Bagi mereka yang pernah mengenyam pendidikan sekolah dasar, maka pelajaran soal menambah, mengurangi, mengalikan, dan membagi adalah pelajaran wajib. Begini cerita saya yang mirip dengan pelajaran dasar yang dianggap pelajaran paling berharga dan yang memampukan seseorang menggondol predikat juara kelas.
Menambah dan Membagi
Beberapa waktu lalu, saya dan seorang teman
bersepakat untuk mendiskusikan masalah yang kami hadapi dalam hubungan
pertemanan yang melibatkan pihak ketiga. Saya mengatakan kepadanya untuk
menyelesaikan persoalan ini secepatnya. ”Besok kita jumpa pukul sepuluh pagi,
ya.” Ia menjawab dengan menganggukkan kepala tanda setuju.
Keesokan pagi, saya menerima pesan dari teman saya
itu yang menjelaskan ia tak bisa memenuhi janji temu karena harus memenuhi
undangan makan siang dengan rekan bisnisnya. ”Minggu depan, ya, maaf banget.”
Saya membalas dengan mengatakan tidak masalah dan
biar saya saja yang akan menghadapi pihak ketiga. Beberapa menit setelah itu,
saat saya sedang mandi pagi, siraman air segar itu membangunkan saya dengan
sebuah pertanyaan, mengapa saya yang harus menyelesaikannya?
Kalau teman saya menganggap itu bukan prioritas,
mengapa saya harus menganggapnya demikian? Sejujurnya saya ini senang menambah
persoalan yang tak seratus persen menjadi persoalan saya. Masalahnya, saya
hanya ingin persoalan ini cepat selesai, tetapi tanpa saya sadari itu menjadi
bumerang.
Tak bisa hanya saya saja yang berkeinginan menyelesaikan permasalahan dengan cepat. Penyelesaian masalah harus berjalan dua arah dan disepakati oleh dua atau lebih orang yang terlibat.
Menambah beban itu akan baik kalau saya sudah bisa
memiliki skala prioritas terlebih dahulu. Karena dengan skala itu, saya bisa
melihat situasi dengan jernih, dan kalaupun saya mau menambah, maka saya akan
menambah beban dengan proporsional.
Maka dari itu, apa pun persoalannya, tanggung
jawabnya harus dibagi rata. Karena persoalan saya adalah persoalan berdua, maka
persoalan itu harus dibagi dua. Maka saya akan menyelesaikannya berdua. Kekesalan
saya berkurang dan membalas pesannya itu dengan mengatakan persoalan akan
diselesaikan minggu depan seperti yang diinginkannya. Mengurangi beban akan
mengurangi kekesalan dan menambah semangat menjalani kehidupan.
Membagi itu penting, dan kalau sudah dibagi jangan
menjadi pahlawan kesiangan untuk mengambil alih pembagian orang. Ada yang harus
menjadi suami, ada yang harus menjadi pimpinan, dan ada yang harus menjadi
satpam. Bahtera rumah tangga, bahtera perusahaan, atau bahtera apa pun itu akan
sejahtera kalau ada pembagian yang jelas.
Mengurangi dan Mengalikan
Setelah selesai mengirimkan pesan untuk
menyelesaikan persoalan itu minggu depan, saya memutuskan untuk belajar
mengurangi beban hidup saya. Beban hidup itu sama dengan beban milik sendiri,
ditambah beban orang lain yang mungkin dengan terpaksa menjadi beban saya,
hanya karena saya mau cepat menyelesaikan persoalan, atau melihat orang lain
terlalu lamban.
Maka, bahtera itu sejahtera kalau ada faktor
mengurangi. Waktu salah satu anggota keluarga saya mengalami kesusahan, saya
mengurangi uluran tangan untuk membantu. Saya dinilai tidak memiliki hati
nurani, tetapi saya katakan bukan karena saya tidak mau menolong, saya sudah
menolong dengan memberikan nasihat sebelum perang terjadi.
Nah, ketika seseorang meminta dan diberikan nasihat,
kemudian mereka memutuskan untuk tidak mengikutinya, dan ternyata apa yang
dinasihati itu benar terjadi, yaaaa... itu tak lagi menjadi persoalan dan
tanggung jawab saya.
Mengurangi itu bukan hanya persoalan beban yang dikurangi,
tetapi melatih untuk menjadi tegas dan menyelamatkan skala prioritas yang sudah
dibuat. Maka, di tahun baru ini, saya akan mengurangi memberikan kesempatan
terguncangnya skala prioritas yang telah saya canangkan.
Artinya, di tahun baru ini saya mau hasil
berkali-kali lebih baik dari tahun sebelumnya. Saya mau melipatgandakan hasil
dengan cara membagi, mengurangi, dan menambah. Kalau saya mengatakan mengurangi
guncangan, yang saya maksudkan adalah guncangan yang acap kali datang dari diri
sendiri.
Musuh terbesar yang sering kali memorak-porandakan
skala prioritas dan memorak-porandakan bahtera, selain faktor eksternal, maka
faktor kesayaan itu yang terutama. Pelipatgandaan hasil itu bisa terganggu
karena saya yang terlalu memanjakan diri sendiri.
Kalau dengan orang lain saya bisa tegas, tetapi
dengan diri sendiri selalu mengalah. Maka, seharusnya membuat skala prioritas
yang mampu memberikan hasil berlipat ganda adalah dengan membereskan kondisi
dalam diri sendiri.
Selama tahun 2014, selama dua belas bulan, saya
telah tidak melakukan penjagaan terhadap skala prioritas. Itu mengapa,
pelipatgandaan hasil masih jauh dari target yang ditentukan. Maka, pembersihan
diri sendiri sudah waktunya untuk dilaksanakan. Diawali dengan melatih untuk
tidak mudah berkata: ”Gak papa, biar saya saja yang menyelesaikannya.” ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar