Jumat, 04 Januari 2019

Menanti


Sekali waktu,  beberapa tahun lalu, saya pergi ke cenayang utuk menanyakan perjalanan asmara saya. Sebab, setelah menanti puluhan tahun lamanya, tak seorang pun yang kunjung datang. Singkat cerita, saya saya pulang dengan sebuah nasihat yang diberikan olah si cenayang untuk menanyakan persoalan itu kepada Tuhan secara langsung.

Kesal

Sepulang dari tempat itu, saya rada kecewa. Tetapi, ditengah kekecewaan itu, nasihat itu terngiang di telinga. Saya berusaha menjalani nasehatnya itu dengan ketekunan yang luar biasa. Namun, sampai tulisan ini dibuat, saya masih berstatus lajang. Dan, ketekunan itu kemudian semakin luntur dan berakhir dengan tak pernah memintanya lagi.

Selasa, 01 Januari 2019

"Gak" Peduli


Di sebuah meja bulat Sembilan orang berkumpul,. Mereka adalah teman-teman saya yang sudah cukup lama tak berkumpul dalam kebersamaan. Kami sedang merayakan hari jadi salah seorang teman. Di meja bulat sebesar itulah sejuta cerita ditumpahkan, termasuk apa yang saya hendak tulis pada hari Minggu ini.

Apakah?

Satu dari Sembilan teman itu baru kembali dari perjalanan bisnisnya. Naik pesawat di kelas bisnis. Tempat duduknya diserobot dua ibu yang sudah tua dan terlihat sangat garang. Pramugari tak berkutik dan membiarkan teman saya duduk di tempat yang bukan semestinya.

Rumah berdebu


BERJUTA kali saya mengatakan saya ingin berbahagia, dan berjuta kali saya mengucapkan saya adalah manusia yang berbahagia. Namun dua minggu lalu, baru saya sadari bahwa perkataan itu keluar mengalir tanpa dasar yang kuat. Karena itulah ucapan itu menguap dengan mudahnya, dan kemudian diikuti dengan timbulnya babak tidak bahagia.

Bahagia itu wajib!

Kejadian itu terus berlangsung sampai sebelum seorang teman menghampiri saya dan memberi bogem mentah dengan ucapannya yang sama sekali tidak ditujukan untuk menasihati saya, tetapi merupakan bagian dari percakapan kami. ”Kalau aku nih, bahagia itu adalah sebuah kewajiban, bukan pilihan.”
 

Rezeki


Di bagian belakang sebuah truk tertulis kalimat yang membuat saya tersenyum kemudian berpikir keras. ”Tuhan berikan aku rezekimu. Cukup satu miliar saja.”

Tidak cukup

Cukup, adalah sebuah kata yang sudah lama sekali menjadi sebuah kata yang digaungkan ke gendang telinga oleh begitu banyak orang, ketika saya merasa tidak cukup dalam segala hal. Ketika saya ingin memiliki hal yang lebih dari yang sekarang saya miliki.

Rapuh


Seorang anak memohon kepada ibunya untuk diizinkan pergi ke pesta yang diselenggarakan teman dekatnya. Wajahnya merengut seperti putus asa karena ia menduga bahwa izinnya tak akan diberikan.

Tapi di luar dugaan, ia diizinkan untuk pergi. Dengan kegirangan ia memeluk sang ibu dan berkata. ”Thank you. You are the best mom in the whole world,” kata gadis kecil itu.

PHP


Bagi mereka yang tidak tahu, maka judul yang saya tulis itu adalah sebuah singkatan. Singkatan itu berbunyi, Pemberi Harapan Palsu. Kalau disebut pemberi, itu adalah seseorang yang melakukan aktivitas atau kegiatan memberi. Hal apakah yang diberi? Sebuah harapan. Harapan yang seperti apakah? Harapan yang palsu.
Pakai mata dan otak
Apa reaksi Anda ketika menerima sebuah harapan yang palsu? Kalau saya gondoknya setengah mati. Tersinggung, tersakiti. Tersakitinya bukan soal harapan palsunya, tetapi lebih kepada sudah tertipu, telah dijadikan korban. Seperti promosi sebuah produk. Memikat pada awalnya, tetapi bodong pada akhirnya.

Personal Branding


Saya duduk di sebelah seorang laki-laki dalam penerbangan dari kota Singa kembali ke Ibu Kota tercinta ini. Seorang laki-laki dengan bau badan yang menyengat, rambut berminyak tak disisir.

”You are what you eat”

Apa yang tampak di luar menggambarkan siapa sesungguhnya pria ini. Saat santap malam disajikan, ia menjawab dengan kasar ketika seorang pramugari menawarkan pilihan makanan dan minuman. Tidak ada ucapan terima kasih atau kata please keluar dari mulutnya.

Peka


Nyaris setiap pagi seorang teman memposting foto dirinya di media sosial. Kalau saya katakan foto dirinya, itu tak hanya wajahnya, tetapi termasuk juga sepatunya, topinya, dan semua atribut yang menempel di raganya.

”Bad Boy”

Soal foto wajah, ia mengategorikan dengan kondisi jiwanya saat itu, bukan berdasarkan berbagai gaya yang disuguhkan. I am feeling blue, misalnya atau, capek banget hari ini. Kalimat yang terakhir ini menyertai foto dirinya yang sedang dalam keadaan tidur. Anda jangan menanyakan saya, siapa yang diperintahkannya untuk mengabadikan dirinya dalam kondisi mata tertutup itu.

P3K


Salah satu staf di kantor adalah seorang wanita muda yang baik, rajin, pandai, dan gesit untuk menolong orang lain. Satu-satunya hal yang membuat saya geleng kepala, ia justru tak suka ditolong. Semua pekerjaan atau semua aktivitas yang dilakukan dikerjakannya sendiri.

 "Ogah" ditolong

Sudah beberapa kali saya berusaha untuk menolong, tetapi tak diizinkannya. Awalnya mungkin ia sungkan karena saya pemimpinnya, tetapi lama-kelamaan saya melihat bahwa ia tak senang kalau ditolong. Saya mengambil kesimpulan pertolongan itu buatnya bukan soal berutang pada kebaikan orang, tetapi memang dasarnya tak mau ditolong, karena malah membuat panik.

Orang Tua


”Saya masih tinggal sama mertua, Mas. Mertua saya enggak ngasih saya dan suami punya rumah sendiri karena kalau kami punya rumah sendiri, dia bakal hidup sendirian. Anak-anaknya yang lain sudah tak lagi tinggal di rumah.”

Di suatu malam sehabis pulang kerja, saya mendengar ucapan itu yang awalnya hanya sebuah percakapan ringan. ”Kamu tinggal di mana?”

Orang Keuangan


Sewaktu ia masih hidup, saya memberi ayah predikat ”orang keuangan”. Predikat itu karena ia nyaris memandang semua keadaan berdasarkan angka dan kemampuan otaknya yang terbatas itu.

Begitu tidak masuk akalnya, ia akan membatalkan rencana. Melihat caranya mengelola kehidupan itu, saya sampai pernah berpikir, manusia yang paling takut menghadapi gejolak dunia ini, yaa… orang yang seperti ayah saya itu. Ia yang memiliki ketergantungan yang sangat pada angka.

My Way


Ketika saya membaca tewasnya aktor layar lebar, Philip Seymour Hoffman, gara-gara narkoba dengan jarum di lengannya, pertanyaan pertama yang melintas di kepala saya adalah sebuah pertanyaan yang membuat saya sendiri merasa aneh. Begini. Apakah ia meninggal dalam puncak bahagianya dan bukan sebaliknya?

Cinta diri

Pertanyaan berikutnya, apakah kejadian itu membuktikan bahwa ia mencintai diri dengan luar biasa? Saya jadi berpikir, katakan kalau saya ini tidak bahagia, tindakan apa yang kira-kira akan saya lakukan untuk mengatasi ketidakbahagiaan itu?

Menyaring


Sekitar satu bulan yang lalu saya bersama rekan sejawat mengurus surat-surat untuk sebuah keperluan. Kami mendapat waktu janji temu dengan pihak pengurus surat-surat itu pada Senin pukul 11 siang. Saat saya sudah menyiapkan diri dan siap berangkat, teman sejawat saya memberitahu secara mendadak, kalau giliran saya adalah hari Kamis, bukan hari Senin.

Kalau soal masalah menjadi jengkel, sudah tak perlu digubris. Hidup kan cuma habis jengkel terbitlah tidak jengkel, setelah tidak jengkel terbitlah jengkel.

Main-Main


Coba anda bayangkan berada di dalam pesawat terbang, sedang duduk-duduk tenang menunggu waktu sampai ke tujuan, tayangan di layar di depan Anda sedang dinikmati, tiba-tiba pesawat yang awalnya tenang-tenang, tiba-tiba drop dan disusul dengan suara pesawat yang bergemuruh untuk sekian detik dan Anda mendengar jeritan penumpang lainnya. Apa rekasi yang kira-kira Anda lakukan saat itu terjadi?
Problema
Satu minggu yang lalu saya bersama pemimpin redaksi dan redaktur pelaksana perusahaan media kamiberada dalam situasi itu. Ketika kejadian itu berlangsung, Pemimpin redaksi saya berteriak sambil berusaha memegang sesuatu yang kokoh, meski ua tak menemukan apa pun.

Lempar Batu Sembunyi tangan


Baru beberapa bulan lalu, melalui dua teman, saya diperkenalkan dengan aplikasi yang bisa digunakan untuk mencurahkan isi hati apa pun bentuknya tanpa ada yang bisa mengetahui identitas pengirimnya.

Curahan hati itu bermacam bentuknya. Mulai dari curhat asmara, curhat mencari pasangan, sampai dengan caci maki terhadap sebuah institusi ataupun perorangan.
 

Lari


Seorang tetangga mengajak saya ikut lari seperti yang belakangan ini dilakukan banyak orang. Saya menampik tawarannya itu karena saya tak kuat lari dan sejujurnya lebih enak tidur, apalagi diperintahkan untuk bangun subuh-subuh.

Kemudian ia berkomentar lagi. ”Ini beda larinya. Kagak pake sepatu, kagak pake baju olahraga, larinya kagak di jalan raya.” Saya membalasnya. ”Mang lari apaan?” Ia menjawab, ”Lari dari kenyataan, bro.”

Kepemilikan


Saya sedang menikmati pertunjukkan fil di 36.000 kaki. Saking asyiknya menonton, saya tak menyadari kalau kapal terbang siudah mendekati tempat tujuan. Tetapi film yang saya saksikan sangat mencekam dan membuat saya tak mau kelewatan semenit saja.

Tepat di saat saya sedang menanti puncak cerita itu, pemutaran film dimatikan karena pesawat akan segera mendarat.  Saya kesalnya setengah mati, sampai satu kata kasar yang saya yakini telah disuarakan sejuta manusia saat kekesalan memuncak meluncur dengan keras dari mulut.

Kacamata


Seandainya ada pertanyaan, apakah fungsi kacamata? Maka alhasil akan ada sejuta jawaban. Kalau kacamata melihat dekat yaa… untuk melihat yang dekat-dekat, kalau kacamata melihat jauh yaa… untuk melihat yang jauh supaya menjadi jelas. Kalau kacamata gaya? Yaa… untuk bergaya. Kalau kacamata gaya yang untuk melihat jauh? Ya untuk keduanya. Persis seperti milik teman saya. Saya tak tahu kalau kacamata kuda. Mungkin supaya bisa melihat kuda dengan jelas.

Cepat
   
Beberapa hari lalu saya mengikuti seminar, salah satu pembicara menyarankan kalau seseorang tengah dalam kondisi terpuruk, harus cepat naik lagi. Sambil duduk dengan tenang tetapi otaknya tidak tenang, suara hati saya bertanya. “Emang bisa? Pakai apa? Bagaimana caranya?”
           

I Wish


Setelah beberapa kali menyaksikan serial televisi Scandal, baru belakangan ini timbul pertanyaan. Apakah setiap manusia itu berhak jatuh cinta kepada siapa pun? Termasuk jatuh cinta kepada pasangan orang lain yang sudah menikah? 
Bubur ayam
Jatuh cinta yang saya maksud bukan sekadar ‘cinta monyet’, tetapi benar-benar jatuh cinta. Artinya menjalani hari-hari penuh asmara, dan di dalam serial televisi di atas, si pria yang adalah Presiden Amerika Serikat memutuskan untuk menceraikan istrinya.

Hope


Di suatu malam, menjelang tengah malam, saya menyaksikan tayangan film di layar televisi. Sebuah kalimat yang diucapkan seorang perempuan, langsung menempel di kepala. Begini ucapannya itu, ”If you don’t have hope what is the point of living?”

Berharap

Hope. Kata itu merupakan nasihat yang telah disuarakan ke gendang telinga saya oleh mereka yang berada di dalam rumah, di lingkungan pergaulan dan mereka yang tiap hari minggu berada di mimbar rumah ibadah.

Hikmah


”Loss has been part of my journey. But it has also shown me what is precious. So has love for which I can only be grateful.” Kalimat penutup dalam film Message in a Bottle itu membuat saya berpikir, mengapa saya selalu mencari rasionalisasi untuk semua kekecewaan yang saya terima dalam hidup ini.

Lara

Waktu ayah saya meninggal, seorang kerabat mengatakan kalau saya tak perlu bersedih terlalu lama, karena ayah sudah berada bersama Tuhan. Saya tahu pasti, kalimat itu memiliki tujuan untuk memberi penghiburan. Apakah penghiburan itu datang dari lubuk hatinya, atau sekadar bibirnya bergerak, saya juga tidak tahu.

Hidup Cuma Sekali


Dan gara-gara hidup hanya sekali itulah kita sebut manusia yang mengorbankan dirinya itu pahlawan, bukan? 

Teman saya, seorang wanita, bercerita kalau ia ditawari untuk melakukan perselingkuhan dengan seorang pria beristri. Teman saya menampik tawaran yang menurutnya sangat tidak senonoh itu. Anda mau mendengar reaksi pria itu setelah tawarannya ditolak? “Hidup cuma sekali aja kenapa mesti dibuat susah sih. Dinikmatin aja.”

Hari Anak Nasional


Saya ini telmi (telat mikir) kalau tepat satu minggu yang lalu adalah Hari Anak Nasional. Waktu saya membaca beberapa unggahan di media sosial mengenai hari itu, saya menyesal tidak menulis sesuatu soal anak.
Tetapi, kan, katanya, selalu ada kesempatan lain di lain waktu. Kan, katanya, juga tak ada kata terlambat. Maka di waktu yang lain, yaitu hari ini, saya mau menyuguhkan tulisan yang terinspirasi dari Hari Anak Nasional yang sudah lewat itu.

Extra Mile


SEORANG laki-laki muda flamboyan menawarkan sotonya dengan penuh semangat. Ia menawarkan dengan menjelaskan perbedaan berbagai jenis soto yang ada di hadapannya. Saya mendengarkan penjelasannya dan kemudian memutuskan untuk tidak memesan soto itu.
 
Bekerja sebatas upah

Setelah mengelilingi beberapa kios makanan, saya memilih tahu gejrot sebagai pengisi perut di sore hari itu. Saya memilih tempat duduk secara acak dan mendapatkannya dekat dengan kios segala jenis soto itu.

Seorang ibu datang ke kios soto itu dan menanyai segala jenis soto yang ditawarkan. Seorang wanita muda melayani ibu itu tanpa penjelasan apa pun, berbeda dengan pria muda di atas. Ia hanya menjawab pertanyaan yang diajukan si pembeli tanpa merasa perlu untuk memberikan penjelasan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya sebagai penjual.
 

Detox


Seorang perempuan merokok dan makan tanpa henti. Pemandangan ini terjadi di salah satu halaman luas sebuah tempat berolahraga. Di halaman itu tersedia penjaja makanan yang harus saya akui lezatnya luar biasa, dari bubur ayam, empal gentong, sampai soto mi dan aneka gorengan.

Racun raga

Kejadian itu awalnya diperhatikan oleh salah satu kolega kerja yang berujar, “Pada akhirnya pergi ke tempat olahraga seperti ini, ya… buat tambah tidak sehat.” Saya berolahraga di tempat itu nyaris tiga kali dalam seminggu. Awalnya, saya tak tahu kalau di salah satu halaman itu dijual makanan yang menggoyang lidah dan membuat ketagihan.

Copy Paste


SAYA sedang membaca salah satu posting teman saya di sebuah media sosial berupa kutipan dengan foto dirinya yang sedang mengikuti lomba Aquathlon. Kutipan itu berbunyi begini. ”I hated every minute of training, but I said, don’t quit. Suffer now and live the rest of your life as a champion.”
 

Pepesan kosong

Kutipan itu adalah ucapan dari petinju legendaris Muhammad Ali, yang menurut asumsi saya ditujukan untuk menyemangati teman saya itu yang sedang berjuang dalam sebuah pertandingan, dan juga orang lain yang membacanya.

Setelah membaca kutipan itu, saya terpancing untuk memberi komentar. Namun saya urungkan niat itu, takut ia tersinggung, meski awalnya saya bermaksud mengatakan bahwa kutipan itu luar biasa maknanya, tetapi harus disadari kalau ia itu bukan Muhammad Ali.
 

Body Lotion


“Sam,sedih deh gue, kayaknya bakal kehilangan temen, nih.” Demikian BBM yang saya terima pada saat mendengarkan celoteh klien di sebuah ruang rapat.

Kemudian, saya membalas dengan menanyakan, bagaimana itu bisa terjadi. Dan selanjutnya, anda pasti tahu, kalau saya tenggelam dalam keasyikkan mengirim dan menerima pesan itu, dan membuat konsentrasi di ruang rapat yang awalnya seratus persen menjadi setengahnya.

Berkicau


Setiap pagi saya membaca sejuta kicauan yang dibuat sejuta manusia di media sosial. Ritual ini sudah mirip ritual makan pagi. Bahkan kalau makan pagi berhenti setelah pukul tujuh, membaca kicauan yang sejuta banyaknya itu sering kali berlanjut pada siang, sore, dan malam hari menjelang istirahat malam.

Cermin
Senangnya membaca kicauan-kicauan itu karena banyak macamnya, dan lama-lama mengenal manusianya hanya dari kicauan yang dituliskan. Ada yang bawelnya setengah mati karena semua masalah dikomentari, ada yang supernegatif, yang sok positif, yang provokatif dengan menuliskan kalimat bak belati yang dihunjamkan pembunuh kepada korbannya, sampai sering kali saya terkaget-kaget membacanya.

Bantuan Moral


Beberapa hari lalu, saya bertemu dengan seorang teman yang bisa dikatakan tak terlalu dekat dan sungguh jarang kami saling bertemu. Selesai bercerita panjang lebar, kami berpisah. Pada malam hari, di hari yang sama, ia mengirimkan pesan berbunyi begini. ”Malam, Mas. Kalau kamu berdoa malam, aku akan doakan kamu juga. Kamu tenang saja, ya. Kita harus yakin. Punya keyakinan terhadap Tuhan itu sungguh membantu.”

Malas melangkah

Saya terharu menerima pesan seperti itu. Yang mengharukan itu bukan isi pesannya, melainkan niat membantunya itu. Apalagi dari orang yang tidak terlalu dekat. Ia menyisihkan sedikit waktunya untuk mendoakan saya.

Badai


Mungkin beberapa dari Anda mengalami seramnya hujan badai beberapa hari lalu. Mengapa saya tuliskan beberapa, karena untuk beberapa teman yang tinggal di luar Jakarta Pusat, pengalaman sekitar pukul 03.00 itu sama sekali tak mereka alami.

Pelajaran pertama dan kedua
Dan gara-gara saya tak tahu hujan badai datangnya tak merata, beberapa dari mereka naik pitam karena BBM saya yang menyarankan untuk berdoa dan berhati-hati. yaaa… begituah. Acap kali kita mau membantu orang lain karena alasannya hanya ingin agar mereka selamat, tetapi malah jadi bumerang karena membuat mereka panik.

Apakah Aku Orang Bahagia

DI suatu sore, di sebuah kafe, sahabat saya curhat begini, ”Mas, aku mau nanya, ya. Menurut Mas, aku ini seorang yang bahagia enggak? Kata beberapa orang, saya ini tidak bahagia.”

Tidak mengerti

Beberapa jam setelah percakapan di atas, sesi curhat itu berubah menjadi sesi yang memaksa saya mengajukan pertanyaan yang sama. Am I a happy person? Kalau sudah ada pertanyaan semacam itu, kata-kata yang sederhana yang sering kali diucapkan dan terlihat sepele itu tiba-tiba membuat kelabakan. Tiba-tiba saya menjadi tidak tahu bahagia itu apa.

Maka, inilah yang saya dapatkan setelah mencari artinya dari beberapa kamus online. Bahagia adalah feeling or showing pleasures or contentment. Having a sense of confidence in or satisfaction with a person or situation. Convenient. Fortunate. An event or situation characterized by happiness.

Anak


Selama masa liburan sekolah anak, saya sungguh frustrasi. Lobi dan kolam renang yang biasanya sepi sekarang begitu riuhnya. Anak-anak berlari, menjerit, berloncat-loncat. Di dalam lift, mereka memencet beberapa tombol lantai, kemudian turun di salah satu lantai, dan membiarkan saya menyaksikan lift berhenti di setiap lantai.

Pergi ke mal, lebih akbar lagi keramaiannya. Dan kejadian yang membuat kesal adalah melihat orangtua yang membiarkan anaknya bermain pintu kaca dan hanya berkata begini. ”Kakak, ayo jangan mainan pintu.” Perempuan itu tampak seperti hanya melakoni sebuah kewajiban bahwa suara nasihat itu harus diperdengarkan. Yang penting bersuara, mau itu berefek atau tidak, itu tak jadi masalah.

Cermin orangtua

Dalam perjalanan melakoni hidup, saya sudah melihat anak yang manja, yang menjambak rambut ibu dan baby sitter-nya tanpa merasa bersalah, yang menjerit dengan lengkingan yang tinggi di koridor mal hanya karena tidak terpenuhi hasratnya untuk membeli apa yang dikehendakinya. Dan tentu tak melupakan mencatat ada anak yang menyenangkan dan sok dewasa.

Anak


Di suatu acara makan siang, saya dan empat teman berbincang soal masa kecil kami sebagai anak. Tepatnya bagaimana orangtua kami memilihkan tempat untuk mengenyam pendidikan dan mendidik menjadi mandiri di masa kami masih disebut anak.


Salah mengasuh

”Begitu lulus sekolah dasar, aku dikirim ke Hongkong. Mama bilang supaya bisa belajar hidup sendiri,” kata seorang dari kami. Yang lain menceritakan waktu usia sepuluh tahun sudah hidup di kota Singa dan saat masuk ke sekolah menengah atas dilanjutkan ke Inggris.

Saya teringat anak mantan bos saya, pada usia sepuluh tahun pun sudah mendapat perlakuan yang sama dan tak pernah kembali ke Tanah Air sampai ia lulus sarjana.

1001 soal CInta


Beginilah saya mengartikan cinta…

Cinta orang tua dan anak.
Karena saking cintanya, orang tua berhak menentukan pilihan pasangan hidup anaknya. Meski acapkali mengatakan. “ Saya serahkan semua kepada anak saya.” Orang tua seringkali menentukan masa depan anaknya karena mereka mungkin merasa wakil Tuhan di bumi. Tahu masa depan. Kalau pun mereka tak merasa wakil Tuhan di bumi, paling tidak sudah lebih lama hidup. Itu diartikan tahu segalanya tentang hidup. Itu semua karena saking cintanya pada anak.
Cinta orang tua pada anak juga berarti membiarkan anak tumbuh sendiri, belajar berpikir sendiri, mengajak mereka untuk berdikari sejak dini, tetapi nanti kalau si anak protes tentang orang tuanya. Maka orang tuanya akan berbicara. “ Elo nggak tahu kalau selama ini gue cari nafkah sendiri?” Ini saya nggak tahu apa karena saking cintanya atau mau-maunya orang tua.

Cinta Monyet.
Ini saya benar-benar nggak mengerti. Pertama, karena saya bukan monyet, dan kedua Anda pun bukan monyet. Maka saya heran kok bisa perumpamaannya dengan monyet, la wong kita ini manusia, dan yaaa… kok nggak ada yang tersinggung. Monyet itu bergelantung dari satu pohon ke pohon yang lain. Artinya, cinta monyet itu bukan untuk cinta yang tidak serius atau cinta sekedarnya saja. Cinta macam ini adalah untuk menunjukkan kalau seseorang itu gampang menyerah dalam memerjuangkan cintanya, dan kalau patah arang kemudian loncat ke lain hati.