Setelah menghabiskan waktu kurang lebih satu jam untuk rapat bersama salah satu klien, saya kembali ke kantor. Dalam perjalanan menuju ke tempat antrean taksi, klien saya bertanya. ”Mas, udah punya pacar?” Saya tentu menjawab tidak, karena kenyataannya memang demikianlah adanya. ”Mungkin, Mas terlalu milih,” balasnya lagi.
”Let go”
Percakapan itu berhenti ketika giliran taksi saya
datang. Sebelum saya masuk ke dalam taksi, klien saya yang cantik jelita itu
memberi nasihat. ”Mungkin Mas harus let go apa pun yang pernah dialami. Hati
itu kalau sudah bisa bersih, yang baru datangnya juga akan cepat.”
Satu hari sebelum saya mengirim naskah ini, saya
memeriksakan kesehatan di sebuah rumah sakit. Seorang suster mengantar saya ke
sebuah ruang di mana ia memeriksa tekanan darah dan berat badan saya. ”Ada
keluhan apa ini, Mas.” Kemudian saya menjelaskan sedikit tentang keluhan yang
saya alami.
Percakapan itu kemudian berlanjut dengan sesi curhat
saya kepada suster yang ramah dan seorang pendengar yang baik. Setelah curhat
yang singkat soal mengapa saya ini kok yang selalu ketiban sial kena sakit ini
dan sakit itu, ia menutup sesi curhat itu dengan memberi nasihat persis seperti
klien saya di atas. ”Mas harus bisa lapang dada. Semua perasaan soal hidup yang
rasanya enggak adil buat Mas, kalau bisa secepatnya dilepaskan.”
Pada saat klien saya di atas memberi nasihat mulia itu, saya sama sekali tak menjadikan nasihat itu sebuah hal yang harus saya pikirkan secara serius. Tetapi, setelah mendengar nasihat suster muda belia itu, saya mulai berpikir. Mengapa dalam waktu yang tidak terlalu lama, ada dua manusia yang menasihati saya dengan nasihat yang sama. Let go dan lapang dada.
Maka, setelah pemeriksaan dokter selesai, di dalam
taksi yang mengantar saya pulang, saya mulai berpikir tentang bagaimana caranya
harus rela melepaskan semua beban yang menghalangi saya maju.
Sejujurnya perjalanan yang lumayan jauh untuk tiba
di tempat kediaman saya, tak membantu apa-apa. Saya terdiam dan merenung sambil
melihat jalan raya yang mulai padat menjelang sore itu. Dan perenungan itu tak
memberi solusi apa pun untuk mengosongkan dada yang sesak ini agar menjadi
lapang.
Keder
Saya teringat beberapa tahun lalu ada yang
mengatakan bahwa saya harus menerima apa pun yang terjadi dalam perjalanan
hidup yang dilalui. Tetapi, semakin saya menerima, saya makin sakit hati.
Bagaimana saya tidak menerima? Saya sungguh menerima apa yang ada di hadapan
saya dan itu tak bisa saya hindari. Saya makin merasa hidup untuk saya sungguh
tidak adil.
Penghinaan, penyakit yang tak pernah berhenti
bertamu, menjadi tua, hidup dalam kesendirian, menjadi makin lemah tenaganya,
sampai pada soal kehilangan. Ya kehilangan uang, ya orang yang dicintai, ya
kesempatan. Semua saya terima.
Saya lupa, apakah saya pernah membaca di sebuah
majalah, buku atau seorang teman yang memberi tahu, bahwa apa yang saya katakan
menerima itu ternyata keliru. Beberapa kejadian yang saya sebutkan tadi yang
membuat dada saya tak bisa lapang, itu bukan menerima. Itu hanya sebatas saya
mengetahui kenyataan hidup.
Menerima itu katanya diawali dengan mengetahui
sebuah kenyataan hidup, dan kemudian mengerti mengapa kenyataan hidup itu
terjadi. Maka menerima itu katanya adalah proses di mana seseorang mengerti
atas apa yang diketahuinya.
Misalnya, saya mengetahui kenyataan bahwa ibu yang
saya cintai meninggal dunia. Nah, menerima itu, mengerti mengapa kok ibu
meninggal dunia. Bukan hanya sekadar manusia itu mau tak mau harus meninggal,
tetapi mengerti bahwa ibu saya meninggal karena ginjalnya gagal berfungsi
karena memiliki kelainan yang tak ia ketahui sedari kecil.
Contoh lainnya, saya mengetahui bahwa saya tak punya
pacar sejak lama. Setelah saya mengetahui, saya harus mengerti mengapa saya
tidak punya. Karena saya tak mau terikat. Pacaran itu mengikat. Saya hanya mau
punya seseorang yang menemani saya yang bukan teman biasa.
Nah, yang dimaksud tidak mau mengerti itu adalah
saya tetap berkoar-koar bahwa hidup itu tidak adil karena sampai sekarang saya
masih sendiri, kok enggak ada yang suka sama saya. Padahal ketika saya
mengerti, hidup itu bukan tidak adil, sayanya saja yang punya prinsip pacaran
yang tak akan disukai orang. Siapa juga yang mau hanya dijadikan ’baby sitter’,
bukan?
Beberapa jam setelah itu, ketika saya sudah
bersiap-siap untuk beristirahat malam, nurani saya malah membangunkan seperti
jam weker di pagi hari. ”Kamu itu dari sejak awal sudah mengetahui dan sudah
mengerti. Kamu itu bukan tak bisa lapang dada, bukan tak bisa let go. Kamu itu
bisa banget. Kamu itu sejujurnya takut akan kehilangan dadamu yang sesak.
Karena di dada yang sesak kamu menikmati proses dikasihani oleh dirimu sendiri
dan orang lain. Itu sebuah taman bermain yang ingin kamu pegang selamanya. Kamu
itu keder kehilangan sesuatu yang lama dan keder berhadapan dengan sesuatu yang
baru.” ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar