Ada yang mengeluh mengapa film yang ditontonnya hanya menarik secara visual, tetapi tak menarik secara jalan ceritanya. Saya mengeluh mengapa buku ini hanya menarik judulnya, tetapi isinya biasa-biasa saja seperti menyantap makanan yang tak diberi bumbu.
”Ngomel”
Saya menulis hal ini karena terpancing keluhan
seseorang di sebuah media sosial. Bentuk keluhannya sejenis seperti yang saya
tuliskan di atas. Awalnya saya tak terpancing. Membaca isi pemikiran manusia di
media sosial sudah menjadi ritual yang rutin buat saya sehingga kepekaan
terhadap kalimat sesarkastis apa pun tak menggelitik seperti saat sebelum
sosial media dilahirkan di dunia ini.
Kalau dahulu suka terkejut karena isi kepala manusia
tak semudah itu diungkapkan dan kemudian bisa dinilai, sekarang semua orang
bisa mengungkapkan isi hatinya dan itu dapat saya baca sepanjang hari,
sepanjang tahun, melalui sekian banyak bentuk sosial media. Jadi, geregetnya
sudah memudar, tetapi tidak hilang.
Setelah mengulang membaca keluhan seseorang itu,
saya mulai sedikit naik pitam. Di dalam taksi yang membawa saya ke sebuah
pertemuan, saya bertanya mengapa ya orang ini mengeluh seperti itu.
Sampai-sampai saya menuliskan status di sosial media begini. Manusia itu suka
lupa kalau dirinya itu manusia.
Nah, saya sendiri sebetulnya yaa..seperti status yang saya tulis itu. Kalau saya juga senang mengeluh seperti seseorang di media sosial itu. Berkeluh soal mengapa. Mengapa ini dan mengapa itu. Dari soal makanan, tabiat klien, nonton film, layanan maskapai penerbangan, belanja di pasar, tukang listrik, membeli pakaian, layanan rumah sakit dan dokter, sampai yang paling parah adalah kemacetan di Jakarta ini.
Mengeluh bisa macam-macam bentuknya. Dari komentar
yang sederhana macam kok ada ya orang kayak gitu,atau kayak gini, sampai
mengumpat untuk keluhan yang kelas bantam. Maka di dalam taksi itu, saya
kemudian berbicara dengan diri sendiri dengan suara berbisik sampai si bapak
sopir taksi bertanya. ”Mas, bicara sama saya?”
Maka kemudian saya melanjutkan diskusi dengan diri
sendiri di dalam hati. Rasanya beda. Tak ada luapan emosi seperti kalau sedang
mengeluarkan suara. Diskusi dengan hati itu dimulai dengan pertanyaan, mengapa
seseorang, termasuk saya, sebelum menilai akan seseorang atau sesuatu melupakan
sebuah pertanyaan mendasar, siapa sesungguhnya manusia itu.
Jerapah
Dalam salah satu serial televisi Desperate
Housewives dipertontonkan sebuah episode tentang tingkat intelektual anak yang
dikemas dalam sebuah pengelompokan. Yang paling pandai dimasukkan ke dalam kategori
yang diberi nama kelompok macan, yang biasa-biasa saja tupai, dan yang paling
bodoh adalah jerapah.
Kategori ini menyulut kekesalan para ibu dalam
serial itu. Sudah bisa diduga mereka yang naik pitam adalah yang anaknya
dimasukkan ke kelompok jerapah. Dan seperti orangtua di mana pun di dunia ini,
tak akan bisa mudah mengakui kalau anaknya masuk ke dalam kelompok itu meski
memang kenyataannya demikian. Buat orangtua, anak itu selalu pandai, selalu
paling cantik, selalu ini, dan selalu itu, bukan?
Melihat tayangan itu, saya sempat tersinggung karena
sejujurnya dalam kehidupan nyata sebagai anak kecil, saya masuk ke kelompok
terbodoh itu. La wong oleh kepala sekolah saya saja saya dikatakan seperti ayam
tak punya otak. Jadi, Anda bisa bayangkan, sudah seperti ayam, masuk kelompok
jerapah, dan tak punya otak pula. Klop, bukan? Klop penghinaannya maksud saya.
Nah, bayangkan kalau para jerapah ini tumbuh menjadi
makhluk dewasa dengan tingkat IQ jerapah, apakah kira-kira yang akan dihasilkan
oleh mereka? Tentu Anda akan mengatakan tak selamanya begitu. Mungkin tidak
pandai dalam bermain angka, tetapi pandai dalam menulis.
Katakan saya jerapah yang pandai menulis, tetapi
kalau seandainya saya diuji di antara para jerapah lainnya yang juga jagoan
menulis, apa jadinya? Bisa jadi saya masuk lagi dalam kelompok jerapah, bukan?
Karena menurut saya secara umum, tingkat kepandaian yang ada dalam diri
seseorang itu permanen sifatnya.
Setelah menyaksikan tayangan serial itu, mungkin
sebaiknya saya harus senantiasa mengingatkan diri sendiri dengan sebuah
pertanyaan, siapakah manusia itu sebelum mulut ini berkicau tanpa henti.
Manusia itu cuma memiliki dua hal, kelemahan dan
kekuatan. Kepandaian di satu sisi, kebodohan di sisi yang lain. Oleh karena
itu, selama segala sesuatu itu dihasilkan manusia, yaa..hasilnya mengandung dua
hal abadi itu yang menempel dan tak bisa dilepaskan.
Jadi, sungguh wajar kalau tak ada karya buatan
manusia yang sempurna. Yang sesungguhnya lebih penting dari itu adalah melatih
kemampuan menghargai keindahan karya para jerapah, macan, dan tupai, tidak
hanya dengan kasatnya mata, tetapi juga dengan murninya hati. Sempurna itu
kalau saya bisa memainkan hati, dan bukan hanya memainkan mata. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar