Di hari Senin pagi, satu minggu yang lalu, saya kepikiran gara-gara pesan yang dikirim oleh seorang teman lama. Begini bunyi pesan itu. Dalam memberikan persembahan kepada Tuhan, kita harus terlebih dahulu dalam kondisi benar dan memiliki kehidupan yang layak di hadapan Tuhan....
Fisik
Duh..., saya tertusuk rasanya. Sakitnya tu di sini
(sambil menunjuk dada). Sejujurnya saya agak tersinggung, dan disusul dengan
suara nurani yang memang senangnya ”bernyanyi”. ”Nyanyiannya” seperti ini.
Kalau setelah saya mengevaluasi hidup, dan ternyata
hasilnya tidak benar dan tidak layak, jadi selama ini doa yang saya panjatkan,
persembahan yang saya berikan, pertolongan saya lakukan itu sia-sia belaka?
Begitu?
Bagaimana cara saya mengetahui saya ini benar dan
saya ini layak? La wong saya sering kali dikuliahi dengan perkataan macam
begini. Belum tentu yang benar di mata kamu adalah benar di mata Tuhan.
Artinya, bisa jadi, belum tentu pesan yang dikirim teman saya itu benar di mata
Tuhan, bukan?
Tetapi sungguh menarik untuk mengetahui bagaimana
saya itu benar dan layak agar persembahan saya itu diperkenankan-Nya. Kalau
saya membaca isi Injil, sejujurnya saya tak pernah bisa benar dan tak pernah
bisa layak. Saya tak sanggup melakukan seperti yang tertulis di dalamnya. La wong
infrastruktur yang diberikan kepada saya mengandung sisi baik dan sisi tidak
baik.
Apakah pesan yang diberikan teman saya adalah sesungguhnya hanyalah buatan manusia, bukan pesan yang diartikan sesuai dengan apa yang benar di mata Tuhan? Karena sudah acap kali manusia itu senang sekali membuat aturan main agar hidup itu jangan sampai tidak sempurna, padahal ia tahu betapa tidak sempurnanya hidup ini.
Katanya tangan kiri itu tangan yang kotor, maka saya
diajari makan itu pakai tangan yang bersih, yaitu tangan kanan. Nah, kemudian
saya bertanya, apakah itu kebenaran ilahi atau kebenaran manusiawi? Kalau saya
mengikuti kebenaran manusiawi, apakah itu berarti saya sudah hidup benar dan
layak di hadapan Tuhan?
Kalau saya tidak menyetujui pendapat orang tua dan bukan
tidak menghormatinya, apakah saya dianggap kurang ajar dan anak yang tidak tahu
diri? Karena di suatu hari ada seorang ibu menegur bahwa saya tidak benar
melawan orang tua. Apakah teguran itu membuat si ibu sungguh layak dan benar,
bahkan ketika ia tidak mampu melihat perbedaan antara berbeda pendapat dan
melawan?
Hati
Saya ditegur di meja makan karena makan dengan
piring yang saya tumpuk dengan piring kotor di bawahnya. Katanya itu
menunjukkan bahwa saya hobi menumpukkan pekerjaan. Teman saya menasihati jangan
merayakan hari ulang tahun sebelum waktunya. Pamali katanya.
Apakah yang pamali itu benar? Layak? Kebenaran dan
kelayakan yang berasal dari manakah pamali itu? Apakah kebenaran dari tiga
contoh di atas itu sesuai dengan kebenaran dari kacamata Tuhan? Apakah yang
kelihatan baik di mata manusia itu sudah pasti baik di mata Tuhan?
Sehingga kalau saya menjalankan ketiga contoh di
atas, saya mendapat pujian dari manusia, saya lulus dari ujian kebenaran dan
kelayakan hidup, tetapi apakah itu juga akan meluluskan saya dalam ujian yang
diberikan Tuhan? Kalau saya tidak lulus, apakah manusia yang telah mengajarkan
aturan main pamali atau tidak, akan membela saya?
Di pagi yang sama teman saya mengirimkan sebuah
video bagaimana hidup bahagia. Ada tiga hal. Enak makan, enak tidur, dan enak
buang air besar. Selama ini saya bersyukur saya dapat melakukan itu semua.
Apakah saya bahagia? Tidak.
Karena ukuran saya bahagia bukan itu. Apakah
tayangan dalam video itu benar? Bisa jadi benar dan baik buat orang itu, tetapi
tidak untuk saya. Terus kalau begitu, saya menjadi manusia yang tidak benar,
tidak baik?
Nah, sekarang saya ingin bertanya, kalau saya
menulis, saya tidak bahagia, apakah Anda akan menilai saya tidak benar, karena
saya tidak bersyukur? Jadi kalau di mata Anda, saya tidak benar, apakah itu
berarti saya tidak layak dan tidak benar di hadapan Tuhan?
Hidup ini memberi banyak kemungkinan, termasuk
kemungkinan kalau manusia salah menerjemahkan apa kebenaran dan kelayakan yang
sesuai di mata Tuhan. Siapa tahu, Tuhan itu tidak membutuhkan saya yang benar
dan saya yang layak, tetapi hanya membutuhkan manusia yang berniat memiliki hubungan
yang dekat dengan-Nya.
Siapa tahu hubungan dekat yang dimaksud itu adalah
sebuah hubungan dengan hati bukan dengan aktivitas fisik, artinya yang penuh
dengan naik dan turun, hubungan yang alamiah, yang tidak dibuat-buat.
Sehingga doa yang saya panjatkan, pertolongan yang
saya berikan, persembahan berupa uang yang saya lakukan, akan senantiasa benar
dan layak dan senantiasa berkenan tanpa harus mengevaluasi apakah saya ini
benar dan layak.
Sama seperti orang tua yang selalu mencintai dan
mengerti anaknya, meski mereka tahu pasti anaknya telah dan akan banyak
melakukan ketidakbenaran dan ketidaklayakan.
Saya pernah dinasihati begini. Manusia itu hanya
melihat apa yang di depan matanya, tetapi Tuhan itu melihat hati. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar