MENURUT KAMUS Besar Bahasa Indonesia, kedaluwarsa berarti tidak model lagi (baju, kendaraan); tidak sesuai dengan zaman; sudah lewat (habis) jangka waktunya (tuntutan dsb); habis tempo; terlewat dr batas waktu berlakunya sebagaimana yang ditetapkan (makanan).
Balas jasa
Pada Jumat pagi menjelang tengah hari, saya menengok
teman di sebuah rumah sakit yang suasananya saja makin membuat yang sakit
bertambah sakit. Dalam obrolan yang singkat itu, saya menanyakan kepadanya,
apakah orangtuanya tahu bahwa ia sedang dirawat di rumah sakit?
Ia menjelaskan, kalau ia tidak memberi tahu mereka
dengan alasan seperti ini. ”Kasihan, Mas. Aku enggak tega merepotkan mereka dan
membuat panik mereka.” Saya sempat terdiam sejenak dan teringat kepada beberapa
teman lain yang melakukan hal yang sama. Mereka menyembunyikan penderitaan
dengan sejuta alasan, hanya untuk tidak membuat orangtua yang dicintai makin
menderita.
Kejadian di atas melahirkan berjuta pertanyaan. Dan,
pertanyaan pertama yang timbul adalah apakah cinta kepada orangtua itu
bentuknya melindungi orangtua dari merasa terganggu dan kepanikan?
Apakah dengan cinta itu, teman-teman saya telah
menciptakan masa kedaluwarsa sebuah tanggung jawab orangtua terhadap anak
seperti makanan kaleng? Masa yang menurut saya tak pernah ada selama mereka hidup
dan disebut orangtua.
Apakah benar yang namanya orangtua itu, apalagi
memang sudah tua, dan anak juga sudah dianggap tua dan dewasa, tidak selayaknya
merepotkan dan membuat mereka panik? Apalagi kalau anaknya menjadi begitu kaya
dan rayanya. Bagaimana kalau anaknya tidak kaya dan tidak raya? Apakah orangtua
merasa menyesal karena masa kedaluwarsanya diperpanjang? Begitu?
Artinya mereka mengharap bahwa anaknya memiliki pengertian yang begitu dalamnya untuk tidak mengkhawatirkan mereka sebagai sebuah imbal jasa dari semua pengorbanan yang telah mereka lakukan berpuluh tahun lamanya? Apakah ketika orangtua memutuskan memiliki anak, itu dengan tujuan untuk sebuah balas jasa?
Apakah jawaban dan tindakan teman-teman saya itu
didasari oleh perasaan hormat, atau kasihan, atau pengertian mereka sendiri
untuk mengasihi orangtuanya, atau itu sebuah cermin dari hasil pendidikan
orangtua, yang membuat anak selalu merasa perlu bertanggung jawab atas kehidupan
orangtua di suatu hari kelak?
Tanggung jawab
Bagaimana kalau seandainya teman-teman saya tidak
berpikir demikian? Apakah itu akan mengundang kekecewaan yang sangat sebagai
orangtua? Bukankah kalau dua orang bersepakat menjadi orangtua, itu berarti
mereka bersepakat mengundang masalah dan kebahagiaan datang dalam hidup mereka?
Itu berarti, mereka telah menyadari sepenuhnya dari
sejak awal bahwa ada tanggung jawab tanpa masa kedaluwarsa dari apa yang mereka
sepakati itu, bukan? Bahwa ada kemungkinan yang mereka sepakati itu bisa jadi
tidak sesuai seperti yang mereka dambakan dan mengecewakan.
Apakah hal-hal semacam ini terbesit di benak mereka
sebelum anak hadir dalam kehidupan mereka? Kalau mereka menyadari, mengapa ada
anak sampai bisa memberi pernyataan seperti teman saya itu? Apakah itu hanya
anaknya yang sok bijak?
Bagaimana cara dan dasar apa yang dipakai orangtua
untuk mengeksekusi kesepakatan yang sejak awal tak pernah melibatkan anak?
Pengertian, egoisme, kasih sayang, atau campuran ketiganya atau ada unsur
lainnya yang tak saya ketahui?
Kalau saya kembali kepada kasus di atas, apakah
pernyataan teman-teman saya untuk tidak berkeinginan membuat orangtua panik dan
merepotkan adalah sebuah bukti kekuasaan yang dieksekusi dengan tiga unsur di
atas? Atau hanya salah satunya?
Apakah membungkam kepanikan dan kerepotan dari
orangtua akan menjadikan seorang anak itu saleh, bijaksana, dan menjauhkan
mereka dari predikat anak kurang ajar, tak tahu diri, dan menjadikannya sebagai
anak idaman orangtua, dan idaman orang lain seperti saya yang mendengar
pernyataan di atas? Apakah itu yang artinya menghormati orangtua?
Kalau teman saya tidak menceritakan kondisi
sesungguhnya karena itu akan mengkhawatirkan orangtua, apakah itu berarti bahwa
ada masanya kebohongan itu dianggap sebuah kebenaran? Jadi berbohong untuk
sebuah kebaikan tidak dianggap keliru, apalagi kalau bersangkut paut dengan
orangtua. Begitu?
Sambil melangkah keluar dari rumah yang sungguh
menyakitkan itu, saya berpikir keras, sungguh keras. Kalau teman-teman saya
memiliki pengertian yang begitu dalamnya terhadap orangtua, apakah itu sebuah
tindakan mengambil alih predikat orangtua?
Jadi predikat orangtua itu bisa digilir seperti
piala, tak perlu harus ayah dan ibu, tetapi anak pun suatu hari bisa menjadi
orangtuanya orangtua. Saya sungguh tak tahu karena tak pernah menjadi orangtua,
maka saya mengajukan sejuta tanya, tanpa berniat menghakimi.
Satu pertanyaan lagi yang tersisa. Apakah menjadi
orangtua itu memang seyogianya tidak untuk semua orang? Sehingga mereka yang
terpaksa, mampu melahirkan dan mendidik anak seperti teman saya itu? ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar