Belakangan saya cukup aktif berada di sebuah chat room. Jangan ditanya tujuannya untuk apa saya berada di ruang mengobrol itu. Saya yakin, Anda pasti sudah tahu. Yaaa… Anda benar saya sedang mencari teman.
Kalau cocok, yaa… saya terbuka untuk melanjutkan ke
jenjang yang lebih dari sekadar teman biasa. Macam jenjang pendidikan. Setelah
S-1 kalau bisa ya S-2. Dan kalau masih bisa maju lagi, yaa S-3.
”Enggak suka, ya?”
Tentu masuk ke sebuah ruang mengobrol saya perlu
memberikan informasi soal umur, fisik, dan secara singkat keinginan saya untuk
bertemu dengan teman-teman yang seperti apa. Karena saya ini sudah setengah
abad lebih, saya itu lebih menyukai yang seusia atau paling tidak sebelas dua
belaslah dengan usia saya.
Tetapi, apa kenyataannya? Data pribadi itu tak
berguna sama sekali. Yang ingin mengobrol dan bertemu lebih banyak adalah
mereka yang berusia antara 20 dan 30-an. Awalnya saya meladeni, la wong cuma
mau berteman. Apa salahnya? Tetapi, setelah beberapa kali dijalani, banyak
ketidakcocokannya.
Setelah itu, setiap kali ada yang berusia muda
mengajak saya ngobrol, saya malah menegur mereka untuk membaca biodata yang
telah saya tuliskan. Biasanya mereka minta maaf, kemudian menghilang untuk
sementara waktu, kemudian muncul lagi.
Kedatangan yang berulang itu mengundang kekesalan. Maka saya langsung menghapus pesan mereka tanpa membacanya. Tetapi, tampaknya, menyerah itu tidak ada di dalam kamus mereka. Saya tidak tahu mengapa. Padahal saya ini jelek, pendek, dan jauh dari kaya raya.
Sangat jamak ketika saya tidak membalas pesan yang
ditulis, maka mereka akan mengirim pesan seperti ini. ”Kok enggak dibalas sih,
Mas? Enggak suka ya?” Nah, kalimat inilah yang menginspirasi saya untuk curhat
lagi dengan Anda sekalian hari ini.
Sungguh saya tidak tahu, dan sama sekali belum
terinspirasi untuk menanyakan kepada mereka, mengapa mereka itu tak bisa peka
atau tidak mau peka, bahwa kalau saya tidak membalas itu berarti saya memang
tidak tertarik. Saya tidak membalas itu sebagai ’bahasa isyarat’ kalau saya ini
tidak lagi berkeinginan berkomunikasi dengan mereka.
Bahasa nurani
Di suatu hari saya berpikir, ah… sungguh tidak benar
kalau saya hanya menghapus pesan mereka dan tidak menjelaskan alasan saya tidak
membalasnya. Maka saya menjelaskan bahwa saya ini tidak tertarik. Penjelasan
itu saya tulis dengan menggunakan bahasa yang sopan.
Karena saya sungguh mengerti, ditolak itu lumayan
membuat kepercayaan drop seperti tekanan darah karena saya pernah mengalaminya.
Rasanya seperti ditimpuk bola kasti dan kemudian mulai merasa kalau saya ini
tak bernilai.
Hasil dari memberi penjelasan itu pun tidak menolong
sama sekali. Karena semangat yang tinggi, beberapa di antara mereka menganggap
penjelasan itu sebagai sebuah jalan untuk membuka obrolan kembali. Beberapa
malah menawarkan berkenalan lebih jauh dulu sebelum saya memutuskan untuk menolak.
Saya sampai geleng kepala.
Apa yang mereka lakukan membuat saya berpikir,
mengapa mereka sampai sebegitu ngotot, dan seperti menutup mata dan hati, dan
tidak peduli dengan apa yang telah saya lakukan. Mengapa mereka bertanya kepada
saya, ”Enggak suka ya, Mas?”, tetapi tidak mempertanyakan diri sendiri, mengapa
saya sampai harus menghabiskan waktu untuk berkenalan dengan orang yang sama
sekali tidak berniat berkenalan dengan saya?
Apakah mereka memiliki agenda tersembunyi yang jahat
atau begitu kesepiannya? Apakah mereka sangat membutuhkan pasangan hidup karena
perjalanan asmara yang kering kerontang sehingga ngotot menjadi sebuah harapan
untuk tidak kering dan kerontang? Sejujurnya di saat perasaan ini jengkel
setengah mati, ada perasaan sedih yang menyelinap.
Saya pernah ada di posisi mereka. Ketika kebutuhan
utama akan teman atau yang lebih dari teman tak bisa terpenuhi, sehingga
perasaan kesepian itu seperti tak bedanya dengan kanker yang menggerogoti.
Apalagi, usia makin lama tidak makin bertambah muda.
Gara-gara peristiwa itu, saya jadi kena batunya.
Nurani saya langsung mengambil kesempatan untuk bertanya sekaligus menyindir.
Umumnya malah banyak niat menyindirnya daripada bertanya. ”Emang kamu peka?”
Nurani itu terus berkicau. ”Elo tu gak peka lagi.
Sama sekali tidak.” Setelah sindiran itu berhenti, saya harus mengakui banyak
hal yang saya hadapi setiap hari dengan ketidakpekaan. Bahasa tubuh, gerakan
tangan, bibir atau pesan yang tak dibalas yang dilakukan oleh klien, teman
usaha, staf di kantor, orang yang sedang saya taksir, sering kali tak saya
pahami.
Padahal, mereka sedang mengomunikasikan sesuatu,
hanya saja mereka tak mau terus terang karena bisa jadi takut saya tersinggung,
atau bisa jadi melindungi saya dari merasa tak punya kepercayaan diri kalau
’ditembak’ langsung.
Saya harus lebih banyak belajar mengerti bahasa yang
’halus’ itu. Sebuah bahasa yang harus dikomunikasikan dan dirasakan dengan
kepekaan nurani, yang tak akan menusuk seperti belati, yang tidak memekakkan
telinga seperti petir menyambar, tetapi menyelamatkan keberadaan orang. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar