Oleh : Samuel Mulia
Teman saya, seorang wanita,
bercerita kalau ia ditawari untuk melakukan perselingkuhan dengan seorang pria beristri.
Teman saya menampik tawaran yang menurutnya sangat tidak senonoh itu. nda mau
mendengar reaksi pria itu setelah tawarannya ditolak? “Hidup Cuma sekali aja
kenapa mesti dibuat susah sih ? Dinikmatin aja .”
Susah itu nanti
Saya tergelak dengan komentar
pria itu. Karena dahulu kala, ketika saya masih sehat walafiat, ketika hidup
semuanya nyaris bisa dikatakan tak ada masalah, saya mengucapkan hal yang
serupa. Kalau situasi itu begitu nyamannya, semua dalam keadaan terkendali,
mulut ini mudah sekali mendendangkan suaranya, tanpa berpikir kalau semua
perbuatan itu ada risikonya. Susah itu tak akan bisa dirasakan ketika semuanya
berjalan lancar. Terlintas di kepala saja tidak. Susah itu nanti, belakangan
datangnya, ketika yang dianggap tak susah ternyata terjadi. Menurut saya,
seorang koruptor itu tak akan pernah merasa susah dan tak akan berpikir risiko
yang akan ditanggungnya saat ia melakukan tindakan itu, saat semua bisa
terkendali. Saya percaya bahwa mulut mereka pun bisa jadi menyetujui jawaban laki-laki
yang saya ceritakan di atas. Padahal, menurut pengalaman saya, bahaya terbesar
yang pernah terjadi dalam kehidupan manusia, maaf...dalam kehidupan saya
maksudnya, adalah ketika situasi superaman dan superterkendali terjadi. Situasi
semacam itu tidak menimbulkan keinginan untuk bersikap hati-hati.
Di
situasi yang aman dan terkendali itulah saya acapkali berpertan sebagai dewa.
Saya merasa bisa mengendalikan masa depan. Saya merasa bahwa situasi tidak
susah itu akan selamanya tidak susah. Dalam situasi yang tidak susah itu, saya
lupa berpikir bahwa dalam hidup ini enantiasa akan ada harga yang harus dibayar
untuk semua perbuatan. Saya lupa bahwa hidup itu seperti roda yang berputar. Dan
kalaupun saya tidak lupa akan ungkapan itu, saya sangat yakin harganya bisa
saya “bayar” tanpa harus menjadi bangkrut. Saya bisa berpikir hidup bisa saja seperti
roda, tetapi masalahnya, hidupnya siapa dulu? Hidup saya enggak bakal jatuh. Perhitungannya
sudah jeli dan tepat. Situasi tak susah itu sungguh tidak melenakan, tetapi
membuat pongah. Kepongahan itu adalah sebuah tempat paling subur untuk lahirnya
sebuah jamur bernama kejahatan.
Roda
Apakah bentuk kejahatan itu?
Anda pikir saya menjadi pembunuh dan memotong jari manusia? Tidak sama sekali.
Kejahatan itu adalah dalam bentuk sebuah ketidakpedulian akan situasi rumah
tangga orang lain.
Kejahatan
saya adalah saya bersikap egois dan tidak peduli. Selama saya bahagia, apa
peduli saya terhadap orang lain? Apalagi, seorang teman yang memang punya jam
terbang tinggi soal berselingkuh malah memberikan saya tip dan trik agar tidak
gagal dan tidak ketahuan.Ia malah mengatakan, justru
dalam situasi semacam ini saya bisa memiliki kesempatan untuk membuat seseorang
pindah ke lain hati. Dalam situasi itulah saya tak lagi bisa melihat apa itu
benar, apa itu baik, dan apa itu keliru. Maka
saya sarankan, bergaul itu juga mesti berhati-hati. Memilih teman itu harus
jeli. Anda harus peka membedakan teman yang selalu mengantar Anda ke sebuah
situasi tidak susah sehingga Anda tidak menyadari kalau mereka sedang menggiring
Anda ke tepi jurang, dengan mereka yang senantiasa menjaga Anda agar tidak
sampai terdorong masuk ke jurang. Kalau Anda mencoba menasihati saya di masa
saya tidak susah, saya yakinkan Anda tak akan berhasil. Kalaupun Anda melihat
seolah saya menyimak, saya sama sekali tidak menyimak. Itu hanya sebuah aksi
agar Anda tak tersinggung. Setelah Anda meninggalkan saya, saya kembali
menikmati hidup yang cuma sekali itu saja.
Dan
kalau Anda menegur saya dan menanyakan alasannya, akan ada sejuta jawaban yang
akan saya sodorkan ke hadapan Anda. Sebuah alasan yang masuk akal di kepala
saya dan tak masuk akan di benak Anda. Apakah saya peduli kalau itu tak masuk
akal di benak Anda? Tentu tidak. Itu mengapa saya bisa dengan ringan berkomentar
seperti pria beristri yang ditampik teman saya di atas itu. “Hidup cuma sekali
aja kenapa mesti dibuat susah sih ? Dinikmatin aja .” Saat dalam situasi tidak
susah, tiba- tiba datanglah kesusahan yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya.
Saya kaget ternyata kok saya tak bisa memprediksi datangnya kesusahan.
Maka
berhati-hatilah dalam hidup yang cuma sekali ini saja. Sebisa mungkin nikmati
hidup ini dengan tidak membuat orang lain tersakiti. Sering-seringlah mengingatkan
diri Anda supaya tidak pongah kalau hidup itu memang seperti roda dan Anda itu
bukan dewa. Sekarang ini saya sedang berusaha menikmati hidup yang sekali saja
itu tidak dalam keadaan pongah agar saya bisa menikmati kematian yang juga
sekali itu saja dengan hati yang bahagia.