Sudah lama saya punya kesenangan menonton film. Mau di layar lebar atau layar yang tidak lebar. Mau di dalam pesawat, di laptop, di bioskop, atau di rumah. Selama ini, saya berpikir kalau para aktor yang bermain dengan mengagumkan itu hanya karena mereka memiliki bakat yang luar biasa.
Tetapi tiba-tiba saja, entah datangnya dari mana,
tebersit pemikiran lain kalau tak hanya bakat semata yang membuat mereka
berakting dengan dahsyat, tetapi apa yang diperankan itu memang seperti sifat
asli mereka. Sehingga hasil akhirnya mampu membuat saya berdecak kagum atau
menjadi jengkel setengah mati.
Bakat dan tabiat
Saya berpikir yang paling jago dalam hal ini adalah
casting director-nya. Mungkin mereka itu bukan hanya membaca jalan cerita,
kemudian mencari pemeran yang sesuai, tetapi mereka memang sangat mengenal para
pemain itu dalam kehidupan setiap hari.
Para casting director itu mengenal bagaimana
perilaku para aktor ketika adegan dibuat, ketika waktu rehat diberikan, ketika
mereka mau menandatangani kontrak, ketika menit pertama mereka menghubungi
manajer para aktor itu. Selain itu, bisa jadi, mereka juga mendengar cerita
dari sumber lain, bagaimana perilaku mereka yang sesungguhnya.
Bisa jadi ada aktor yang begitu rendah hati, ada yang bertingkah seperti dewa, atau ada yang memiliki tabiat di antara keduanya. Kadang bisa rendah hati, kadang bisa menjerit seperti manusia yang seolah memiliki jagat raya ini.
Dari tabiat keseharian itu, plus bakat yang
diberikan Tuhan kepada mereka, para aktor menjadi begitu memesona di setiap
layar yang saya saksikan. Apalagi kalau bertepatan menyaksikan penghargaan
tertinggi di dunia film, di mana ada banyak kategori yang dikompetisikan,
terutama kategori pemeran utama terbaik.
Saya teringat beberapa tahun lalu, saya ditawari
untuk bermain film, menjadi seorang guru tari. Waktu saya bertanya mengapa
mereka memilih saya untuk peran itu, salah satu orang yang dekat dengan saya
mengatakan: "Mulut elo yang bawel dan gak sekolahan itu langsung hadir di
kepala gue pas lagi baca jalan ceritanya. Udah dehh... elo yang paling passss
banget sama peran ini."
Demikianlah saudara-saudari sebangsa dan setanah
air. Mereka tak perlu bersusah payah mencari pemerannya karena mereka bisa
melihat dari dekat bagaimana saya mengelola tabiat dalam melakoni kehidupan
ini. "Gue yakin elo bisa memerankan dengan sepenuh jiwa karena itu emang
elo banget," komentar teman yang dekat itu.
Pemeran utama terbaik
Setiap kali saya menyaksikan acara penghargaan insan
film di layar televisi, saya membayangkan kalau saya yang memenangkan kategori
pemeran utama. Penghargaan itu pasti bukan hanya untuk bakat yang saya miliki,
tetapi secara tidak langsung juga sebuah penghargaan terhadap tabiat saya yang
sesungguhnya.
Dan setiap kali saya melihat mereka memberikan kata
sambutan di saat mereka memenangkan salah satu kategori, saya membayangkan
menjadi pasangan hidup mereka. Apa rasanya memiliki pasangan pemain watak yang
piawai, yang kawakan, selain secara fisik mereka begitu memesona?
Apakah hubungan asmara kami itu bisa berlangsung
wajar atau kadang disisipkan sebuah adegan sandiwara dari sebuah cerita yang
pernah mereka lakoni di layar lebar? Apakah pernikahan kami itu buatnya adalah
sebuah panggung sandiwara?
Sehingga karena saking jagonya berakting, saya akan
bingung apakah kalau pasangan saya itu bahagia atau kesal, ia benar-benar
bahagia dan benar-benar kesal. Dan yang terutama, apakah cinta yang
diberikannya kepada saya itu benar tulus dari hati, dan bukan dari sebuah skrip
yang sedang ia hafalkan di luar kepala dan di luar hatinya?
Itu mengapa salah satu kegemaran saya adalah
mengamati perilaku manusia. Karena saking senangnya mengamati, bukan hanya
melihat saja, acapkali saya bisa "membaca" siapa mereka sesungguhnya.
Biasanya, saya memperhatikan bola matanya, kemudian
merasakan gelombang yang dipancarkan dari dua bola mata itu. Perilaku bisa saja
mengecoh, tetapi pancaran sinar bola mata itu sungguh pasti, seperti ketika
satu ditambah satu, itu pasti menjadi dua.
Maka benarlah kalau mata itu dikatakan jendela hati.
Sebuah jendela yang sama seperti cermin menampilkan hal yang terdalam, yang tak
bisa disembunyikan seseorang. Maka mungkin saya tak perlu khawatir kalau
seandainya di suatu hari saya berpasangan dengan seorang pemain watak. Saya
akan melihat ke jendela hatinya yang terbuka dan dapat dibaca, dan bukan pada
perilakunya yang terbuka tetapi susah untuk dimengerti.
Nah, sekarang saya bertanya pada Anda semua.
Kira-kira peran dan tabiat macam apa yang paling pas untuk Anda mainkan agar
hasil tayangan film di layar kehidupan Anda ini bisa begitu memukau?
Sehingga di suatu hari kelak, ketika Anda hadir pada
sebuah penganugerahan tertinggi di akhir sebuah perjalanan hidup, Anda akan
membawa pulang sebuah penghargaan bernama pemeran utama terbaik. Dan di saat
Anda menerimanya, dunia dan surga bisa berkata dengan sorak sorai: "Ia
memang pantas menerimanya." ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar