Di suatu siang saya menyaksikan tayangan ulang
sebuah serial televisi berjudul Scandal. Saya seorang pemirsa yang sejak awal
telah menyaksikan serial yang mampu membuat emosi naik turun itu.
Namun, sejak ada serial televisi yang jauh lebih
memikat, saya tak lagi mengikutinya. Hmmm... kalau Anda menganggap saya manusia
yang tak setia, saya menerima predikat itu dengan lapang dada. Saya memang
manusia yang tidak setia.
Kompromi
Diceritakan dalam episode itu, seorang wali kota
memerintahkan sopirnya yang setia membunuh istrinya yang berselingkuh dengan
calon wali kota yang baru. Untuk menghadapi reaksi publik atas kejadian itu,
Olivia Pope, seorang wanita yang awalnya bekerja sebagai Direktur Komunikasi
Gedung Putih, kemudian memilih untuk memiliki usahanya sendiri, yang
memfokuskan melindungi citra publik kalangan elite Amerika, menyarankan sebuah
strategi yang jitu kepada dua wali kota tersebut, meski sesungguhnya saran jitu
itu jauh dari mengungkapkan kebenaran.
Pada saat acara jumpa pers berlangsung, ketika calon
wali kota yang baru mendapat giliran berbicara, ia tidak mengikuti saran
Olivia, tetapi justru membuka kebenaran dan borok yang sesungguhnya. Ia
menceritakan secara singkat soal pembunuhan dan perselingkuhan itu. ”Saya
adalah pendosa dan dia (wali kota yang lama) adalah seorang pembunuh.”
Tayangan di siang itu membuat saya gundah gulana. Saya bergumul dengan kegundahan itu sambil menghibur diri. ”Ahh... itu kan semua hanya terjadi di film.” Tetapi nurani saya tak bisa diam dan ia mengusik sehingga mulut saya menyuarakan sebuah pertanyaan.
”Benarkah kebenaran dan kejujuran itu hanya sebuah
khayalan dan hanya bisa terjadi di layar lebar Hollywood? Hanya terjadi di
sebuah negara adikuasa? Sebuah negara yang kaya, yang masyarakatnya mungkin
sudah sejahtera?”
Saya tak tahu soal politik, saya tak mengerti
bahkan. Saya juga tak tahu soal komunikasi. Tetapi hal yang paling mengusik dan
menarik adalah melihat bagaimana hidup itu menawarkan banyak pilihan. Dan
manusia harus memilihnya. Entah itu melalui intelektualitas, navigasi emosi,
atau nilai spiritualnya.
Olivia memilih sebuah jalan keluar yang sungguh
intelektual, yang strategis, meski tidak ada kejujuran di dalamnya hanya agar
semua selamat. Sementara itu, ada manusia yang untuk selamat saja, seperti sang
wali kota yang baru, memilih menjadi jujur dan memperlihatkan kebenaran dengan
segala risiko yang harus dibayarnya.
Maka di saat itulah, saya menjadi bingung. Apakah
tidak jujur itu sebuah kepandaian dan jujur itu adalah sebuah kebodohan. Saya
tak bisa menilai, apakah yang satu terlalu emosional dan yang satu lagi terlalu
berakal.
Pembuat borok
Dalam perjalanan hidup ini, sesungguhnya saya tidak
berani mengungkapkan kebenaran dan kejujuran itu. Ups... keliru. Saya bukan
tidak berani, saya terlalu sering berkompromi dengan ketidakjujuran. Sama
persis betapa seringnya, saya berkompromi dengan dosa.
Awalnya saya tak bisa tidur karena tidak jujur,
tetapi lama-lama kompromi melahirkan sebuah kebiasaan. Dan Anda tahu bukan
hasil yang didapat dari sebuah kebiasaan? Apalagi rajin dilatih?
Yaa... benar. Seratus untuk Anda. Saya tak peka lagi
terhadap kejujuran dan atau kebenaran itu. Kebiasaan itu bahkan sudah membuat
saya berpikir kalau ketidakbenaran itu adalah kebenaran yang sesungguhnya. Saya
menjadi mati rasa seperti disuntik obat anestesi.
Saya bisa tersenyum manis di saat hati panas
membara. Saya bisa memeluk seseorang tetapi memegang belati di belakangnya.
Saya bisa mengatakan ah... cantiknya dirimu, sementara di dalam hati, saya
menghakimi betapa jauhnya dirinya dari cantik.
Saya mampu membuat seorang juru masak merasa
dihargai karena ucapan manis yang saya ucapkan untuk sebuah sajian yang
dibuatnya. Tetapi di dalam benak yang paling dalam, saya telah memutuskan untuk
tidak kembali ke rumah makan itu untuk selama-lamanya.
Saya telah merasakan nikmatnya tidak jujur dan saya
juga pernah mengungkapkan kebenaran dan atau kejujuran itu. Ternyata, menjadi
jujur dan menjadi benar itu mengandung risiko. Kadang ringan-ringan saja,
tetapi tak memungkiri di lain waktu mampu mendirikan bulu roma. Bulu roma saya,
dan bulu roma orang lain.
Memiliki kebiasaan tidak jujur itu adalah borok yang
saya pelihara. Dan saya senang berkubang di dalamnya dan tak jemu-jemu
melakukannya. Tetapi pengecutnya, saya tak senang kalau borok saya terungkap
karena malas membayar harga dari keborokan yang saya buat sendiri.
Karena malas, maka yang harus membayar adalah orang
lain. Saya akan mendatangi manusia macam Olivia, berkelit dengan sejuta
skenario. Atau kadang mencari kambing yang bisa dihitamkan, agar saya dan orang
lain selamat. Jadi saya menjadi pembunuh, sekaligus penyelamat pada waktu yang
bersamaan.
Berpuluh-puluh kali telah saya katakan pada diri
sendiri dan orang lain, kalau saya ingin sekali masuk surga kalau saya game
over. Tetapi saya tak tahu pilihan yang mana yang mengantar saya pada keinginan
itu. Berkelit tetapi menyelamatkan banyak orang, atau tidak berkelit tetapi
saya sengsara dan orang lain juga sengsara. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar