Pada usianya yang ke 71, seorang wanita harus menjalani operasi dalam rangka pencegahan penyebaran kanker yang dideritanya. Sesaat sebelum memasuki ruang operasi, ia berdoa secara singkat agar penyebaran kankernya tidak ke organ lain. Yang menarik setelah semua permintaannya itu, ia mengakhiri doanya begini. "Aku menyerahkan diriku seutuhnya pada-Mu Tuhan karena Engkau yang memiliki kehidupan ini. Biarlah kehendak-Mu yang jadi. Amin."
Meminta
Setelah saya membaca kesaksian wanita itu di sebuah
majalah, seperti biasa otak saya mulai berpikir. Karena kalau memang benar saya
ini menutup doa dengan "biarlah kehendak-Mu yang jadi", apa
pentingnya mengajukan sejuta permintaan secara detail meski tentunya itu tidak
dilarang?
Karena buat saya yang bodoh ini, perkataan terjadi
atas kehendak-Mu mengandung kepercayaan seutuhnya bahwa Tuhan akan memberikan
solusi yang terbaik meski itu tidak sesuai dengan permohonan saya.
Kalimat "biarlah terjadi atas kehendak-Mu"
juga mencerminkan sejauh apa saya ini benar percaya kepada Yang Mahakuasa,
kepada yang tak terlihat, serta tidak menjadi manusia yang hidup di dua dunia.
Maksud saya, dua dunia itu adalah meminta dari kemampuan daging yang terbatas
tetapi diaminkan dengan yang Ilahi.
Amin itu bukan mengilahikan yang daging. Amin itu memercayai sepenuhnya yang Ilahi tanpa harus menyisipkan permohonan daging. Amin itu bukan penutup doa, itu awal dari iman bahwa yang Ilahi akan berkuasa atas hidup. Amin itu bukan mengimani yang daging agar terjadi seperti kehendak saya.
Saya juga acap kali menutup doa dengan "biarlah
kehendak-Mu yang jadi", tetapi dalam kasus saya, kalimat itu cuma lip
service. Itu hanya kalimat yang harus disebutkan di akhir doa sebagai kalimat
penutup yang wajib dan yang membuat saya tidak terlihat pongah di hadapan
Tuhan.
Padahal, sebagai manusia yang mengucapkan
"biarlah kehendak-Mu yang jadi", bisa jadi saya tidak mau kalau itu
benar terjadi. Karena kehendak Tuhan belum tentu sama dengan kehendak saya. Dan
yang belum tentu sesuai dengan kehendak saya, itu tidak menyenangkan sama
sekali.
Melapor
Saya pernah menulis tentang cerita ini. Kalau Anda
naik pesawat terbang, Anda tidak pernah diizinkan memeriksa kokpit untuk
meyakinkan ada pilot atau tidak. Kalau Anda terbang, Anda pun tidak pernah
diberi tahu belok kanan atau kiri. Yang ada di dalam kepala Anda, dalam sekian jam
saya tiba di tempat tujuan.
Anda dan saya begitu percaya kepada pilot yang tak
Anda lihat dan tak Anda kenal. Anda begitu percaya dibawa dalam waktu sekian
jam dan tak mengetahui ke arah mana Anda dibawa. Anda dan saya tidak bawel dan
diam saja terikat dengan sabuk pengaman. Tetapi, Anda dan saya memiliki
keyakinan akan tiba.
Maka, kalimat "biarlah kehendak-Mu yang
terjadi" kira-kira seperti itu. Ada kepercayaan tanpa Anda memohon apa
pun. Memang Anda pernah mohon agar pilotnya jangan ngantuk? Anda melihat
pilotnya saja tidak bisa, hanya mendengar suaranya dari pengumuman yang
diberikan.
Nah, kalau sama pilot saja Anda dan saya enggak
minta-apa-apa, hanya memiliki keyakinan penuh meski deg-degan kalau ada
turbulensi, bukankah seharusnya dengan Yang Mahakuasa, yang tak terlihat itu
pun Anda dan saya bisa melakukan hal yang sama, tanpa harus bawel meminta
sejuta permohonan?
Maka sekarang, saya melatih untuk tidak meminta,
tetapi melaporkan saja apa yang saya rasakan dan yang saya hadapi. Misalnya,
saya takut terbang, saya kesepian, saya lapar. Kalau dulu, waktu saya
kelaparan, saya berdoa minta ayam goreng, dan ayamnya harus paha, ayamnya harus
buatan si A, digoreng biasa dan enggak usah pakai tepung.
Sekarang, saya hanya melaporkan bahwa saya lapar.
Mau dikasih ayam kek, dikasih empal gentong kek, atau hanya sayur-mayur, yaa.
karena itu Tuhan yang memutuskan, saya pasti tak akan kecewa. Yang penting
kelaparan saya terbayar. Bukankah itu pesan utamanya? Bukan soal ayam atau
empal, kan?
Itu karena meminta dan melaporkan adalah dua hal
yang berbeda. Meminta itu mengharapkan kalau bisa terjadi seperti yang diminta.
Melaporkan itu tidak mengharapkan apa-apa. Meminta itu tidak mengandung
kepasrahan kepada yang dimintai, sedangkan melapor itu memberi kesempatan yang
dilaporkan berkuasa atas laporan itu.
Maka, kalimat penutup macam "biarlah
kehendak-Mu yang jadi" itu, menurut saya, akan cocok sekali untuk doa yang
isinya melaporkan, dan bukan yang minta secara detail. Berdoa secara detail,
menurut saya yang bodoh ini, adalah sebuah pengerdilan atas kebesaran Tuhan.
La wong Tuhan itu tak terbatas, meminjam istilah
dalam doa wanita di atas, disebutkan Engkau yang memiliki kehidupan. Nah, kalau
demikian, kok dibatasi dengan permintaan panjang lebar saya yang terbatas itu?
Berdoa itu seyogianya supaya Tuhan berkuasa atas
hidup saya seperti yang dikatakan dalam doa penutup wanita di atas itu, dan
bukan agar Tuhan tahu saya mau ini dan itu, dan memenuhi yang ini dan yang itu.
●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar