Kalau di hari Minggu ini Anda punya sedikit waktu
luang, cobalah menjawab pertanyaan berikut ini. Seberapa dalamkah kepercayaan
yang Anda berikan selama ini kepada teman, sahabat, pasangan, anak, dan diri
Anda sendiri?
Pertanyaan
Sebegitu dalamnyakah kepercayaan yang Anda berikan,
sehingga Anda percaya bahwa teman dekat yang makan dengan Anda dalam satu meja
bahkan dalam satu piring tak akan mengkhianati Anda? Tak akan melakukan
perselingkuhan dengan pasangan yang Anda cintai?
Sekali waktu, saya dinasihati oleh seorang ibu untuk
tidak sekali-kali memperkenalkan sahabat atau teman dekat dengan pasangan saya.
Ia bahkan menambahkan, untuk tidak bercerita soal masalah rumah tangga kepada
mereka yang dikategorikan teman dekat dan atau sahabat.
Sebegitu dalamnyakah kepercayaan yang Anda berikan
kepada rekan bisnis Anda, sehingga tak Anda sadari bahwa mereka sedang mengatur
strategi untuk menyingkirkan Anda dari usaha yang sedang dirintis?
Bahkan mungkin saja mereka saling menjatuhkan dengan bercerita kejelekan masing-masing kepada Anda, yang membuat Anda menjadi bingung karenanya, dan kemudian berpikir: ”Jangan-jangan mereka berdua, juga sering menjelekkan saya tanpa saya ketahui.”
Dan, ketakutan itu yang membuat Anda kemudian
memutuskan untuk mengundurkan diri dari menjadi rekan dalam usaha itu. Sehingga
mereka bisa dengan lega melepas Anda, tanpa -mereka dipersalahkan, tanpa mereka
harus menyandang predikat bad boys, karena inisiatif pengunduran diri itu
datang dari mulut Anda.
Sebegitu dalamnyakah kepercayaan yang Anda berikan
kepada anak-anak Anda, sehingga Anda percaya bahwa mereka adalah pelajar atau
mahasiswa yang budiman, dan bukan pengedar narkoba di sekolah, bukan seorang
tukang bully, bukan seorang pelacur,
bukan sedang berselingkuh dengan suami atau istri teman Anda?
Dalam kasus ini, saya jadi teringat seorang bapak
yang bertanya kepada saya, bagaimana cara menjaga agar anak-anak kita selalu
dalam jalur yang benar, supaya mereka tak tergoda untuk melakukan hal-hal yang
tak seharusnya mereka lakukan.
Saya tak bisa memberi nasihat karena saya tak punya
anak. Tetapi saya tetap berusaha dengan jawaban sok bijak seperti biasanya.
”Sulit sih Pak. Bapak harus berani memberi kepercayaan kepada mereka, karena
sangat mustahil untuk memonitor atau menemani mereka dua puluh empat jam,
bukan?”
Saya yakin Anda sendiri tahu, kalau memberi nasihat
itu lebih mudah dari membalikkan tangan, bukan? Berbeda sekali kalau kemudian
harus menjalani nasihat itu.
Jawaban
Pertanyaan berikutnya. Sebegitu dalamnyakah
kepercayaan yang Anda berikan kepada pasangan Anda, sehingga ketika ia menjadi
koruptor dan berselingkuh saja, Anda tak tahu. Dan, Anda percaya bahwa Anda
adalah satu-satunya manusia yang dicintainya dan apa yang Anda kenakan di tubuh
dan rumah yang Anda tinggali adalah bukan barang haram.
Saya jadi teringat akan cerita seorang teman wanita.
Ia mendatangi beberapa cenayang untuk menceritakan perjalanan
perselingkuhannya. Dari beberapa cenayang yang berbeda itu, mereka memberi
nasihat yang sama, kalau laki-laki yang berselingkuh dengannya, juga
berselingkuh di tempat lain.
Teman saya tak memercayai pernyataan itu. Ia malah
mengatakan kalau hal itu tak mungkin terjadi, karena laki-laki itu selalu ada
bersamanya. Kata selalu menurut teman saya itu adalah, bahwa laki-laki itu selalu
mengantar ia ke kantor, dan menjemput ia di kantor.
Selalu pulang ke kediamannya dan makan malam
bersamanya. Tetapi teman saya lupa, bagaimana ia bisa tahu kalau habis
mengantarnya ke kantor, laki-laki itu menjemput selingkuhan lainnya dan juga
mengantarnya ke kantor, macam antar jemput anak sekolah?
Pertanyaan terakhir untuk Anda di hari libur ini.
Sebegitu dalamnyakah kepercayaan yang Anda berikan kepada diri Anda sendiri,
sehingga saking besarnya semua contoh kejadian di atas tak Anda sadari sudah
dan sedang terjadi, dan Anda merasa semua dalam keadaan baik-baik saja?
Sejujurnya, saya juga sedang dalam kondisi
menanyakan diri sendiri dengan pertanyaan yang sama. Di masa muda dulu, saya
percaya saja. Bahkan sudah terjadi beberapa kali saya dikhianati, saya tetap
percaya. Saya bahkan mudah sekali memberi kepala saya untuk dipancung, dan tak
pernah kapok karenanya.
Sekarang, di masa menjelang menua, saya curiga saja
pembawaannya. Saya itu tak pernah percaya bahwa orang yang saya cintai,
mencintai saya. Dulu saya tak perlu bukti, sekarang saya perlu bukti.
Beberapa hari lalu saya dinasihati seorang sahabat.
Begini nasihatnya. ”Mas harus bisa melepaskan keakuan. Artinya, masuk dalam
rencana Tuhan dan bukan Tuhan yang masuk dalam rencana Mas. Nanti, Mas akan
bisa melihat dengan bijak, sehingga Mas tak perlu bukti untuk bisa memercayai.”
●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar