Di sebuah rapat pagi dengan sebuah perusahaan, saya menyarankan bahwa produk yang ditawarkan sudah waktunya untuk diberikan sentuhan kekinian. Saya katakan bahwa tindakan itu diperlukan karena melihat perubahan yang terjadi, baik perubahan tren sampai pada perubahan perilaku manusia di abad sekarang ini.
Dulu dan kini
Kemudian saya memberi contoh-contoh yang ada yang
saya lihat dengan mata dan kepala sendiri. Kalau dulu tak ada istilah blogger,
sekarang keberadaan blogger seperti pasir di lautan dan di gurun. Sejuta banyaknya
bahkan tak terhitung.
Kalau dahulu tak ada media sosial, sekarang siapa
yang tak menggunakan itu untuk segala rupa kebutuhan. Satu teman yang senangnya
”bernyanyi”, membutuhkan lima jenis media sosial untuk mendendangkan suara hatinya
agar didengar orang lain.
Media sosial dimanfaatkan untuk menunjukkan
eksistensi diri sampai kepada mempromosikan produk. Keberadaan media sosial,
internet, menjadikan dunia itu begitu kecil dan mudahnya dijangkau.
Mengelilingi dunia dan mengetahui isinya sekarang ini, bisa dilakukan dengan
duduk-duduk tenang di rumah sambil menyantap keripik.
Contoh-contoh di atas yang saya berikan, juga
termasuk cara manusia sekarang ini berpakaian, busana-busana yang mereka pilih
untuk dikenakan, cara mereka menampilkan diri sampai kepada bagaimana mereka
memamerkan kekayaan tanpa tedeng aling-aling. Sehingga saya sendiri sampai
bingung, apakah memamerkan kekayaan itu bukan sebuah kekeliruan tetapi adalah
hak seseorang tanpa harus dihakimi tinggi hati.
Semuanya berbeda tak seperti di masa saya dan klien saya muda dahulu. Bukan hanya masanya yang berbeda, tetapi cara berpikir mereka yang berbeda, kebutuhan mereka berbeda.
Setelah rapat itu berakhir, saya kembali ke rumah.
Dalam perjalanan pulang, salah satu anak buahnya menghubungi
saya dan mulai menumpahkan curahan hatinya. Singkat ceritanya, klien saya itu
tahu kalau perubahan sudah terjadi, tetapi susahnya untuk berubah sehingga
produk yang dihasilkan dan eksekusi di lapangan juga selalu berakhir dengan
yang itu-itu saja.
”Produk kami itu enggak modern gitu, Mas. Masak
kemarin itu milih pembicara yang sudah enggak zamannya lagi, saya sebagai anak
sekarang ini aja enggak kenal siapa dia,” kata salah satu anak buahnya itu.
Kemudian ia melanjutkan lagi. ”Yang bisikin dia tu juga banyak, Mas, dan yang
bisikin itu juga sama kunonya. Susah deh, Mas.”
Melepas jangkar
Setelah sesi curhat itu selesai, saya senyum-senyum
sendiri. Sebagai seorang pemberi saran, saya memang dengan mudah dapat
menyodorkan fakta dan data. Tetapi semua itu hanya benda mati. Fakta dan data
itu berguna hanya kalau dijalankan oleh manusia yang mau menerima, membaca, dan
kemudian dengan bijaksana mengeksekusinya.
Dengan pengalaman hidup yang sudah saya jalani ini,
mengeksekusi itu memiliki bobot yang besar di dalam diri eksekutornya, bukan
dalam fakta dan datanya. Saya termasuk orang zaman dahulu, memiliki nilai-nilai
dahulu. Ketika saya memasuki abad yang serba modern dan cepat ini, saya
membutuhkan waktu yang lama bahkan sampai sekarang saya masih terengah- engah
dibuatnya.
Saya bisa membuka mata. Artinya, saya melihat dan
membaca akan keadaan yang terjadi di kehidupan saya dan dunia. Tetapi mulut
saya itu saya tutup dari bersuara dan menyuarakan akan apa yang dilihat mata
saya sekarang ini. Sehingga di ruang rapat, yang saya suarakan adalah apa yang
dilihat mata saya puluhan tahun lalu.
Nah, yang puluhan tahun itu ada yang masih cocok,
ada yang juga sudah ketinggalan zaman. Masalah terbesarnya adalah, saya
menyadari kalau itu sudah tidak cocok lagi, saya harus mencocokkannya dengan
yang cocok sekarang ini.
Maka saya teringat akan ungkapan ini. Birds with
same feather flock together dan teringat akan anak buah klien saya yang
mengatakan bahwa orang-orang yang dekat dengan bosnya itu sama kunonya.
Sejujurnya penjelasannya itu yang membuat saya
tersenyum sendiri setelah mendengar sesi curhatnya. Saya ini orang kuno,
senangnya yaa... kumpul sama manusia yang sama seperti saya. Kalau dipindahkan
ke anak-anak zaman sekarang, saya hanya bertahan beberapa jam, setelah itu
pembicaraan akan berhenti dan berakhir dengan menjadi garing.
Nah, susahnya kalau pembisik di kantor dalam urusan
memajukan perusahaan, juga sama kunonya, sama cara pandangnya. Bisa jadi,
pembisik-pembisik ini seperti batu yang menjadi beban yang saya ikatkan di kaki
sehingga saya menjadi susah untuk maju.
Saya membutuhkan kenyamanan dengan mereka yang
bulunya sama, saya mendapatkan bisikan yang tak hanya nyaman tetapi yang bisa
saya terima karena saya bisa mengerti. Tetapi saya juga harus mengakui, situasi
nyaman itu juga seperti batu yang diikatkan ke kaki kemudian saya diterjunkan
ke dalam laut. Jadi seperti jangkar yang membuat kapal tak bisa pergi ke
mana-mana.
Sebagai manusia lama, sekarang ini, saya sedang
berusaha melepaskan jangkar dan membiarkan kapal saya mengarungi samudra
kekinian dengan nakhoda yang bijak. Bijak itu menginikan kekunoan saya
ketimbang saya mengunokan kekinian mereka. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar