Di hari Minggu yang lalu, saya iseng-iseng mencari
arti dari tiga huruf RIP. Requiescat in pace dijelaskan sebagai sebuah ekspresi
atau tulisan singkat di batu nisan yang menggambarkan harapan akan sebuah
kehidupan yang damai dan abadi untuk mereka yang meninggal.
Damai versi kamus
Saya tidak menyangka bahwa keisengan itu memancing
hati nurani menciptakan sebuah "nyanyian" sengau. "RIP itu
adalah ucapan dari orang lain untuk elo yang meninggal. Masalahnya sekarang,
elo meninggal itu udah ngejalanin hidup yang damai belom? Apakah selama elo
ngejalanin hidup, elo tu udah jadi agen perdamaian? Kalau meninggal dengan
damai dalam artian tidak menderita atau enggak sakit, itu bukan hal yang
dimaksud."
Selama ini, sih, saya merasa telah dan masih
menjalani kehidupan yang damai untuk diri sendiri dan orang lain.
"Wkwkwkwk.elo memberi damai ke orang lain? Ngaca kali, bro. Bukannya elo
dulu musuhnya banyak. Sampai bulan lalu aja, masih ada yang nanyain salah satu
karyawan elo, kok bisa-bisanya doi kerja ama elo? Damai apaan? Damai dari
mane?"
Saya agak menyesal mengapa saya iseng sekali mencari tahu soal tiga kata itu. Akan tetapi, karena nurani bawel itulah saya bisa menulis artikel ini. Damai atau dalam bahasa Inggris, peace, mengandung makna ketenangan, harmoni, diam, tenteram, keadaan tidak bermusuhan, aman, tidak ada perang, dan rukun.
Nah, penjelasan soal damai versi kamus itu saya
gunakan sebagai alat untuk menilai apakah nyanyian sengau yang dilantunkan
nurani bawel itu benar adanya. Saya mulai menilai diri saya sendiri. Saya ini
orang yang penuh iri hati. Iri hati itu sejujurnya memberi beban.
Saya merasakan itu bertahun lamanya, bahkan sampai
sekarang mau saya hilangkan susahnya setengah mati. Setiap kali berusaha agar
beban itu lepas, eh, makin lengket, terutama saat melihat ada manusia yang
tidak bekerja, tetapi berkatnya mengalir seperti air bah. Sementara saya kerja
pontang-panting dari dulu, yaaa... cuma segini-segini saja.
Kalau sudah begitu, saya menjadi kesal dan melakukan
aksi protes. Kalau dengan Yang Maha Kuasa melalui doa, kalau sama teman dekat
curhat dengan nada tinggi. Hal yang terakhir ini pernah diabadikan saat saya
lagi emosi. Saya sampai kaget melihat hasil bidikan itu.
Mata saya menyorotkan amarah, urat leher terlihat
tegang, air muka kencang, dan gerakan tangan yang menunjukkan kekesalan yang
sangat. Sebuah foto manusia tanpa kedamaian sama sekali. Saya ini kalau dilihat
dari luarnya saja lumayan seperti orang yang damai, tetapi bagian dalamnya, ya,
seperti foto tadi.
Damai versi saya
Bahkan, sampai sekarang ini, saya masih punya musuh.
Dan keputusan bermusuhan karena saya berpikir itu memberi rasa damai dan
menjauhkan saya dari sumber petaka. Nah, bisakah Anda membayangkan kalau saya
tiba-tiba meninggal dengan hati yang dipenuhi iri hati dan kekesalan yang
sangat, serta bermusuhan dan tidak memaafkan?
Bisakah dibayangkan kalau saya meninggalkan dunia
ini dalam keadaan yang salah mengartikan kata damai itu dan meyakinkan bahwa
kesalahan itu adalah sebuah kebenaran? Bisakah dibayangkan, saya dikubur,
tetapi melencengkan makna kata damai itu berdasarkan versi otak saya sehingga
harmonis itu buat saya adalah menciptakan musuh, mengartikan tidak ada perang
itu adalah dengan menciptakan perang. Bermusuhan di antara dua manusia itu
adalah perang dalam skala yang kecil.
Ironisnya, orang yang melayat atau menuliskan ucapan
turut berdukacita di sosial media menggunakan tiga huruf itu yang diartikan
bahwa mereka berharap saya akan memiliki hidup setelah kematian yang abadi dan
damai. Saya sendiri belum pernah meninggal. Jadi, sungguh saya tidak tahu
apakah makna damai versi saya dan versi yang selama ini kita ketahui
mendapatkan ganjaran yang berbeda atau sama.
Dan sudah barang tentu Anda setuju kalau saya
sendiri tidak mampu menciptakan damai versi kamus, sudah pastinya tak ada damai
versi macam itu yang bisa saya tularkan kepada orang lain, bukan? Yang ada
hanya damai berdasarkan versi saya. Ya, itu tadi, bermusuhan.
Bukti bahwa saya sudah mengerjakan pekerjaan rumah
sebagai penyebar rasa damai adalah dengan memaafkan. Maka, kalaupun saya
dimakamkan di pemakaman super mahal, itu hanya memberi gengsi kepada yang
menguburkan saya, tidak untuk saya. Apalah gunanya saya terbujur di sebuah
pemakaman super mahal dengan hati yang tidak damai dan keliru memaknai kata
damai itu?
Sayang tempat pemakamannya. Mahal-mahal, tetapi
menguburkan manusia yang seperti bom yang meluluhlantakkan. Dan lebih tak ada
gunanya lagi mengukir nisan saya dengan Rest in Peace, la wong sayanya
beristirahat dalam kekeliruan memahami perdamaian.
Saya sih belum pernah meninggal, tetapi kok saya
yakin ukiran tiga kata itu tak bisa merayu Tuhan membirukan angka merah di
rapor kehidupan saya. Waktu dan kesempatan untuk menjadi agen perdamaian sudah
diberikan. Selesai, tidak selesai, kumpulkan!
Tiba-tiba terdengar nyanyian lagi yang buat saya lebih dari sengau. "Oke okelah, elo kalau nulis mang paling bisa. Terus kapan mau memaafkan musuhmu itu." ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar