Di atas ketinggian itu, ketika berada di dalam pesawat, saya dan Anda bisa melihat dengan jelas siapa diri kita sesungguhnya. Dari mana saya bisa mengetahui itu semua?
Indikator
Sudah pasti bukan dari kelas yang tersedia. Kelas
ekonomi, kelas bisnis, atau kelas utama yang mampu menguras kocek sampai
ratusan juta rupiah, sama sekali tak bisa digunakan sebagai tolok ukur.
Ada satu indikator yang saya gunakan untuk menilai.
Dan indikator itu bukan perilaku manusianya. Kalau itu sudah terlalu basi
digunakan sebagai bahan penilai. Anda dan saya sudah tahu pasti, bagaimana dan
perilaku macam apa yang pernah dilihat, bahkan dari saat masih di depan
check-in counter.
Dari soal pegawai yang diskriminatif sampai
penumpang yang arogan. Dari crew yang galaknya seperti sipir penjara sampai
penumpang yang mengumpat dan mampu melakukan kegiatan esek-esek di ruang yang
bahkan tak tertutup itu.
Nah, indikator yang saya gunakan adalah buah yang
dihasilkan dari perilaku yang dilakukan setelah sampai di tempat tujuan.
Begini. Coba Anda perhatikan ketika pesawat sudah berhenti dengan benar di
tempatnya, dan para penumpang dipersilakan turun. Perhatikan apa yang terjadi
di setiap kursi dan kondisi di sekitar tempat duduk itu.
Yaa... benar. Anda dan saya bisa melihat dengan nyata dan kemudian mengerti apa yang dimaksud dengan kapal pecah. Apalagi kalau Anda duduk di kelas ekonomi dan mendapat tempat duduk yang sudah dekat ekor pesawat, perjalanan Anda ke pintu keluar akan melewati jalan panjang. Bahkan tak jarang, Anda dan saya diperintahkan untuk keluar melalui kabin kelas bisnis dan utama.
Pemandangan yang didapat akan sama, mau itu kabin
kelas ekonomi atau kelas utama. Berantakan adalah benang merahnya. Anda bisa
melihat ada selimut yang tertata rapi setelah digunakan, ada selimut yang
berantakan dan dibiarkan begitu saja.
Ada koran yang terlipat secara acak-acakan
dimasukkan ke dalam kantong kursi, bahkan gelas minum plastik juga masuk ke
dalam kantung kursi, dan atau tergeletak di sekitar tempat duduk. Bantal untuk
kepala, bisa tergeletak di lantai.
Ada yang mengembalikan fasilitas hiburan ke
tempatnya dengan benar, ada penumpang yang membiarkan begitu saja. Belum lagi
yang membawa anak kecil. Makanan, bekas permen dan kacang, tersebar di lantai
sehingga bisa seperti keadaan yang Anda lihat di bak sampah. Tiba-tiba badan
pesawat yang modern dan canggih itu berubah menjadi bak sampah terbesar di
dunia. Saya sendiri juga tak tahu karena belum pernah bertanya kepada para
penumpang, bagaimana kok bisa sampai seberantakan itu.
Penumpang terbaik di dunia
Maka setiap kali saya melihat keadaan seperti kapal
pecah itu, saya melihat kembali kepada diri sendiri. Melihat bagaimana saya
menata hidup, menata rencana masa depan, menata rumah, menata sebuah hubungan
asmara, keluarga, sosial dan profesional.
Saya selalu kesetrum saat melihat kapal pecah itu.
Setrum itu mengantar saya berpikir, apakah karena seseorang sudah membayar,
maka ini adalah waktunya seseorang menerapkan konsep pembeli itu raja secara
utuh? Sungguh saya tak tahu. Dan saya tak sedang mempermasalahkan itu.
Saya lebih berpikir setelah melihat kondisi acakadut
itu, bagaimana saya bisa dipercaya oleh orang lain dalam mengelola kehidupan
profesional, sosial, familial dan asmara, kalau hanya dalam penerbangan saja,
yang sekian jam itu, saya bisa begitu joroknya dan begitu sembarangannya.
Bagaimana saya sebagai orangtua tak bisa mengelola
kenakalan anak saya sehingga ia bisa berlari-lari di sepanjang penerbangan dan
mengganggu sejuta umat lainnya, bagaimana saya bisa membuang kertas pembersih
di lantai toilet sementara tempat sampah telah tersedia.
Bagaimana saya bisa begitu egoisnya, membuang air
yang katanya seni itu tidak pada tempatnya sehingga tercecer di pinggir toilet,
di lantai, dan tak berminat membersihkan, padahal sayalah yang memiliki air
yang seni itu.
Bagaimana saya bisa mencuci tangan dan berludah,
kemudian dengan tenang membiarkan orang lain melihat wastafel dengan genangan
air kotor dan bekas sabun, padahal genangan kotor itu sejujurnya sangat mudah
sekali dibuang hanya dengan menarik tombol yang telah tersedia.
Setiap kali saya keluar dari badan pesawat setelah
melihat kondisi kapal pecah itu, saya melihat diri saya yang sesungguhnya.
Kelas sosial akan membuat saya dikelompokkan. Kelas yang ditawarkan maskapai
penerbangan akan memberi predikat kepada saya.
Saya mungkin senang dengan predikat dan
pengelompokan itu. Tetapi apalah artinya sebuah predikat dan status sosial
kalau perilaku saya saja seperti kapal pecah? Berarti kalau saya bisa begitu
jorok dan berantakan di ruang publik, apakah yang akan dibayangkan orang lain
yang terjadi di dalam rumah saya yang tertutup untuk umum?
La wong di tempat umum saja, saya bisa dengan tidak
malu menunjukkan betapa joroknya saya, bayangkan di dalam rumah sendiri.
Mungkin predikat terbaik di dunia tak hanya untuk
sebuah maskapai penerbangan semata, tetapi untuk penumpangnya. Dan predikat
terbaik untuk penumpang tak perlu dinilai badan penilai khusus atau berdasarkan
hasil angket, tetapi nuraninya sendiri. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar