Pagi hari itu adalah waktu yang paling afdal membuka
media sosial sambil sarapan. Malah lebih afdal menikmati yang tersedia di media
sosial ketimbang yang tersedia di piring makan. Karena setelah menyantap makan
pagi, ritual mencuci piring harus dilakukan. Sementara membaca media sosial,
saya malah bisa cuci mata.
Dua warna
Cuci mata di media sosial pagi itu membuat saya
penasaran dengan dua hal. Pertama, melihat account seseorang di Instagram
berupa foto-foto yang semuanya berwarna hitam putih. Kedua, membaca sebuah
artikel di Twitter berjudul 25 cara menjadi manusia yang lebih berbahagia.
Waktu melihat foto-foto itu, penasarannya bukan soal
obyek yang diabadikan, melainkan lebih pada keinginan untuk mengetahui mengapa
seseorang memilih menggunakan dua warna itu untuk mengabadikan sebuah dunia
yang penuh warna ini.
Rasa penasaran itu mengundang otak melahirkan sejuta
tanya. Apakah manusia yang menyukai dua warna itu sejujurnya menjalani
kehidupannya juga secara hitam putih semata? Kalau ya katakan ya, kalau tidak
katakan tidak. Yang pasti-pasti saja, yang bisa diperhitungkan.
Apakah sejujurnya mereka adalah manusia yang mudah keder kalau melihat banyak warna, yang bisa jadi melahirkan kebingungan? Sehingga untuk mencegah agar tidak pusing tujuh keliling, mereka memilih untuk melihat dunia yang penuh warna dari kacamata hitam putihnya.
Atau sebaliknya, karena menyukai dua warna ekstrem
itu, apakah mereka adalah makhluk yang mudah menilai, mudah mengambil
keputusan, bukan orang yang dihanyutkan oleh beragam keadaan karena buat mereka
hidup hanya memiliki dua pilihan.
Suka atau tidak suka. Wajar atau tidak wajar. Korup
atau tidak. Jelek atau tidak jelek. Pintar atau bodoh. Mau maju atau tidak.
Dengan demikian, mereka adalah manusia yang tak akan mengusung falsafah membeli
kucing dalam karung sehingga orang lain atau siapa pun yang berteman dengan
mereka akan mudah untuk menilai. Apa yang kamu lihat, itu yang kamu dapati.
Apakah manusia yang hitam putih adalah manusia yang
menyebalkan? Karena hanya melihat semua keadaan secara hitam putih semata
sehingga mereka adalah makhluk yang bisa dianggap kurang fleksibel, tak ada
toleransi.
Aneka warna
Hal kedua yang membuat saya penasaran adalah melihat
satu artikel dalam bahasa Inggris, yang kalau diterjemahkan dalam bahasa
Indonesia berjudul 25 cara menjadi manusia yang lebih berbahagia. Saya tak
membaca isinya, bukan karena malas, melainkan otak ini lebih cepat bergerak
mengajak diskusi soal kebahagiaan dilihat dari kacamata hitam putih dan yang
penuh warna.
Apakah arti berbahagia itu? Apakah arti menjadi
lebih berbahagia itu? Apakah mereka yang suka hitam putih akan melihat bahwa
berbahagia itu adalah sebuah keadaan ketika seseorang mampu memisahkan secara
tegas antara hal yang harus diubah dan sesuatu yang harus diterima
mentah-mentah?
Apakah dengan orang yang demikian, ingin menjadi
lebih berbahagia tidak ada dalam kamus mereka? Karena hitam putih sudah cukup
memberi mereka rasa nyaman, memudahkan mereka memutuskan perkara, memudahkan
melihat yang tidak membuat mereka bahagia dan yang membuat mereka bersukacita.
Jadi apa perlunya menjadi lebih?
Sebaliknya apakah berbahagia buat mereka yang
menyukai sejuta warna adalah keadaan di mana mereka bisa melakukan apa saja?
Bisa ini, bisa itu, lari sana, lari sini, loncat ke kanan, loncat ke kiri?
Apakah karena mereka terbiasa dengan sejuta warna, mereka juga memimpikan
sejuta keinginan untuk dilakukan, termasuk keinginan untuk lebih berbahagia,
setelah mendapatkan kesempatan untuk lari dan loncat ke sana dan kemari?
Karena mereka terbiasa dengan keadaan yang
warna-warni, apakah toleransi mereka akan lebih tinggi, sangat fleksibel, tidak
mudah tertekan, dan mudah beradaptasi dengan sebuah situasi? Mereka tidak
berhenti ketika melihat jalan buntu dan kemudian frustrasi karenanya. Mereka
akan melihat kebuntuan sebagai sebuah warna kehidupan.
Apakah mereka adalah makhluk yang tidak mudah
tersinggung dan tersakiti karena lentur? Mereka mudah melihat bahwa sejuta
warna dalam perjalanan kehidupan mereka, sebagai sebuah bentuk mengenyangkan
jiwa dan raga, yang bisa jadi ketika manusia hitam putih melihat yang penuh
warna itu, seperti sedang melihat manusia yang mengawang-awang dan tidak tegas.
Nah, pertanyaannya sekarang. Apakah hitam dan putih
itu baik? Apakah yang berwarna yang justru baik? Yang mana yang berbahagia atau
yang lebih berbahagia? Mungkin masalahnya bukan soal hitam putih atau berwarna,
mungkin masalahnya bukan soal ingin lebih berbahagia, mungkin setiap makhluk
harus mampu melihat kebahagiaan dengan menggunakan kacamatanya sendiri dan tidak
meminjam kacamata orang lain.
Mungkin menggunakan kacamata sendiri itu akan membuat seseorang lebih peka untuk merasa cukup, memudahkan aktivitas bersyukur dilakukan, dan mencegah datangnya perasaan iri hati. Mungkin. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar