Selasa, 30 Desember 2014

Hidup Cuma Satu Kali


Oleh : Samuel Mulia
  
Teman saya, seorang wanita, bercerita kalau ia ditawari untuk melakukan perselingkuhan dengan seorang pria beristri. Teman saya menampik tawaran yang menurutnya sangat tidak senonoh itu. nda mau mendengar reaksi pria itu setelah tawarannya ditolak? “Hidup Cuma sekali aja kenapa mesti dibuat susah sih ? Dinikmatin aja .”

Susah itu nanti
Saya tergelak dengan komentar pria itu. Karena dahulu kala, ketika saya masih sehat walafiat, ketika hidup semuanya nyaris bisa dikatakan tak ada masalah, saya mengucapkan hal yang serupa. Kalau situasi itu begitu nyamannya, semua dalam keadaan terkendali, mulut ini mudah sekali mendendangkan suaranya, tanpa berpikir kalau semua perbuatan itu ada risikonya. Susah itu tak akan bisa dirasakan ketika semuanya berjalan lancar. Terlintas di kepala saja tidak. Susah itu nanti, belakangan datangnya, ketika yang dianggap tak susah ternyata terjadi. Menurut saya, seorang koruptor itu tak akan pernah merasa susah dan tak akan berpikir risiko yang akan ditanggungnya saat ia melakukan tindakan itu, saat semua bisa terkendali. Saya percaya bahwa mulut mereka pun bisa jadi menyetujui jawaban laki-laki yang saya ceritakan di atas. Padahal, menurut pengalaman saya, bahaya terbesar yang pernah terjadi dalam kehidupan manusia, maaf...dalam kehidupan saya maksudnya, adalah ketika situasi superaman dan superterkendali terjadi. Situasi semacam itu tidak menimbulkan keinginan untuk bersikap hati-hati. 

Di situasi yang aman dan terkendali itulah saya acapkali berpertan sebagai dewa. Saya merasa bisa mengendalikan masa depan. Saya merasa bahwa situasi tidak susah itu akan selamanya tidak susah. Dalam situasi yang tidak susah itu, saya lupa berpikir bahwa dalam hidup ini enantiasa akan ada harga yang harus dibayar untuk semua perbuatan. Saya lupa bahwa hidup itu seperti roda yang berputar. Dan kalaupun saya tidak lupa akan ungkapan itu, saya sangat yakin harganya bisa saya “bayar” tanpa harus menjadi bangkrut. Saya bisa berpikir hidup bisa saja seperti roda, tetapi masalahnya, hidupnya siapa dulu? Hidup saya enggak bakal jatuh. Perhitungannya sudah jeli dan tepat. Situasi tak susah itu sungguh tidak melenakan, tetapi membuat pongah. Kepongahan itu adalah sebuah tempat paling subur untuk lahirnya sebuah jamur bernama kejahatan.

Roda
Apakah bentuk kejahatan itu? Anda pikir saya menjadi pembunuh dan memotong jari manusia? Tidak sama sekali. Kejahatan itu adalah dalam bentuk sebuah ketidakpedulian akan situasi rumah tangga orang lain. 
Kejahatan saya adalah saya bersikap egois dan tidak peduli. Selama saya bahagia, apa peduli saya terhadap orang lain? Apalagi, seorang teman yang memang punya jam terbang tinggi soal berselingkuh malah memberikan saya tip dan trik agar tidak gagal dan tidak ketahuan.Ia malah mengatakan, justru dalam situasi semacam ini saya bisa memiliki kesempatan untuk membuat seseorang pindah ke lain hati. Dalam situasi itulah saya tak lagi bisa melihat apa itu benar, apa itu baik, dan apa itu keliru.                                                                                                                                                                Maka saya sarankan, bergaul itu juga mesti berhati-hati. Memilih teman itu harus jeli. Anda harus peka membedakan teman yang selalu mengantar Anda ke sebuah situasi tidak susah sehingga Anda tidak menyadari kalau mereka sedang menggiring Anda ke tepi jurang, dengan mereka yang senantiasa menjaga Anda agar tidak sampai terdorong masuk ke jurang. Kalau Anda mencoba menasihati saya di masa saya tidak susah, saya yakinkan Anda tak akan berhasil. Kalaupun Anda melihat seolah saya menyimak, saya sama sekali tidak menyimak. Itu hanya sebuah aksi agar Anda tak tersinggung. Setelah Anda meninggalkan saya, saya kembali menikmati hidup yang cuma sekali itu saja.                                                         

Dan kalau Anda menegur saya dan menanyakan alasannya, akan ada sejuta jawaban yang akan saya sodorkan ke hadapan Anda. Sebuah alasan yang masuk akal di kepala saya dan tak masuk akan di benak Anda. Apakah saya peduli kalau itu tak masuk akal di benak Anda? Tentu tidak. Itu mengapa saya bisa dengan ringan berkomentar seperti pria beristri yang ditampik teman saya di atas itu. “Hidup cuma sekali aja kenapa mesti dibuat susah sih ? Dinikmatin aja .” Saat dalam situasi tidak susah, tiba- tiba datanglah kesusahan yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya. Saya kaget ternyata kok saya tak bisa memprediksi datangnya kesusahan. 

Maka berhati-hatilah dalam hidup yang cuma sekali ini saja. Sebisa mungkin nikmati hidup ini dengan tidak membuat orang lain tersakiti. Sering-seringlah mengingatkan diri Anda supaya tidak pongah kalau hidup itu memang seperti roda dan Anda itu bukan dewa. Sekarang ini saya sedang berusaha menikmati hidup yang sekali saja itu tidak dalam keadaan pongah agar saya bisa menikmati kematian yang juga sekali itu saja dengan hati yang bahagia.

Duta Besar


                         oleh : Samuel Mulia
  
Ketika sedang memerhatikan kartu tanda penduduk yang sebentar lagi habis masa berlakunya, nurani saya menghadapkan sebuah pertanyaan. Sebenarnya, KTP saya yang sesungguhnya itu yang mana? Apakah benar seperti benda yang sedang saya perhatikan ini, dengan masa kaluwarsa yang sudah ditentukan? Saya membalas dalam hati, kalau soal KTP, yaaa…. mau yang mana lagi. Paling juga ada yang namanya paspor. Nurani itu bersuara lagi. “Coba dipikir lagi. Pelan saja, tak usah terburu-buru.” Maka saya berpikir makin keras dan tak menemukan jawaban. 

KTP 1
Kemudian suara itu menghilang. Saya ditinggal sendiri dalam kegalauan dan bertanya apakah memang selain KTP, saya masih punya “KTP” lain? Beberapa minggu setelah pertanyaan yang tak bisa saya jawab itu, teman saya mem-BBM saya. “Sabtu malam elo katanya joget-joget di atas meja, ya? Ada yang foto tuh … dah kumat lagi?” pesan itu berlanjut. “Sadar, Mas. Sadar. Katanya kamu sekarang sudah tobat. Tunjukkan, Mas, KTP barumu itu.” Membaca pesan itu, saya marah. Dalam hati saya protes, tobat kan tidak sama dengan bebas 100 persen dari kekurangan. Kalaupun saya tobat, kan, saya enggak jadi malaikat. Saya benar-benar sakit hati setelah membacanya. Saya tak terima bahwa tobat itu disamakan dengan suci. Saya tak pernah suci, bahkan ketika bertobat sekalipun. Hari itu saya benar panas hati. Saya tak suka dihakimi. 

KTP 2
Beberapa hari setelah hati panas dan kepala sudah dingin, saya mulai mengerti dengan pertanyaan nurani saya di atas. Biasa, kalau sudah panas sampai puncak, langsung mendingin dan malu denagn sendirinya. Nah, saat suhu mulai turun, saya menyadari selain punya KTP yang harus diperbaharui itu, saya masih punya KTP yang kedua, yaitu tabiat saya. Perilaku keseharian, cara saya mengambil keputusan, cara saya mengisi SPT, apa yang hendak saya isi dalam SPT itu, berapa besar angka yang akan saya tulis. Termasuk bagaimana saya berpakaian, semuanya menunjukkan siapa saya. 

Kalau saya ini memercayai Yang Maha, mengapa saya punya perilaku yang tak Maha? Artinyamenjadi mudah tersinggung, naik pitam, mudah tak percaya diri, dan mudah tak mengontrol diri. Kalau saya ini tak bisa suci, itu berarti mengurangi ketidakbenaran bukan mengaminkan bahwa saya bisa melakukan ketidakbenaran kapan saja, di mana saja, dengan siapa saja. Tidak suci juga tak berarti karena saya manusia yang punya kelemahan untuk menjadi suci, terus saja membiarkan diri lemah, tak mencoba melatih untuk kuat sekali-sekali. Karena yang sekali-sekali kalau terus dikali sekali-sekali menjadi berkali-kali, dan lama kemudian menjadi kebiasaan. Sama seperti sekali-sekali menipu, lama-lama berkali-kali dan menjadi kebiasaan. Dan di stadium terminal, berakhir menjadi bebal, bahkan bisa balik bertanya. “Emang gue nipu?” Dengan suhu yang semakin turun, terlintas pikiran seperti ini. Kalau Presiden RI menunjuk saya sebagai Duta Besar Perancis, misalnya, apakah artinya itu? Artinya saya harus mampu menceritakan negeri ini di negeri anggur itu. tentu citra yang baik. Bagaimana saya berkomunikasi, misalnya. Ini contohnya. Teman saya seorang PR mengajarkan saya begini. “Kamu itu bukan korban dari gagal ginjal, kamu itu survivor.” Mau mengatakan contoh di atas adalah ucapan munafik atau bersifat manipulatif, atau sebuah tips cara yang benar dalam sebuah komunikasi, itu urusan Anda dan saya. Nah, kalau sebagai duta saja saya tidak mencitrakan negeri ini, apalah gunanya saya dijadikan duta? Apalagi duta yang besar.

Selama ini cara berpikir saya keliru. Kalau saya ada di dunia ini, lahir dari seorang manusia dunia, saya berpikir saya adalah warga dunia. Saya keliru besar. Bahwa saya lahir itu adalah anugerah Ilahi, bukan hanya sekadar pertemuan sel telur dan sperma orangtua. Jadi, eksistensi saya adalah anugerah Ilahi. Maka, keberadaaan saya ini bukan untuk saya, tetapi untuk yang memberi anugerah itu. Artinya, saya ini “duta besar” Sang Pencipta di dunia. Nah, kalau saya jadi duta besar negeri ini berusaha keras mencitrakan yang baik, kok saya bisa tenang-tenang mencitrakan yang buruk sebagai “duta besar” Sang Pencipta? Nurani saya nyamber pada saat-saat yang tepat seperti itu. “Saya mngerti bahwa sampeyan itu memang otak sama nuraninya kalau loading leletnya setengah mati. Lamaaaa… untuk bisa mengerti.”

Belajar Berbicara


                                                                            Oleh : Samuel mulia
                                   

Bersama seorang teman, saya menikmati sore hari dengan duduk-duduk sambil mengobrol di kedai kopi. Di mal tentunya. Salah satu obrolan itu begini. Teman saya kesal karena salah satu temannya kalau berbicara selalu terkesan show off . “Masak doi ngomong gini. Mobil BM gue lagi dipinjem saudara ke Bandung,” jelasnya. “ Emang penting nyebutin merek mobil? Enggak bisa ya kalau bilang gini aja… mobil saya sedang dipinjam saudara ke Bandung. Mang gue peduli obil doi apa?” “ Gue tahu sih doi mang kaya raya.”

Pohon dan buahnya
Dalam hati saya terpingkal-pingkal. Mereka yang kaya cukup pantas berbicara seperti itu, laaa… saya ini kaya saja tidak, kalau bicara, yaaa… kayak gitu itu. Baru saja saya terpingkal, teman saya nyerocos lagi. “Mbok enggak usah show off . Kalau nanti ditanya saja baru menjelaskan. Kalau enggak ditanya, biasa aja napa ? Emang susah ya kalau ngomong keluar kota aja, enggak usah ke luar negeri? Maksud gue, kalaupun elo ke luar negeri, emang beda rasanya kalau hanya mengucap keluar kota? Nurani saya langsung menyambar seperti biasa. “Ya iyalaaaahhhhh…” Tetapi begitulah kenyataan yang ada. Meski saya pikir tak semua orang kalau bicara punya niat show off . Pemikiran itu tak saya lontarkan kepada teman saya itu. Belum selesai menjelaskan, suaranya menyambar. “ Gini ya, cong… kalau elo tu orangnya rendah hati, kalau niat elo dari lubuk hati yang terdalam emang enggak mau show off, yang keluar yaaa… enggak bakalan sesuatu ang show off. Ngerti?” Saya diam seperti seorang anak kecil yang sedang dimarahi ibunya. “Liat elo aja . Waktu elo difoto salah satu majalah interior, elo bilang elo pakai kemeja dan kemben di atasnya. Menurut elo , niat elo apa? Pakai baju kayak gitu kalau enggak mau cari sensasi,” katanya lagi. Setelah redam emosinya, saya menjelaskan kalau saya itu tak mencari sensasi. Dia meragukan penjelasan itu. “Ra percoyo aku,” begitu jawabnya singkat. “Tidak ada pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak ada orang yang katanya punya niat tidak show off, menghasilkan kalimat-kalimat dan perilaku yang show off , “ lanjutnya lagi. Ia tak percaya, kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri, apakah saya percaya pada apa yang diucapkan tadi. Bahwa saya tak mencari sensasi? Kalau mau jujur, ada sekian persen memang mau cari sensasi saat saya memadukan kemeja pria dengan kemben. Saya bisa menggunakan alasan, saya manusia kreatif, mau berpikir out of the box. Tetapi nurani sendiri tentu tak bisa saya kibuli.

Mulut dan isinya
Kadang ucapan yang sepertinya show off itu katanya bisa jadi menembuhkan kepercayaan orang lain atas diri kita. Seperti kalau punya satu toko, beda kesan atau respon yang diberikan kalau punya sekian toko. Secara finansial, mengurusi satu toko sangat tidak efektif dibandingkanpunya sekian toko. Ya, meski toko-tokonya itu masih dalam berutang dengan bank. Itu bukan yang hendak saya bicarakan. Mulut saya sudah lama dikenal dan dianggap jahat, bahkan sampai sekarang ini. Menusuk seperti belati. Kalimat- kalimat yang menghambur keluar dari mulut sayaitu seringkali tak senonoh. Tak dipikirkan terlebih dahulu. Sangat benar, saya ini sering kali nyerocos dulu baru kemudian berpikir akibatnya. Saya juga manusia yang kalau sudah berbicara susah berhenti, dan yang paling buruk dari semua itu, saya tidak memberi kesempatan orang memberi respons atau menjelaskan maksud dan isi kepalanya. Singkat cerita, saya ini tidak terlalu peduli dengan apa yang dibicarakan orang lain, yang penting tujuan saya tercapai.

Saya menggunakan kalimat atau kata yang tepat, juga tak banyak saya pikirkan. Satu hal lagi yang harus saya latih dalam urusan belajar berbicara adalah bijak memilih waktu yang tepat untuk menyampaikan pesan. Bijak melihat situasi dan memedulikan kondisi orang lain. Saya tak bisa langsung nyerocos kapan saya berkehendak. Dulu saya pikir, orang itu memang kadang sepantasnya dicerocosi tak perlu melihat situasi. Saya salah besar. Menyerocosi itu bukan bertujuan memuaskan kekesalan dan merasa lega sendiri, tetapi membuat orang naik kelas, artinya ia tahu kesalahan dan diperbaiki. Sehingga kelegaan bisa dinikmati oleh dua belah pihak. Maka, katanya tak perlu membuang energi untuk berteriak dan meninggikan suara. Itu melelahkan. Katanya loh. Dan tentu di atas segala-galanya, isi yang maha penting. Saat mulut mulai “bernyanyi” itu tak hanya mencerminkan isi, tetapi mencerminkan siapa saya yang sesungguhnya. Yaaa.. latar belakang, tingkat kedewasaan, tingkat pendidikan, dan gaya hidup.


Maka akan menjadi aneh bin ajaib kalau nama saya ada mulianya, sementara cara saya berbicara dan isi yang disampaikan jauh dari makna mulia.

Mencoba


                                                                 Oleh : Samuel Mulia

Saya sedang duduk di tepi pantai di atas kursipanjang. Deburan air laut terdengar diselingi suara burung. Langit pulau dewata, seperti biasa, biru bersih dan indah. Angin sepoi-sepoi menciumi kulit dan makin membuat rasa malas itu menjadi-jadi.

Entah mengapa, di tengah suasana itu, saya teringat akan pesan dari seorang asisten desainer yang sangat rajin menyirami saya dengan pesan-pesan mulia yang menyemangati dan menggampar pada waktu yang bersamaan.Begini pesan mulia itu. ”I can accept failure butI can not accept not trying”.

Gagal
Kalimat itu menerbangkan saya pada masa lalu yang menjengkelkan karena trauma masa kecil oleh kepala sekolah yang membuat saya merasa ia harus bertanggung jawab terhadap ketidakmampuan saya memiliki kepercayaan diri sekarang ini untuk berani mencoba; karena tak bisa atau tak mau melihat dan menghargai kalau saya ini sudah mencoba dan gagal menjadi murid pandai.

Ada teman saya yang mengomentari saat saya berkeluh kesah soal yang satu ini. ”Kan, kamu sudah dewasa sekarang. Elo dong yang juga bersikap dewasa.” Benarkah demikian? Benarkah saya yang sekarang ini bisa tidak keder hanya karena saya dewasa dan bisa berpikir untuk tidak keder tanpa mengingat bahwa fondasi saya yang sesungguhnya begitu kedernya? Kalau saya tak bisa matematika dan sudah encoba dan ternyata hasilnya cuma ya.., gitu deh, mengapa saya dikelompokkan menjadi murid tidak pandai? Tak hanya guru di sekolah. Ayah saya saja pernah menggertak dan naik pitam karena saya tak bisa menjawab pertanyaan ilmu pengetahuan alam yang disodorkan kepada saya. Saya sudah berusaha, tetapi tak bisa.

Kemampuan saya tak pada yang eksak, tetapi pada yang tidak eksak, yang umumnya sangat tidak dihargai sebagai juara kelas. Namun, sepertinya ia tak mau tahu. Maka, ia berteriak dan saya makin tak bisa menjawab. Kemudian saya berpikir, apakah quote-quote indah yang mengajarkan berpikir positif itu benar adanya? I can accept failure, misalnya. Saya, sih, bisa-bisa saja menerima kegagalan. Itu sudah pasti. Lha, wong hidup saya sendiri, kok. Akan tetapi, masalahnya, apakah guru, kepala sekolah, dan ayah saya mau menerima kalau saya gagal?

Tetap gagal
Menurut pengalaman saya, sih, mereka tidak mau dan tidak bisa menerima. Buktinya? Pengelompokan terhadap murid pandai dan tidak, saya di-kumon-kan (meminjam istilah sekarang) supaya saya bisa sama pandainya dengan anak tetangga dan, kalau sudah semua dilakukan dan saya tetap gagal, mereka kemudian berteriak begini. ”Gitu aja ndak bisa.” Saya jadi teringat akan obrolan dengan seorang teman beberapa hari sebelum peluncuran film perdana pada akhir bulan lalu, di mana saya berperan sebagai bintang utama sebuah film semidokumenter. Begini ia mengirim pesannya. ”Bagaimana, uda siap dihina tanggal 31? Ha-ha sudah siaplah. Orang dari lahir juga selalu dihina-hinakan ha-ha-ha-ha.” Kemudian pesannya dilanjutkan begini. ”Aku sih berdoa sukseslah. You have to start from nothing to become something.”

Saya hanya berpikir, kalau seandainya guru dan ayah saya bisa berpikir seperti teman saya, mungkin saya menjadi orang yang paling berbahagia. Berbahagia karena dihargai karena mencoba dari nol dari nothing, bukan dinilai karena bermain buruk. Dinilai karena saya berani mencoba, bukan takut kalau hasilnya tidak menyenangkan banyak orang dan kemudian merasa tertekan pada akhirnya. I can not accept not trying. Kalau dari kacamata saya sebagai yang tertindas, saya setuju bahwa semua orang harusnya mau melihat bahwa saya udah mencoba. Namun, apakah guru dan kepala sekolah serta ayah saya bisa setuju dengan kalimat itu? Persis seperti quote lain macam begini. The most important thing is not the destination but the journey. Benarkah guru, ayah saya, dan orang lain mau menghargai the journey, dan the trying-nya itu, dan bukan hanya semata-mata destinasinya alias hasil akhirnya? Itu mengapa saya harus berpikir untuk tidak keder meski sejujurnya saya selalu keder. Maka, saya mengerti mengapa kalau dalam seminar saya takut bertanya, takut mengungkapkan ide saya, takut di suruh duduk di depan. Karena saya sudah terbiasa untuk tidak dihargai karena trying-nya.

Saya takut dianggap goblok memberi ide yang mungkin tak pernah terlintas dan tak biasa dilakukan, apalagi berhadapan dengan manusia yang tak pernah mau menerima kegagalan karena hidupnya tak pernah gagal, dan tak bisa menerima bahwa manusia itu bisa saja punya rambut sama hitam, tetapinya IQ-nya macam-macam. Dari yang jongkok sampai yang bias kayang.

Itu yang membuat saya mulai berpikir, mengapa quote-quote itu acapkali dalam bentuk sebuah kalimat yang indah didengar, indah untuk dimengerti, dan menyemangati pada waktu bersamaan. Mungkin karena yang membuatnya pernah mengalami perlakuan yang ”tidak senonoh”. Dan, sayangnya, yang menghargai kalimat macam itu adalah manusia macam saya; bukan mereka yang pernah mengalami, tetapi tak mau menghargai the journey dan the trying itu.

Senin, 29 Desember 2014

Anjing


                                                                         Oleh  Samuel Mulia

Soal anjing pernah saya tulis. Sekarang "kesetrum" lagi. Jadi, saya menulis dengan judul sama sekali lagi. Seri kedua. Katakanlah begitu. Kesetrumnya gara-gara dua hal. Pertama, waktu menyimak tayangan Mbak Oprah soal anjing yang membuat beberapa manusia terpidana di dalam penjara memiliki kualitas hidup lebih baik. Terutama mengatasi kesepian dan tekanan batin. Kedua, saya teringat sebuah kejadian tepat tanggal 31 Desember tahun lalu. Saya sedang berada di dalam taksi dan berhenti di lampu merah. Ketika saya menoleh ke kiri, pada mobil yang berdampingan dengan taksi, saya terpana dengan tulisan di pintu mobil Jeep itu. K9 Protection yang masih dibubuhi lambing bergambar kepala anjing dan bodycopy-nya yang mengelilingi gambar itu berbunyi: loyal, tough, dependable.

Lebih rendah
"Anjing," demikian saya mengucap, nyaris tak ada suaranya diikuti helaan napas yang panjang dan kemudian timbullah beberapa pertanyaan, Sederhana, tetapi menikam. Mencoba menghilangkan, tetapi susahnya setengah mati. Begini pertanyaan itu. Mengapa anjing yang binatang malah dipakai sebagai "teman", bukan saya yang manusia? Kok bisa manusia digantikan binatang? Perlukah saya malu kalau ternyata anjing itu lebih berkualitas ketimbang saya, kualitas seperti yang ditunjukkan kata-kata di pintu mobil Jeep itu? "Ya iyaaalaaahhh…. So, pasti, anjing lebih baik dari kamu," nurani saya mengambil kesempatan emas menghabisi saya yang sudah kesetrum. Kemudian nurani yang berteriak pagi hari itu langsung membuka borok sehingga ngeh ternyata saya memang lebih rendah dari anjing. Maka, tak salah kalau anjinglah yang menuntun, sementara saya ini cuma bisanya menuntut. Menuntun juga bisa, sih. Menuntun ke jurang, maksudnya. "Pertama, mulut lo itu banyak omongnya." Demikian menurut nurani saya. Anjing punya mulut untuk menggonggong. Saya kalau sudah menggonggong tak bisa berhenti dan merasa gonggongan saya paling benar. Sebagai manusia saya lupa dan sering lupa atau pura-pura lupa manusia itu kadang hanya mau didengar, tak mau diberi petuah, meski nyata-nyata tindakannya salah.

"Kamu itu," kata nurani saya. "Makin orang salah, makin merasa itu kesempatan emas untuk menggonggong. Apalagi kalau satu tangan membawa kitab suci, tangan lain nunjuk-nunjuk. Kamu itu belajar jadi pendengar yang baik, bukan pengkhotbah yang menghakimi," lanjut dia lagi. Saya membalas sambil berbisik. "Namanya juga pengkhotbah, bukankah tujuan akhirnya menghakimi meski caranya sehalus sutra?" Nurani saya langsung membentak, "Syaaatttt…appp."

Tetap masih rendah
Nah, anjing tak bisa berbahasa manusia, tetapi sangat mampu berbicara dengan manusia. Ketika berbicara, anjing tak bisa membawa kitab apa pun dan tak bisa menggerakkan telunjuknya untuk menuding. Dia hanya bisa menatap dengan nurani. Biasanya ditandai dengan air mata sedih, kepala tertunduk, yang menyiratkan ia mengerti pemiliknya sedang bersedih hati. Atau ia akan mengibaskan ekornya tanda bersenang hati. Kibasannya tak bisa diatur, tetapi otomatis, karena sukacita dari dalam. Loyalitasnya tak bisa dibuat-buat, itu sudah dari sononya. Tidak seperti saya yang selalu jeli dan penuh siasat mengatur kapan perlu mengibas dan kapan perlu loyal. Tak seperti anjing yang senang setiap kali pemiliknya pulang ke rumah setelah seharian ditinggal, saya tak selalu bisa senang saat pasangan saya pulang, dan kadang berharap ia tak pulang-pulang. Itu mengapa saya mengibas di tempat lain, yang lebih membahagiakan. Itu karena sifat loyal saya lebih rendah dari anjing. "Hi-hi-hi… mungkin jij juga enggak punya loyalitas." Suara dari dalam itu susah sekali dibungkam.

Kedua, kata nurani saya, mulut saya seperti air sungai yang mengalir alias tukang gosip. Anjing menyalak, menggonggong, tetapi tak bisa menggosip. Saya membalas sambil berbisik lagi, "Siapa bilang? Kita aja yang enggak tahu. Kalau anjing menggonggong, artinya doi lagi ngomongin manusia. Eh… tuan gue ternyata cong, bo...." Nurani saya tak bisa terima, "Bisa diem enggak?"

Ketiga, yang namanya anjing itu tak pilih bulu. Ia menuntun orang buta dan orang melek, dipelihara manusia bawel atau yang rendah hati, rendah diri atau bahkan yang tak punya harga diri. Miskin atau kaya, jelek atau cantik, retardasi mental atau kelewat pandai, no problemo. Kalau saya ini milih-milih bulu. Yang kaya saya tolong, yang miskin nanti dulu. Saya malas dan tidak sabar menuntun orang buta. Saya tak setangguh anjing. Enggak sabaran, mudah menyerah, mudah rapuh, makanya tak bisa menjadi tempat bergantung.

Kalau saya mengendus dan menemukan sesuatu yang tidak benar dan kebetulan yang saya endus manusia VVIP, saya bisa memanipulasi endusan saya karena tangan saya sudah keburu ditempeli sesuatu dan di garasi mobil sudah ada kendaraan oda empat baru. Saya tidak tough. Anjing tak mungkin pilih bulu dan sangat tangguh. Mau dikasih mobil la wong enggak bisa nyetir. Mau dikasih duit enggak bisa buka tabungan dan beli reksa dana. Dikasih makan dan tulang saja, masih bisa mengendus kemudian menyalak kalau ada yang tidak beres. Makanya bernama anjing pelacak. Saya tak membayangkan ada anjing pelacak kena sogokan terus berhenti melacak. Itu mengapa anjing dilatih manusia untuk menuntun, bukan manusianya yang dilatih menuntun. Makanya dengan saya manusia lain itu tak bisa memiliki kualitas hidup lebih baik. Pagi itu saya disetrum, ternyata saya lebih rendah dari anjing.

Kalau sekarang ada yang mengatai saya anjing, saya tak perlu marah. Mungkin saya harus memandangnya dari sudut positif. Kalau saya dianjingkan, itu artinya saya dianggap loyal, tough, dependable. "Samuel Mulia… sit… c'mon… sit… yes… good dog…."