MALU bertanya sesat di jalan. Benarkah karena malu seseorang tersesat? Saya lebih percaya, kalau seseorang itu tersesat karena salah alamat bertanya. Bukan karena perasaan malu. Itu pendapat saya.
”Gue bisa bayangin kok”
Saya terinspirasi menulis hal ini, setelah mulai
memperhatikan bagaimana saya menceritakan problem pribadi, keluarga, spiritual,
atau profesional kepada orang-orang yang awalnya saya pikir merupakan alamat
tepat untuk didatangi dan dapat memberikan jalan keluar.
Acapkali saya malah makin sengsara karena setiap
kali saya menanyakan sesuatu kepada mereka, saya kok merasa pendapat yang
diutarakan itu seperti jawaban dari sebuah simulasi problema.
Tampaknya mereka memiliki prinsip, kalau ada yang
bertanya, maka saya harus bisa menjawab. Bahkan, ketika mungkin, mereka sendiri
tahu bahwa mereka tak bisa memberi jalan keluar.
Karena sesungguhnya mereka belum pernah mengalami
apa yang saya alami. Sehingga kalimat macam ”Gue bisa bayangin kok” itu selalu
muncul dalam percakapan. Bagaimana mereka bisa membayangkan persoalan saya? La
wong mereka tak pernah merasakan pengalaman mau mati di meja operasi?
Bagaimana mereka bisa merasakan yang namanya
kebebasan berpikir, la wong orangtua saya sudah mengajarkan hal itu sejak masih
muda dahulu, sementara mereka harus berpura-pura setuju dengan pendapat orang
tua, sementara hati mereka memberontak?
Sejujurnya, saya ini ingin mendapat jalan keluar, bukan karena itu di dasari dari apa yang pernah mereka alami dalam hidup mereka, bukan berdasarkan pendidikan yang mereka terima, bukan karena nilai-nilai yang mereka anggap benar.
Saya ingin mendapat jawaban seperti menanyakan
kepada seseorang yang bepergian ke sebuah kota yang ia temui sendiri melalui
ketersesatan, dan bukan karena sudah membaca buku petunjuk sebelumnya. Karena
menurut saya ketersesatan memberikan mereka pengalaman berbeda, sementara yang
dari buku petunjuk memberikan mereka pengalaman yang seperti seragam anak SMA.
Maka di hari libur ini, saya akan berbagi pengalaman
mencari alamat tepat, agar Anda jangan seperti saya, dengan mudah menyalahkan
orang karena Anda merasa mereka tidak mengerti Anda. Kalau Anda tak merasa
perlu memercayai apa yang saya bagikan, itu hak Anda sepenuhnya.
Mencari yang terbuka
Hal pertama adalah menanamkan sebuah pemikiran bahwa
mencari alamat untuk curhat itu tak perlu kepada mereka yang memiliki
pengalaman yang sama atau mirip, dan yang memiliki jam terbang yang tinggi.
Yang utama adalah mendatangi seseorang yang
berpikiran terbuka. Orang yang memiliki pemikiran terbuka itu jarang sekali
menghakimi, mereka tak memiliki cara pandang yang ekstrem, yang emosional, yang
menganggap dirinya benar, apalagi kalau sudah sampai pada hal-hal yang berbau
spiritual.
Orang yang memiliki pemikiran terbuka, akan mampu
memberi rasa nyaman. Rasa itu diperlukan kalau orang sedang mengalami problema.
Mereka mampu melihat persoalan dengan tenang, karena mereka tidak melibatkan
perjalanan pribadi mereka.
Mereka tidak melibatkan pendidikan mereka. Mereka
adalah manusia yang mampu melihat persoalan Anda, seperti seseorang yang
menemukan tempat baru yang indah karena tersesat bukan karena membaca buku
petunjuk.
Orang yang tersesat pernah merasa takut, meski
akhirnya menemukan jalan keluar yang melegakan. Itu yang menyebabkan orang yang
berpikiran terbuka akan mengerti kesesatan Anda, akan mengerti bagaimana
ketakutan Anda, dan mereka akan juga mengerti kelegaan setelah tersesat.
Mereka yang berpikiran terbuka tak akan melibatkan
kata tidak setuju atau setuju dengan persoalan Anda. Mereka akan membantu memberikan
pencerahan dan terutama memberikan konsep berpikir untuk memecahkan masalah,
bukan menjawab satu per satu masalah Anda dan berakhir dengan diskusi panjang
yang tak berujung.
Mereka yang hidup berdasarkan buku petunjuk, akan
susah mengerti persoalan Anda. Mereka akan menerapkan SOP mereka untuk Anda.
Dan kalau di dalam SOP tak ada jawaban untuk pengalaman yang Anda hadapi,
karena mereka belum pernah mengalaminya, mereka kemudian tak tahu memberi
jawaban.
Dan hasil dari ketidaktahuan itu biasanya berakhir
dalam bentuk menghakimi, bahkan sebelum Anda selesai menuntaskan cerita. Mereka
tidak mengajarkan Anda berpikir soal konsep pemecahan masalah, mereka mengajarkan
SOP mereka untuk Anda.
Kedua, cari manusia yang masuk ke dalam kategori a
good listener. Tetapi itu tidak cukup. Karena pendengar yang baik, belum tentu
menyimak dengan baik. Saya sarankan, jangan pernah Anda bercerita kepada mereka
yang senangnya bermain social media seperti tak ada hari esok.
Pengalaman saya mengajarkan, mereka akan tetap berkonsentrasi
dengan gadget mereka, bahkan saat Anda lagi curhat. Mendengar dan menyimak itu,
berbedanya seperti rasa air tawar dan air laut.
Singkatnya, kalau Anda tak mau tersesat, alamat yang
paling tepat untuk didatangi adalah mereka yang pernah merasakan apa yang
disebut tersesat dan kemudian menemukan jalan keluar dari ketersesatan itu.
Jangan mendatangi yang masih tersesat! ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar