Teman saya menyemprot rekan kerjanya setelah ia kena semprot atasannya. Gara-garanya rekan kerjanya itu lupa memberi ucapan selamat ulang tahun kepada salah satu nasabah mereka yang dikategorikan super prioritas.
Apakah...?
Cerita itu langsung memberi inspirasi secara cepat
di kepala. Judul yang Anda baca itu pun langsung keluar begitu saja dari
kepala. Selesai mendengar ceritanya, saya jadi mikir. Kalau ada yang haus
kekuasaan, ada yang haus akan perhatian. Buat saya, itu sebuah cerita menarik.
Hal yang menarik bukan soal nasabah menumpahkan
kekesalannya. Kalau itu sudah terlalu basi untuk dianggap menarik. Itu sebuah
pengalaman yang sudah saya alami "berjuta" kali sampai saya pernah
berasumsi bahwa makin kaya seseorang, kok, sepertinya makin susah rendah hati.
Hal yang menarik adalah mengapa seseorang sampai
menjadi kesal karena tak mendapat perhatian yang berasal dari luar? Kok,
sepertinya perhatian yang dari dalam dirinya atau keluarganya atau pasangannya
tidak cukup. Apalagi, masih haus perhatian dari orang yang sama sekali tak ada
ikatan batinnya.
Bahkan, kalau masih dapat disebut ikatan batin, itu
pun terjadi karena diawali hubungan nasabah dan karyawan yang melayani, apalagi
kalau melihat uang yang disetor oleh seorang nasabah menggunung seperti hendak mengalahkan
tingginya Himalaya.
Maka, saya kemudian berpikir, mengapa mereka masih membutuhkan perhatian dari luar, sementara di dalam rumah mereka mendapatkan sebuah ikatan batin dan perhatian yang dari hati? Maka, otak saya sebagai manusia yang tak pernah kaya raya, bahkan dikategorikan kaya saja tidak, mulai berpikir keras dan kencang setengah mati.
Apakah mungkin orang kaya raya itu selalu merasa
tidak cukup? Sudah mendapat perhatian dari orang dalam dan diberikan dengan
penuh cinta, tetapi masih ingin mendapat yang dari luar dan sama sekali tidak
diberikan dengan cinta. Saya sampai menyimpulkan bahwa orang kaya raya itu
selalu ingin menguasai, ingin memiliki lebih. Kalau bisa dapat di luar dan di
dalam, mengapa harus salah satunya saja.
Apakah mungkin kehidupan orang kaya raya itu seperti
cerita cliché dalam film atau serial televisi? Di mana sering kali digambarkan
bahwa keadaan rumah tangga kebanyakan orang yang berpredikat kaya raya itu
digambarkan dengan percekcokan suami istri atau orangtua dan anak.
"Attention seeker"
Akibat dari ketidakbahagiaan di dalam rumah,
seseorang yang kaya raya itu akan mencari perhatian yang tersedia di luar. Hal
itu bisa didapatinya dari teman-temannya atau dari seorang pegawai sebuah
perusahaan.
Apakah selama ini saya keliru kalau berpikir bahwa
orang kaya raya itu memang berbeda dalam memenuhi kebutuhannya untuk mendapat
perhatian dibandingkan dengan orang yang miskin atau yang biasa-biasa saja?
Atau sejujurnya, yang membedakan kaya raya, miskin,
dan biasa saja itu hanya jumlah uang yang dimiliki seseorang, tetapi pada
akhirnya kita semua adalah manusia biasa yang senang untuk mendapatkan perhatian
dan senang mencari perhatian.
Pada akhirnya status macam apa pun tak bisa menghindari
seseorang dari tidak membutuhkan perhatian. Baik perhatian yang sederhana
sampai yang berlebihan. Jadi,attention seeker itu adalah predikat semua manusia
dengan status apa pun.
Dan, ketika si attention seeker ini merasa
kekurangan, salah satu cara adalah mencari di luar dirinya atau di luar
rumahnya. Bentuk bisa berbagai macam. Dari mengomel seperti cerita saya di atas
sampai melihat dan membaca berbagai foto dan ungkapan yang diunggah seseorang
di berbagai media sosial yang dimilikinya.
Pertanyaan saya terakhir, mengapa seseorang hanya
untuk mendapatkan perhatian, ia menghubungkan dengan jumlah uang yang
disimpannya di sebuah bank, misalnya? Kalau saya jadi nasabah kaya raya, yang
saya butuhkan adalah fasilitas yang mendukung agar dana saya bisa berkembang.
Saya akan mengomel kalau saya tak mendapatkan itu.
Saya tak akan mengomel karena saya tidak mendapat
ucapan selamat ulang tahun hanya karena saya punya dana sekian miliar. Lagian,
waktu saya hendak menyimpan dana, fasilitas utama yang diinformasikan juga
bukan karena saya akan mendapat ucapan selamat ulang tahun atau boleh mengambil
10 botol minuman yang disediakan di ruang tunggu utama bagi nasabah prioritas.
Kemudian, nurani saya langsung menggelegar.
"Jangan suka ngomong gitu. Elo belum pernah aja jadi nasabah prioritas.
Kalau lihat elo yang sekarang miskin aja haus perhatian, uda bisa sih
ngebayangin kalau elo kaya-raya." ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar