Di suatu hari Minggu, satu minggu yang lalu, saya
membuka koleksi foto-foto yang saya abadikan dari masa lalu sampai sekarang
ini. Sebuah perjalanan yang membuat saya tertawa, tersenyum, dan juga terharu.
Perjalanan pertemanan dengan latar belakang yang beragam.
Sampai akhir menutup mata
Setelah puas
melihatnya, saya kemudian berbicara dengan diri sendiri. Aahh, alangkah
senangnya mengetahui bahwa ada manusia di dunia ini yang mau berteman dengan
saya, apa pun alasannya.
Ketika mereka memutuskan menjadikan saya teman
mereka, maka sebetulnya di saat itulah kewajiban saya dimulai untuk menghormati
dan memelihara keputusan mereka itu. Semua pemikiran di atas timbul gara-gara
sebuah pesan yang datang dari seorang teman dekat.
Begini pesannya. ”Mas, apa pun yang terjadi, we have
to stick together, ya. Sampai akhir menutup mata.” Pesan itu memampukan mata
saya berkaca-kaca dan tak ingat kalau kalimat itu mengandung sebuah pekerjaan
rumah yang lumayan berat.
Kalimat ”apa
pun yang terjadi” dalam pesan itu mengingatkan saya akan sebuah situasi yang
tak selamanya mulus dan bebas hambatan. Dan pekerjaan rumah yang harus saya
lakukan adalah mempertahankan kekuatan ikatan (stick together) agar tidak
kendor sehingga tujuan sampai akhir menutup mata bisa tercapai. Nah, memelihara
sesuatu itu sebuah tugas yang sungguh berat, apalagi kalau dibandingkan dengan
mendapatkan sesuatu.
Setiap saat saya dibelikan ibu atau ayah mainan di masa kecil dahulu, mereka akan selalu mengingatkan untuk memeliharanya dengan baik. Apalagi mengingat bahwa kami datang dari keluarga yang sungguh biasa-biasa saja.
Tetapi
nasihat itu hanya bertahan sebentar saja dan dipercepat hilangnya dengan
datangnya pemberian barang-barang berikutnya. Pemeliharaan akan hadiah yang
pertama saya lupakan dan berkonsentrasi kepada hadiah yang baru. Demikian
seterusnya, sampai sekarang ini.
Memelihara
itu membutuhkan dua senjata ampuh, yang sejak awal saya ketahui, tetapi alamak
susahnya dijalankan. Senjata pertama adalah berupa kekuatan untuk bertahan dan
senjata yang kedua adalah ketegasan sikap untuk melindungi hal buruk yang akan
mengganggu aktivitas pemeliharaan itu.
Kekuatan.
Sebuah senjata yang dibutuhkan ketika melintasi sebuah situasi bernama ”apa pun
yang terjadi”. Mau gempa, mau hujan, mau terang benderang, mau dollar naik, mau
indeks turun, mau mood teman saya lagi turun atau sedang naik, saya harus mampu
bertahan agar pemeliharaan itu tidak putus di tengah jalan.
Flirting dalam urusan asmara atau memiliki rekan
bisnis yang bersemangat di awal dan raib entah ke mana di tengah perjalanan,
bahkan mengundurkan diri, itu sebuah contoh nyata bahwa senjata yang pertama
ini sungguh tidak ampuh, bahkan mandul.
Kemenangan
Ketegasan.
Hal ini diperlukan untuk mencegah terjadinya hal-hal buruk yang akan memengaruhi
sebuah aktivitas memelihara. Dalam sebuah perusahaan, seorang pemimpin harus
memiliki ketegasan kalau ada anggotanya yang mulai berpolitik, mulai mencari
jalan untuk menjatuhkan, mulai menunjukkan tabiat menjilat, mulai memecah
belah.
Ketegasan ini
diperlukan agar tujuan perusahaan tidak melenceng dari apa yang sudah
ditentukan dan dapat mencapai tujuan seperti yang diharapkan serta memelihara
rasa aman dalam perusahaan. Ketegasan itu diperlukan agar bisa mencapai tujuan,
yaitu sampai akhir menutup mata.
Contoh lain. Teman dekat saya itu sudah diperingati
teman-temannya untuk tidak bergaul dengan saya. Kata mereka, mulut dan tabiat
saya itu jahat. Demikian juga yang terjadi kepada salah satu karyawan dalam
perusahaan saya. Ia bahkan diperingati sebelum mengirimkan lamaran kerja.
Tetapi baik teman maupun karyawan saya itu menyikapi
peringatan itu dengan ketegasan. Maka keduanya sampai sekarang masih bersama
dengan saya. Visi yang jelas dan bisa dilihat dengan jernih oleh mata dan hati
hanya bisa terjadi kalau seseorang berani tegas dalam sikap. Tidak tegas itu
memburamkan visi.
Maka kalau sekarang ini Anda memiliki teman yang
setia, Anda dapat bekerja dalam sebuah perusahaan yang baik dan sehat, Anda
memiliki hubungan asmara yang naik dan turun tetapi masih membuat Anda bahagia,
maka seyogianyalah Anda memeliharanya dengan kekuatan dan ketegasan agar yang
Anda cintai dan mereka yang memutuskan untuk mencintai Anda tak akan merasa
disia-siakan.
Kalau sekarang Anda merasa bahwa semua hal di atas
didapati tanpa memelihara, saya hanya dapat menceritakan bahwa hidup yang sudah
saya lakoni selama setengah abad mengajarkan bahwa keberhasilan untuk mencapai
tujuan itu tak akan pernah mendatangi mereka yang enggan memelihara apa yang
dimilikinya.
Jangan sampai di suatu saat nanti, Anda kecewa dan
mulai bernyanyi sebuah lagu berjudul ”Seandainya”. ”Seandainyaaaa… saja, aku tu
dulu gak gini, aku tu gak gitu….” Percaya saya, memelihara itu mendatangkan
kemenangan. Dan kemenangan itu bukan karena tidak hadirnya problema, melainkan
karena tidak hadirnya kekecewaan! ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar