Saya duduk di sebuah warung es yang menghadap kali kecil dengan pohon petai cina yang sudah bongkok tak kuasa menahan terpaan angin setiap hari. Hari itu, tak seperti biasanya, daun dan batangnya sampai menyentuh air kali. Ia seperti sedang menghadapi ajalnya. Langit di atas gelap gulita, tanda hujan sebentar lagi akan turun.
Egois
Warung es di tepi kali itu sudah sejak lama berdiri.
Mungkin separuh umur saya. Siang itu ada empat orang sedang bercakap-cakap.
Tiga orang pemilik warung dan seorang teman dekat mereka yang sedang
berkunjung. Sedang saya dan seorang teman menjadi pembelinya, menyeruput setiap
sendok es berwarna merah muda itu dengan lahap.
Tak lama setelah saya duduk, tamu pemilik warung
pamit untuk pulang. "Mesti jemput anakku," katanya. Baru saja wanita
tua itu meninggalkan tempat, dan hilang di belokan, salah satu pemilik warung
mulai bercerita tentang wanita tua itu. Saya sebagai pembeli yang memiliki
kuping seperti penyadap menyimak dengan baik sambil menyeruput es yang nyaris
kandas.
Dalam hati saya tertawa geli. Saya itu punya
kebiasaan yang sama, kalau teman atau klien atau siapa saja baru meninggalkan
tempat pertemuan, saya bisa langsung membicarakan mereka. Ya kebaikannya, tanpa
melupakan keburukannya yang lebih mak nyus untuk menjadi bahan obrolan.
"Kasihan dia," kata salah satu wanita pemilik warung berambut pendek dengan mulutnya yang bawel dan air mukanya yang kelihatan galak. "Lama menikah ndak punya anak terus dikirim ke Eropa. Pulang dari sana punya anak dua. Setelah ada anak, suaminya minta cerai. Kasihan mesti besarin anak-anaknya sendiri sampai sekarang."
"Suami, kok, ya egois banget. Waktu belum punya
anak ndak dicerai, setelah punya anak ya begitu," jelasnya dengan suara
yang keras sehingga warung kecil itu hanya dipenuhi dengan ceritanya.
Mendengar sebuah kata egois, saya seperti tersengat
listrik. Sisa cerita wanita itu sudah tak bisa menarik hati saya lagi. Kata
egois itu sungguh kuat terdengar, mungkin seperti tiupan angin kencang yang
mampu membengkokkan petai cina sampai menyentuh bibir sungai.
Lucunya, satu hari sebelum peristiwa di warung itu,
saya dikatakan egois secara tidak langsung oleh teman saya gara-gara saya
mengirim pesan kepadanya untuk menanyakan nomor telepon teman kami yang tinggal
di Surabaya. "Elo tu cuma kirim pesan kalau ada perlunya aja."
Setelah percakapan dalam pesan itu, ia tetap tak memberikan nomer telepon yang
saya minta.
Kelaparan
Sejujurnya saya memang egois, sungguh saya menyadari
itu. Jadi, saya tak tersinggung mendapat jawaban seperti itu dan tak
mendapatkan nomor telepon yang saya inginkan, padahal saya sedang sangat
membutuhkan nomor telepon teman di Surabaya itu.
Saya belum pernah berkunjung untuk melakukan
pemeriksaan jiwa, untuk mengetahui atau mencari akar mengapa saya, kok, bisa
menjadi manusia yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Kalau batuk
atau jantung berdetak lebih kencang dari semestinya, saya langsung ke dokter. Saya
ingin tahu apa penyebabnya.
Tetapi untuk urusan jiwa, saya tak pernah terpikir
untuk melakukan tindakan yang sama. Padahal, egois itu sudah bertahun lamanya
bercokol. Yaa. seyogianya saya memeriksakan mengapa sampai terjadi, bukan? La
wong kalau batuk saja langsung diobati karena cukup mengganggu.
"Kamu berobat untuk batukmu karena itu sudah
mengganggu dirimu. Kalau egoismu itu kenapa gak diobati, karena itu tidak
mengganggu dirimu, dan nggak kepikiran kalau itu mengganggu orang lain. Memang
dasar egois," demikian saudara-saudari suara nurani yang tiba-tiba
menikam.
Maka, sebelum saya memeriksakan kesehatan jiwa, saya
memeriksa diri sendiri. Saya melihat kembali pada bagaimana kondisi keluarga
saya di masa kecil dahulu. Kami bukan datang dari keluarga yang mapan. Sejak
awal ayah berjuang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Mungkin saya merasa,
sebagai anak, saya kekurangan dibandingkan teman-teman saya yang keluarganya
sungguh kaya raya.
Saya kelaparan finansial, kemudian timbul iri hati
sebagai bentuk sebuah kelaparan emosional. Mau menyalahkan orangtua, kok jadi
orangtua miskin, tentunya tidak bisa. Mau menyalahkan kehidupan yang katanya
adil, tetapi bisa tidak adil, makin tidak bisa. Sehingga sekarang kalau saya
egois, itu karena memenuhi rasa lapar yang bertahun lamanya itu, yang tak saya
sadari telah membuat saya malnutrisi.
Karena saya kelaparan, maka saya harus berhemat.
Sehingga persediaan tidak habis kalau dibagi. Maka penghematan itu saya lakukan
sampai sekarang. Kebiasaan menghemat yang kemudian menjadikan saya sebuah
pribadi yang oleh orang lain diberi predikat egois. Karena orang seperti saya
ini tak akan pernah merasa egois, karena berpikir bahwa tidak berbagi itu
menyelamatkan hidup saya. Saya harus memikirkan diri saya dahulu, sebelum saya
kelaparan lagi.
Mumpung hari Minggu, semoga Anda tidak terlalu
sibuk, cobalah periksa kesehatan Anda. Apakah Anda malnutrisi sejak dahulu
seperti saya atau malah kelebihan sehingga predikat yang saya dapati juga Anda
miliki. Semoga setelah pemeriksaan diri sendiri, Anda dan saya memiliki hidup
yang baru. Berani memberi dan tak takut kelaparan lagi. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar