Selasa, 03 November 2015

Menyindir

Hari Selasa malam, saya menyaksikan tayanganLate Show with David Letterman. Sebuah tayangan lucu nan nyelekit. Nyaris semua pribadi kondang di dunia pernah tersindir dengan komentarnya. Dari Donald Trump sampai Osama bin Laden.
Belum lagi kalau ia sudah mulai membacakan informasi penuh tawa gelak dan sindiran itu, yang dituangkan dalam beberapa lembar kertas di sesi fun facts-nya. Hal yang juga menjadi ciri khasnya di sesi itu—meski buat saya jorok—adalah saat ia menggunakan air liurnya untuk membuka lembar demi lembar kertas berwarna biru muda itu.
”Enaaaak…. Gila”
Sindiran dipakai agar manusia yang disindir menjadi ngeh kalau disindir dengan tujuan akhirnya manusia itu kembali ke jalan yang benar. Supaya tidak terlalu kasar menyindirnya, dipakailah cara lebih manusiawi, salah satunya dengan guyonan.
Bahasa atau gerak yang mengundang tawa. Kalau manusia disindir, reaksinya hanya dua. Nrimo atau melawan. Kalau nrimotak usah dibicarakan karena tak mengundang friksi. Nah, kalau marah, akan jadi perkara.
Pertanyaannya kemudian, mengapa marah? Ya... karena tersindir. Mengapa tersindir? Ya… karena hal yang disindirkan memang dilakukan dan celakanya ketahuan. Pertanyaan lagi, mengapa mesti marah kalau ketahuan? Bukankah itu tidak direkayasa seperti gosip karena ada buktinya? Marah kan kalau dituduh tanpa bukti atau tanpa diketahui. Jawabannya, karena manusianya sakit hati, tidak suka kalau ketahuan melakukan hal yang diinginkan dirinya sendiri, tetapi tak diinginkan orang lain.
Sebetulnya saya menulis parodi ini bukan untuk Anda, tetapi untuk saya sendiri. Saya sedang curhat dengan diri saya sendiri mengenai masalah sindiran.
Waktu saya disindir karena berselingkuh, saya jengah. Saya tak suka kesenangan saya diusik, padahal teman-teman saya sedang menasihati secara tak langsung agar saya cepat-cepat sadar.
Saya marah karena mereka membuat saya berpikir saya melakukan kekeliruan yang secara sadar saya tahu, tetapi saya tak bisa melawan karena enak. Saya paling tak suka diingatkan kesalahan yang saya sendiri sudah tahu. Itu menyebalkan.
Saya disindir karena perbuatan saya tak senonoh. Saya sebagai manusia dipersenjatai dengan otak yang bisa membuat yang tak senonoh menjadi beberapa nonoh. Saya ingat masa memasuki dunia remaja, membaca buku stensilan dan film biru kemudian menjadi kolektor. Dari sana otak saya berkembang ke segala arah.
Sekarang, apa yang saya tonton masa remaja terjadi di depan mata. Dari yang biasa sampai luar biasa. Kemudian saya tanya teman saya mengapa melakukan hal-hal itu, mereka menjawab ringan, ”Enak gila….”
”On and Off”
Enak gilalah yang membuat manusia membiarkan otaknya berpikir kemudian melatih membungkam nurani. Tak hanya soal seks, tetapi juga membunuh, meracuni tubuh, korupsi, cari muka, menjilat dalam segala cara dan bentuk. Apalagi enak gila itu dijadikan nasihat atau bentuk a helping hand bagi mereka yang butuh pertolongan melupakan sakit hati dan atau sakit segalanya dengan cepat, tanpa harus bertele-tele kelamaan.
Saya dengan otak saya bisa memanipulasi sedemikian rupa dan mengatakan hasil manipulasi bukan manipulasi, tetapi rasionalisasi. Kemudian setelah bisa masuk di rasio, tentu diterima dilanjutkan dengan kelihatan masuk akal, dan berakhir menjadi tak apa-apa alias kebiasaan.
Dan ketika sudah menjadi kebiasaan, kalau disindir, reaksinya hanya: pertama, marah; kedua, bisa jadi bebal karena sudah terbiasa, tak merasa lagi salahnya. Malah bisa menjadi bumerang dan mengatakan yang menyindirlah yang salah.
Manusia dengan akalnya suka curang. Kalau yang enak dirasionalkan dan diterima, yang enggak enak seperti membuktikan api itu panas tak mau membakar diri. Mereka bisa mengatakan, ”Gila apa. Goblok bener.”
Tetapi kalau korupsi, berselingkuh, menyogok dan menyodok, sudah tahu salah, bukan tempatnya tetapi dirasionalkan dengan kalimat macam ini. Manusia itu penuh kelemahan dan kecurangan, maka itu ndak apa-apa. Itu sangat manusiawi. Apalagi ada tambahan komentar, ”Enak, gila….”
Setelah saya menyaksikan tayangan penuh sindiran itu saya bertanya kepada diri sendiri. Saya ini mau menjadi manusia yang membiarkan otaknya berpikir tanpa nurani, atau dengan nurani, atau hanya kadang-kadang saja dengan nurani. Kalau saya sampai disindir, siapa pun itu, sejujurnya saya harus berterima kasih ketimbang naik pitam.
Mereka yang menyindir berada di luar kehidupan saya, pasti mereka lebih bisa melihat secara obyektif saya sudah membutuhkan pertolongan. Karena sindiran mereka itu adalah bukti nurani saya lagi off. Saya baru tahu on and off bukan cuma istilah mematikan dan menghidupkan lampu, ternyata bisa untuk nurani juga.
Masalahnya, saya mau memanfaatkan fasilitas on and off itu atau tidak. ”Yaaa... saya mau memanfaatkan. Memanfaatkan untuk meng-off-kan, maksudnya,” nurani saya langsung berteriak sebegitu kencangnya sampai saya malu sendiri karena saya menulis parodi ini seperti manusia yang sok suci, ternyata suara terdalam saya tak demikian adanya.

Nyelak

Malam minggu lalu saya menghadiri acara pernikahan seorang teman di sebuah hotel berbintang. Seperti biasa, menghadiri acara semacam ini menuntut banyak kesabaran, terutama soal mau mengalah menunggu dalam antrean, tanpa berniat menyelak alias nyeruduk sak enak udele dewek. Antreannya hanya dua. Untuk bersalaman dan untuk acara mengisi perut.
Selak 1
Nah, saya diselak di kedua antrean itu. Yang pertama, saat sedang berdiri dalam antrean menuju ke pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Seorang wanita dan temannya berdiri di samping saya. Antrean itu mirip dua jalur jalan raya, dan semakin mendekati pelaminan dua jalur itu mengerucut dan berakhir dengan satu jalur.
Dua wanita yang berdiri di samping saya dengan busana terusan itu mulai mendekati tempat saya berdiri, kami bergerak sedikit demi sedikit. Tanpa saya sadari keduanya sudah ada di depan saya.... Jadi, mirip mobil mau menyelak dari kiri ke kanan tanpa ba, bi, bu.
Entah mengapa, setelah penyelakan terjadi antrean tak bergerak, cukup lama. MC mengusulkan, daripada menunggu lama dalam antrean para tamu dipersilakan mencicipi makanan yang tersedia. Ide yang dilemparkan si MC tampaknya diaminkan salah satu wanita penyelak tadi. Maka, ia keluar dari jalur yang macet total itu, sementara temannya tetap berdiri dalam jalur secara tertib.
Tak lama kemudian si wanita penyelak itu masuk lagi dalam antrean yang sudah mulai bergerak dan ia langsung berdiri di depan saya tanpa mengatakan apa pun. Saya jadi bingung, kok keluar-masuk jalur seperti di rumah sendiri.
Saya membayangkan wanita ini seperti Kopaja di jalan raya. Berhenti kapan saja, di mana saja. Mau diklakson juga pura-pura budek.
Selak 2
Setelah mengantre menyalami kedua mempelai, tiba giliran saya mengantre untuk mengisi perut. Sudah lama saya ini mendisiplinkan diri untuk tidak makan ini dan itu mengingat penyakit yang tak memungkinkan buat makan ini dan itu. Tetapi, malam itu saya berpikir, sekali ini saya mau melanggar aturan. Bukankah aturan itu dibuat umumnya untuk dilanggar dan keberadaan dokter di dunia ini adalah untuk menolong manusia macam saya?
Meminjam komentar seorang teman, hidup itu cuma sekali, jadi harus dinikmati. Saya memaksa diri setuju, padahal komentar itu keluar dari mulut yang ginjalnya walafiat, yang tak pernah mengenyam rasa hidup dan mati di ruang operasi, sementara ginjal saya sudah awut-awutan.
Yaa… saya tetap menyetujui pendapat itu. Namanya juga manusia dan ada istilah manusiawi yang diciptakan manusia untuk mengesahkan yang tidak sah itu. Sama seperti kalimat nobody is perfect yang diciptakan manusia untuk mengamini pembenaran dari kesalahan.
Padahal, manusia itu sendiri yang juga menciptakan kata perfeksionis, atau seorang desainer yang mengatakan kepada saya kalau ia bekerja semuanya harus sempurna. Jadi, saya semakin bingung bagaimana bisa membuat yang sempurna dari manusia yang tidak sempurna. Ono-ono wae.
Maka, saya melangkah ke meja dengan tulisan besar ”bebek panggang”. Makanan yang diharamkan untuk jenis golongan darah saya, tetapi nikmat buat lidah. Yaa… saya juga heran mengapa yang nikmat-nikmat itu umumnya selalu menyerempet yang haram-haram.
Tiba di area bebek panggang itu, antrean juga tak kalah panjangnya seperti tembok China. Yaa… namanya juga sudah kebelet dengan yang haram, saya mengantre dengan sabar dan perut keroncongan serta air liur mengalir makin deras.
Sekitar 10 menit mengantre, tiba-tiba seorang wanita berbaju merah berdiri di samping saya di luar jalur yang semestinya. Semua orang tertib mengantre, ia dengan tenang berdiri di samping dan bergerak maju bersama saya.
Kali ini, saya tak mau mengalah, jadi saya menghalanginya dengan memasang badan kerempeng ini. Ternyata berhasil. Saya puas, setelah diselak, giliran saya menyelak dan makan bebek panggang.
Sambil makan bebek, saya berpikir, mengapa orang mau menyelak? Mengapa susah mengantre? Mengapa kok enggak bisa berpikir kalau saya yang diselak, mau enggak? Senang enggak? Mengapa kok sengaja membuat orang lain marah dan menjadi kesal?
Dan mengapa dilakukan di sebuah acara yang harusnya membahagiakan, bukan membuat orang kesal. Tentu saya tak bisa menjawab. Lha wong… di tengah saya berpikir mulut dan gigi saya bergerak mengunyah daging bebek yang alot-alot enak itu.
Selak 3
Saya terbang ke Kota Buaya tiga hari setelah penyelakan di ruang mewah di hotel berbintang itu. Saya duduk bersebelahan dengan mas-mas, berewok, besar dan ndut. Saya membuka net book mungil untuk menyelesaikan tulisan ini. Setelah nyaris setengah jam, lengan saya mulai membutuhkan waktu istirahat dan otomatis saya menyenderkan lengan ke lengan kursi.
Sayangnya, lengan kursi itu sudah terlebih dahulu diisi lengan besar mas-mas tadi. Saya mau menumpukkan di atas lengannya tentu tak mungkin. ”Sandwhich, kale,” nurani saya ternyata bisa berteriak sesubuh itu dan di ketinggian tiga 36.000 kaki.
Ingin berbicara dengan dia untuk gantian menikmati senderan lengan itu, saya tak berani. Jadi yaa… ngalah sambil berpikir apa mungkin yaa... lengan kursi itu digilir saja. Sekian menit buat yang duduk di tengah, sekian menit untuk yang duduk di tepi lorong. Kan kita sama-sama bayar, sama-sama duduk di kelas ekonomi, ya... sama-sama punya hak menikmati.
Kejadian semacam itu sudah saya rasakan di ruang perkawinan lain, di lapangan terbang, di ATM, di mana saja, kapan saja. Pertanyaan terakhir muncul lagi. Mengapa tak ada yang membuat antrean panjang dan menyelak di rumah yatim piatu? Di rumah jompo?Di rumah ibadah pada hari-hari biasa, bukan hari istimewa?
Mengapa kok enggak ada yang menyelak waktu mengantre membayar pajak? Saya menanyai nurani saya. Eh… dia diam saja. Mungkin masih tertidur sesubuh itu. ”Wueee… bangun.” Tak ada suara juga.

Tertib, "PLEASE!"

Saya jengkel. Hari Minggu siang saya berenang di apartemen tempat tinggal saya. Namanya juga ruang publik, saya tak bisa melarang orang berenang seperti yang saya kehendaki. Saya menyadari itu.
Harus saya akui, saya yang salah karena terlambat bangun. Biasanya, saya tak pernah melakukan olahraga air itu pada akhir pekan, tetapi pada hari-hari kerja dan pada pukul delapan pagi. Kolam sepi dan tak ada manusia yang memenuhi kolam yang ukurannya sedang-sedang itu.
Saya memiliki jadwal hidup yang aneh. Orang kerja saya tidur dan berenang, orang berenang saya kerja dan tidur. Hari Minggu itu saya memutuskan berolahraga air karena sudah lama sekali tak melakukan kegiatan mulia yang menyehatkan itu.
Biasa, selain pekerjaan yang bertambah dan jeritan klien yang membuat saya juga keriting, yang juga memiliki andil besar adalah datangnya rasa malas yang berlangsung begitu lamanya. Sehingga badan yang biasanya bergerak, tiga bulan berhenti karena rasa malas itu.
Di kolam renang
Nah, puncaknya adalah akhir pekan itu. Badan terasa sakit semua dan sudah menagih untuk digerakkan. Maka, tanpa berpikir panjang saya memutuskan terjun ke dalam air. Kolam renang itu tak dipenuhi orang. Hanya ada lima manusia yang memutuskan berolahraga. Mungkin jadwal hidup mereka sama seperti jadwal hidup saya dan bisa jadi badan mereka juga sudah minta-minta untuk digerakkan. Badan saya sudah digerakkan di tempat lain, kok yaaa… kurang saja dan masih menagih.
Masalahnya bukan soal ada lima atau enam orang di dalam kolam itu. Yang membuat saya jengkel adalah karena mereka berenangsak enak udele dewek, seperti merasa kolam renang itu milik keluarganya. Saya berenang dengan tujuan untuk olahraga, sehingga jalur renang saya yaaa… lurus saja bolak-balik dan memilih gaya dada sebagai gaya renang andalan.
Mereka mungkin punya tujuan sama, tetapi memutuskan untuk tidak lurus bolak-balik melainkan menyilang. Jadi, saya dan mereka itu seperti simbol tanda tambah, dan mereka memilih gaya bebas sebagai gaya andalan.
Saya pakai gaya dada, di depan saya pakai gaya bebas. Anda bayangkan berenang dengan gaya bebas, kaki mereka menepuk-nepuk air kolam, saya yang di belakangnya terombang-ambing gelagapan menghindari air masuk ke dalam mulut.
Tak lama kemudian ada yang terjun dari darat ke dalam kolam menyilang di belakang saya. Pokoknya kalau Anda pernah ngudekteh hangat di sore hari, yaaa… kira-kira seperti itulah keadaan kolam pada hari Minggu nan cerah dan panas seperti kompor itu.
Saya memutuskan berhenti karena tak bisa berolahraga dengan benar. Saya cuma mikir, yang waras yang ngalah. Dalam perjalanan dari kolam renang sampai ke pintu apartemen saya mulai berpikir, apakah benar manusia sekarang semakin tak punya nurani, tak peduli, egois? Yang penting aku, aku, dan aku. Apakah nilai-nilai toleransi itu juga mulai menipis? Apakah mereka tak bisa lagi melihat bedanya kolam renang pribadi dan milik umum, antara melakukan kegiatan di ranah publik dan di ranah pribadi?
Apakah mereka juga tahu, tetapi pura-pura tak tahu. Apakah mungkin mereka memiliki filosofi hidup macam begini. Kalau bisa nyusahin orang, mengapa harus membahagiakan? Mungkin sama seperti teman saya yang punya filosofi dalam menata rumah. Kalau bisa maksimalis dan ribet, kenapa mesti minimalis dan enggak ribet?
Di tengah kemacetan
Kemudian saya ingat dua hari sebelum hari naas di kolam renang itu, bersama teman saya terjebak macet. Saya ingat itu hari Jumat sore sepulang kerja, saat gempa terjadi. Jalan sudah macet padat merayap saja susah. Kami memutuskan untuk mencari jalan tikus meski jalan tikusnya saja sudah penuh sesak. Semua mobil mengantre dengan tertib karena jalannya sempit. Namanya juga jalan tikus, bukan?
Tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam menyelak langsung di depan sehingga posisinya membuat jalan sempit itu makin runyam, karena meski sempit jalan tikus itu merupakan jalan dua arah.
Gara-gara ia menyelak, semuanya jadi berantakan. Mau maju tak bisa, mundur pun tak bisa. Saya jengkel sekali. Secara emosional saya langsung memencet klakson mobil teman saya itu untuk mewakili suara saya yang ingin sekali menjerit dan mengomeli si pengendara mobil itu. Padahal, sedan hitam itu bukan menyelak saya, tetapi dua mobil di depan saya.
Mobil yang diselak itu yaa… diam saja, merasa tak apa-apa. Saya sampai kagum sekaligus jengkel, kok diselak diam saja. Saya ingin sekali saat itu mendatangi pengendara mobil itu dan bertanya, mengapa ia melakukan itu? Bukan soal menyelaknya, tetapi ulah cuma satu orang, tetapi membuat semua orang jadi repot.
Karena jalan menjadi mampet dan saya tak bisa melakukan kegiatan lain karena tak bawa laptop dan tak punya BB, yaa… saya duduk diam jengkel dan merenung. Mengapa manusia itu bisa begitu egoisnya? Apakah menjadi tertib begitu susahnya?
Kalau susah, mengapa kalau sedang berada di negara tetangga macam Singapura, manusia yang tak bisa tertib di Jakarta itu bisa tertib tiba-tiba, meski hanya untuk sekian hari atau selama akhir pekan? Semua kan juga mau pulang, semua orang kan juga enggak mau berlama-lama di jalan, mengapa susah sekali untuk tidak membuat orang lain susah? Kan jalan rayanya milik umum. Kalau milik umum, yaaa... enggak bisa seenaknya sendiri, bukan?
Mengapa susah sekali berpikir menyenangkan orang lain. Nah, kalau sudah begini, nurani saya mulai turut berkicau dan dengan mudah ia melontarkan pertanyaan yang sama kepada saya. Saya tak menjawab. Nurani saya berteriak, ”Lo tahu enggak, Jeng, situasi yang sekarang lo hadapin itu upah dari apa yang lo tabur. Kalau dulu lo pernah begitu egoisnya dan orang lain sengsara karenanya dan lo enggak inget atau pura-pura enggak inget, nah… sekarang lo rasa.”
Saya kaget setengah mati. Ya, ya, ya… benar adanya. Saya marah karena orang begitu egoisnya, begitu tak sabarnya. Saya lupa saya juga pernah melakukan itu. Sekarang kalau saya terjerat dalam situasi menjengkelkan semacam dua kejadian di atas, saya sedang diberi pelajaran ada harga yang selalu harus dibayar dari sebuah perbuatan. Mau itu masa lampau, maupun masa sekarang. Bentuk pembayarannya bermacam cara sesuai apa yang pernah saya tabur. Di kolam renang dan atau di jalan raya.
Nurani saya masih belum puas dan tampaknya tak pernah puas. ”Kalau lo selalu omong mau jadi orang sabar, jadi orang pemaaf, yaaah…. monggo, situasi ini dinikmati saja. Menjadi mulia itu perlu dibentuk dari hal-hal sulit, bukan yang mudah saja. Makanya Neng, kalau omong atau minta sesuatu itu dipikir dulu masak-masak. Jangan asal nyeplos….”

IP

Suatu hari Minggu malam, saya dan tiga teman menyaksikan acara perjodohan berjudul Take Me Out yang ditayangkan sebuah stasiun televisi. Itu kala pertama kali saya menyaksikannya meski sudah berulang kali saya mendengar teman-teman menceritakan acara itu.
Setelah menyaksikan sekian jam lamanya, acara itu membuat saya tertawa tergelak, terhibur, dan juga membuat saya terenyuh. Pokoknya, membuat perasaan hati campur aduk.
”Uelek”
Mengapa saya terenyuh? Saya menyaksikan seorang wanita muda muncul dan setelah beberapa menit mendapat kesempatan untuk memperkenalkan diri, MC memberikan kesempatan kepada para pria untuk memilih atau tidak. Para pria berdiri dengan meja berlampu di depannya. Kalau mereka memilih, meja berlampu itu berwarna kuning, tetapi kalau mereka tidak berniat memilih, meja berlampu itu berubah menjadi merah.
Dalam hitungan detik, pria sejumlah lebih kurang tiga puluh orang itu semuanya mematikan meja berlampu yang ada di hadapan mereka. Artinya, tak satu pun dari mereka berniat memilih wanita muda itu. Sudah bisa ditebak, wanita itu harus angkat kaki dan pulang dengan tangan hampa.
Menurut cerita teman saya, karena saya tak menyaksikan, di acara perjodohan yang sama dengan judul berbeda, Take Him Out, seorang bapak guru yang hanya bermodalkan sepeda juga mengalami nasib nyaris sama. Saya tak bisa membayangkan kalau saya jadi wanita muda dan bapak itu. Bisa jadi saya pasti malu sekali dan saya yakin muka saya merah padam seperti warna meja berlampu itu. Meja yang dipadamkan itu.
Saya akan merasa ditolak mentah-mentah. Tidak laku. Saya akan sedih pada diri saya sendiri, melihat kenyataan kalau tak ada yang merasa perlu memberikan kesempatan kepada saya untuk di-probe lebih lanjut. Dan yang lebih terenyuh lagi, sejagat Nusantara ini melihat saya tidak laku, saya tak bernilai.
Saya angkat topi kepada keduanya atau peserta yang berani mengikuti acara itu. Berani mengambil risiko. Risiko ditolak itu. Dan lebih terenyuh lagi, saat saya membayangkan menjadi orangtua dan melihat anak saya ditolak di depan umum, alamak... apa rasanya. Itu belum termasuk mendengar komentar mereka yang menolak, yang kadang harus diakui, kejujuran mereka menghunjam perasaan sebagai manusia.
Bukankah sejujurnya tak ada manusia di dunia ini mau mendengar hal yang menyinggung perasaan hatinya? Yang menyakitkan meski faktanya memang demikian? Tetapi, di layar televisi malam itu saya menyaksikan masih ada banyak orang yang berani berhadapan dengan ketersinggungan itu. Saya mendapat pelajaran untuk melihat nilai-nilai yang ora elok yang dahulu diajarkan itu sekarang boleh dibuka habis-habisan di depan umum. Luar biasa. Mungkin itu sebabnya tayangan iklan dalam acara ini ”sejuta” banyaknya. Mereka mendukung ”keterbukaan” itu.
Bodoh
Setelah menyaksikan tayangan di rumah teman itu, saya pulang. Dalam perjalanan di dalam taksi bersama seorang teman, saya teringat akan pertemuan saya beberapa bulan lalu di Kota Buaya. Pada akhir acara pertemuan itu, seorang bapak maju untuk mengumumkan, beliau dengan timnya telah membentuk program mulia mendukung anak-anak kurang mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dengan persyaratan indeks prestasi alias IP minimal harus setinggi gunung.
Maksud saya setinggi gunung itu bukan satu koma atau dua koma, tetapi tiga koma sekian. Kalau bisa, empat koma sekian. Semoga tidak koma alias tidak sadarkan diri saking tingginya IP itu. Beliau juga mengajak para undangan malam itu, kalau punya sahabat atau teman atau kenalan yang kurang mampu tetapi memiliki IP yang tinggi, bisa menghubungi dia. Tujuannya bukan hanya sekadar memberikan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi, tetapi agar suatu hari mereka-mereka itu bisa duduk di dalam jajaran pemerintahan dan memajukan negeri ini.
Tiba di rumah, malam itu saya tak bisa tidur. Setelah menyaksikan tayangan televisi dan mengingat acara di Kota Buaya itu, saya kemudian bertanya. Tentu kepada diri sendiri. Siapa yang akan mendukung saya, memberi fasilitas masuk ke jenjang lebih tinggi kalau saya ini sudah tidak mampu secara finansial dan punya IP tidak tiga, tetapi hanya satu koma dan dua koma? Maksud saya, koma tak sadarkan diri saking gebleknya.
Apakah saya tak bisa masuk ke dalam jajaran pemerintahan supaya bisa memajukan negeri ini dengan IP macam itu? Ke mana saya harus pergi? Pertanyaan salah, ke mana saya akan dibuang? Sudah miskin, bodoh pula.
Dan kemudian setelah pertanyaan itu, ada pertanyaan berikutnya. Siapa mau pacaran dan berjodoh sama saya kalau saya jelek? Kalau saya cuma punya sepeda dan hanya sekadar pengusaha kue brownies, bukan seorang general manager yang mungkin gajinya sebelas dua belas dengan penjualan kue berwarna gelap itu? Kalau secara de facto di layar televisi dan se-Nusantara tahu saya ditolak mentah-mentah pada menit pertama oleh sekian puluh sosok, ke mana saya harus pergi?
Pertanyaannya salah. Ke manakah saya harus dibuang? Siapa yang mau sama saya kalau semua maunya yang cantik, tampan, kaya raya? Ataukah saya harus kerja pontang-panting untuk menjadi kaya, meski jelek, orang pasti mau sama saya karena ada agenda lain di benak mereka. Mengejar harta saya dan saya tak keberatan daripada tidak laku?
Bayangkan kalau dua kejadian di atas saya jadikan satu skenario, maka saya adalah manusia yang sudah tak mampu alias miskin, bodoh, dan jelek pula. Weleh... weleh... weleh… sampah beneran, bukan?
Ke manakah saya harus pergi? ”Enggak usah pergi ke mana-mana.Sampean jangan gampang nyerah gitu dong. Gini, dengerin. Buat saja yayasan pesaing. Namanya Yayasan Gelek. Wis Guoblok tur Uelek. Ketuanya sampeanPas tenane. Coba kamu bercermin. Tuh… kelihatan kan… kalau kamu itu uelek.”
Seperti biasa, nurani itu memang dibuat ada untuk menghina yang memilikinya. Salah, untuk mengingat pemiliknya. Mengingatkan pemiliknya miskin, bodoh, dan jelek pula, maksudnya.

"Hanya" soal tempat duduk


Saya dan tiga teman berkumpul di sebuah rumah makan. Hari menunjukkan pukul satu siang. Ketika semua orang bekerja, kami bersendau gurau. Dulu waktu masih bekerja, paling suka mengambil cuti di hari kerja. Pergi ke Bandung hanya untuk makan siang, saat teman-teman bekerja. Dan ketika ada telepon masuk menanyakan keberadaan saya, saya menjelaskan yang mengundang jawaban: ”Enak benuer sih….”

Maka, keadaan enak benuer sih itu masih terus berlangsung. Percakapan antara teman begitu mengasyikkan, sambil menikmati risoles dengan salmon dan teh hangat rasa chamomile. Kalau sudah ngobrol-ngobrol seperti ini, kadang emosi juga turut naik turun, maka teh yang katanya memiliki efek menenangkan itu patut diseruput sebelum emosi jebol. 
Dua jam pun begitu cepat berlalu. Beda rasanya kalau di ruang rapat, apalagi bersama klien yang gampang menabur janji surga dan gampang juga mengingkarinya.

Menjerit


Kami mengobrol soal macam-macam, salah satu di antaranya mengenai persoalan sepele: penentuan tempat duduk di sebuah acara. Kalau saya katakan sepele, itu buat saya karena memang terbiasa disepelekan orang. Sudah berjuang untuk tidak disepelekan, tetap saja ada yang menyepelekan. Itu risiko menjadi manusia biasa. Biasa disepelekan, maksudnya. Maka, mungkin banyak orang berusaha menjadi manusia luar biasa.


Pembicaraan makin mengasyikkan karena mendengar cerita soal pribadi-pribadi kondang dan yang tidak kondang, tetapi berusaha kondang, dan kok ya kebetulan kaya raya, yang menjerit-jerit di pesta karena masalah tempat duduk yang tidak berkenan di hati mereka. Tepatnya merasa tidak sesuai dengan status sosial mereka.


Alasan mereka berteriak macam-macam. Ada yang menjerit karena tergeser pesaingnya kemudian menjadikan panitia acara kambing hitam. Manusia yang merasa tergeser tak berani menghadapi yang menggeser.


Ada yang menjerit karena kok kaya dan kondang tak duduk bersama tuan rumah yang sama kaya dan sama kondangnya. Ada yang menjerit karena berusaha duduk dengan pejabat dan duta besar, tetapi harapan pupus karena status sosial belum mencukupi untuk berdekatan dengan petinggi.


Ada yang naik pitam karena merasa sama kayanya, sama kondangnya, sama status sosialnya, kok didudukkan dalam satu meja. Mereka tidak bermusuhan, tetapi tak saling menyukai. Keduanya berteriak, 
”Saya enggak mau duduk sama manusia itu.”

Cerita-cerita semacam itu membuat saya jadi turut emosi. Terutama mendengar yang menjerit itu katanya manusia berpendidikan tinggi, yang acap berkoar-koar agar rendah hati di hadapan Tuhan, tetapi tetap mau jadi orang nomor satu. Padahal, saya diajari kalau mau ikut Tuhan mesti punya perilaku seperti jongos.


Beberapa hari setelah pertemuan itu saya bercerita kepada teman lain mengenai acara makan siang itu. Wanita ayu ini menasihati saya secara tidak langsung. Manusia menjerit hanya untuk dapat tempat duduk bersama petinggi supaya dihormati dan merasa terhormat. Padahal, mumpung belum game over, seyogianya kita mempersiapkan dapat tempat duduk di surga. ”Ya, enggak?” Saya diam saja, tak tahu mesti menjawab apa.


”Rest in peace”


Setelah mendengar cerita, saya katakan kepada teman-teman, keadaan macam itu pernah saya alami. Banyak alasan mengapa mereka melakukan itu, selain mereka memang memiliki tabiat jauh dari menyenangkan. Mengapa mereka sampai tak malu menjerit di tengah keramaian pesta hanya untuk tempat duduk yang memberi rasa gengsi itu.


Penempatan duduk yang dulu saya anggap sepele menjadi tidak sepele lagi setelah saya mengalami akibat duduk bersama pribadi kondang atau petinggi. Waduh, rasanya seperti naik ayunan. Dilambungkan setinggi-tingginya, saya diasosiasikan dengan mereka. Apalagi kalau diabadikan dan kemudian diterbitkan di dalam majalah.


Apalagi saya datang dari kelas menengah, mendapat kesempatan macam itu seperti mendapat durian runtuh. Sejujurnya, dua dari tiga teman saya siang itu adalah manusia superkondang di negeri ini. Anda pasti tahu kalau saya sebutkan namanya.


Waktu saya masuk ke dalam rumah makan itu dan menuju ke tempat duduk yang sudah terisi dengan satu teman saya yang kondang itu, ”sejuta” mata melirik. Mungkin mereka berpikir, kok bisa manusia kepret itu makan siang bersama manusia kondang. Pelayan di rumah makan itu juga jadi turut ramah.


Dengan hanya mendapat kesempatan duduk, kenikmatan itu tak berarti selesai. Duduk bersama petinggi atau manusia kondang tak hanya meluaskan cakrawala, tetapi juga memiliki kesempatan meluaskan pergaulan dan jejaring. Misalnya, awalnya saya tak kenal si A, atau susah berkenalan dengan si A. Karena saya ”bergandengan tangan” dengan manusia kondang, maka saya bisa mengenal si A meski si A juga tak akan berbaik hati kepada saya.


Agar si A berbaik hati, itu pekerjaan rumah saya. Yang penting jalan sudah terbuka. Itu hanya segelintir alasan mengapa saya juga dulu pernah merasa harus menjerit hanya untuk sebuah tempat duduk.


Maka, seperti saya katakan di atas, kalau mau mendengar cerita macam itu sebaiknya menyeruput teh rasa chamomile supaya tak turut emosi. Saya membayangkan terkena serangan jantung terusgame over hanya gara-gara mendengar cerita yang memang mampu memacu adrenalin.


Tetapi, nurani saya siang itu sudah terlebih dahulu menjerit. ”Kecian benuer… mati gara-gara dengerin cerita orang cari tempat duduk.”


Suara itu tak berhenti berbunyi. ”Emang pas sambil minum teh rasa chamomile. Matinya tenang. Benar-benar rest in peace.”

Mohon Izin

Mohon iizin. Demikianlah yang dikatakan seorang sopir kepada teman saya ketika hendak menjawab telepon genggamnya yang berbunyi saat sedang menyetir mobil.
Permohonan itu dilakukan karena teman saya yang duduk di kursi belakang itu masuk ke dalam kategori big boss, dan di kota ”kecil” bos itu mahapenting. Yaa… sebelas duabelaslah sama penguasa dunia. Teman saya itu hendak menghadiri acara pembukaan sebuah outlet barunya.
Mohon izin adalah sesuatu yang sering dilakukan, apalagi kalau bicara dengan atasan. Ucapan mohon izin merupakan bentuk ungkapan yang didasari banyak alasan. Dari yang benar-benar sopan santun, seperti cerita sopir di atas, sampai yang mau mencari muka. Contoh yang terakhir ini memiliki manfaat ganda.
Bawahan ”Part” I
Pertama, bawahan yang melakukan terlihat santun, mirip si sopir tadi, karena menghormati atasan. Akibatnya bisa jadi positif karena bos merasa senang dianggap atasan, dianggap penting, dianggap mengerti semua hal. Apalagi, kalau atasannya memiliki kesenangan dijilat-jilat.
Tak semua bawahan merasa atasannya itu atasan dan menganggap penting dan menganggap ia mengerti semuanya. Bahkan, ada atasan yang selalu saja tidak sinkron jalan pemikirannya dengan visi dan misi perusahaan yang mengakibatkan sistem kerja, termasuk manusia di dalamnya, carut-marut. Itu salah satu sebab bawahan tak menganggap dia atasan dan manusia mahapenting.
Kedua, kalau bawahan sudah disukai atasan, semuanya beres. Bahkan, saat bos ada atau tidak ada, keputusan bisa mengalami jalan pintas. Maksud saya dengan jalan pintas, proposal dari luar sudah dijegal sebelum diletakkan sekretaris di meja big boss. Kalaupun tidak dijegal langsung, bisa jadi setelah proposal masuk ke atasan dan didiskusikan, dijegal justru setelah pertemuan itu. Tentu, dengan cara anggun.
Misalnya, bawahan berkicau, ”Oke Pak... saya pikir keputusan Bapak Bos luar biasa. Ide brilian. Tetapi, seandainya, hanya seandainya saja lho Pak, pergelaran orkestra kita dan lagu-lagunya agak lebih dipopkan, mungkin lebih enak didengar.” Itu belum selesai. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat penutup yang santun dan mengecoh. ”Bagaimana menurut Bapak? Mohon petunjuknya.”
Jadi, bawahan macam itu sudah seperti dirigen yang mengorkestrasikan agar sebuah tampilan apik kelihatannya. Sejujurnya, ia tak membutuhkan petunjuk. Ia pura-pura saja setuju supaya kelihatan tetap sopan seperti malaikat dengan memberikan bolanya kembali kepada si bos dengan kalimat mohon petunjuknya itu.
Padahal, jelas-jelas ia mau mengepopkan orkestra pilihan si bos yang kelewat konservatif. Jadi, si bos cuma jadi wayang, bawahannya yang jadi pengendali wayang, dan kalau bisa jadi sinden sekalian.
Bawahan ”Part” II
Bawahan yang bermain seperti dirigen tak boleh emosi, harus bisa menjaga meski kesal sekalipun, agar tujuan dapat selesai dan kemenangan di tangan. Vini, vidi, vici bukan cuma orasi Napoleon semata. Bawahan yang mampu mengontrol atasan seperti seorang istri yang bisa mengontrol suami sehingga suami jadi takut benar-benar Napoleon. Seorang penguasa.
Bawahan macam ini, atasan akan dibuat santai dan tenang di singgasana. Ia bahkan tidak bercita-cita menggantikan takhta sang big boss, ia sudah jadi big boss tanpa singgasana. Singgasana tak penting, mengontrol yang duduk jauh lebih penting.
Kemudian saya teringat cerita teman saya yang tinggal di Bangkok saat saya menanyakan soal hormat-menghormati. Ia bercerita saat menyaksikan film di bioskop, sebelum film dimulai, penonton harus berdiri untuk menghormati raja. Setiap harinya, pada pukul delapan pagi dan pukul enam sore lagu kebangsaan diperdengarkan di area publik, seperti stasiun dan pasar. Semua pejalan kaki harus berdiam diri sampai lagu kebangsaan selesai.
Saya tak tahu apakah mereka yang berdiri benar-benar menghormati. Itu urusan mereka. Yang jelas, saya mendapat pelajaran besar sebagai bawahan (baca: warga negara) saya ini patut menghormati sepenuh hati para pemimpin dan negara. Mungkin kalau mencontoh dalam penghormatan macam itu tidak ada salahnya. Jadi, sebelum menyaksikan adegan pembunuhan atau pocong beranak di gedung bioskop, penghormatan terhadap negara harus tetap dilakukan. Berdiri dan melantunkan lagu kebangsaan. Kalau kemudian nurani Anda berkeluh kesah, ”Huh? Berdiri?” Itu bukan urusan saya.
Sebagai bawahan (baca: anak), penghormatan terhadap orangtua juga dilakukan. Saya dahulu merasa melawan orangtua wajib dilakukan, apalagi kalau tak sependapat. Mungkin perdebatan itu sah-sah saja terjadi. Namanya anak, namanya orangtua. Rambut boleh sama hitam, belum tentu rambut dicat dengan warna sama. Tetapi, perdebatan tidak mengusung sebuah tujuan untuk tidak menghormati orangtua.
Saya juga baru tahu, penghormatan sebagai bawahan (masih tetap dibaca anak) kepada orangtua menghasilkan hidup seorang anak menjadi sejahtera dan berlimpah. Tidak hanya uang, tetapi juga batin yang bahagia. Sudah saya alami dalam lima tahun terakhir hidup saya bahwa kebahagiaan dan hidup sejahtera itu terjadi saat saya memutuskan untuk menghormati.
Jadi, kalau sekarang saya ditanya mengapa bisa bahagia, yaa... salah satunya menjadi bawahan yang menghormati. Mengapa bisa makmur, yaa... karena penghormatan itu, bukan sekadar dapat bunga dari deposito atau me-redeem Reksa Dana karena sudah untung, atau karena kenal sama bos A dan bos B.
Maka, kalau sekarang jadi bawahan mari kita menghormati atasan, negara, dan orangtua. Terus Anda mungkin berkicau seperti nurani saya. ”Huh? Menghormati? La wong bos gue aja kayak bajing. Loncat, loncat, loncat enggak bisa dipegang omongannya, ngapain juga menghormati. Hare gene? Menghormati bajing-bajing?
Mungkin ada lagi yang bicara. ”Wong bos womanizer kok dihormati.” Nah, kalau sudah begitu saya memilih berhenti saja menulis. Tanda saya sangat menghormati orang lain. Saya cuma menyarankan, mau tidak setuju ya... monggo

(Keder)isasi

Di hari orang mencontreng, saya mendapat kiriman SMS. Efeknya selalu sama saja. Membuka batin, eh… menampar sekaligus. Maka saya memutuskan membagikan SMS ini pada hari libur ini. Saya tak tahu persis apa hari Minggu sekarang cocok untuk disebut hari libur karena sudah dua hari minggu saya bekerja pontang-panting. ”Itu mah salah elo sendiri mau kerja di hari libur,” teriakan suara dari dalam hati, seperti biasa.
SMS-nya memiliki pesan singkat bahwa kaderisasi itu penting. Mempersiapkan generasi selanjutnya itu penting. Jadi jangan sampai saya mangkat, terus tak ada yang meneruskan. Saya terusik bukan karena kaderisasinya, tetapi malah saya seperti disetrum terus berpikir, ”Memang saya siap diganti?” Giliran saya yang keder. Jadi saya melakukan kaderisasi, dan pada waktu yang bersamaan saya keder sendiri, saya melakukan kederisasi.
Makin digosok makin asyik
Saya senang mengajar, saya senang melihat ada orang bisa naik kelas. Pengetahuannya bisa bertambah. Bukan soal hanya berhitung, tetapi menolong orang untuk mampu melihat kemampuan dirinya sendiri, kemudian dioptimalkan dan mereka siap menuai. Mengajar itu sebuah kenikmatan, seperti masturbasi. Kali ini masturbasi intelektual. Makin digosok main asyik.
Tentu dengan mengajar, manusia yang saya ajari menjadi tahu dari tidak tahu. Tetapi SMS hari itu membuat saya bertanya lagi. ”Bagaimana kalau yang diberi tahu dari tidak tahu menjadi lebih tahu dari yang memberi tahu?” Maksud saya, kalau yang dikasih tahu menjadi sebuah ancaman, mampuslah akyu.
Kemudian saya teringat ketika mengundurkan diri dari pekerjaan. Dari sebuah posisi yang cukup tinggi. Saya pikir keluar dari pekerjaan itu yaaa… biasa- biasa saja, sama seperti ringannya mengirimkan surat pengunduran diri. Waktu saya membereskan meja penguasa di hari terakhir, masih belum ada perasaan yang mengganggu. Tetapi setelah memencet tombol lift untuk turun ke lobi dan tak kembali lagi, saya seperti melayang rasanya.
Perasaan campur aduk seperti nasi campur. Senang, sedih, jengkel, kesepian, merasa tak laku lagi, tak dihargai, dan sejuta rasa lain. Dan waktu saya meninggalkan kantor, memang tak ada siapa-siapa. Tak ada satu orang pun yang menemani. Beda sekali ketika saya masih jadi penguasa. Tas tangan saya saja ada yang mau membantu menentengnya sambil berkata, ”Selamat pagi, Bos.” Sementara nama saya bukan Bos. Selamat saat itu belum ada yang mau menggendong saya ke mana-mana.
Tiga bulan yang lalu saya hadir di sebuah acara kumpul-kumpul kaum mapan Jakarta. Satu di antara sekian pejabat dan manusia kondang hadir di sana. Saya sedih melihatnya. Ia datang tanpa ajudan, tak ada satu pun yang memedulikannya, kuli tinta yang senangnya menyerbu manusia kondang tak menggubris ketika ia datang. Waktu makan malam tiba, ia mendapat tempat duduk di belakang, seperti manusia yang merasa tak dipentingkan, tetapi harus diundang supaya santun kelihatannya. Padahal, dengan mengundang dan menempatkan dirinya di belakang, buat saya itu saja sudah tak santun.
Lebih cepat lebih baik!
Tak ada satu orang yang datang kepadanya, saya memperhatikan, ia sempat bingung mau ngapain. Satu selebriti kondang wanita, yang ayu dan memang berhati baik yang juga saya kenal cukup lama, datang menghampirinya dan menemaninya. Melihat itu saya sedih sekali. Kemudian saya ingat akan masa lalu tokoh kondang ini. Berjuta lampu kilat, berjuta kali masuk koran dan majalah papan atas, berjuta kali datang di undangan A dan undangan B, sekarang cuma seperti saya. Tak ada yang peduli. Ia seperti daun yang jatuh dan menguning di musim gugur setelah pernah menjalani kehidupan seperti daun hijau yang segar dan berdiri tegak di musim panas.
Malam itu masih di pesta, saya tak bisa berkonsentrasi pada acara yang disajikan. Saya berpikir apakah kalau sekarang saya bisa duduk di baris kedua dari depan, berkumpul dan duduk bersama bankir kondang, apakah dua tahun lagi atau katakan dua hari lagi saya akan dipedulikan? Apakah saya akan tetap diundang, tetapi bukan prioritas? Saya kemudian berpikir, kalau saja saya ini tak punya kolom di koran sekondang Kompas, apakah orang mau menghargai saya? Mau mengundang saya ke sana dan kemari? Kalaupun mereka mau, itu karena mereka tahu apa kemampuan saya, atau karena saya besar gara-gara Kompas?
Ternyata kaderisasi itu lebih gampang daripada melihat dan melakoni jalan yang menurun dan tak dipedulikan. Jadi, kalau kaderisasi itu perlu, yang lebih perlu lagi menyiapkan jalan turun buat yang membuat kaderisasi. Mungkin sudah datang waktunya program kaderisasi diadakan bersamaan dengan program kederisasi. Jadi istilah post power syndrome paling tidak bisa dikurangi jumlahnya, paling tidak yang sedang tidak dipedulikan merasa tetap tegar dan menerima kenyataan. Supaya yang turun dan tak bisa menerima kenyataan paling tidak tak membuat keonaran dalam rumah tangga, menjadi orang yang sarkastis, yang tabiat dan mulutnya sebelas dua belas dengan pisau atau silet atau apa saja yang bisa membunuh.
Saya ingat sebuah kalimat kalau tak salah sebuah pepatah China. Begini bunyinya, tak ada pesta yang tak pernah usai. Mungkin mudah mengatakan dan mudah dimengerti. Tetapi saya pernah menjalaninya, saya tersakiti karena harus usai. Mestinya, saya harus tahu dan menyadari dari sejak mula, dari sejak saya mematut di cermin agar tampilan saya prima saat saya tiba di pesta, kalau akan datang waktunya saya harus siap pulang ke rumah.
Mungkin saya sudah sadar sejak saya mematut di depan cermin, kemudian tak sadarkan waktu pulang karena pengaruh minuman beralkohol yang memabukkan. Mungkin juga sama memabukkannya saat saya mendapat fasilitas saat masih punya kekuasaan. Program kader dan kederisasi sebaiknya secepatnya harus dipikirkan. Lebih cepat lebih baik!

Tanpa Judul

Sini, Biar Tante yang Bayarin …
Kalimat itu keluar dari mulut teman saya yang tak lama lagi akan mengakhiri masa lajangnya. Ia bercerita tantenya menawarkan diri membiayai pernikahan itu. Teman saya menolak, dan ia menjelaskan, ”Aku enggak maulah, Mas. Nanti kalau suatu hari ada apa-apa, diungkit-ungkit. Malesss…”
Kemudian saya teringat ayah saya. Waktu saya tidak mampu membeli apartemen, ia yang membayari. Hati saya senang sekali meski saya harus mencicil setelah itu. Tetapi, namanya ayah sendiri, cicilannya juga sesuka hati. Tak ada bunga, tak ada penalti, tak ada hukuman, tak ada tukang tagih dan tukang pukul yang siap menghajar karena jatuh tempo pembayaran tak segera dilunasi.
Semua itu memang tak ada, tetapi karena dia yang membayari, efeknya baru saya rasakan setelah sertifikat apartemen itu keluar. Ia mengunjungi dan memutuskan tinggal beberapa hari di apartemen seri perkutut itu. Karena kecil, saya katakan kepada Ayah untuk tinggal di hotel saja. Bukan saya tak mau dikunjungi orangtua, apalagi yang sudah mau melunasi tempat tinggal vertikal itu. Satu-satu alasan adalah supaya ia lebih nyaman.
Dia menolak. Karena, bagaimanapun sempitnya rumah anaknya, paling enak ya kumpul sama keluarga. Saya tidak cocok dengan prinsip itu. Prinsip yang terlalu emosional yang tak bisa saya terima. Karena buat saya, kumpul dalam satu atap dan tidak, tak ada pengaruhnya buat saya untuk menurunkan atau menaikkan kualitas cinta dan hormat saya kepada orangtua. Bukan soal kumpulnya dan kedekatannya. Buat apa saya kumpul dan secara fisik saya dekat, tetapi di dalam hati saya geram dan kesal.
Nyaman vs ”umpel-umpelan”
Jadi, saya mau memberi rasa nyaman kepada Ayah, ia malah merasa umpel-umpelan itu lebih enak. Waktu itu saya naik pitam. Dan Anda tahu, kalau sudah naik pitam, mata saya gelap, lupa apartemen itu belum saya lunasi. Saya masih berpredikat debitor. Maka, pitam atau tidak pitam, rasa berutang itu tiba-tiba menyeruduk di nurani yang biasanya bawel itu. Coba, apa lagi yang bisa dilakukan selain nurut saja? Maka, saya nurut meski hati kesalnya setengah mati. Saya merasa hak sebagai individu, bukan sebagai anak, telah diambil atas nama ”sini biar Papa yang bayarin dulu”. Atas nama kasih. Yukkk… Maka, mulailah saya harus membayar ”harga”.
Ayah tinggal di Pulau Dewata di tanah yang luas dengan rumahnya yang besar sehingga ia bisa melakukan kegiatan berjalan kaki sore harinya dengan leluasa. Pergi menjenguk saya di apartemen seperti burung perkutut itu, kegiatan JJS—jalan-jalan sore—nya tetap dilakukan. Anda bayangkan, ia biasa JJS di tanah seluas seribu lebih sekian meter persegi, sekarang melakukan aktivitas hariannya itu di apartemen seluas enam puluh tujuh meter persegi lebih nol koma sekian meter.
Maka, segala pernik bernama kursi dan lemari digeser ke tepi dinding supaya ia bisa berjalan dengan leluasa. Setelah selesai melakukan itu, semua yang digeser itu didiamkan saja. Singkat cerita, selama ia tinggal, interior yang kata teman saya apik itu berantakan setengah mati. Saya kesal, eh… salah saya tak boleh kesal karena sudah menerima pernyataan, ”Sini, Papa yang bayarin dulu”.
Di luar semua itu ia masih mengomentari lampunya kurang terang karena ia sudah katarak seperti saya sekarang, dengan matanya yang plus ini dan plus. Padahal saya ingin apartemen saya jadi cantik dan sedikit romantis. Tetapi, ia tak peduli, yang penting bisa membaca. Sebagai anak yang harus dinilai hormat dengan nurut dan sudah menerima kalimat ”sini Papa bayarin dulu”, sekali lagi saya seperti kerbau tercucuk hidung. Nurut lagi dengan hati kesal.
Praktis vs tidak praktis
Sekitar sepuluh tahun lamanya saya tak memiliki cermin. Saya tak membutuhkan itu karena yaa… tak butuh saja. Rambut saya cepak tak perlu sisir, pakai tangan saja. Saya tak membersihkan muka di depan cermin dengan pembersih ini atau pembersih itu. Semua saya lakukan sambil mandi. Dengan gel pembersih muka murah meriah. Pernah membeli yang mahal tak ada pengaruhnya. Nurani saya bilang, ”Ya, iyalahhh… dasarnya juga udah kulit badak, pakai apa saja yaa… gak ngaruh atuh.”
Dan memang demikian kenyataannya. Nah… ayah saya justru membutuhkan cermin, bukan karena kegenitan, karena kulit mukanya juga sama seperti saya dan sejujurnya kakek saya sami mawon. Jadi, kami tiga serangkai berwajah durian. Jadi, dia mengeluh mengapa tak ada cermin di apartemen ini karena ia terbiasa di rumahnya ada cermin.
Itu belum apa-apa. Karena apartemen seri perkutut itu hanya memiliki satu kamar, dan kamar itu dipakai Ayah, maka saya tidur di sofa. Ia memberi saran, cukup baik dan masuk akal, untuk membeli sofa yang praktis. Bisa jadi tempat duduk dan sekaligus jadi tempat tidur. Tetapi, itu bukan saya. Saya tahu itu praktis jauh sebelum ia berkomentar demikian, tetapi saya merasa itu tidak artistik. Ayah saya bukan seniman dan manusia superpraktis, saya seniman habis dan memilih mengapa harus praktis kalau bisa tidak praktis.
Sampai saya berpikir, apakah saya harus mengganti interior dan kebutuhan saya seperti kebutuhan ayah yang begitu berbeda? Untuk pertama kalinya saya merasa kalimat mulia di judul tulisan ini sudah merampas kebebasan saya. Mungkin inilah yang namanya utang budi itu dibawa sampai mati.
Hal itu terjadi juga dengan teman-teman saya yang kalau berkunjung selalu berkomentar, ”Mengapa sih kamu enggak mau pakai galon untuk air minum.” Saya tahu itu praktis, tidak membuat saya bolak-balik beli yang botolan. Tetapi, itu mereka. Dan mereka bukan saya. Saya lebih mengusung keindahan total dari sebuah interior daripada kepraktisan. Itu buat Ayah dan teman saya, keliru.
Terus saya berpikir, kalau bolak-balik buat saya bukan problem dan saya bahagia karenanya, mengapa saya harus membeli galon dan membuat saya tidak bahagia? Teman saya mengusulkan dibuatkan lemari agar tetap terlihat apik. Masalah saya bukan soal tak mau buat lemari, saya tak mau membeli galon, titik.
Setelah kejadian itu berlangsung, maka kebahagiaan yang sesungguhnya adalah memiliki ”kebebasan” tanpa ada rasa terikat dengan kalimat yang tampaknya mulia, ”Sini Papa atau Mama atau Tante bayarin.”
Selalu saja ada harga yang harus dibayar kalau Anda berutang. Kok berutang? Rasanya mungkin tidak, tetapi mereka yang mengatakan kalimat mulia itu sebenarnya sudah menanamkan rasa berutang di dalam diri yang hendak ditolong. Oleh karenanya, selalu saja ada kalimat berbunyi seperti kalimat pada awal tulisan ini yang keluar dari mulut teman saya yang mau mengakhiri masa jalangnya itu. Eh… salah lajang, maksudnya. Dan kalimat yang keluar dari yang memberi pertolongan. ”Dasar kurang ajar, sudah ditolong masih saja… bla-bla-bla.”
Kemudian saya bertanya, apakah kurang ajar itu? Apakah itu karena yang diberi pertolongan itu tidak manut seperti kerbau kepada yang menolong? Setelah dipikir-pikir, saya punya bakat seperti itu. Saya menolong orang dengan syarat yang tersimpan di dalam nurani dan menjadi samar sekali kelihatannya. Sejujurnya, setelah saya pikir-pikir lagi, yang kurang ajar itu saya. Dan kurang ajar yang sesungguhnya itu mempersalahkan orang lain untuk ketidaksiapan saya sebagai penolong berhadapan dengan kerbau yang tak mau mencucukkan hidungnya.

papa

Dua minggu lalu, di suatu sore saya kedatangan tamu, teman lama semasa
di sekolah menengah pertama. Ia mengajak beberapa temannya. Seorang
wanita yang adalah kakak kelas kami dengan putrinya yang berusia 15
tahun, seorang ibu, dan seorang pria muda tampan berusia 21 tahun.
Pria muda yang kalau saya tawarkan ke dunia sinetron dan model, pasti
langsung melejit. Putih, imut dengan badan yang indah. Dan seperti
kebanyakan selebriti, bintang film dan penyanyi karbitan, yang lima
bulan lalu adalah nobody, dan yang sekarang bisa menentukan angka 40
juta untuk tampil membawakan empat lagu di sebuah acara, maka saya
yakin pemuda imut ini juga mampu melakukan seperti para kelompok
karbitan itu.

Manusia vs binatang

Setelah mengobrol ke sana-kemari, sampailah pada momen di mana pemuda
imut ini bertanya kepada saya, untuk membantunya memberi masukan
pendidikan S-2 yang hendak dijalankannya. Maka, berceritalah si pemuda
tampan nan imut itu soal cita-citanya, kesenangannya bermain angka dan
menganalisis data. Percakapannya itu kemudian diakhiri sebuah ucapan
penutup yang super cliché meski terasa seperti bom yang dimuntahkan di
sebuah medan laga. "Tapi, Papa itu maunya saya ke sini. Papa bilang
buat apa kamu ngitung-ngitung, analisa-analisa segala macam."

Kemudian ia melanjutkan keluhannya itu. "Padahal, kan, seharusnya
kalau milih jurusan adalah sesuatu yang saya inginkan, bukan yang Papa
inginkan. Tapi ya gitu, Om, Papa ngomongnya gitu. Saya sendiri sudah
tak tahu lagi bagaimana membuat Papa bisa lebih terbuka. Bisa
menempatkan dirinya kalau dia menjadi saya."

Pemuda imut itu melanjutkan ceritanya. Sebelum ia duduk di bangku
fakultas ekonomi ini, ia sudah mencoba untuk bisa menjadi mahasiswa
kedokteran seperti yang diinginkan ayahnya. Ia mendaftar di tiga
universitas dan gagal total menembus ujian masuk. Si papa naik pitam.
Dan makin naik pitam lagi ketika ia mendengar bahwa teman-teman
anaknya berhasil masuk ke fakultas kedokteran. Maka, si imutlah yang
kemudian mendapat ganjaran atas kekecewaan besar manusia bernama papa
itu, dengan kalimat "memang dasar goblok" nya yang meluncur ringan
dari mulutnya dan berubah menjadi sebuah belati yang menghunjam di
dada anaknya.

Mendengar cerita itu, saya sudah tak heran lagi. Saya pernah melewati
masa digoblokkan itu. Dan sore itu saya menangis di hadapannya. Ia
memancing air mata saya keluar, yang keluar karena kejengkelan melihat
begitu tak berdayanya saya dan pria imut ini sebagai anak. Air mata
yang bertanya, mengapa ada bapak macam itu? Bapak yang begitu susahnya
untuk mencoba menempatkan diri sebagai anak. Saya tak tahu apakah
masalah yang dihadapi pria imut ini sebuah masalah sepele, yang jelas
saya menitikkan air mata.

Beberapa bulan lalu saya membaca seorang ayah meniduri putri
kandungnya dan menjualnya ke rumah bordil di Surabaya, dan di tempat
ia dijual, ia masih menyempatkan diri meniduri anaknya sekali lagi.
Untuk kasus yang satu ini, saya tak bisa menangis lagi. Bingung. Tak
tahu lagi bedanya manusia dengan binatang.

Hidup Papa!

Saya tak pernah tahu, siapa yang memberi job description bahwa kalau
laki-laki berpredikat papa, bisa begitu berkuasanya, begitu otoriter,
tak bisa rileks menjalani peran sebagai ayah. Bahwa kepala keluarga
adalah segalanya. Saya sampai bertanya kepada diri saya sendiri, apa
yang ada di benak para papa, mengenai anak, kalau sampai anak itu
diperlakukan seperti boneka, dan tong sampah pada saat bersamaan?

Coba dengar cerita kisah sejati teman saya di bawah ini. Di masa
kecilnya, teman saya sering kali mendapat ganjaran dengan menggunakan
ikat pinggang ayahnya. "Gue, Sam, kalau bokap marah ama gue waktu
kecil, dia keluarin semua jenis ikat pinggangnya itu, kemudian gue
disuruh milih. Jenis ikat pinggang yang gue pilih, itu yang bakal
dipakai untuk ngegebukin gue."

Cerita itu membuat saya berpikir, apakah para papa semacam itu benar
mengerti tentang mencintai anak? Bisa jadi ada sejuta alasan mulia di
balik penggebukan itu. Dari anak itu harus belajar bertanggung jawab,
sampai alasan mencegah anak jangan sampai kurang ajar. Jadi, sebuah
penggebukan oleh seorang ayah dengan alasan positif tampaknya tak bisa
disebut kurang ajar.

Jadi, ayah tak pernah kurang ajar. Ayah berselingkuh, bukan kurang
ajar. Ayah memperlakukan anak semaunya saja juga bukan kurang ajar.
Ayah korupsi apalagi. La wong hasil korupsinya dipakai untuk
kesejahteraan keluarga. Bagaimana mengatakan papa kurang ajar, bukan?

Saya terinspirasi dari cerita seorang ibu yang hadir pada sore itu,
yang mengenal ayah saya. Ayah saya itu seorang perancang, yang
merancang sebuah jas dengan ukuran badannya sendiri, tetapi acapkali
ia kenakan kepada orang lain, yang ukuran badannya saja sudah berbeda
jauh. Ia akan kecewa berat ketika rancangannya ditolak mentah-mentah.
Ia sampai bisa lupa kalau rancangan di tubuh anaknya itu membuat
gerah, kesesakan, atau ukuran yang kebesaran, yang tidak kelihatan
apik dilihat di badan anaknya.

Maka mungkin, kalau papa cuma jadi dokter, cuma jadi tentara, itu
karena pengetahuan dan pengalaman untuk menjadi seniman tidak ada,
pengalaman untuk menjadi penari balet dan akuntan tidak ada. Jadi,
nasihatnya terbatas hanya dari pengalaman hidupnya. Maka, ia membuat
rancangan sesuai dengan hal-hal yang hanya ia ketahui. Dan pengalaman
merancang yang membuatnya berhasil disimpulkan akan membuat anaknya
berhasil seperti dirinya. Kalau seandainya hanya dokter atau hanya
tentara yang menjamin masa depan, mengapa sekarang ada akuntan publik
atau arsitek yang koaya roaya?

Mungkin mereka yang menjadi akuntan publik, pengacara, dan arsitek
juga dicekoki papanya karena papanya cuma tahu itu saja. Kemudian saya
berpikir, kalau di hadapan saya sekarang ada berbagai manusia yang
sukses dalam bidangnya yang berbeda-beda itu, bisa jadi semua karena
si papa hanya memiliki keahlian di satu bidang saja.

Waduh, kalau begitu tulisan ini keliru menceritakan betapa
menyebalkannya seorang papa itu. Daripada saya harus mengulang lagi
tulisan minggu ini dan mencari ide baru, sekarang mungkin waktu yang
tepat saya berkata dengan lantang. "Hidup Papa!" Ternyata, panjenengan
memang huebat. Tenane huebat.