Saya membaca tulisan duka lara seorang istri yang
ditinggal suaminya meninggal secara tiba-tiba di sebuah media sosial. Curahan
dan luapan emosinya yang tak terbendung itu memampukan air mata saya berlinang.
Daging dan ruh
Ada dua hal yang menarik dari membaca tulisan lara
itu. Tulisan sang istri dan mereka yang mengirimkan ucapan belasungkawa. Ada
berbagai bentuk ekspresi rasa dukacita. Ada yang supersingkat, jelas, tepat
dengan hanya menulis RIP tanpa embel-embel apa pun sampai yang panjang dan
menyayat hati.
Membaca ucapan dukacita superpendek berupa tiga
huruf, saya sungguh tak tahu alasannya. Apakah yang bersangkutan tak berdaya
mendengar berita dukacita yang tiba-tiba datangnya sehingga tak mampu ”berpikir
panjang” atau mereka mengenal almarhum sebatas teman biasa. Kalau kemudian Anda
bertanya, apakah dengan menulis ucapan dukacita sesingkat itu mereka sejujurnya
merasa kehilangan atau tidak, saya juga tidak tahu.
Sementara itu, ketika saya membaca ucapan dukacita
yang panjang dan menyayat hati, saya membayangkan mbak penjual nasi rames yang
meracik segala jenis lauk-pauk dalam satu piring. Mereka menuliskan kenangan
bersama almarhum, kebaikan-kebaikan almarhum selama hidupnya, dipadukan dengan
ayat-ayat penghibur. Beberapa di antaranya berbagi cerita tentang masalah
kehilangan yang sama, yang telah mereka alami sebelumnya.
Dari hasil membaca ungkapan dukacita itu, keduanya memberikan ”obat penguat” dengan tujuan agar istri almarhum mendapatkan kekuatan dan tidak jatuh terpuruk dalam kesedihan yang mendalam dan berlarut-larut.
Namun, pada waktu yang bersamaan, saya bertanya.
Dari dua jenis cara mengekspresikan rasa belasungkawa itu, yang mana yang
paling mendekati bijak bagi si penerima? Yang singkat, jelas, dan tepat atau
yang panjang dengan segala cerita di dalamnya?
Dari apa yang saya baca, tulisan sang istri adalah
yang paling menarik. Sebuah tulisan lara yang mencerminkan pergumulan antara
dirinya sebagai manusia daging dan sebagai manusia ruh. Ia mengeluh, kemudian
meyakinkan dirinya bahwa Tuhan akan memberi kekuatan. Kemudian mengeluh lagi,
dan meyakinkan dirinya lagi. Demikian seterusnya.
Tepat waktu, tepat takaran
Setelah membaca tulisan pergumulan daging dan ruh
ini, saya berpikir, mungkin suatu hari ketika saya berkeinginan menunjukkan
rasa dukacita dalam bentuk tulisan, apalagi ditulis di media sosial, dasar
tulisan yang harus saya gunakan adalah pergumulan daging dan ruh dari seseorang
yang kehilangan. Bukan sebuah ungkapan belasungkawa yang mirip sebuah khotbah
seorang pendeta atau nasihat dokter kepada pasien yang sedang sekarat.
Beberapa tahun lalu, ayah dan ibu saya meninggal.
Dalam situasi seperti itu, kalimat penghibur tak memberi efek apa pun.
Penghiburan tidak, kekuatan pun tidak. Apalagi kalau disampaikan pada hari
kejadian, ketika kepala terasa kosong melompong, ketika badan terasa lemas setengah
mati dan luluh lantak.
Perasaan sedih, kecewa, marah, tidak bisa menerima
keadaan, semua bercampur aduk menjadi satu. Dan di saat itu, saya hanya ingin
dibiarkan menjadi manusia daging yang lemah lunglai, yang memaki-maki, yang
berteriak, yang tak perlu sampai harus bersandiwara memainkan peran sebagai manusia
daging dan manusia ruh.
Saya ingin dibiarkan berpikir bahwa hidup adil itu
adalah kebohongan terbesar yang pernah disuarakan oleh manusia. Saya ingin
dibiarkan menjadi manusia yang memercayai Tuhan itu pemberi kekuatan, tetapi
saya tetap tidak merasakan kekuatan saat itu.
Kondisi semacam itu bisa berlarut atau cepat
berlalu, bergantung pada tiga hal. Pertama, waktu kejadiannya. Kedua, penyebab
kejadian. Dan terakhir, yang paling menentukan adalah kekuatan orang yang
menerima kejadian itu. Saya menangis terisak, adik saya menangis pun tidak. Dan
itu yang malah membuat ayah menjadi kedernya setengah mati.
Kalau kembali kepada pertanyaan saya di atas, ucapan
belasungkawa manakah yang paling bijak? Kalau saya boleh menjawab pertanyaan
sendiri, jawabannya, kebijakan terbesar adalah membiarkan saya menjadi manusia
daging yang sesungguhnya. Biarkan saya lara dan luluh lantak.
Manusia daging tak akan bisa menerima obat penguat
yang diberikan melalui ucapan penghibur dan nasihat yang menguatkan di saat
mulutnya saja tak bisa membuka. Manusia daging harus mencapai keadaan yang
benar tak berdaya sebelum ia bisa menerima apa yang diberikan ruh melalui kalimat-kalimat
dan nasihat penghiburan.
Karena sejujurnya, lara yang paling meluluhlantakkan
adalah ketika semua acara dukacita itu berakhir dan saya harus memulai hidup
tanpa mereka yang tercinta itu. Maka, mungkin dibutuhkan kepekaan yang sangat
ketika seseorang hendak memberikan obat penguat. Kepekaan itu diperlukan untuk
memberikan obat penguat yang tepat waktu dan tepat takaran. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar