”Nanti mbak masukin ke dalam lift kalau terus nangis aja.” Demikian kalimat yang keluar dari seorang mbak-mbak kepada seorang anak kecil di suatu sore, saat saya sedang melaksanakan tugas memelihara kesehatan diri sendiri alias berolahraga.
Kecil sengsara
Mbak-mbak yang saya lihat pada sore itu, tak
berpenampilan seperti seorang pengasuh anak kecil yang bersertifikat. Ia tampak
hanya seperti pembantu rumah tangga biasa, dan dalam usianya yang saya yakini
tak lebih dari dua puluh lima tahun. Ia juga tampak seperti remaja yang tak
terlalu peduli dengan apa yang sedang ia kerjakan.
Melihat kejadian itu, sambil berjalan cepat dan di
akhir berlari, tiba-tiba saya berpikir, apakah saya yang sekarang ini juga
merupakan hasil dari mereka yang mengasuh saat saya masih kecil dahulu? Maksud
saya di luar asuhan dari orangtua.
Peristiwa yang terjadi di sore itu, melambungkan
lamunan saya kepada masa kecil dahulu. Tak berbeda dengan si anak kecil, saya
diasuh pembantu dan tumbuh sebagai ’anak pembantu’. Ia bekerja selama empat
puluh tahun pada keluarga kami saat ia masih remaja seperti mbak-mbak di sore
itu.
Saya tak ingat semua yang terjadi selama pertumbuhan
masa kecil itu. Hal yang mendalam tersimpan di dalam benak saya, hanya beberapa
peristiwa terutama pembelaan dan proteksi yang diberikannya, ketika saya
melalui masa-masa sulit bersama ayah, dan teman-teman yang mencemooh.
Ia bukan seperti pengasuh anak zaman sekarang yang mendapat pendidikan sebelum diterjunkan ke lapangan. Ia hanya seorang pembantu seperti pembantu lainnya di masa enam puluhan yang membantu nyonya rumah untuk memasak sekaligus mengasuh anak.
Saya tak tahu apakah ia pernah mengajukan protes,
bahwa upah bulanannya itu seyogianya hanya untuk membantu nyonya rumahnya, dan
bukan ditambah dengan mengasuh anak nyonyanya.
Ia seorang yang pandai memasak dan merangkai bunga
hanya dengan daun-daun dan beberapa bunga yang tumbuh di pekarangan rumah kami.
Mungkin bakat terpendam saya untuk mengerjakan sesuatu yang artistik disetrum
olehnya tanpa ia berniat melakukan itu, dan bukan datang dari dukungan orangtua
yang melihat dengan jeli bahwa saya suka sesuatu yang artistik.
Dewasa sengsara
Di sore itu saya berpikir lagi, mengapa ya orangtua
saya memberikan kepercayaan untuk mengasuhkan anaknya kepada seorang pembantu?
Apakah orangtua saya memahami betul bahwa saat mereka menyerahkan kepercayaan
itu, mereka mengerti akan risikonya?
Apakah orangtua saya tahu apa arti sesungguhnya
mengasuh itu? Dan disadarikah bahwa nilai-nilai pengasuhannya akan berbeda
antara yang akan diberikan oleh seorang pembantu dan yang diberikan mereka?
Kalau saya mengambil contoh kejadian di atas, apakah
orangtua akan mengatakan atau bereaksi yang sama ketika anaknya menangis dengan
mengancamnya memasukkan ke dalam lift? Apakah suatu hari anak itu akan takut
masuk ke dalam lift, karena itu hanya mengingatkannya kepada sebuah hukuman?
Karena perkataan ”nanti mbak masukin ke dalam lift”,
itu mengandung makna si pembantu pernah melakukan itu, dan melihat bahwa
eksekusi itu ternyata sangat efektif dalam menghentikan tangisan yang pasti
saya yakini merepotkannya.
Jadi, ia menemukan sebuah cara jitu mengurangi
kerepotannya dengan memasukkan si anak ke dalam lift, tanpa berpikir bahwa itu
bisa jadi akan berefek negatif terhadap perkembangan anak di masa depan. Itu
hanya satu kejadian yang kebetulan saya lihat, saya tak tahu kejadian lainnya.
Selama ini saya berpikir yang namanya beban berat
kehidupan itu hanya untuk saya yang sudah dewasa, tetapi kejadian di sore itu
membuka pikiran saya, kalau ternyata saya keliru besar. Di balik senyum bocah
kecil, bisa jadi menyimpan beban yang mungkin sama beratnya seperti saya.
Beban yang datang dari mulut dan perilaku orangtua,
dari pengasuh, dan manusia di luar lingkungan rumah tangga itu. Salah seorang
istri dari paman saya pernah mengatakan kepada saya di masa kecil ketika
melihat saya begitu flamboyannya. ”Kamu mending masuk lagi saja ke perut
ibumu.”
Hal yang paling sengsara dari menjadi anak kecil,
mereka hanya bisa menerima dan menyerap semua kejadian tanpa mampu untuk
memproteksi diri, dan disimpan sebagai sebuah beban perjalanan menuju dunia
yang dewasa.
Dan kalau di masa dewasa mereka menunjukkan perilaku
yang negatif, maka akan ada sejuta manusia yang mengetok palu, dan mungkin
justru yang paling keras datang dari mereka yang sekali waktu, pernah memberi
pengasuhan yang mungkin keliru.
Seorang teman bercerita, ada seorang perempuan
mengeluh mengapa ia tak pernah bisa menduduki posisi tinggi. Di masa kecilnya
dahulu, ayahnya meminta seorang peramal untuk meramalkan masa depan si anak
kecil ini. Si peramal mengatakan bahwa ia anak pandai, bahwa ia memiliki masa
depan yang luar biasa.
Tetapi satu hal yang diingat si gadis kecil, justru
bukanlah hal-hal positif itu, tetapi sebuah kalimat penutup yang meluluhlantakkan
keberaniannya untuk menjadi nomor satu sampai di masa dewasa ini. Begini kata
si tukang ramal itu. ”Sayang, ia perempuan.” ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar