertama,
mungkin ada manusia yang memang tak mampu menjadi orangtua. Maksud saya menjadi
orangtua yang dewasa. Karena kan katanya, menjadi tua itu sudah pasti, tetapi
menjadi dewasa itu belum tentu. Katanya.
Nah, buat saya, menikah dan kemudian memiliki anak
hanya membuat dua orang meraih sebuah predikat bernama orangtua. Dan predikat
itu sama sekali tak berarti bahwa dua orang yang dimaksud mampu memaknai
predikat itu sendiri. Karena memaknai itu membutuhkan kedewasaan alias kematangan
jiwa.
Kedua, saya lupa, kalau standar kebahagiaan yang diciptakan sebagai pusat kebugaran untuk setiap orang itu tidak sama. Saya ingin anak saya berbahagia bukan karena menjadi penguasa, melainkan mungkin ada orangtua yang berbahagia menyediakan pusat kebugaran, agar memiliki anak yang mampu menjadi seorang laki-laki sejati, sekaligus penguasa yang merokok. Mungkin. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar