Beberapa hari lalu, saya bertemu dengan seorang teman yang bisa dikatakan tak terlalu dekat dan sungguh jarang kami saling bertemu. Selesai bercerita panjang lebar, kami berpisah. Pada malam hari, di hari yang sama, ia mengirimkan pesan berbunyi begini. ”Malam, Mas. Kalau kamu berdoa malam, aku akan doakan kamu juga. Kamu tenang saja, ya. Kita harus yakin. Punya keyakinan terhadap Tuhan itu sungguh membantu.”
Malas melangkah
Saya terharu menerima pesan seperti itu. Yang
mengharukan itu bukan isi pesannya, melainkan niat membantunya itu. Apalagi
dari orang yang tidak terlalu dekat. Ia menyisihkan sedikit waktunya untuk
mendoakan saya.
Setelah terharu, nurani saya yang seperti silet
mulai bernyanyi. ”Elo bisa kayak gitu, enggak? Pernah enggak elo doain orang
lain, apalagi yang enggak terlalu deket ma elo?” Tentunya saya diam. Diam
karena malu dan karena saya tahu kalau saya tak pernah melakukan hal itu.
Boro-boro mau mendoakan orang lain. Isi doa untuk
urusan saya pribadi saja sudah banyak, mungkin panjangnya seperti ular tangga.
Yaa…, tidak membayangkan kalau saya masih perlu mendoakan orang lain. Apalagi
yang baru saya kenal.
Lha wong yang sudah lama saya kenal saja tak pernah saya doakan. Kalaupun saya doakan itu biasanya atas permintaan, dan bukan datang karena kesadaran sendiri. Kalaupun itu datang dari kesadaran sendiri, biasanya kebanyakan karena saya sedang butuh sesuatu dengan orang itu, atau sedang mengincar sebuah proyek bernilai jut-jut atau mil-mil.
Nah, kalau untuk urusan mengincar dan ada perlunya,
aktivitas doanya bisa tak berhenti. Satu hari saja bisa tujuh kali, dan itu
belum termasuk kalau sedang di dalam taksi, sedang dalam antrean pemeriksaan
dokter.
Semuanya itu masih didukung dengan rengekan-rengekan
lebay dan kemudian menggunakan suara yang memohon-mohon dengan sangat. Kalau
perlu air mata harus keluar, akan saya keluarkan. Saya ini punya bakat bermain
sandiwara.
Karena kemampuan itu, dulu saya ingin menjadi pemain
sandiwara, tetapi gagal total. Ternyata saya pandai bermain sandiwara kehidupan,
tak mampu bermain sandiwara-sandiwaraan.
Kalau perlu mesti ke rumah ibadah beberapa kali,
untuk bisa terkabulnya permohonan itu, akan saya lakukan. Bala bantuan pun akan
saya datangi. Meminta bantuan doa dari beberapa teman, pendeta, dan terakhir ibu
saya. Karena doa ibu itu buat saya yang paling tokcer. Meski sekali waktu teman
saya mengingatkan kalau ibu saya bukanlah ibu kandung.
Saya hanya berpikir sederhana kalau dia berstatus
ibu. Mau kandung atau mau tidak kandung, itu tidak penting meski sesungguhnya
saya juga tak tahu apakah doa yang dipanjatkan ibu kandung dengan yang tidak
kandung akan berbeda hasilnya.
Langkah kecil
Nurani saya bernyanyi lagi. Saya pikir ia hanya
sekali bernyanyi dan setelah itu diam. ”Dari pada elo berkeluh kesah dan nyindir
di sosial media soal segala macam, mending elo coba deh mulai sekarang doain
yang elo keluhkesahin itu, yang elo sindir tanpa henti tiap hari, tiap detik.
Nyindir mulu mah bukan usaha ekstra. Ngedoain itu usaha ekstra. Doa tu gak
banyak tenaga yang dibutuhkan. Sederhana, tapi mujarab.”
Di hari yang sama setelah bertemu teman di atas,
saya menghadiri rapat dengan salah satu bank. Dalam rapat itu tersebutlah
sebuah nama seorang wanita, yang kehidupannya setiap hari hanya dipenuhi untuk
membantu sesama manusia. Seorang manusia yang mampu menepiskan kepentingan pribadinya
di atas segala-galanya.
Pulang dari rapat itu dan setelah dicaci-maki dengan
suara nurani super bawel, saya jadi bertanya bagaimana caranya mengurangi
sedikit saja kadar keegoisan dalam diri saya. Bagaimana, ya, caranya untuk bisa
sedikit saja meluangkan waktu untuk memikirkan orang lain tanpa ada alasan di
baliknya?
Kalau saya katakan sedikit itu bukan karena saya tak
mau banyak berubah, tak mau banyak memberi, tetapi saya tahu diri saya sendiri.
Yang sedikit saja belum tentu berhasil. Jadi, daripada sok bercita-cita terlalu
lebay,saya mau mencoba langkah kecil saja untuk memulai yang sedikit itu.
Eh…, baru saja saya menulis keinginan itu, telepon
berdering dari seorang teman yang butuh pertolongan. Singkat cerita, ya,
menangis dan terakhir ia meminta saya untuk mendoakannya. Setelah percakapan di
telepon itu berakhir, saya berbicara dengan diri sendiri, gila ya, baru aja mau
mulai yang sedikit, eh.. langsung mendapatkan latihannya.
Pagi itu, sebelum saya menyetor naskah ini, saya
berdoa untuk teman dekat saya itu. Katanya kesuksesan besar itu dimulai dari
langkah yang kecil. Langkah kecil untuk menyisihkan waktu untuk membantu,
langkah kecil untuk membantu orang lain, langkah kecil untuk membantu orang
lain yang tak hanya dekat, tetapi yang mungkin tak saya kenal. Dan langkah
kecil untuk menggunakan doa sebagai senjata ampuh membantu, selain membantu
secara fisik.
Sehingga pada suatu hari, kalau saya bisa sejahtera
sebagai manusia, itu karena sebuah langkah awal yang kecil untuk memiliki waktu
membantu orang lain, dan menggunakan doa sebagai sarana utamanya. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar