Saya ditanya beberapa orang ke mana saya hendak menghabiskan liburan Natal dan akhir tahun. Pertanyaan yang sama saya ajukan kepada beberapa orang juga. Jawabannya macam-macam. Ada yang tidak ke mana-mana, ada yang ke luar negeri, dan ada yang berlibur di dalam negeri. Sampai tulisan ini Anda baca, saya memutuskan untuk menikmati Jakarta saja.
Natal
Tetapi, saya ini orangnya mudah tergoda. Tergoda
karena ajakan teman, tergoda gara-gara melihat tulisan atau gambar di dunia
maya, atau benar-benar karena naluri yang impulsif, apalagi suasana akhir tahun
yang kelabu, hujan yang turun, dan perasaan senang karena tahun ini sebentar
lagi usai.
Mungkin itu bagian enaknya kalau masih lajang.
Sementara teman-teman saya yang sudah berkeluarga harus menyiapkan segala
sesuatu jauh-jauh hari. Tak hanya biaya yang harus dipikirkan, tapi juga
keputusan untuk menentukan tujuan wisata bisa dibayangkan harus melalui sebuah
diskusi yang saya yakini tak bisa selesai dalam beberapa jam.
Di masa kecil dulu, liburan Natal akan disambut
dengan liburan keluarga alias pulang kampung. Biasanya kalau tidak ke Surabaya
atau ke Semarang. Seingat saya, dari Pulau Dewata tempat kami tinggal, ayah
menyetir mobil.
Semakin dewasa kegiatan pulang kampung itu makin
jarang dilakukan, bahkan seingat saya, di hari istimewa itu sepulang kami
beribadah bersama, ayah dan ibu akan menggelar acara open house yang akan
berlangsung dari pukul 10 pagi sampai pukul 10 malam dengan jeda dari pukul 2
siang sampai 4 sore.
Acara itu akan menyebabkan ayah mengirim kami ke sebuah hotel untuk menikmati Natal dan mendapatkan hadiah dari Santa. Sementara ayah dan ibu sibuk menyambut tamu-tamunya yang datang yang semakin tahun semakin banyak.
Ketika kami anak-anaknya semakin dewasa, maka hari
istimewa itu tidak lagi berlokasi di hotel dan mendapat hadiah dari Santa,
tetapi kami menjadi “pembantu” yang lumayan sibuk untuk menyiapkan keperluan
open house itu.
Di ingatan saya, Natal dalam keluarga kami adalah
bukan sebuah kegiatan keluarga yang hangat, tetapi menyambut tamu-tamu yang
datang memberikan ucapan selamat. Ikatan keluarga di hari itu seingat saya tak
terjadi sama sekali, dan itu berlangsung bertahun lamanya.
Keluarga
Saat saya tinggal di luar negeri, Natal adalah hari
saat saya merasa sangat kesepian. Teman-teman saya pulang kampung untuk
berkumpul bersama keluarga dan saya teringat pada sebuah acara keluarga kami
yang jauh dari kehangatan.
Apalagi sekarang ketika ayah dan ibu sudah meninggal
dunia, dan kakak serta adik saya juga tinggal di luar negeri, maka Natal buat
saya tak menjadi sesuatu yang luar biasa lagi. Mungkin itu mengapa, ketika saya
melihat hiasan dan mendengarkan lagu-lagu Natal, selalu saja terselip kerinduan
untuk berkumpul bersama keluarga yang sejujurnya tak pernah saya dapati juga.
Kalau kerinduan itu datang, maka saya sering merasa
bahwa kegiatan open house itu telah memiliki andil menghilangkan kesempatan
merasakan acara keluarga yang hangat di hari istimewa itu. Tentu saya tak
menyalahkan mereka yang datang untuk memberi ucapan selamat, saya sungguh
menghormati itu.
Ayah adalah orang yang keras kepala, saya harus
mengakui ia bukan pria yang romantis. Semua yang ia lakukan bahkan ketika maut
menjemputnya, ia hanya menggunakan otaknya sebagai senjata kehidupannya yang
utama.
Selama sebuah kejadian tak masuk di akalnya, tak
bisa dihitung secara pasti, ia tak akan memercayai. Itu mengapa saya berpikir
bahwa open house itu buatnya penting karena selain menerima ucapan, acara itu
digunakan sebagai salah satu medium kegiatan bisnisnya.
Saya tak pernah sekali pun menanyakan mengapa ia
lebih senang mengirimkan anak-anaknya ke hotel untuk menikmati Natal ketimbang
berada di dalam rumah bersama keluarga. Saya sampai pernah menyimpulkan kalau
open house adalah hal yang paling menyenangkan buatnya ketimbang kumpul bersama
keluarga.
Ia seorang pria yang hidup hanya di dua dunia. Hitam
atau putih, tak ada abu-abu dan sangat otoriter meski tingkatannya semakin
berkurang ketika kami menjadi dewasa dan memiliki uang sendiri. Tetapi, di masa
kecil dahulu, ia macam seorang diktator di sebuah negeri kecil yang dihuni
empat manusia, ibu dan kami tiga anaknya.
Saya bercerita bukan untuk mengatakan bahwa kegiatan
menerima tamu adalah sebuah kesalahan. Sama sekali tak ada yang keliru dari
acara satu tahun sekali itu. Saya hanya ingin berbagi melalui pengalaman hidup
dan otak yang tidak pandai ini, bahwa open house adalah momen untuk berbagi
sukacita dengan orang lain tanpa melupakan bersukacita dengan mereka yang
disebut anggota keluarga yang telah menemani Anda dan saya sepanjang tahun
dalam sebuah perjalanan kehidupan yang kadang tak senantiasa semanis madu. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar