Selasa, 01 Juli 2025

Yaelah

Waktu seorang staf saya mengunggah foto dengan keterangan yang menggambarkan bahwa ia tak mampu menaiki tangga sebanyak 250 di Gunung Bromo, tiga temannya memberikan komentar seperti ini.

Satu orang mengomentari seperti ini. "Gakberasa, kok." Satu lagi sangat singkat. "Jompoooo!" Dengan tambahan emoticontertawa di belakangnya. Yang terakhir menulis dengan tajam. "Yaelahhh cumasegitu doang deh tangganya. Tanggung, deh!"

Aku bisa, kamu bisa

Sungguh saya tertarik pada ketiga komentar itu, dan komentar itulah yang memberi ide untuk menulis dan menyuguhkannya pada bapak, ibu, dan saudara-saudari sekalian. Saya tak mengenal ketiga orang yang memberi komentar itu. Saya juga tak mewawancarai mereka mengapa mereka sampai menulis komentar semacam itu.

Saya berasumsi bahwa komentar yang pertama bertujuan meyakinkan bahwa menaiki tangga dengan anak tangga sejumlah 250 itu tak akan membuat seseorang kelelahan, dan itu akan dijalani dengan sangat cepat sampai tak berasa.

Ya... sudahlah

Itulah keluhan yang dituliskan oleh seorang wanita di sosial media, pada pagi hari ketika saya lagi bersemangatnya menyambut hari. Kemudian diikuti dengan satu kalimat yang saya percaya juga hadir di kepala Anda dan saya ketika kekecewaan mau tak mau harus diterima. Tuhan tahu yang terbaik. Terima kasih Tuhan.

Kusut

Keluhan dan kalimat penutup itu membuat saya jadi berpikir, mengapa selalu demikian terjadi. Berkeluh terus berakhir dengan Tuhan tahu yang terbaik. Seharusnya keluhan atau kekecewaan tak perlu terjadi kalau sejak awal seseorang menyadari bahwa Tuhan itu selalu tahu yang terbaik, bukan?

Selanjutnya, saya sungguh tak bisa mengerti, mengapa ia berterima kasih, la wong dari keluhannya itu saja saya bisa merasakan kekecewaan yang begitu dalam. Maka saya mulai berasumsi. Mungkin ia berterima kasih karena pada akhirnya ia bisa berserah kepada Tuhan dan tidak lagi bersikeras menggantungkan harapan kepada kekuatannya.

Kemudian saya bertanya, apakah ucapannya itu benar datang dari lubuk hati yang mengerti atau diucapkan sebagai rasa hormat kepada Tuhan, meski sejujurnya hatinya tak rela untuk menyerah kalah?

Saya tak menemukan jawabannya, tapi malah jadi berpikir. Apakah saya perlu mengeluh atau saya terus berjuang dengan kesabaran, sampai apa yang saya inginkan tercapai, karena saya tahu bahwa Tuhan bisa melakukan segala hal. Bahkan, untuk sesuatu yang menurut manusia sudah tak masuk akal. Meski ada risikonya, saya akan disebut manusia buta yang gila.

War

Berkecukupan tidak berarti berbahagia, kebahagiaan sesungguhnya adalah hidup dalam ketenangan. Demikian pesan yang dikirimkan seorang teman yang setia nyaris setiap pagi bertahun lamanya mengirimkan pesan-pesan mulia yang memberi kekuatan.

Perjuangan

Beberapa minggu sebelum itu, saya membaca kalimat yang ditulis seorang teman di media sosial miliknya. ”Make love not war”. Seperti biasa, setelah membaca pesan-pesan itu saya manggut-manggut tanda setuju. Tetapi, karena kebiasaan sifat yang telat mikir, maka ketika tak sengaja saya membaca kembali pesan-pesan itu, mulailah otak ini berpikir keras.

Otak yang tak bisa berhenti berpikir itu mengawali dengan sebuah pertanyaan. ”Bukannya peperangan, pertikaian, permusuhan awalnya terjadi gara-gara cinta ya, Bro? Jadi semakin elo make love semakin make war.” Pertanyaan yang begini ini suka menghasilkan sakit kepala.

Tiga tahun lalu saya pernah jatuh cinta. Dan hubungan kami lebih dari sekadar sahabat. Sekali waktu saya memperkenalkannya kepada salah seorang teman dekat. Singkat cerita, saya merasa sejak perkenalan itu terjadi, ia juga menaruh perasaan yang sama seperti saya.

Waktu

“Apa kabar? Sudah lama enggak jumpa. Sehat, kan?” Demikian kira-kira pesan yang saya terima dari seorang dokter di suatu Selasa pagi yang berhujan. Awalnya saya berpikir ia akan memberi tahu satu berita penting yang mungkin akan membuat saya deg-degan. Ternyata, pak dokter, demikian saya memanggilnya, hanya ingin menanyakan keadaan saya saja.

Egois dan basa-basi

Tetapi, selang beberapa menit, suara nurani saya bersuara. Kapan kamu terakhir menanyakan kabar pak dokter? Suara yang datang dari nurani itu acap kali membuat jantung tak hanya deg-degan, tetapi juga nyaris lepas.

Saya tak pernah menyediakan waktu khusus hanya untuk menanyakan kabar ataupun keadaan si pak dokter. Biasanya, saya hanya menyematkan kalimat apa kabar sebagai kalimat pembuka sebelum saya menanyakan nasihatnya tentang penyakit yang sedang saya alami. Sebuah kalimat penuh basa-basi.

Setelah saya mendapatkan apa yang saya inginkan, maka ada kalimat penutup sebagai sebuah ungkapan terima kasih. Itu pun sebuah ungkapan basa-basi. Jadi, saya memulai dengan basa-basi dan mengakhiri dengan basa-basi. Saya ini pada dasarnya egois dan suka basa-basi.

Pada 25 Desember lalu, ketika orang merayakan hari Natal bersama yang dicintai, saya berada dalam kesendirian di rumah. Tak ada acara ataupun kegiatan yang saya lakukan. Kira-kira pukul 9 pagi, seorang teman yang tak merayakan Natal mengirimkan pesan. ”Mas, yuk, aku ajak kamu makan siang sama pacarku. Kamu enggak ke mana-mana, kan?”

Variasi

Seseorang yang saya temui di sebuah chat room bertanya, apakah saya mau menjadi kekasihnya. Pertanyaan itu membuat rasa penasaran saya timbul dan bertanya kembali, mengapa ia sampai melakukan penawaran semacam itu. "Cari variasi, Mas, supaya hubungan nggak jadi hambar." Demikian ia menjelaskannya.

Bumbu

Setelah keluar dari ruang mengobrol itu, saya jadi kepikiran. Benarkah agar sebuah hubungan menjadi tidak hambar, berselingkuh itu menjadi salah satu solusi jitu? Mengapa ketika hubungan itu menjadi hambar, solusinya adalah mencari di luar rumah?

Bukankah ketika hubungan disepakati untuk dijalani, maka segala risiko harus ditanggung dua belah pihak. Bukankah penyebab terjadinya keadaan hambar atau tidak hambar adalah akibat dari keputusan yang dibuat dari dalam rumah oleh dua manusia?

Nah, kalau itu terjadi dari dalam rumah, mengapa mencari jalan keluar di luar rumah? Atau apakah tindakan mencari ke luar rumah itu benar adanya karena bisa jadi di dalam rumah sudah tak ada lagi ditemui jalan keluarnya? Begitukah?

Bagaimana kalau kemudian yang di dalam rumah merasa bumbu yang dari luar enaknya setengah mati dan tak bisa dilepaskan? Atau bagaimana kalau setelah belanja bumbu di luar, beberapa waktu kemudian, bumbu itu terasa hambar? Apakah solusinya akan memiliki pola yang sama, artinya mencari lagi bumbu yang lain?

Uni(k)

SAYA ini senang sekali mengamati manusia, termasuk diri sendiri. Tentu pengamatan saya sebatas pengamatan dua mata saja. Tidak ada buku referensi, data akurat, atau hasil penelitian yang teliti dan jitu yang mendukung tulisan ini.

ABCDE vs KLMNOP

Saya teringat kepada masa di sekolah dahulu. Dalam satu kelas kami mendapat pelajaran yang sama. Satu tambah satu sama dengan dua. Itu diajarkan untuk saya yang IQ-nya anjlok dan mereka yang IQ-nya menjulang tinggi, bahkan tinggi sekali.

Dengan materi pelajaran yang sama, kami diuji. Saya tidak mendapat juara, mereka menjadi juara kelas. Secara tidak langsung, saya menjadi murid yang biasa. Kalau mau lebih kelihatan manusiawi dan santun, murid yang biasa-biasa banget.

 Buat saya, adanya peringkat juara adalah sebuah diskriminasi dan bukan pemacu semangat. Penilaian itu datang dari mata manusia yang masuk ke dalam kategori murid yang biasa-biasa banget. Saya tidak tahu kalau dari kacamata murid yang IQ-nya tinggi banget.

Dalam mata pelajaran agama maupun etika, saya dan murid-murid lainnya diajari sebuah pelajaran yang sama. Penghinaan itu tidak baik, kalau berbicara itu yang santun, sampai soal memaafkan yang juga harus dilakukan.

 

Ulang Tahun

Tepat satu minggu yang lalu saya berulang tahun. Hari itu saya merayakan dengan perasaan galau. Bahkan, satu hari sebelumnya, saya lupa kalau keesokan hari akan berulang tahun. Mungkin karena sudah separuh abad lebih, ulang tahun itu menjadi seperti hari biasa saja. Tidak ada yang istimewa.

Bersyukur

Bertambahnya umur bukan lagi sebuah hal yang luar biasa. Apalagi bertambah tua dengan kesehatan yang membuat saya tak bisa lagi berlari, mendaki gunung. Bertambah tua dengan rasa takut melihat banyak teman yang meninggal dunia. Bertambah usia dengan setiap hari mengonsumsi obat ini dan itu supaya tidak pikun, supaya tidak stroke, supaya tidak segalanya. Bertambah tua dengan kesepian yang sangat meski ada sejuta teman yang dimiliki.

Pagi itu saya berdoa mengucap syukur meski setelah itu otak saya berpikir. Mengapa saya selalu mengucap syukur kalau sedang merayakan hari ulang tahun atau seperti satu bulan lalu saat pergantian tahun. Apakah saya mengucap syukur karena takut kalau tidak mengucap syukur, maka tahun yang baru dan umur yang baru akan mendatangkan petaka?

Apakah saya ini mengucap syukur karena itu adalah aktivitas yang sudah menjadi tradisi dan kebiasaan semata setiap berulang tahun? Apakah dalam mengucap syukur, konten dari rasa syukur itu hanya karena saya bisa diberikan perpanjangan hidup dengan umur yang baru dan sepanjang tahun lalu saya sehat? Atau karena keluarga saya bahagia? Karena anak cucu sehat walafiat, dan uang saya yang dari sekian M menjadi sekian T?

Toxic Positivy

Apakah sesuatu yang positif bisa begitu toksiknya? Rupanya bisa. Awalnya saya tak percaya. Tetapi untuk merasakan toksik yang dilahirkan dari kepositivan, Anda harus membutuhkan kesabaran dan kepekaan. Sebab pada awalnya, semua akan terasa baik-baik saja.

Positif

Apa saja yang termasuk hal-hal positif? Saya percaya Anda pasti sudah tahu. Mudah sekali, bukan? Tak membutuhkan IQ dan pendidikan yang tinggi untuk mengambil contoh atau kejadian yang positif. Menolong sesama manusia dan alam dalam berbagai bentuk, misalnya. Atau memberi waktu untuk mendengar dan juga memberikan jalan keluar jika diperlukan, atau diam saja menjadi pendengar yang baik, karena manusia acapkali hanya ingin didengar dan mereka sejujurnya sudah tahu solusinya.

Atau memberi sumbangan untuk membantu mereka yang tertimpa musibah, atau menemani orang terdekat untuk melakukan aktivitas sederhana seperti jalan kaki, menjenguk yang sedang sakit atau sekadar mengantar teman pulang ke rumah dari kantor atau dari sebuah acara. Tentu masih ada  sejuta contoh lainnya.

Sesuatu hal yang dilakukan dengan niat dan aktivitas yang positif, hasilnya pasti akan positif juga. Maksudnya, tidak hanya hasil yang akan dicapai berguna, tetapi memberikan dampak yang baik juga untuk yang melakukan dan yang menerima perlakukan positif itu. Bukankah katanya memberi itu memberi kebahagiaan jauh lebih besar dari pada menerima.

THR

TIGA huruf di atas itu sungguh menjadi tiga huruf kecintaan saya setiap tahun. Apalagi setelah mendapatkan THR, masih dilanjutkan dengan gajian. Saya tak membayangkan mereka yang berpenghasilan di atas seratus juta rupiah per bulannya.

Tetapi beberapa bulan yang lalu, saya disodori sebuah pertanyaan oleh nurani saya sendiri. Apa makna THR buat saya? Saya itu suka kesal sama nurani saya sendiri. Terlalu bawel.

Bayar utang

Beberapa karyawan di perusahaan saya yang tidak merayakan hari raya Idul Fitri, telah mengajukan permohonan agar mereka boleh menerima THR yang seyogianya mereka terima pada bulan Desember, yang masih lima bulan lagi untuk dijalani. Di ruang rapat saya bertanya, apa alasan mereka mengajukan permohonan itu. Salah satu dari mereka memberi alasan seperti ini. ”Istri saya sudah lama pengen beli kamera, Mas.”

Kalau melihat kepanjangan dari THR yaitu tunjangan hari raya, maka THR adalah sejumlah dana yang ditujukan untuk dipergunakan menunjang hari raya. Dengan IQ jongkok ini, saya mengartikan menunjang hari raya itu, yaaa...menunjang segala sesuatu yang berhubungan dengan keperluan hari raya. Dan hal yang terpenting adalah menunjang sesuatu yang diperlukan, bukan sesuatu yang diinginkan.

Terik

Saya sedang menikmati pemandangan laut di atas kapal pinisi. Pemandangan yang menakjubkan itu sering kali diselingi dengan pemandangan bukit kecoklatan yang tak kalah menariknya.

Musim panas yang datang sungguh menyengat dan membuat rumput yang menutupi bukit menjadi kering kecoklatan. Meski demikian, beberapa pohon cukup rindang justru tumbuh dan tetap mempertahankan warna hijaunya, seolah ia tak kalah dengan terik yang menyengat.

Kesal

Di saat saya sedang menikmati kedua pemandangan itu, nurani saya menyambar dengan cepat. ”Apakah hidup yang terik telah membuat kamu seperti rumput kering kecoklatan atau seperti pohon hijau yang tetap rindang?” Pertanyaan itu benar menghunjam kalbu.

Pasalnya, beberapa hari belakangan sebelum saya mengambil cuti liburan selama satu minggu, hari-hari saya dipenuhi dengan kesehatan yang menurun dan tak henti-hentinya menyerang sampai satu hari sebelum saya berlibur.

Ketika teman-teman memenuhi koper mereka dengan pakaian renang, bermuda, sepatu olahraga, dan seluruh perlengkapan liburan, saya mengisi koper tak hanya dengan pakaian, tetapi sejuta obat ini dan itu, serta perlengkapan untuk memeriksa kadar gula dan tekanan darah setiap hari.

Terancam

Teman saya punya usaha rumah makan. Berlokasi tidak jauh dari sebuah rumah makan lainnya. Nah, rumah makan lainnya ini merasa tidak senang dengan kehadiran rumah makan teman saya itu. Padahal teman saya tak pernah menganggap ia sebagai pesaingnya.

Yaah. namanya manusia tentu berbeda-beda, bukan? Tak hanya merasa tidak senang, tetapi mereka juga acap kali mendekati rumah makan teman saya itu untuk melakukan pengecekan ramai tidaknya pengunjung yang datang.

"Mengapa kalian gak bisa buat yang kayak gini?"

Setelah mendengar ceritanya itu, di dalam mobil yang mengantar saya kembali ke kantor setelah makan siang di rumah makan teman saya yang nikmat itu, saya mulai kembali pada kenangan masa lalu saat pertama kali membuka usaha majalah.

Tak berbeda dengan pemilik rumah makan yang merasa tersaingi itu, saya juga melakukan tindakan yang sama. Tidak datang mengitari kantor mereka yang saya anggap pesaing, tetapi mengecek rubrikasi di dalam majalah yang mereka terbitkan.

Singkat cerita, setiap bulan saya seperti cacing kepanasan. Saya mudah kesal di ruang rapat dan selalu menyuarakan pertanyaan yang sudah saya pastikan memekakkan gendang telinga staf saya "Mengapa kalian gak bisa buat yangkayak gini? Mengapa kalian gak bisa dapat sponsor yang sama?"

Tempurung

Entah mengapa beberapa bulan terakhir ini saya mulai berpikir untuk lebih sering bepergian. Bahkan, sampai kepikiran untuk menjual salah satu aset untuk tujuan itu. Saya merasa seperti katak di bawah tempurung kota besar.

Seandainya ayah saya yang kikir itu masih ada dan mendengar cita-cita itu, saya kok yakin ia akan menjerit dan mengusulkan untuk tetap tinggal di bawah tempurung saja. Sejak lama, sejak saya kecil, royal itu adalah predikat yang diberikannya untuk saya.

Gelagapan

Di bawah tempurung itu artinya, yang saya ketahui, yaa... itu-itu saja. Makanya, seperti katak di bawah tempurung, dunia yang saya ketahui itu adalah kemacetan, kurangnya toleransi, mudah naik pitam, tidak menginjak bumi, susahnya bertabiat rendah hati, bermain gengsi, kalau bisa senantiasa bersaing, mengeluarkan isu yang mematikan.

Karena dunia tempurung saya seperti itu, maka katanya, dan saya yakin Anda setuju, saya disarankan keluar dari tempurung itu sehingga saya bisa melihat dunia yang berbeda. Tujuannya ke luar dari tempurung itu cuma satu. Supaya menjadi manusia yang lebih terbuka.

Dengan terbuka, katanya, saya tidak lagi berpikir bahwa dunia sayalah yang paling benar, pendapat sayalah yang paling benar. Bahwa di luar tempurung ada yang bisa hidup sederhana dan tidak bermain gengsi, tetapi tetap bermartabat. Bahwa ada dunia di luar tempurung, yang toleransi itu tidak dianggap sebuah kekalahan, bukan juga sebuah bentuk kepengecutan.

Tekun

Persis di pinggir got, di sore hari sehabis hujan deras, seorang tukang bakmi ayam sedang berbicara dengan seorang pemuda yang sedang menyantap bakmi ayam pesanannya. Saya duduk persis di depan si pemuda menunggu pesanan bakmi ayam. Dengan demikian, pembicaraan yang intens dari dua manusia itu masuk tanpa halangan ke telinga ini.

Tukang bakmi dan sopir taksi

"Saya punya usaha ini sejak 1988. Satu gerobak ini saja sampai sekarang. Orang itu harus tekun kalau mau usaha, meski sampai sekarang ini saya masih belum bisa membesarkan usaha seperti tempat adik bekerja," cerita bapak tukang bakmi ayam itu.

Pemuda berbadan bongsor itu menganggukkan kepala. Saya yang tak terlibat dalam percakapan itu, tetapi bisa mendengar jelas, turut menganggukkan kepala dan sekaligus merasa trenyuh. Kemudian saya berpikir ketekunan itu sungguh diperlukan, tetapi mungkin untuk berhasil masih diperlukan kepandaian, kepekaan, jejaring, dan intuisi.

Saya bisa mengerti pernyataan bapak tukang bakmi ayam itu. Saya juga termasuk orang yang tekun, pekerja keras. Hanya saja saya ini tak dilengkapi dengan IQ yang memadai, hanya di perbatasan saja. Jadi meski mungkin saya memiliki jejaring, peka, juga tak bisa sesukses orang lain.

Beberapa hari sebelumnya, di suatu pagi saya menumpang sebuah taksi menuju kantor. Semua berjalan tenang sampai saat suara taksi menabrak mobil di depannya terdengar. Sopir taksi itu kaget, kemudian menepi. Seorang bapak mengenakan kacamata, yang memiliki kendaraan yang ditabrak, datang menghampirinya.

Target

Lima hari berturut-turut saya menerima kabar dukacita. Saking tiap hari menerima berita itu, saya jadi berpikir kapan giliran saya tiba. Bagaimana rasanya meninggal itu? Apa yang perlu dipersiapkan menyambut datangnya hari itu?

Tentu tak ada yang menjawab suara nurani itu, yang tertinggal hanyalah perasaan takut di ujung semua pertanyaan itu.

Persiapan

Takut. Kenapa? Biasanya kalau saya takut atau keder menghadapi sebuah keadaan, karena saya kurang atau malah tidak punya persiapan. Dan saya tahu pasti, persiapan itu penting dilakukan sebelum perang.

Coba tanyakan kepada seorang pengusaha, atau koruptor, atau maling, semua perlu persiapan. Persiapan siapa targetnya, bagaimana cara pencapaian targetnya, bagaimana cara membobol atau mencurinya, bagaimana kalau strategi ini gagal, apakah ada strategi lain yang dapat digunakan.

Namun mengapa persiapan itu menjadi penting. Karena baik pengusaha, koruptor, dan maling, targetnya harus tercapai. Karena kalau tak tercapai atau gagal itu akan mengecewakan, baik bagi pengusaha dan seluruh perusahaan, baik malingnya dan mereka yang menadah hasil pencurian itu.

Oleh karenanya target setiap saat harus ditentukan. Target dan persiapan itu sudah tak bisa dipisahkan. Target itu yang memacu semangat, persiapan itu adalah medium menggerakkan dan menyalurkan semangat.

Sukses

Belakangan perasaan iri hati saya kambuh lagi. Perasaan iri terhadap kesuksesan orang lain dalam membangun usahanya. Bahkan ketika masa sulit seperti sekarang ini, mereka tetap masih bertahan dengan gegap gempita.

Beberapa klien saya dan seorang sahabat saya yang bekerja di hotel berbintang lima mengakui bahwa angka pendapatan mereka tahun ini jauh lebih baik daripada tahun lalu.

Tokek

Saya tak memungkiri bahwa setelah membaca surat kabar belakangan ini, beberapa perusahaan besar pun terimbas untuk menutup usahanya. Saya makin keder. Perusahaan raksasa saja bisa tumbang, bagaimana yang seukuran semut seperti usaha yang saya miliki bisa bertahan?

Semenjak iri hati dan rasa khawatir itu timbul dalam waktu yang bersamaan, maka saya mulai memanjatkan doa meminta bantuan Yang Mahakuasa untuk turut campur agar usaha saya jangan sampai gulung tikar. Mengapa baru sekarang meminta bantuannya? Karena selama ini kekhawatirannya masih bisa ditanggung sendiri.

Hidup saya selama ini yaaa. seperti itu. Kalau lagi perlu berdoa, ya saya berdoa. Kalau merasa mampu tanpa doa, yaa… saya tak berdoa. Kadang kalau sedang dalam keadaan waras, saya ini berpikir bahwa kehidupan spiritual yang saya jalani itu mirip seperti aksesori semata. Hanya sebagai pelengkap. Kadang dipakai, kadang tidak. Bergantung pada “baju” yang dikenakan.

Sukacita

Ritual membaca timeline di sebuah media sosial membuat mata saya tertuju pada sebuah kalimat. Bunyinya seperti ini. Don't let anyone steal your joy. Be happy guys! Saya terdiam sejenak meresapi kalimat itu, seperti daging dilumuri bumbu agar meresap ke dalamnya. Setelah sekian detik berlalu, saya mengangguk tanda setuju.

Baru saja manggut-manggut, tiba-tiba otak saya menyambar dengan pertanyaan. "Bagaimana caranya menjaga agar sukacita itu tidak dicuri? Emang ada yang mau nyuri sukacita seseorang? Buat apa? Kan tiap orang punya sukacitanya sendiri-sendiri? Ngapain mesti nyuri punya orang lain?"

Sukacita vs senang

Kalau seandainya saja Anda bisa merasakan bagaimana menjadi saya, Anda bisa sakit kepala. Otak bawel, nurani ceriwis. Semua hal dijadikan masalah untuk dipikirkan. Baca kalimat di media sosial dipikirkan, nanti orang mengucapkan sesuatu yang baik atau menyakitkan, saya pikirkan.

Nanti ada komentar yang nyeleneh sedikit, kepala saya mulai berolahraga pikiran. Melihat peristiwa sederhana yang memancing, kemudian dipikirkan. Acapkali saya terengah-engah karena olahraga yang dilakukan otak dan nurani yang suka nimbrung.

Kembali pada pertanyaan otak di atas, maka saya memulai pagi yang mendung dengan sebuah perenungan. Apakah joy itu? Menurut kamus bahasa Inggris online, joy itu mengandung arti a feeling of great pleasure and happiness atau something or someone that provides a source of happiness.

Sombong atau jujur

Adanya sosial media membuat orang bisa jadi soksial. Maksudnya, kehidupan sosial yang tiba-tiba menjadi sok. Kalau dahulu malu-malu kucing mengekspresikan pemikiran atau kekayaan pribadi, maka sekarang malah bertanya: ”Emang malu tu apaan?”

Pamer I

Di suatu pagi saya membaca postingan seseorang seperti ini. Dulu di SMA saya tukang berantem. Menghadap ke guru BP sudah seperti langganan koran. Tetapi mereka juga suka bingung kalau lagi terima rapor saya selalu juara. Jadi dunia harus tahu kalau saya ini pandai banget.

Postingan berikutnya seperti ini. Sedang duduk-duduk di business class lounge  (menyebut nama sebuah maskapai penerbangan internasional superkondang). Demikian pernyataan yang ingin disampaikan kepada dunia bahwa saya ini numpak pesawat di kelas bisnis.

Kadang, ada yang di kelas utama. Mau kepergiannya dibayarkan kantor atau simpanannya, itu tak masalah. Masalah utamanya semua orang harus tahu saya naik pesawat yang mahal.

Kalau melihat salah satu sosial media bernama Instagram, saya makin yakin bahwa pendapat saya di atas soal merasa malu sudah tak zamannya lagi benar adanya. Meminjam istilah sekarang ini, malu itu ke laut aje.

Soal Ibu

Setelah menyaksikan berulang kali serial televisi macam Desperate Housewives, mengapa baru sekarang ini timbul keinginan untuk bertanya kepada ibu saya, apakah ia dan teman-temannya melakukan hal serupa seperti dalam serial di atas itu?

Asumsi I

Sayang, ibu saya sudah tak berada di dunia ini sejak saya berusia tujuh belas tahun, di mana saat itu serial televisi yang saya sebutkan di atas belum diciptakan. Tetapi, di hari Minggu pagi sambil menyantap bubur gandum, saya menjadi penasaran tentang kehidupan ibu saya sebagai seorang wanita, ibu, istri, dan makhluk sosial.

Saya penasaran apakah ibu pernah berselingkuh dengan teman ayah atau suami temannya meski perselingkuhan itu terjadi di dalam hati saja. Sehingga, ketika ia sedang bermain cinta, ia tak membayangkan kegagahan suaminya, tetapi laki-laki lain.

Apakah ia sejujurnya tak pernah mencintai suaminya? Apakah ia pernah menyesal menikahi laki-laki yang saya sebut ayah itu? Apakah ibu saya seorang yang bawel, seorang yang mengeluh dan membuat suaminya merasa sebal?

Apakah ia seorang yang senantiasa menjadi pencetus peperangan dalam rumah tangga? Apakah ia juga menjadi penguasa suaminya? Apakah ia sekali waktu pernah mengucapkan bahwa suaminya kurang kaya dibandingkan suami orang lain, meski disampaikan dalam sebuah kalimat yang santun?

Siap?

Di suatu acara makan siang, sebuah pertanyaan dilontarkan oleh klien saya. ”Tahun baru ini kan gak akan lebih baik dari tahun kemarin, gimana persiapan elo menghadapinya? Aku denger beberapa majalah dan koran udah pada tutup tuh.”

Tidak bahagia

Makan siang itu adalah ritual yang menjadi favorit dibandingkan dua acara makan lainnya. Tetapi, kalau sambil makan siang saya dihadapkan dengan pertanyaan yang menyodok ulu hati, otak, dan nurani, saya suka rada gimana gitu.

Maka mulut yang baru saja menelan sambal terasi dan petai plus ayam bakar mengeluarkan jawaban untuk pertanyaan yang jleb itu dengan sekadarnya. ”Waduh… kalau aku mah dijalanin aja, Mbak. Pokoknya kerja yang bener aja. Yaah… diirit-iritlah semuanya. Dan kalau sudah begitu, ternyata harus tutup pintu, yaa… mau gimana lagi. Ya kan, Mbak?”

Saya tak tahu apa yang ada dalam pikiran si mbak mendengar jawaban itu, tetapi masalah lain segera timbul. Setelah perut sedikit terisi, bukannya malah ngantuk, saya malah jadi kepikiran. ”Apa ya persiapan gue tahun ini?” Itu adalah perasaan keder pertama saya di tahun baru ini. Kekederan itulah yang membuat saya mulai introspeksi.

Saya mulai dengan mempertanyakan diri sendiri tanpa melihat kamus bahasa Indonesia, apa makna dari persiapan. Buat saya, persiapan adalah sebuah tindakan yang dilakukan dengan kesadaran penuh, bisa jadi tidak di bawah tekanan atau malah terjadi di bawah tekanan yang bertujuan untuk menghadapi sebuah situasi.

Senin VS Jumat

Sesungguhnya saya sendiri tak tahu alasannya, mengapa saya selalu kesal ketika hari Senin tiba. Saya merasa bahwa segala bencana, baik dari keluarga, teman, urusan kantor, klien, maupun berita-berita yang bikin jantung lepas, banyak terjadi pada hari itu. Mungkin itu hanya terjadi untuk saya. Tapi, itu sungguh mengesalkan.

Senin

Saya sungguh tahu bahwa problema itu bisa hadir kapan saja dan tak peduli akan jatuh di awal minggu, tengah, atau akhir minggu. Tetapi, berdasarkan pengalaman hidup ini, kok, saya merasa hari Senin itu dijadikan seperti tong sampah. Dijadikan tempat pembuangan. Berdasarkan intuisi, manusia yang berada di sekitar hidup saya yang telah saya sebutkan di atas menyukai menumpuk problem untuk dibuang pada hari Senin.

Saya merasa mereka itu seperti telah mengatur bahwa hal-hal yang berat dan membebani sebaiknya dipecahkan pada hari Senin. Mereka tak berniat untuk membagikan kesusahan secara adil dan merata pada hari-hari lainnya.

Sejujurnya, kekesalan menyambut datangnya hari Senin selalu dimulai dari hari Minggu sore. Maka, kalau saya ditanya, dari tujuh hari dalam seminggu yang paling tidak saya sukai adalah hari Minggu, bukan hari Senin.

Karena Minggu itu berarti bukan waktunya untuk leyeh-leyeh, tetapi untuk mempersiapkan mental hari Senin yang bakal penuh dan padat dengan problem atau berita yang menyesakkan dada.

Sengsara

Waktu sedang mempersiapkan pikiran agar tenang dalam menulis artikel ini, sebuah berita datang di telepon genggam. Soal penurunan paksa penumpang di salah satu maskapai penerbangan Amerika, yang berakhir dengan kekerasan terhadap penumpang yang bersangkutan.

Beruntung dan nikmat

Setelah membaca, saya lumayan emosi, seperti air sedang mendidih. Saya marah sekali membaca berita dan melihat video yang disertakan dalam berita itu. Beberapa menit lamanya saya tak habis berpikir bagaimana peristiwa semacam itu terjadi. Seperti biasa saya mengomel sendiri, saya marah-marah sendiri, saya kesal sendiri.

Kemudian dalam keadaan mendidih saya teringat kejadian satu bulan yang lalu, saat muka saya dipukul oleh seorang tak dikenal dan ternyata tidak waras, di sebuah taman indah di kota Teheran. Teringat akan peristiwa yang terjadi secepat kilat itu, kekesalan saya makin bertambah.

Seperti biasa, saya mulai bertanya. Mengapa kejadian itu harus menimpa saya? Harus menimpa dokter di dalam pesawat itu? Mengapa saya dan dokter itu yang dipilih untuk dijadikan sasaran? Mengapa dari sekian puluh mungkin ratus penumpang, dokter itu yang kena sasaran?

Apa gunanya kejadian buruk menimpa seseorang? Apakah agar seseorang mendapat keberuntungan? Beruntung bisa naik kelas dalam kesabaran? Beruntung bisa mempraktikkan ajaran untuk memaafkan orang yang menyakitkan?

Beruntung bisa diubahkan menjadi orang yang semakin baik dan semakin sabar sehingga karena ia beruntung ia bisa mengatakan bahwa sengsara itu membawa nikmat? Atau, memang sialnya seseorang saja kalau ia harus ditimpa kemalangan tanpa perlu mencari alasan apa pun?

Sekretaris

 Dua minggu yang lalu seorang anggota staf saya menghubungi sekretaris seorang konglomerat di negeri ini. Singkat cerita, laporan yang masuk ke gendang telinga saya adalah, "Massss. ampunn deh. itu mbak galaknya setengah mati. Ketus abis. Belum juga selesai menjelaskan uda main potong aja. Ampunnn. ada orang kayak gitu."

Judes dan galak

Sejujurnya waktu saya meminta tolong, saya sudah mempunyai perasaan bahwa cerita di atas akan terjadi. Saya sudah beberapa kali mengalami hal serupa. Saya bukan seorang sekretaris, saya tak pernah membayangkan pekerjaan yang dihadapi setiap hari sebagai sekretaris. Justru karena itulah saya kemudian bertanya, mengapa seorang sekretaris bisa sejudes itu.

Pengalaman saya bekerja yang sudah lebih dari 20 tahun memberikan gambaran bahwa kejadian seperti yang dialami anggota staf saya umumnya terjadi kepada sekretaris orang-orang besar. Maksudnya besar itu ya perusahaannya, ya namanya, ya prestasinya. Kalau badannya, itu tak jadi masalah.

Saya sendiri bertanya-tanya mengapa mereka sampai harus bersikap seperti itu kepada orang kecil seperti saya. Saya ini berpikir, kalau bosnya punya nama besar, prestasi besar, kekayaan luar biasa, kan sejujurnya tak ada hubungannya dengan kebesaran sekretarisnya.

Karena sekretaris itu bermain di belakang layar meski saya tahu perannya sungguh penting. Karena beberapa di antaranya malah lebih galak dari seorang istri dalam menentukan jadwal hidup majikannya. Saya sendiri juga tak tahu apakah istri seorang pengusaha kaya raya nan ternama lebih kurang jeli ketimbang sekretarisnya untuk melihat kegiatan suaminya. Sungguh saya tak tahu.

Sekolah Kehidupan

”When someone puts you down and treats you badly, just remember there is something wrong with them, not you…Decent people will not go around destroying other human beings because they will respect others feelings!”

Internal+Eksternal=….

Itu adalah status seorang teman di salah satu media sosial. Benar. Bahwa orang itu memang sebaiknya tidak menyakiti, tetapi menghormati perasaan orang, seperti keinginan setiap manusia, bahkan termasuk manusia yang sedang menyakiti orang lain.

Tetapi, benarkah setiap orang mau berbuat baik? Mau menghormati perasaan orang? Ada yang tidak mau dan ada yang tidak tahu kalau perbuatan mereka adalah sebuah bentuk menyakitkan dan tidak menghormati sesamanya.

Saya bahas yang memiliki alasan tidak mau. Dulu saya pikir ajaran agama, etika sosial, nilai yang ditumbuhkan dalam keluarga dan sekolah mampu menjamin seseorang untuk tidak berbuat jahat. Tetapi saya lupa, kalau manusia itu dikasih otak. Otak adalah faktor internal, sementara pelajaran adalah faktor eksternal.

Gabungan faktor internal dengan faktor eksternal yang akan menjadikan seseorang ingin berbuat baik atau tidak. Pengalaman saya mengatakan, kalau porsinya lima puluh-lima puluh, semuanya aman, orang mengatakan seimbang.

Seharusnya...

Di sebuah situs, seorang politikus berkomentar bahwa kita se‎harusnya belajar dari Brasil, meskipun tuan rumah di Piala Dunia, tetapi mengakui kekalahan dan bersikap legowo. Saya sungguh tertarik dengan ungkapan seharusnya belajar dari, yang tertulis pada pernyataan itu.

Menurut ”ngana”?                                 

Kalimat itu sampai memaksa saya berpikir keras dan kemudian menyetujuinya. Memang seharusnya kita belajar legowo, seharusnya kita belajar disiplin dan menaati peraturan dalam mengantre, dalam berkendaraan, seperti di Negeri Matahari Terbit.

Seharusnya kita belajar supaya mengendarai kendaraan tidak sembarangan di tengah jalan seperti di beberapa negara yang pernah saya kunjungi, seharusnya saya itu belajar untuk tidak jadi pengkhianat, seharusnya saya ini belajar membuat perusahaan saya semakin maju setelah studi banding ke sana dan kemari.

Tetapi yang penting, setelah seharusnya saya belajar dari, hal apa yang harus saya lakukan kemudian? Kalau mengacu dari kalimat di atas, maka kalau saya dinasihati demikian, maka saya harus mencoba melakukannya, bukan?

Artinya saya seharusnya mengeksekusi nasihat itu. Jadi kalau saya tadinya tidak legowo seperti tim Brasil, maka sekarang harus belajar jadi legowo seperti mereka. Artinya seharusnya belajar dari, dimaknai dengan melakukan eksekusi yang konkret.

Sebuah Hubungan

Beberapa hari belakangan ini, saya melihat beberapa unggahan video yang menayangkan KDRT di media sosial. Seorang ayah menyuruh anak laki-lakinya merekam saat ia memukuli anak perempuannya yang masih kecil. Dalam tayangan video yang lain, seorang suami memberi bogem mentah kepada istrinya yang sedang menggendong anaknya.

Buta

Tentu setelah melihat tayangan menyayat hati, saya mulai berpikir. Mengapa hubungan toksik seperti itu dipertahankan, bahkan sampai memiliki anak? Saya ini tak pernah pacaran. Saya hanya sampai kepada tahap bergaul dengan banyak orang. Dalam pergaulan itu saya melihat sifat-sifat mereka.

Ada teman yang doyannya cuma janji mau mengajak makan sampai hari ini tak pernah kejadian. Ada teman yang kalau diajak makan tak pernah membayar. Ada teman yang egoisnya setengah mati. Ada teman yang baiknya setengah mati. Ada teman yang memang tak pernah ingin bertemu dengan saya dengan mengajukan sejuta alasan.

Ada teman yang cepat sekali mengatakan mau, tetapi menjadi orang pertama yang membatalkan maunya itu. Ada teman yang kikirnya setengah mati. Ada yang mudah sekali tersinggung. Ada yang sangat dominan dan menguasai pembicaraan, bahkan selalu menjadi penentu menu yang ingin disantap. Ada yang bawel dan berisiknya tiada tara.

Maka, saya heran, masakan orang pacaran tak bisa melihat dan merasakan sifat dan kebiasaan kekasih hatinya? Teman saya mengatakan bahwa mereka yang pacaran bisa merasakan dan melihat sifat dan kebiasaan pasangannya.

Seandainya

Saya membaca di sebuah media daring hasil penelitian seorang perawat yang menanyai beberapa pasiennya yang akan meninggal dunia, dengan sebuah pertanyaan, apakah penyesalan mereka yang terbesar?

Jawabannya dicatat dalam sebuah buku yang diberinya judul The Top Five-Regrets of the Dying. Dari kelimanya, saya tergelitik pada jawaban yang terakhir. I wish that I had let myself be happier.

Kemaruk?

Tiga hari sebelum tenggat tulisan ini jatuh, saya diberi kesempatan untuk menceritakan pengalaman singkat mengenang salah satu klien saya yang meninggal dunia, sebelum ia dimakamkan. Dua hal yang saya dapatkan dari klien saya selama saya mengenalnya adalah kerendahan hati dan keberanian untuk mendapatkan kebahagiaan yang dicarinya.

Saya tak akan bercerita panjang lebar bagaimana ia mendapatkan kebahagiaan itu, tetapi satu hal yang saya tahu, kebahagiaan yang didapatnya itu melalui sebuah pengorbanan yang tidak sedikit. Sampai pada akhirnya ketika saya berjumpa beberapa tahun lalu, ia berkata dengan wajahnya yang semringah, ”Sekarang, saya benar-benar berbahagia.”

Beberapa tahun setelah mendengar jawaban yang saya pikir klise itu, saya berjumpa lagi di rumahnya saat ia merayakan ulang tahunnya. Di sana, di siang hari itu, saya benar-benar melihatnya bahwa jawaban yang diberikannya itu bukanlah sebuah jawaban yang asal-asalan, seperti mungkin seringnya orang mengatakan saya baik-baik saja meski sama sekali tidak dalam kondisi yang baik.

sayyy

Judul itu adalah kepanjangan dari kata sayang. Biasanya digunakan sebagai ungkapan rasa cinta, baik asmara maupun non-asmara. Begini contoh yang saya lihat di media sosial. Pagi sayyyy....Lovee banget sayyy....

Muna

Pada situasi yang seperti apakah, Anda dan saya mengucapkan kata yang bermakna sayang? Yang jelas ketika hati Anda dan saya lagi senang, problema nyaris tidak ada dan ketika hubungan Anda dan saya serta pihak lainnya berlangsung baik-baik saja, bukan?

Tetapi, bagaimana kalau dalam perjalanan waktu sebuah hubungan asmara, pertemanan, bisnis, keluarga menjadi tidak baik? Apakah ”nyanyian” bermakna sayang itu masih akan disuarakan? Tentu pertanyaan saya ini konyol sekali. Sudah barang tentu Anda dan saya akan setuju untuk diam saja atau mengatakan: ”Ya ngapain juga....”

Pada waktu saya membaca sejuta kata sayyy di media sosial, saya teringat akan sejuta kemunafikan yang saya lakukan. Seingat saya, saya jarang sekali menggunakan kata itu untuk mengungkapkan sebuah rasa sayang.

Tetapi, membaca ekspresi itu, saya seperti diingatkan betapa banyaknya kesalahan yang saya buat dalam menilai manusia. Bahkan, saya diingatkan bahwa lidah saya ini benar-benar tak bertulang. Tidak ada saringannya, asal bicara saja.

Sejujurnya, di beberapa kejadian, saya benar-benar tidak menganggap mereka seseorang yang patut disayangi, tetapi saya melakukan perilaku yang munafik itu karena ada agenda tersembunyi, ada sesuatu yang saya harapkan dilakukan mereka untuk kebutuhan saya pribadi.