Saat saya sedang mengerjakan tulisan ini, hari guru sedang diperingati. Awalnya saya tak tahu bahwa hari itu adalah hari guru. Saya baru membaca di sebuah pajangan di tepi jalan saat menuju ke sebuah pertemuan. Gara-gara melihat pajangan itu, hati yang tenteram mendadak bergejolak. Serius.
Kekesalan tiba-tiba menyelinap ke dalam hati. Ucapan
itu melayangkan saya kepada pengalaman menjadi murid dengan pendidik yang
melecehkan tingkat intelektual murid. Pagi itu saya diingatkan kembali kepada
trauma di sekolah dulu.
Sungguh saya sesali kalau mata saya sempat melihat
pajangan di tepi jalan itu. Saya tak tahu apakah guru saya pernah menyesali
telah mendidik dengan cara yang membuat seorang anak menjadi trauma sampai di
hari tuanya.
Saya tak pernah menjadi guru. Berniat untuk sekolah
guru saja tidak. Meski sekarang saya mengajar seperti guru, tetapi bukan
menjadi pengajar yang saya sukai. Saya suka melihat mereka yang saya ajari
menjadi tahu dari tak tahu.
Tanggung jawab
Saya juga tak tahu apakah guru-guru saya dulu kalau
sehabis mengajar melakukan semacam perenungan terhadap murid-muridnya,
khususnya melihat bahwa dalam satu kelas tak semua murid memiliki tingkat
intelektual yang sama.
Apakah sebagai pengajar mereka menyadari bahwa
dengan tingkat kepandaian yang tidak sama, seyogianya mereka tak mengajar
dengan pendekatan yang sama. Kemudian memberi predikat juara kepada yang
superpandai dan yang tidak pandai tak dapat apa-apa. Sungguh saya tak tahu
pelajaran apa saja yang mereka dapatkan selama mengenyam pendidikan guru.
Sebagai murid, saya datang ke sekolah untuk belajar sesuatu. Sejujurnya sejak kelas 1 SD saya sudah tak berniat sekolah. Tetapi yaa… mau diapakan lagi. Saya tak punya keberanian seperti teman-teman bule saya yang meninggalkan sekolahnya karena merasa tak cocok.
Tanggung jawab seorang murid adalah mendengarkan apa
yang diajarkan dan berusaha mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan supaya
menjadi tahu, dan bukan menjadi pandai.
Nah, kalau seorang murid kemudian tak mengerti apa
yang diajarkan bukan karena malas, tetapi karena memang diciptakan dengan
tingkat intelektual yang tidak sama, sehingga memerlukan waktu lebih lama untuk
mengerti, bukankah itu tanggung jawab seorang guru untuk peka terhadap
muridnya?
Harus sama
Semua orang punya tanggung jawab. Saya sebagai murid
bertanggung jawab terhadap diri saya sendiri agar saya bisa melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, meski pergi ke sekolah itu buat saya
adalah sebuah siksaan.
Bisa jadi di masa sekolah dulu, kepala sekolah dan
guru-guru saya itu tak tahu teknik bagaimana mengajarkan sesuatu yang tak
menarik, dengan pendekatan yang menarik. Dengan begitu, murid seperti saya ini
bisa cepat mengerti, dan bukan malah karena kesal melihat saya tak bisa
mengerti secara cepat, kemudian mengatai saya seperti ayam tak punya otak.
Saya jadi berpikir, mengapa saya yang jadi sasaran
pelampiasan kekesalan seorang pengajar, kalau sebagai kepala sekolah atau guru,
mereka tak bisa menawarkan pendekatan mengajar yang membuat muridnya betah, dan
membuat dirinya sendiri tak menjadi kesal.
Saya bertanggung jawab terhadap orangtua saya yang
sudah menyekolahkan saya dengan biaya sekolah yang tidak murah sama sekali
bahkan pada masa itu. Tanggung jawab saya juga kepada guru yang telah
mengorbankan dirinya untuk mengajarkan saya yang bodoh ini.
Apa tanggung jawab seorang guru? Bukankah pepatah
mengatakan it takes two to tango? Kalau saya sampai dianggap bodoh, bukankah
itu juga karena kebodohan seorang guru sampai saya tak bisa mengerti dengan
baik dan cepat? Mengapa seorang guru memaksa saya harus pandai berhitung lawong
Tuhan saja tak mempersenjatai saya dengan kepandaian berhitung?
Karena saya tidak canggih, saya diberi nilai merah
seperti darah. Bukankah nilai merah itu juga menggambarkan sebuah nilai yang secara
tidak langsung ditujukan kepada guru sebagai pendidik yang gagal? Apakah
seorang guru ketika melihat muridnya mempunyai nilai merah atau bahkan tak naik
kelas akan merasa sedih dan merasa bersalah tak mampu membuat muridnya naik
kelas?
Sekarang saya mau bertanya, mengapa gambar
pemandangan yang dilakukan oleh semua murid di negeri ini harus berupa dua
gunung dengan matahari di tengahnya? Mengapa pemandangan harus berakhir seperti
itu? Masak semua murid di negeri ini dipaksa mempunyai hasil yang sama? Apa
guna dan bagusnya kalau bisa sama?
Apakah melihat hasil gambar seperti itu, para guru
merasa bangga karena berhasil memenuhi standar menggambar, atau malah sedih
karena gagal memberi kesempatan untuk berkreasi sesuai dengan kemampuan murid?
Saya juga tak tahu. Saya tak pernah menanyai guru-guru saya.
Nah, kalau sekarang ini, kita menjadi susah menerima
perbedaan, apakah semuanya bermula dari gambar dua gunung itu? Saya tak tahu.
Sungguh saya tak tahu. Yang saya tahu sekarang, persahabatan saya yang bertahun
lamanya itu renggang karena sebuah perbedaan. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar