Hari ini saya bermaksud mengajukan beberapa
pertanyaan kepada Anda sekalian. Apakah menurut orang lain, Anda itu termasuk
orang baik? Yang saya maksud dengan orang lain itu bukan anak, bukan pasangan,
bukan orangtua Anda.
Kalau orang lain sampai menganggap Anda adalah
makhluk yang baik, apakah itu karena Anda memang dikenal baik oleh mereka atau
mereka mendengar dari cerita bahwa Anda orang baik tanpa pernah membuktikannya?
Ceritanya
Saya mengajukan pertanyaan ini karena beberapa
minggu lalu seorang teman dekat memberikan semacam laporan bahwa saya ini
ternyata sampai sekarang masih dianggap banyak orang sebagai orang yang tidak
baik. Tak lama setelah saya mendengar laporan itu, seorang teman dekat saya
berniat menjodohkan saya bercerita begini.
"Tapi ya, Mas, waktu aku nyebut namamu, dia
langsung bilang enggak ah, Samuel itu, kan, galak dan enggak baik
orangnya." Teman dekat saya itu meyakinkannya bahwa saya itu sama sekali
tidak seperti anggapannya itu. Sayang, usahanya untuk meyakinkan berakhir
dengan gagal total.
Selesai mendengar ceritanya itu, saya balik bertanya kepada teman dekat saya itu. "Emang teman kamu itu kenal aku? Kok dia bisa bilang aku ini galak dan enggak baik?" Kemudian teman saya menjelaskan. "Enggak sih. Dia enggak kenal kamu, dia cuma tahu kamu. Mungkin dia pernah dengar dari cerita orang-orang lain kalau kamu kayak gitu."
Setelah kejadian ini berlangsung, saya jadi
berpikir. Kalau saya ini bukan termasuk orang yang bisa disebut orang baik,
mengapa ada beberapa orang yang masih mau berteman bahkan menjadi teman dekat
dengan makhluk hidup seperti saya yang bukan orang baik itu?
Apakah artinya orang-orang yang mau berteman dengan
saya mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki orang lain untuk melihat saya
sebagai orang yang banyak kekurangan, tetapi masih memiliki sisi baik sehingga
mereka dapat bertahan berteman bertahun lamanya?
Atau apakah mereka yang bisa berteman dengan saya
ternyata sama tidak baiknya? Sehingga kalau sama-sama negatif malah jadi
positif alias cocok. Sama seperti kata pepatah, burung dengan bulu yang sama
umumnya bertengger bersama.
Buktinya
Atau malah, mereka yang bisa berteman dengan saya
bertahun lamanya itu karena mereka bukan manusia yang mudah menerima
mentah-mentah soal cerita, tetapi memilih untuk melihat bukti nyata.
Dan setelah mereka membuktikan, mereka mampu melihat
kalau saya ini memiliki dua sisi seperti semua manusia, dan mereka memilih
mengambil sisi baik itu sebagai kekuatan untuk berteman dengan saya bertahun
lamanya.
Atau mereka mau berteman dengan saya karena buat
mereka orang disebut baik itu tidak sama dengan orang yang sempurna. Bahwa
orang yang disebut baik itu bisa berkali-kali jatuh dan membuat kekesalan,
seperti mereka juga mampu jatuh dan membuat kekesalan berkali-kali.
Mendengar cerita atau membaca, mau yang didengar
atau dibaca itu benar atau tidak, keduanya akan memberikan informasi atau
masukan. Tetapi melihat, mengalami dan mengamati secara langsung adalah satu
cara untuk membuktikan apakah yang didengar atau yang dibaca itu benar adanya
atau tidak benar sama sekali.
Tetapi saya harus mengakui kalau mendengar cerita
apalagi yang sudah dibumbui, entah bumbunya pedas setengah mati atau manisnya
luar biasa, acap kali bisa membangun opini bagi yang menerimanya. Opini itu
adalah bentuk awal penghakiman. Penghakiman yang bisa jadi melahirkan
ketakutan, menghilangkan banyak kesempatan dan menggagalkan cita-cita.
Tulisan ini tidak untuk membersihkan saya dari
bayangan orang tentang betapa jahatnya saya. Sama sekali tidak. Saya malah jadi
belajar sesuatu dari komentar dua teman saya di atas, untuk melakukan
pencegahan sedini mungkin untuk menjadi manusia yang hanya percaya melalui
jalan mendengar dan membaca, tanpa berniat membuktikan kebenarannya, dan
memercayai yang belum terbukti benar itu sebagai sebuah kebenaran.
Tiba-tiba nurani saya bertanya begini. "Kalau
setelah pembuktian dilakukan dan kamu menemukan bahwa benar seseorang itu tidak
baik, kamu mau ngapain? Musuhin? Menyebarkan cerita tidak baik ke mana-mana,
atau tetap berteman?"
Saya langsung menjawab. "Enggak musuhin tapi gak mau dekat-dekat." Nurani saya tampak tak mau kalah dan kemudian menyindir dengan tajam. "Apalah gunanya kamu berbuat baik kepada mereka yang berbuat baik kepadamu?" ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar