Selasa, 01 Juli 2025

Yaelah

Waktu seorang staf saya mengunggah foto dengan keterangan yang menggambarkan bahwa ia tak mampu menaiki tangga sebanyak 250 di Gunung Bromo, tiga temannya memberikan komentar seperti ini.

Satu orang mengomentari seperti ini. "Gakberasa, kok." Satu lagi sangat singkat. "Jompoooo!" Dengan tambahan emoticontertawa di belakangnya. Yang terakhir menulis dengan tajam. "Yaelahhh cumasegitu doang deh tangganya. Tanggung, deh!"

Aku bisa, kamu bisa

Sungguh saya tertarik pada ketiga komentar itu, dan komentar itulah yang memberi ide untuk menulis dan menyuguhkannya pada bapak, ibu, dan saudara-saudari sekalian. Saya tak mengenal ketiga orang yang memberi komentar itu. Saya juga tak mewawancarai mereka mengapa mereka sampai menulis komentar semacam itu.

Saya berasumsi bahwa komentar yang pertama bertujuan meyakinkan bahwa menaiki tangga dengan anak tangga sejumlah 250 itu tak akan membuat seseorang kelelahan, dan itu akan dijalani dengan sangat cepat sampai tak berasa.

Ya... sudahlah

Itulah keluhan yang dituliskan oleh seorang wanita di sosial media, pada pagi hari ketika saya lagi bersemangatnya menyambut hari. Kemudian diikuti dengan satu kalimat yang saya percaya juga hadir di kepala Anda dan saya ketika kekecewaan mau tak mau harus diterima. Tuhan tahu yang terbaik. Terima kasih Tuhan.

Kusut

Keluhan dan kalimat penutup itu membuat saya jadi berpikir, mengapa selalu demikian terjadi. Berkeluh terus berakhir dengan Tuhan tahu yang terbaik. Seharusnya keluhan atau kekecewaan tak perlu terjadi kalau sejak awal seseorang menyadari bahwa Tuhan itu selalu tahu yang terbaik, bukan?

Selanjutnya, saya sungguh tak bisa mengerti, mengapa ia berterima kasih, la wong dari keluhannya itu saja saya bisa merasakan kekecewaan yang begitu dalam. Maka saya mulai berasumsi. Mungkin ia berterima kasih karena pada akhirnya ia bisa berserah kepada Tuhan dan tidak lagi bersikeras menggantungkan harapan kepada kekuatannya.

Kemudian saya bertanya, apakah ucapannya itu benar datang dari lubuk hati yang mengerti atau diucapkan sebagai rasa hormat kepada Tuhan, meski sejujurnya hatinya tak rela untuk menyerah kalah?

Saya tak menemukan jawabannya, tapi malah jadi berpikir. Apakah saya perlu mengeluh atau saya terus berjuang dengan kesabaran, sampai apa yang saya inginkan tercapai, karena saya tahu bahwa Tuhan bisa melakukan segala hal. Bahkan, untuk sesuatu yang menurut manusia sudah tak masuk akal. Meski ada risikonya, saya akan disebut manusia buta yang gila.

War

Berkecukupan tidak berarti berbahagia, kebahagiaan sesungguhnya adalah hidup dalam ketenangan. Demikian pesan yang dikirimkan seorang teman yang setia nyaris setiap pagi bertahun lamanya mengirimkan pesan-pesan mulia yang memberi kekuatan.

Perjuangan

Beberapa minggu sebelum itu, saya membaca kalimat yang ditulis seorang teman di media sosial miliknya. ”Make love not war”. Seperti biasa, setelah membaca pesan-pesan itu saya manggut-manggut tanda setuju. Tetapi, karena kebiasaan sifat yang telat mikir, maka ketika tak sengaja saya membaca kembali pesan-pesan itu, mulailah otak ini berpikir keras.

Otak yang tak bisa berhenti berpikir itu mengawali dengan sebuah pertanyaan. ”Bukannya peperangan, pertikaian, permusuhan awalnya terjadi gara-gara cinta ya, Bro? Jadi semakin elo make love semakin make war.” Pertanyaan yang begini ini suka menghasilkan sakit kepala.

Tiga tahun lalu saya pernah jatuh cinta. Dan hubungan kami lebih dari sekadar sahabat. Sekali waktu saya memperkenalkannya kepada salah seorang teman dekat. Singkat cerita, saya merasa sejak perkenalan itu terjadi, ia juga menaruh perasaan yang sama seperti saya.

Waktu

“Apa kabar? Sudah lama enggak jumpa. Sehat, kan?” Demikian kira-kira pesan yang saya terima dari seorang dokter di suatu Selasa pagi yang berhujan. Awalnya saya berpikir ia akan memberi tahu satu berita penting yang mungkin akan membuat saya deg-degan. Ternyata, pak dokter, demikian saya memanggilnya, hanya ingin menanyakan keadaan saya saja.

Egois dan basa-basi

Tetapi, selang beberapa menit, suara nurani saya bersuara. Kapan kamu terakhir menanyakan kabar pak dokter? Suara yang datang dari nurani itu acap kali membuat jantung tak hanya deg-degan, tetapi juga nyaris lepas.

Saya tak pernah menyediakan waktu khusus hanya untuk menanyakan kabar ataupun keadaan si pak dokter. Biasanya, saya hanya menyematkan kalimat apa kabar sebagai kalimat pembuka sebelum saya menanyakan nasihatnya tentang penyakit yang sedang saya alami. Sebuah kalimat penuh basa-basi.

Setelah saya mendapatkan apa yang saya inginkan, maka ada kalimat penutup sebagai sebuah ungkapan terima kasih. Itu pun sebuah ungkapan basa-basi. Jadi, saya memulai dengan basa-basi dan mengakhiri dengan basa-basi. Saya ini pada dasarnya egois dan suka basa-basi.

Pada 25 Desember lalu, ketika orang merayakan hari Natal bersama yang dicintai, saya berada dalam kesendirian di rumah. Tak ada acara ataupun kegiatan yang saya lakukan. Kira-kira pukul 9 pagi, seorang teman yang tak merayakan Natal mengirimkan pesan. ”Mas, yuk, aku ajak kamu makan siang sama pacarku. Kamu enggak ke mana-mana, kan?”

Variasi

Seseorang yang saya temui di sebuah chat room bertanya, apakah saya mau menjadi kekasihnya. Pertanyaan itu membuat rasa penasaran saya timbul dan bertanya kembali, mengapa ia sampai melakukan penawaran semacam itu. "Cari variasi, Mas, supaya hubungan nggak jadi hambar." Demikian ia menjelaskannya.

Bumbu

Setelah keluar dari ruang mengobrol itu, saya jadi kepikiran. Benarkah agar sebuah hubungan menjadi tidak hambar, berselingkuh itu menjadi salah satu solusi jitu? Mengapa ketika hubungan itu menjadi hambar, solusinya adalah mencari di luar rumah?

Bukankah ketika hubungan disepakati untuk dijalani, maka segala risiko harus ditanggung dua belah pihak. Bukankah penyebab terjadinya keadaan hambar atau tidak hambar adalah akibat dari keputusan yang dibuat dari dalam rumah oleh dua manusia?

Nah, kalau itu terjadi dari dalam rumah, mengapa mencari jalan keluar di luar rumah? Atau apakah tindakan mencari ke luar rumah itu benar adanya karena bisa jadi di dalam rumah sudah tak ada lagi ditemui jalan keluarnya? Begitukah?

Bagaimana kalau kemudian yang di dalam rumah merasa bumbu yang dari luar enaknya setengah mati dan tak bisa dilepaskan? Atau bagaimana kalau setelah belanja bumbu di luar, beberapa waktu kemudian, bumbu itu terasa hambar? Apakah solusinya akan memiliki pola yang sama, artinya mencari lagi bumbu yang lain?