Saya dijadwalkan mendapat giliran untuk presentasi pukul 11.00. Karena ada sesuatu dan lain hal, presentasi saya diundur nyaris satu jam lamanya. Kami menunggu di tempat duduk yang disediakan di tempat parkir.
Enggak ada untungnya
Kalau Anda menanyakan mengapa saya berada di tempat
parkir, yaa…, karena klien saya memang memiliki ruang rapat yang berlokasi di
tempat parkir, dan tak memiliki ruang tunggu, kecuali kursi dengan tiga dudukan
di tempat parkir yang panasnya tak perlu saya jelaskan.
Anda pikir saya kesal karena kepanasan? Sedikit sih,
tapi hikmahnya selalu ada. Sekarang saya bisa merasakan betapa sengsaranya para
sopir yang duduk menunggu tuan dan atau nyonyanya atau majikannya atau bosnya
atau anak bosnya, menunggu di sebuah lokasi yang sepanas itu.
Semoga suatu hari kalau saya diberikan kemewahan
untuk memiliki seorang sopir, saya akan bisa lebih manusiawi. Ketika saya
menceritakan kejadian ini, teman saya langsung nyeletuk, ”Ahh… bisaaa aja.
Manusiawi mah sekarang. Ntar-ntar kalau udha kayak bos malah nanya manusiawi
itu apaan?”
Keterlambatan di atas juga memorakporandakan
presentasi saya berikutnya di tempat lain yang seyogianya dijadwalkan pukul
14.00 nun jauh di luar Jakarta. Maka, saya menulis pesan memohon pengertian
klien saya itu akan sebuah keadaan yang saya hadapi.
Alhasil, klien saya yang pukul 14.00 itu sungguh mulia hatinya karena mau mengerti kepelikan yang saya hadapi. Saya itu orangnya seperti itu. Selalu berpikir, kalau seseorang mau mengerti, saya akan menyimpulkan orang itu mulia dan baik. Kalau yang tidak mau mengerti, mereka adalah manusia yang tidak baik dan tidak mulia.
Karena saya itu berpikir, seharusnya semua orang itu
harus memiliki tenggang rasa untuk mengerti. Karena pasti dalam perjalanan
hidup mereka, mereka toh pernah juga menghadapi kepelikan yang sama. Nah… kalau
pernah mengalami, maka saya dengan intelektualitas yang sederhana ini berpikir,
pengalamanlah yang akan membuat seseorang bisa dan seharusnya mau mengerti.
Maka, sering kali kekecewaan dalam hidup itu karena
saya menyimpulkan terlalu cepat dan dangkal soal baik dan tidak baik. Padahal,
baik dan tidak baik, semuanya bisa berubah, bukan? Teman saya sekali waktu
pernah menguliahi saya. ”Makanya jangan keburu-buru menilai orang. Enggak ada
untungnya, bro!”
Enggak ada ruginya
Banyak orang menganggap saya tidak mulia dan tidak
baik orangnya. Saya memang pernah, dan kadang masih demikian adanya. Saya tak
tahu kalau Anda. Mungkin gara-gara itu, untuk sebuah perbuatan yang tidak baik,
bahkan yang tidak saya lakukan pun, orang menuduh saya yang melakukannya. Saya
menjadi semacam sasaran empuk bak permainan dart.
Itu terjadi belakangan ini karena sejumlah orang
telah menuduh saya memiliki akun di sebuah social media yang menggambarkan
secara gamblang kemiripan rancangan perancang lokal dan dunia. Padahal, saya
tahu akun itu saja dari seorang teman.
Kejadian penuduhan juga pernah menimpa saya beberapa
tahun lalu. Saya jadi sampai berpikir, apakah ketika saya yang tidak baik
memutuskan untuk berusaha menjadi baik, orang akan melupakan ketidakbaikan yang
sekali waktu pernah saya lakukan?
Yang saya percaya adalah, bahwa hal yang tidak baik
itu agak susah terhapus dengan perbuatan baik. Membutuhkan waktu lama untuk
proses penyembuhannya. Sekali seseorang membuat kesalahan atau perbuatan yang
dianggap tidak baik, luka itu nyaris akan selalu ada. Luka ini yang menurut
saya melahirkan ketidakpercayaan.
Waktu ayah kandung dan ibu tiri saya meninggal,
banyak orang menghibur saya dengan menceritakan hal yang baik tentang mereka.
Padahal, saya tahu pasti beberapa orang tak menyukai ayah saya. Artinya, ayah
saya pernah melakukan hal yang tak baik di mata mereka sehingga mereka
memutuskan tak menyukai ayah saya. Artinya lagi, hal baik yang mereka ceritakan
kebenarannya bisa jadi tak seratus persen.
Yang tidak tahu kalau ayah saya tidak baik, akan
mengatakan ayah saya baik. Maka saya menyimpulkan, saya itu sebaiknya memiliki
niat berbuat baik, dan kalau bisa diusahakan tidak menyerah di tengah jalan
dalam berbuat baik meski perbuatan baik itu tak dinilai baik oleh orang lain.
Setiap individu berhak memutuskan untuk memelihara
luka dan susah untuk memercayai kembali seperti sediakala. Adalah hak seseorang
untuk tidak memaafkan dan memelihara luka, tetapi adalah hak seseorang juga
untuk berbuat baik meski ia tak dipercayai akan berhasil berbuat baik.
Sekali waktu ayah pernah memberi nasihat. ”Berbuat
baiklah sebisa mungkin. Karena jika semua yang di dunia ini berakhir dan tak
ada hari penghakiman itu, tak ada ruginya barang sepeser pun perbuatan baikmu
itu. Kalau ternyata hari penghakiman itu ada, kamu adalah orang yang paling
beruntung.” ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar